
"Terima kasih telah berkunjung selamat membaca"
Selesai itu, aku berdiri dan
membereskan diri."Terimakasih."Aku terkejut. Suara pria muncul di
belakangku. Aku spontan menghadap
belakang. Dia tampak tak berekspresi
sama sekali.
Aku bingung. Tadi dia bilang apa?
Terimakasih? Apa untuk orang lain?
Aku jadi melihat sekeliling apakah ada
orang selain aku."Supir truk itu bahkan tidak datang ke
sini. Dia langsung dibebaskan tanpa
proses pengadilan, begitu juga dengan
kamu."Pria itu berbicara sambil melihatkuburan wanita gila itu.Aku terdiam. Siapa dia? Kenapa dia tau
apa yang dialami wanita gila ini?"Tapi aku tak menyalakan kalian
berdua. Ibuku emang sudah gila.
Kalian juga korban."Aku kaget. Jadi, dia anak dari wanita
gila ini."Maafkan aku, aku tidak sengaja
mendorong ibumu. Sungguh aku tidak
sengaja. Aku hanya berusaha lepas
dari ibumu. Tapi ibumu terdorong
dan...""Sudah hentikan. Aku tau. Aku
memaafkanmu. Setidaknya kamu
minta maaf, tidak seperti supir truk
itu."Pria itu menatapku.Aku menjadi sedikit lega. Anaknya
sungguh baik. Aku tidak tau harus
mengatakan apa."Terimakasih, terimakasih! Aku benar-
benar minta maaf."Aku menangis lebih deras
dibandingkan kemarin. Perasaan yang
__ADS_1
tertahankan lepas dan menjadi lega.Pria itu hanya diam, tidak melakukan
apapun. Aku menangis hingga lelah
sendiri."Dibandingkan kamu, orang yang
membuat ibuku gila, aku tidak
akan pernah memaafkannya. Aku
bersumpah akan mencarinya dan
membunuhnya. Karena dia, ibuku
memukuli orang lain dan mati sia-sia.
Karena dia, ayahku mati. Karena dia
juga, aku seperti anak yatim piatu."Aku terdiam. Aku merasa bersalah
kembali. Aku membuat dia menjadi
anak yatim piatu benaran. Aku telah
membunuh ibunya."Maafkan aku. Aku telah membuatmu
menjadi anak yatim piatu."cicitku
pelan.Tiba-tiba, pria itu tertawa. Aku
bingung. Emang ada yang lucu?
kamu mengucapkan maaf, aku tidak
akan memaafkanmu."Aku terdiam. Tetap saja, aku merasa
bersalah."Jika kamu masih merasa bersalah,
kamu bisa memasak makanan untukku
setiap hari?""Memasak makanan?""Iya, walaupun ibuku gila. Dia masih
memasak untukku. Ibuku sudah
tidak ada, siapa lagi yang memasak
untukku."Tapi aku perlu pergi ke sekolah.""Untuk makan malam aja. Kamu
cukup datang, masak, dan pulang.
Bagaimana?"Aku berpikir sebentar. Benar,
setidaknya aku bisa mengobati rasa
bersalahku."Baiklah." Jawabku akhirnya."Baiklah, ini nomorku. Telepon aku
__ADS_1
dan aku akan menjemputmu." Dia
memberiku secarik kertas berisi nomo
handphone."Menjemputku?""Iya, menjemputmu. Tenang, kamu
akan diberi upah. Anggap aja kerja
part time."Pria itu tersenyum dan pergi
meninggalkanku.
- Rabu, 6 Januari 2016-Aku berada di teras rumahku. Aku
menunggu pria itu menjemputku.
Semalam dia ada jadwal penerbangan
sehingga tidak bisa. Ternyata, pria
itu bekerja di bagian penerbangan.
Mungkin dia pilot atau pramugara.
Tapi aku tidak menanyakan
namanya. Aku tidak tau cara memulai
perkenalan.Dia tinggi, tampan, dan tubuhnya kurus
seperti model.Apa mungkin dia sudah tua? Tapi,
tampangnya tidak cocok kupanggil
paman. Jadi, aku harus memanggil dia
apa?Tit titSuara klakson mobil. Ah, dia sudah
sampai.
"Ayah, ibu, aku pergi dulu.""Iya, nak. Jangan pulang maam-
malam."Sebenarnya, aku berbohong pada ayah
dan ibu. Aku mengatakan bahwa aku
ingin belajar kelompok untuk UN. Ayah
dan ibu langsung setuju mengingat aku
memilih tidak kuliah.Dimobil,Kami diam-diaman. Aku juga tidak tau
harus berkata apa."Nanti habis masak, jangan lupa
diberesin juga sekalian." Akhirnya
__ADS_1
suara sunyi dan canggung ini pecah."Baik...".pak." Panggilan pak ini sepertinya
-