This Is Love Story

This Is Love Story
Pria Itu


__ADS_3

"Terima kasih telah berkunjung selamat membaca"


Selesai itu, aku berdiri dan


membereskan diri."Terimakasih."Aku terkejut. Suara pria muncul di


belakangku. Aku spontan menghadap


belakang. Dia tampak tak berekspresi


sama sekali.


Aku bingung. Tadi dia bilang apa?


Terimakasih? Apa untuk orang lain?


Aku jadi melihat sekeliling apakah ada


orang selain aku."Supir truk itu bahkan tidak datang ke


sini. Dia langsung dibebaskan tanpa


proses pengadilan, begitu juga dengan


kamu."Pria itu berbicara sambil melihatkuburan wanita gila itu.Aku terdiam. Siapa dia? Kenapa dia tau


apa yang dialami wanita gila ini?"Tapi aku tak menyalakan kalian


berdua. Ibuku emang sudah gila.


Kalian juga korban."Aku kaget. Jadi, dia anak dari wanita


gila ini."Maafkan aku, aku tidak sengaja


mendorong ibumu. Sungguh aku tidak


sengaja. Aku hanya berusaha lepas


dari ibumu. Tapi ibumu terdorong


dan...""Sudah hentikan. Aku tau. Aku


memaafkanmu. Setidaknya kamu


minta maaf, tidak seperti supir truk


itu."Pria itu menatapku.Aku menjadi sedikit lega. Anaknya


sungguh baik. Aku tidak tau harus


mengatakan apa."Terimakasih, terimakasih! Aku benar-


benar minta maaf."Aku menangis lebih deras


dibandingkan kemarin. Perasaan yang

__ADS_1


tertahankan lepas dan menjadi lega.Pria itu hanya diam, tidak melakukan


apapun. Aku menangis hingga lelah


sendiri."Dibandingkan kamu, orang yang


membuat ibuku gila, aku tidak


akan pernah memaafkannya. Aku


bersumpah akan mencarinya dan


membunuhnya. Karena dia, ibuku


memukuli orang lain dan mati sia-sia.


Karena dia, ayahku mati. Karena dia


juga, aku seperti anak yatim piatu."Aku terdiam. Aku merasa bersalah


kembali. Aku membuat dia menjadi


anak yatim piatu benaran. Aku telah


membunuh ibunya."Maafkan aku. Aku telah membuatmu


menjadi anak yatim piatu."cicitku


pelan.Tiba-tiba, pria itu tertawa. Aku


bingung. Emang ada yang lucu?


kamu mengucapkan maaf, aku tidak


akan memaafkanmu."Aku terdiam. Tetap saja, aku merasa


bersalah."Jika kamu masih merasa bersalah,


kamu bisa memasak makanan untukku


setiap hari?""Memasak makanan?""Iya, walaupun ibuku gila. Dia masih


memasak untukku. Ibuku sudah


tidak ada, siapa lagi yang memasak


untukku."Tapi aku perlu pergi ke sekolah.""Untuk makan malam aja. Kamu


cukup datang, masak, dan pulang.


Bagaimana?"Aku berpikir sebentar. Benar,


setidaknya aku bisa mengobati rasa


bersalahku."Baiklah." Jawabku akhirnya."Baiklah, ini nomorku. Telepon aku

__ADS_1


dan aku akan menjemputmu." Dia


memberiku secarik kertas berisi nomo


handphone."Menjemputku?""Iya, menjemputmu. Tenang, kamu


akan diberi upah. Anggap aja kerja


part time."Pria itu tersenyum dan pergi


meninggalkanku.


- Rabu, 6 Januari 2016-Aku berada di teras rumahku. Aku


menunggu pria itu menjemputku.


Semalam dia ada jadwal penerbangan


sehingga tidak bisa. Ternyata, pria


itu bekerja di bagian penerbangan.


Mungkin dia pilot atau pramugara.


Tapi aku tidak menanyakan


namanya. Aku tidak tau cara memulai


perkenalan.Dia tinggi, tampan, dan tubuhnya kurus


seperti model.Apa mungkin dia sudah tua? Tapi,


tampangnya tidak cocok kupanggil


paman. Jadi, aku harus memanggil dia


apa?Tit titSuara klakson mobil. Ah, dia sudah


sampai.


"Ayah, ibu, aku pergi dulu.""Iya, nak. Jangan pulang maam-


malam."Sebenarnya, aku berbohong pada ayah


dan ibu. Aku mengatakan bahwa aku


ingin belajar kelompok untuk UN. Ayah


dan ibu langsung setuju mengingat aku


memilih tidak kuliah.Dimobil,Kami diam-diaman. Aku juga tidak tau


harus berkata apa."Nanti habis masak, jangan lupa


diberesin juga sekalian." Akhirnya

__ADS_1


suara sunyi dan canggung ini pecah."Baik...".pak." Panggilan pak ini sepertinya


-


__ADS_2