This Is Love Story

This Is Love Story
Sarapan


__ADS_3

"Terima kasih telah berkunjung selamat membaca"


- Senin, 15 Februari 2016-


Alarm berbunyi. Aku segera bangun


dan bersiap-siap untuk pergi ke


sekolah.Aku mendengar suara obrolan dari


luar. Tumben ayah dan ibu ngobrol


pagi-pagi. Suara obrolan itu terdengar


terus menerus.Biasanya, ayah dan ibu jarang


mengobrol. Mereka mungkin lebih


sering mengobrol di malam hari saat


dikamar.Aku segera membuka kan pintukamarku karena sudah waktunya."Lama sekali kamu nak, sudahditunggu Ferdi loh."


Deg.


Aku langsung melihat ke sumber suara.


Melihat sekeliling dan disana ada Kak


Ferdi yang sedang sarapan bersama


orang tuaku.Jantungku berdetak dan berjalan


duduk di sebelah Kak Ferdi."Kakak kenapa disini?"


"Tentu saja mengantarmu ke sekolah."


Aku akhirnya ber-oh ria dan mulaisarapan."Jadi kalian sudah lebih ke jenjangserius belum?" Ayah tiba-tiba bertanya.Alangsung tersedak minum. Kenapa


ayah harus bertanya saat aku lagi


minum?Kak Ferdi menepuk punggungku. "Hati-


hati minumnya.""Iya kak. Udah." Aku menghentikan


tepukkannya."Kaila belum menjawab om tapi saya


akan pastikan segera." Kak Ferdi


menjawab pertanyaan ayah."Wah, kamu sudah lamar anak saya?


Kaila, jangan php-in anak orang dong!


Sakit tau rasanya."Ayah menasehatiku dengan nada


bercanda.Ayah, bukan aku mau php-in tapi Kak


Ferdi minta tunda jawaban. Aku mau


aja jawab langsung kok tanpa nunda."Kalau om tante mengijinkan, pesta


pernikahannya ditetapkan tanggal

__ADS_1


7 April om. Saya sudah menyiapkan


semuanya om."Kali ini, untunglah aku tidak tersedak


tapi terkejut setengah mati.


"Bagus. Lebih cepat lebih baik. Kaila


juga ingin bekerja langsung. Tapi


dari pada dia bekerja, bagusnya dia


menikah saja." Ayah menyetujui. Ibu


juga tersenyum senang.Aku semakin melotot tidak percaya.


Semuanya serba tiba-tiba."Itu kalau Kaila menyetujui lamaran


saya om."Aku semakin terdiam. Aku akui aku


ingin menerima lamaran Kak Ferdi


tetapi entah mengapa aku ragu.Padahal tidak ada yang salah. Menikah


nanti atau sekarang, tidak ada


bedanya. Hanya saja ini terasa cepat."Kaila, Ferdi sudah sangat serius


padamu. bu tau ini terasa cepat, tapi


lelaki seperti Ferdi susah dicari."


Aku hanya diam. Tidak berani jawab


tapi soal pernikahan, aku merasa


belum siap."Ayah, Ibu. Aku berangkat ya." Aku


meninggalkan sarapanku yang sudah


habis."Om tante, saya permisi antar Kaila."


Kak Ferdi segera menyusulku."Hati-hati ya." saut ibu.Aku berjalan cepat meninggalkan Kak


Ferdi. Kak Ferdi berusaha mengejarku


hingga berada disampingku."Kaila, kamu marah?"Aku mengernyit bingung. "Nggak kok


kak."


Kenapa aku harus marah dengan


lamaran tulus dari Kak Ferdi? Aku


hanya binmbang saja. Aku seperti ingin


lari sebentar."Maaf aku terkesan buru-buru. Tapi


aku butuh seseorang disampingku


yang selalu menemaniku. Jadi, aku

__ADS_1


punya alasan kenapa aku berada


disini.""Maksud kakak?""Aku berencana tidak akan pulang lagi.


Mungkin aku akan tinggal dimanapun


pesawat nmendarat. Seperti hidup


berpindahpndah."Aku terdiam. Apa artinya Kak Ferdi


akan pergi selamanya tanpa kembali


ke sini lagi?"Aku juga tidak tau kapan aku bisa


disini. Tapi jika ada kamu yang


menungguku, aku akan senang hati


selalu pulang. Kamu menjadi tempat


pulangku, Kaila."Aku berhenti dan menatap Kak Ferdi.


Kak Ferdi pun ikut berhenti."Sejak ibuku tiada, aku sudah tidak


memiliki tempat untuk pulang"Ah, ibu Kak Ferdi. Aku penyebab Kak


Ferdi kehilangan tempat untuk pulang."Aku tidak memaksamu. Kamu


bisa tunda jawabannya hingga


kencan ketujuh kita. Tetapi jika


jawabanmu sudah iya. Segera katakan


jawabanmu.""Aku tidak menerima penolakan


sebelum kencan ketujuh kita."


sambung Kak Ferdi.Kencan ketujuh? Itu hanya alasan untuk


memperlama waktuku bersamamu. Aku


ingin kamu menikah denganku, Kaila.


Batin Kak Ferdi."Baik kak. Aku akan memikirkannya."Aku kembali berjalan ke sekolah. Kini


hatiku semakin bimbang. Ada rasa


sedih yang mendalam mendengar


penuturan jujur dari Kak Ferdi tadi.Apakah aku harus menerima


lamarannya?Aku kembali teringat kejadian


kemarin. Kak Ferdi sakit, tetapi


tidak ada yang memerhatikan dan


mengurusnya.Kini hatiku mulai yakin untuk


menerima lamaran Kak Ferdi.

__ADS_1


-


__ADS_2