
"Terima kasih telah berkunjung selamat membaca"
- Senin, 15 Februari 2016-
Alarm berbunyi. Aku segera bangun
dan bersiap-siap untuk pergi ke
sekolah.Aku mendengar suara obrolan dari
luar. Tumben ayah dan ibu ngobrol
pagi-pagi. Suara obrolan itu terdengar
terus menerus.Biasanya, ayah dan ibu jarang
mengobrol. Mereka mungkin lebih
sering mengobrol di malam hari saat
dikamar.Aku segera membuka kan pintukamarku karena sudah waktunya."Lama sekali kamu nak, sudahditunggu Ferdi loh."
Deg.
Aku langsung melihat ke sumber suara.
Melihat sekeliling dan disana ada Kak
Ferdi yang sedang sarapan bersama
orang tuaku.Jantungku berdetak dan berjalan
duduk di sebelah Kak Ferdi."Kakak kenapa disini?"
"Tentu saja mengantarmu ke sekolah."
Aku akhirnya ber-oh ria dan mulaisarapan."Jadi kalian sudah lebih ke jenjangserius belum?" Ayah tiba-tiba bertanya.Alangsung tersedak minum. Kenapa
ayah harus bertanya saat aku lagi
minum?Kak Ferdi menepuk punggungku. "Hati-
hati minumnya.""Iya kak. Udah." Aku menghentikan
tepukkannya."Kaila belum menjawab om tapi saya
akan pastikan segera." Kak Ferdi
menjawab pertanyaan ayah."Wah, kamu sudah lamar anak saya?
Kaila, jangan php-in anak orang dong!
Sakit tau rasanya."Ayah menasehatiku dengan nada
bercanda.Ayah, bukan aku mau php-in tapi Kak
Ferdi minta tunda jawaban. Aku mau
aja jawab langsung kok tanpa nunda."Kalau om tante mengijinkan, pesta
pernikahannya ditetapkan tanggal
__ADS_1
7 April om. Saya sudah menyiapkan
semuanya om."Kali ini, untunglah aku tidak tersedak
tapi terkejut setengah mati.
"Bagus. Lebih cepat lebih baik. Kaila
juga ingin bekerja langsung. Tapi
dari pada dia bekerja, bagusnya dia
menikah saja." Ayah menyetujui. Ibu
juga tersenyum senang.Aku semakin melotot tidak percaya.
Semuanya serba tiba-tiba."Itu kalau Kaila menyetujui lamaran
saya om."Aku semakin terdiam. Aku akui aku
ingin menerima lamaran Kak Ferdi
tetapi entah mengapa aku ragu.Padahal tidak ada yang salah. Menikah
nanti atau sekarang, tidak ada
bedanya. Hanya saja ini terasa cepat."Kaila, Ferdi sudah sangat serius
padamu. bu tau ini terasa cepat, tapi
lelaki seperti Ferdi susah dicari."
Aku hanya diam. Tidak berani jawab
tapi soal pernikahan, aku merasa
belum siap."Ayah, Ibu. Aku berangkat ya." Aku
meninggalkan sarapanku yang sudah
habis."Om tante, saya permisi antar Kaila."
Kak Ferdi segera menyusulku."Hati-hati ya." saut ibu.Aku berjalan cepat meninggalkan Kak
Ferdi. Kak Ferdi berusaha mengejarku
hingga berada disampingku."Kaila, kamu marah?"Aku mengernyit bingung. "Nggak kok
kak."
Kenapa aku harus marah dengan
lamaran tulus dari Kak Ferdi? Aku
hanya binmbang saja. Aku seperti ingin
lari sebentar."Maaf aku terkesan buru-buru. Tapi
aku butuh seseorang disampingku
yang selalu menemaniku. Jadi, aku
__ADS_1
punya alasan kenapa aku berada
disini.""Maksud kakak?""Aku berencana tidak akan pulang lagi.
Mungkin aku akan tinggal dimanapun
pesawat nmendarat. Seperti hidup
berpindahpndah."Aku terdiam. Apa artinya Kak Ferdi
akan pergi selamanya tanpa kembali
ke sini lagi?"Aku juga tidak tau kapan aku bisa
disini. Tapi jika ada kamu yang
menungguku, aku akan senang hati
selalu pulang. Kamu menjadi tempat
pulangku, Kaila."Aku berhenti dan menatap Kak Ferdi.
Kak Ferdi pun ikut berhenti."Sejak ibuku tiada, aku sudah tidak
memiliki tempat untuk pulang"Ah, ibu Kak Ferdi. Aku penyebab Kak
Ferdi kehilangan tempat untuk pulang."Aku tidak memaksamu. Kamu
bisa tunda jawabannya hingga
kencan ketujuh kita. Tetapi jika
jawabanmu sudah iya. Segera katakan
jawabanmu.""Aku tidak menerima penolakan
sebelum kencan ketujuh kita."
sambung Kak Ferdi.Kencan ketujuh? Itu hanya alasan untuk
memperlama waktuku bersamamu. Aku
ingin kamu menikah denganku, Kaila.
Batin Kak Ferdi."Baik kak. Aku akan memikirkannya."Aku kembali berjalan ke sekolah. Kini
hatiku semakin bimbang. Ada rasa
sedih yang mendalam mendengar
penuturan jujur dari Kak Ferdi tadi.Apakah aku harus menerima
lamarannya?Aku kembali teringat kejadian
kemarin. Kak Ferdi sakit, tetapi
tidak ada yang memerhatikan dan
mengurusnya.Kini hatiku mulai yakin untuk
menerima lamaran Kak Ferdi.
__ADS_1
-