This Is Love Story

This Is Love Story
Lega


__ADS_3

- Rabu, 17 Februari 2016-


Sudah 3 hari aku dirawat dirumah


sakit. Dokter bilang aku tidak apa-apa.


Hanya syok ringan karena hampir


kecelakaan.Punggungku hanya terbentur tetapi


semua baik-baik saja karena tidak


memiliki efek apapunAku bisa saja pulang senin kemarin


tanpa dirawat, tapi Kak Ferdi


memaksaku untuk dirawat. Setidaknya


3 hari.Selama di rumah sakit, ayah, ibu, Kak


Ferdi sudah bergantian menjagaku.Kak Ferdi punya jadwal penerbangan


tapi sudah pulang malam hari. Tidak


berhari-hari tidak pulang ke kota ini.Jovita juga datang menjengukku.Hari ini, aku akan membujuk Kak Ferdi


untuk keluar dari rumah sakit. Aku


tidak enak hati karena biaya rumah


sakit ini ditanggung Kak Ferdi.Ibu baru saja kembali dari menjagaku.


Aku sendirian saat ini.Tiba-tiba suara pintu tergeser. Mungkin


itu kunjungan untuk pasien lainnya. 1


ruangan ini ada 6 pasien yang dirawat.Ternyata yang datang adalah Bryan.


Dia menghampiriku memberi buah.


"Sorry la baru bisa jenguk lu sekarang."


"Santai aja yan. Aku juga nggak


kenapa-napa kok."


"Baguslah."


Bryan tersenyum."


"Gue mau bilang sesuatu sama lu.


Gimana kalau jalan-jalan ditaman


rumah sakit?"


tawar Bryan.Mau bilang apa? Jangan bilang dia


mau menembakku. Aduh, serba salah


jawabnya nanti.


Tapi aku sudah menerima lamaran


Kak Ferdi. Jadi, aku akan memberi


jawaban tidak padanya. Tapi baguslah

__ADS_1


begini. Aku bisa mengakhiri niat


pedekate Bryan.


"Boleh."


Aku dan Bryan berjalan ke taman


rumah sakit. Kami sekarang sedang


duduk di salah satu taman.


"Gue dengar lu dilamar sama Kak


Ferdi. Benar?"


Aku mengganggukkan kepalaku.


Sepertinya Jovita sudah menjelaskan


ke Bryan. Suasana menjadi agak


canggung


"Gue dengar juga, lu mau terimna


lamaran Kak Ferdi."


"Iya, aku sudah terima."


"jawabku lirih."


Syukurlah. Btw, selamat ya... Dan


gue sebenarnya mau minta maaf.


tapi orang lain.


"Aku menyergit heran dan lanjut


mendengarkan omongan Bryan."


"Sebenarnya aku suka sama Jovita."


"Aku membulat kaget. Bryan suka


Jovita, terus kenapa kemarin bilang


mau pedekate?"


Gue nggak berani ungkapin. Jovita


kemarin ngira gue suka lu, jadi gue


ikutin aja saran-saran Jovita. Kayak


ajak lu pergi ke perpus kemarin. Gue


lakuin biar gue makin dekat sama


Jovita.


"Aku masih kaget tidak percaya. Sia-sia


dong persiapan penolakkanku tadi."


"Sorry ya la. Sekarang Jovita nggak ikut

__ADS_1


jenguk lu karena nyuruh gue bilang


nyerah sama lu.


"Mungkin di otak Jovita


sekarang, ngiranya gue patah hati"


"Aku tertawa mendengarkan Bryan


yang serius. Kalau dipikir, ini jadi lucu."


"Nggak papa yan. Aku juga kaget, kamu


ada-ada aja bilang suka dari kelas 1."


"Hehe.. Itu sebenarnya gue suka Jovita


dari kelas 1. Gue dekatin dia. Karena


gue pengen ngobrol terus sama dia


akhirnya gue tanya-tanya soal lu. Eh,


rupanya dia ngiranya gue suka sama


lu. Lalu nyuruh gue nyatain rasa suka


gue ke lu pas bulan kermarin. Katanya


gue **** nyimpan mulu."


"Aku tertawa. Aku lega juga, jadi tidak


ada perasaan bersalah pada Bryan saat


ini."


"Makanya, langsung gas pool nyatain


ke Jovita. Biar nggak salah paham."


"Nggak deh. Gue mau nikmatin dulu.


Gue takut dia malah jauhin gue. Biarlah


dia ngira gue patah hati karena u.


Jangan kasih Jovita ya."


"Aku tertawa."


"Ada-ada aja kamu yan."


"Kamu disini?"


"Tiba-tiba akumendengar suara Kak Ferdi.Kak Ferdi sudah bertengger di depanku


dengan mukanya yang datar.Bryan seketika mengerti."


"Gue pergi


dulu ya la. Semoga cepat sembuh.


Ingat, jangan pernah kasih tau."


Bryan pergi dengan peringatannya

__ADS_1


padaku.


__ADS_2