Tiga Hati, Satu Cinta

Tiga Hati, Satu Cinta
Runtuh


__ADS_3

Siang itu bagai tersambar petir Chanda berlari menuju Ruang operasi dimana Mahmud Abrial berjuang melawan maut.


Kecelakaan yang membuatnya harus berada dia atas meja operasi. Kecelakaan yang terjadi karna salah satu lawan dari klien yang pernah Mahmud menangkan kasusnya membalas dendam pada mahmud dengan menyabotase mobil yang dikendarai mahmud.


3 jam dioperasi, akhirnya mahmud di bawa ruang perawatan intensif.


Waktunya tidak lama, kami sudah mengeluarkan pecahan kaca dari kepalanya dan bagian tubuhnya yang lain namun kondisi suami anda saat dibawa kesini sudah sangat kritis. Kami sudah berusaha semampu kami namun semua ada di tangan Allah Swt, mari kita berdoa agar Allah membantu suami anda melewati masa kritisnya... ucap dokter yang mengoperasi Mahmud.


Seakan dunianya runtuh, Chanda jatuh terduduk dan pingsan. Rajendra yang kebetulan hari itu berada di Indonesia segera menuju RS H saat mendengar yang terjadi pada Mahmud,


Chanda... ucap Rajendra saat mengunjungi chanda yang sedang terbaring lemah karna sempat pingsan.


Chanda yang sejak tadi hanya diam tak bicara tak perduli papa dan mamanya terus menanyakan keadaannya, tiba-tiba ia menangis histeris saat melihat rajendra.


Hiks hiks huaaaaaaaaaa..... chanda histeris menangis untuk pertama kalinya, Rajendra bergerak cepat memeluk Chanda erat... Tangis pilu chanda seolah mengoyak ngoyak hati Rajendra.


Chanda tak mengatakan apa-apa, ia hanya menangis dan menangis dan Rajendra dengan setia mendekap erat Rajendra bahkan Air mata rajendra pun menetes.

__ADS_1


Semua menatap pilu pada chanda. Adrika bahkan sudah menangis dipelukan Jagadta suaminya.


Satu jam Chanda menangis akhirnya ia bisa tenang.


Baju mas basah.... ucapnya sesenggukan sambil berusaha mengelap sisah air matanya yang membasahi pakaian Rajendra.


Ini bukan air mata kamu, ini keringat mas... ucap Rajendra


Chanda sedikit tersenyum. Rajendra mengusap mata chanda yang bengkak itu. Di rapihkan nya rambut Chanda yang berantakan. Rajendra begitu mengkhawatirkan Mahmud dan juga chanda.


Sekarang kamu udah tenang?? tanya Rajendra lembut seraya menangkup wajah sembab itu.


Jelek ya mas.... tanya Chanda sendu


Kamu gak pernah jelek sayang, kamu selalu cantik, tapi akan lebih cantik lagi kalau kamu selalu bahagia.... bukan menangis penuh luka seperti ini.... ucap Rajendra membelai rambut panjang Chanda.


Chanda menunduk.

__ADS_1


Cuci muka ya, trus ambil wudhu, kita sholat jamaah ya, minta sama allah agar mahmud segera diberi kesembuhan....ajak Rajendra lembut. Chanda mengangguk menurut. Semua tak luput dari pandangan 3 pangeran Argantara yang lain.


Kalau mereka, mungkin takkan pernah bisa menghentikan tangis histeris chanda, apalagi membuat wanita yang sedang terpuruk itu sedikit tersenyum.


Setelah mengambil wudhu, Rajendra meng-imami chanda untuk sholat ashar. Pemandangan yang begitu mengharukan dimata yang melihatnya. Setelah Sholat dan berdoa, Rajendra merangkul erat Chanda untuk menemui Mahmud yang sedang dalam perawatan intensif dan tak bisa dijenguk hanya bisa dilihat dari luar.


Beberapa langkah lagi mereka sampai diruang perawatan Mahmud. Langkah Chanda terasa berat, Air matanya kembali berderai


Rajendra menatap Chanda.


Mahmud akan baik-baik saja, kita perlu percaya itu, karna itu sebagian dari bentuk doa kita yang mengharapkan kesembuhannya. Jangan ratapi dia seperti ini chand, Mas tahu ini sulit, tapi kamu harus kuat, kamu harus berani sayang.... Mahmud butuh dukungan kamu dan kemilau membutuhkan perhatian dan kasih sayang kamu... Yang kuat ya, Mas gak akan pernah ninggalin kamu, seperti kamu yang selalu ada untuk mas.... ucap Rajendra berusaha membujuk Chanda untuk berani.


Chanda mengangguk, ia pun kembali melangkah menuju ruang rawat intensif mahmud. Rajendra terus mendekap bahu chanda yang tampak rapuh hari itu.


Sesampainya disana, Chanda kembali meneteskan air matanya saat melihat selang-selang alat bantu kehidupan Mahmud, Chanda menutup mulutnya menahan tangisnya, ia ingin masuk, ia ingin menggantikan setiap kesakitan yang dirasakan mahmud. Rajendra segera mendekap erat Chanda, ia pun sedang berusaha keras menahan tangisnya, bagaimana pun juga Mahmud adalah adik yang ia sayangi, Tak lama Nayyara tiba, matanya sudah bengkak, ia pun menangis dan ikut masuk kedalam pelukan Rajendra. Rajendra yang selalu menjadi sandaran ke 3 sahabat itu. Sosok kakak, sosok pelindung bagi mereka bertiga.


Pemandangan pilu itu membuat keluarga yang menjenguk tak bisa tidak menangis, air mata mereka terus menetes, tapi mulut mereka terus mendoakan kesembuhan Mahmud.

__ADS_1


Ya beberapa jam lalu saat chanda pingsan mahmud dinyatakan coma.


__ADS_2