
2 bulan kemudian
Gimana JE, kapan kalian akan pindah ke Botanical Gardennya..tanya Eyang Dimas yang semakin renta
Nanti aja yang, nanti saat Chanda memang ingin..ucapnya. Ya saat ini mereka masih menetap di kediaman Abrial, karna Rejendra tak mau memaksa Chanda mengubur segala kenangannya, sama seperti halnya Mahmud yang penting untuk chanda, begitu juga halnya mahmud untuk Rajendra.
Tapi bukankah kamu jadi kesulitan mengatur pekerjaanmu jika masih disana? Eyang sengaja membuat tempat itu agar memudahkan ruang lingkup kerjamu selama chanda sibuk dengan pekerjaannya dan kamu juga bisa fokus menjaga putri kalian...ucap eyang dimas. Rajendra hanya tersenyum dan lebih memilih bermain dengan Kemilau yang ada dipangkuannya.
Chanda yang baru saja datang dengan potongan buah di tangannya pun menghentikan langkahnya saat mendengar percakapan beda generasi itu.
Eyang Dimas yang ingin agar Rajendra & Chanda punya banyak waktu lebih memperhatikan Kemilau, dan agar chanda juga tidak jauh dari perusahaan Arsitek Abrial Design yang hanya berjara 10 menit dari Botanica Garden itu. Namun alasan mereka masih belum juga pindah adalah karna bagi Rajendra, Chanda masih enggan berpisah dari segala kenangan dengan Mahmud di kediaman Abrial dan sebagai seorang yang mencintai chanda, ia tak ingin memaksakan kehendaknya.
Dimana pun kami tinggal gak masalah eyang, asal aku bisa selalu bersama istri dan putriku...sahutnya tulus sambil tersenyum saat tiba-tiba Kemilau mencium pipi Rajendra.
Ya, kamu benar. Tapi bukankah sudah saatnya chanda membuka hatinya untukmu, mahmud memang pria yang baik, tapi kini dia sudah tenang disana, dan adalah keharusan bagi kita yang masih hidup untuk menjalani sisah hidup kita selanjutnya dan tak berporos pada masa lalu.
Tapi aku gak keberatan eyang, aku gak apa-apa kalau pun chanda-ku masih berporos pada masalalu. Lagi pula aku pun gak mau chanda melupakan mahmud bagaimana pun mahmud adalah ayah kandung dari putri Kami. Biarkan saja chanda-ku selalu mengingatnya, agar kami bisa selalu menceritakan bagaimana mahmud sangat mencintai chanda dan putri kami. Kemilau berhak untuk itu, aku gak mau putri kami tak mengenal ayah kandungnya eyang....ucap Rajendra
__ADS_1
Apa kamu gak cemburu...tanya eyang dimas. Karna normalnya mana ada sih suami yang rela istrinya masih mengingat masa lalunya apalagi itu almarhum suami yang sangat mencintai dan dicintai istrinya.
Tentu aku cemburu eyang, Aku juga seorang laki-laki, Aku punya Ego, Aku punya Rasa, tapi eyang bagiku itu gak lebih penting dari kebahagian keluarga kecilku...bagiku mereka yang utama...ucap Rajendra.
Tak mereka ketahui chanda mendengar semua percakapan itu. Air matanya menggenang. Ia memang masih amat sangat mencintai Mahmud yang sudah pergi dan gak akan kembali, tapi tak bisa dipungkiri rasa untuk Rajendra memang mulai tumbuh atau lebih tepatnya selalu ada hanya Chanda saja yang baru menyadarinya.
Jangan banyak mikir, mas jeje gak akan pernah nyalahin kamu... bukan salahmu tak pernah menyadari perasaanmu sendiri, saat seseorang yang pasif namun sangat mencintaimu dan tak berani meraihmu namun memilih menjadi bayangan hanya untuk memastikan kamu bahagia bersama dia yang aktif dalam menunjukkan rasa cintanya padamu hingga kamu tak pernah menoleh kearah si pasif, hingga kamu hanya merasa kehadiran si pasif sebagai sebuah kebiasaan...ucap Narapati yang muncul tiba-tiba disamping Chanda.
Chanda menoleh dengan matanya yang mulai tergenang.
Kamu gak salah, Gak ada yang salah, mungkin memang jalan jodohmu yang seperti itu...ucap Narapati perlahan menghapus air mata yang mulai merembes dipipi tirus chanda.
Tanpa Narapati mengaku pun, ia tahu chanda sudah mengetahui rasanya pada chanda selama ini. Namun takdir memintanya untuk ikhlas dan menerima. Narapati tak keberatan, ia memang menyesal karna dulu selalu membohongi hatinya dan membuatnya harus diam seumur hidupnya soal perasaannya. Namun ia tak pernah membenci dan menyesali yang terjadi antara Rajendra dengan Chanda, dua orang yang penting dalam hidupnya.
Maaf...ucap chanda sendu.
Kalau kamu merasa bersalah..maka ingatlah untuk bahagia bukan hanya untuk masa lalumu tapi juga masa depanmu...dengan begitu aku pun akan bahagia...ucap Narapati lalu membelai rambut chanda.
__ADS_1
Pergilah sambut cintamu, jangan sampai membuatnya terlalu lama menunggu lagi walau aku yakin si bodoh itu tentunya gak akan keberatan...ucap Narapati sedikit mengejek.
Aw...ucap Narapati terkejut saat melihat kaki chanda sudah menginjak kakinya.
Jangan ejek suamiku...dia memang manusia bodoh dan pasif, namun dia orang yang amat sangat mencintaiku...ucap chanda kesal sambil menarik kerah lengan baju Narapati lalu mengusap ingusnya kesana.
Dasar jorok... kesal Narapati, belum sempat membalas chanda, chanda sudah lari dan berhambur memeluk Rajendra.
Rajendra menoleh, ia terkejut melihat chanda tersenyum lebar padanya dengan mata yang sedikit bengkak.
Ini...tanya Rajendra terkejut sambil menyentuh wajah chanda yang matanya sudah bengkak.
Cup...Chanda cinta sama mas jeje...ucap Chanda tiba-tiba.
Rajendra mematung. Chanda kembali mengecup bibir Rajendra. Rajendra tersenyum bahagia, tak terasa setetes air mata bahagia menetes dari sudut sungai mata Rajendra. Chanda mengecup air mata itu, lalu Rajendra segera menarik chanda kedalam dekapannya. Ia merasa seperti bermimpi, Kalau memang mimpi, ia berdoa agar ia tak pernah bangun dari mimpi itu, namun sepertinya allah begitu mencintai Rajendra, ia tak memberinya mimpi tapi ia membuatnya nyata.
Mas cinta kamu chand...ucap rajendra lirih, membuat chanda melepaskan pelukannya dan mencium suaminya untuk pertama kalinya. Rajendra terdiam namun ia segera menerimanya saat ia merasa tak ada keterpaksaan dalam diri chanda.
__ADS_1
Eyang Dimas tersenyum lalu membawa Kemilau menyingkir.
Aduh dasar Cicit gak tahu tempat, bisa-bisanya mesra-mesraan gak liat tempat... Bumi aku rindu...ucap Eyang dimas sambil menatap langit merindukan almarhuma eyang Bumi, istrinya.