Tiga Hati, Satu Cinta

Tiga Hati, Satu Cinta
Donor


__ADS_3

Belum kering air mata, belum hilang kesedihan, Dokter Gibran mengatakan pada chanda kalau Mahmud telah mendaftarkan dirinya sebagai donor organ.


Chanda menutup matanya ia masih terisak. ia tahu memang benar suaminya itu sudah mendaftarkan diri sebagai pendonor sejak usianya menginjak 19 tahun.


Flashback


Kenapa?? tanya chanda saat mengantarkan Mahmud.


hmmm. lo tau kan orang tua gue meninggal karna kecelakaan dan juga tidak bisa diselamatkan karna gak mendapatkan donor. Gue cuma gak mau ada yang sama nasibnya kayak gue.... untuk gue ketemu elo, jadi gue tahu rasanya punya orang tua lengkap... kalo nggak, entahlah gue gak bisa bayangin gimana kesepiannya gue, dan pastinya gue gak akan pernah sebahagia sekarang....ucap mahmud setelah selesai mendaftarkan dirinya.

__ADS_1


Dimana surat suratnya dok.... ucap Chanda setelah berhasil mengatur nafasnya.


Mari ikut saya bu.... ucap dokter Gibran, Chanda dan Rajendra yang masih menggendong Kemilau pun mengikuti dokter gibran.


Chanda menatap berkas surat persetujuan donor itu. Hatinya sakit, sangat sakit. Ia baru saja kehilangan suaminya, tapi kini ia malah dihadapkan pada kenyataan dimana ia harus merelakan organ dari tubuh pria yang sangat dicintainya itu diambil dan dibagi-bagi pada mereka yang membutuhkan untuk melanjutkan hidup mereka.


Chanda ingin menolak, tapi ia mengingat jelas bagaimana mahmud tersenyum manis dan bahagia saat menceritakan betapa ia akan sangat bersyukur dan bahagia jika ada bagian dari dirinya bisa membantu hidup orang lain.


Kamu yakin...?? mas gak mau kamu menyesal.... ingat chanda, setelah memberikan izin ini, organ mahmud yang masih sehat akan didonorkan pada yang membutuhkan, Kamu dilarang untuk mengetahui siapa penerima donor.... apa kamu yakin.... tanya Rajendra

__ADS_1


Aku yakin mas, aku hanya menggantikan mahmud mewujudkan salah satu mimpinya. Dan kalau pun aku bertemu penerima donor, aku sama sekali gak perduli. Jika mereka berterimakasih, aku hanya berharap mereka bisa hidup lebih bahagia dan tanpa penyesalan seperti yang diharapkan mahmud saat ia memutuskan menjadi salah satu pendonor.... ucap chanda sambil tersenyum getir. Perlahan Rajendra melepaskan tangannya, membiarkan chanda menandatanganinya.


Dokter gibran hanya diam. Ia tak berani bicara. Ia sudah cukup kejam dengan menyodorkan surat itu saat seorang istri baru saja berkabung. Namun tugasnya sebagai seorang dokter tak mengijinkannya untuk menunjukkan rasa simpati saat ada pasien lain yang menunggu untuk diselamatkan.


Dokter Gibran pun permisi, membiarkan Chanda menangis pilu di dipelukan Rajendra. Rajendra ia ikut menangis, padahal ia sudah sekuat tenaga menahan air matanya. Kemilau pun ikut menangis bersama mereka.


Siapkan operasinya kita tidak boleh membuang waktu lagi.... ucap Dr. Gibran saat menuju ruang operasi untuk mengoperasi Seorang Pria dari dunia gelap yang baru saja dibawa ambulan 10 menit yang lalu, pria itu terluka parah dibagian jantungnya dan kini sedang berperang melawan maut.


Semoga kamu bisa hidup dengan lebih baik, seperti malaikat yang kini dengan tulusnya mendonorkan dirinya untukmu... ucap Dr. Gibran dan mengoperasi Pria itu.

__ADS_1


Dilain tempat, Caka dan Chandrama menahan segala kesedihannya dan berusaha tegar mengatur prosesi pemakaman Mahmud yang akan diadakan besok pagi.


Chandrika yang sedang hamil besar tidak diperbolehkan ikut terbang kembali ke indonesia. Dan terpaksa membiarkan Caka suaminya untuk mengantarkan mahmud ke peristirahatan terakhirnya.


__ADS_2