
Sinar matahari perlahan menyelinap melalui celah-celah daun pohon rindang yang menaungi desa kecil tempat Jayak, Mado, dan Kunta tinggal. Dari kejauhan, terdengar gemericik air sungai yang bermain dengan bebatuan, menyampaikan kisah alam yang tak pernah habis.
Tiba-tiba, ayam jantan dengan bulu merah menyala mengekok dengan bangganya, menandai dimulainya hari baru. Jayak, yang sudah terbiasa bangun pagi, langsung merentangkan kedua tangannya, kemudian perlahan bangkit dari tempat tidurnya yang terbuat dari jerami. Ia menatap matahari yang mulai naik dengan tekad di matanya, kemudian mengambil pedang kayunya dan mulai melakukan beberapa gerakan seni bela diri. Setiap sapuan pedangnya terasa penuh energi, tubuhnya bergerak lincah mengikuti irama yang telah dikuasainya selama bertahun-tahun.
Di rumah sebelah, Mado sedang duduk di lantai bambu dengan kaki bersilang, mengambil bulu dan tinta buatannya. Ekspresi wajahnya tampak serius, matanya menatap kertas kosong di hadapannya, seolah mencari inspirasi. Tiba-tiba, ia tersenyum, matanya berbinar seakan menemukan kata-kata yang tepat untuk puisinya. Ia mulai menulis dengan penuh semangat.
Sementara itu, Kunta berada di luar rumahnya, di antara tumpukan keranjang yang berisi berbagai macam barang dagangan. Ia dengan cermat memeriksa setiap barang, memastikan semuanya dalam kondisi baik. Kunta adalah tipe orang yang selalu detail dan teliti. Namun, saat itu ia tampak sedikit canggung. Tiba-tiba, sebuah buah pisang terjatuh dari salah satu keranjangnya.
Tanpa menyadarinya, Kunta melangkah tepat di atas buah pisang tersebut. Kaki kanannya tergelincir, dan dalam sekejap, dengan ekspresi wajah terkejut, ia terjatuh dengan keras ke tanah. Jayak, yang melihatnya dari jauh, berhenti dari latihannya, dan mata Mado teralih dari tulisannya.
Mereka berdua mencoba menahan tawa, namun ketika melihat ekspresi bingung Kunta yang masih terbaring di tanah dengan buah pisang di sampingnya, mereka tak bisa menahan gelak tawa.
"Kunta!" seru Jayak sambil tertawa, "Kau baik-baik saja?"
Kunta, dengan wajah merah padam, bangkit perlahan. "Aku baik-baik saja," katanya sambil menyeka tanah dari bajunya, "Hanya sedikit terkejut saja. Siapa yang meninggalkan pisang di sini?"
Mado menepuk bahu Kunta dengan ramah, "Mungkin itu tanda bahwa kau harus memulai hari dengan makan buah, sahabat."
Mereka bertiga tertawa bersama, menikmati kebersamaan di tengah kehidupan desa yang sederhana. Di kejauhan, suara anak-anak bermain dan tertawa riang menambah kehangatan pagi itu, sementara dedaunan yang bergoyang ditiup angin sejuk menambah kedamaian di hati mereka.
Sebuah hari yang tampak biasa, namun penuh dengan kenangan indah bagi ketiganya.
Desa itu semarak. Setiap sudut desa dihiasi dengan pita warna-warni dan bunga-bunga liar yang dipetik dari hutan sekitar. Hari itu adalah hari ritual tahunan, sebuah tradisi sakral yang sudah berlangsung sejak nenek moyang mereka. Semua warga desa berkumpul di lapangan utama, mengenakan pakaian tradisional terbaik mereka. Udara terasa hangat, namun angin yang bertiup dari arah timur membawa aroma tanah yang subur dan bunga-bunga musim semi.
Di tengah lapangan, sebuah altar besar telah didirikan. Di atasnya terdapat berbagai persembahan; buah-buahan segar, biji-bijian, dan bunga-bunga pilihan. Jayak, dengan sorban putih di kepalanya dan pedang kayu di pinggangnya, berdiri di sisi kiri altar, bertugas sebagai penjaga keamanan ritual. Kunta, dengan keranjang dagangannya, duduk di sisi kanan, menyediakan barang-barang yang mungkin dibutuhkan selama ritual.
Sementara itu, Mado, berdiri di tengah-tengah altar, bersiap untuk memimpin ritual sebagai dukun desa. Wajahnya tampak serius, namun di balik itu, terlihat kerutan kecemasan. Ini adalah kali pertamanya memimpin ritual ini sejak dukun desa sebelumnya meninggal tahun lalu.
"Kita berkumpul di sini untuk memohon kesuburan tanah dan panen yang baik," ucap Mado dengan suara getar. Ia kemudian mulai mengucapkan mantra dengan suara lantang. Semua warga desa, termasuk Jayak dan Kunta, menutup mata mereka, tenggelam dalam doa.
__ADS_1
Namun, sesuatu tampak salah. Saat Mado hendak mengucapkan bagian ******* dari mantra, ia tergelincir kata. Seharusnya ia mengucapkan 'bumi yang subur', namun yang keluar adalah 'langit yang subur'. Tak lama kemudian, awan mendung mulai berkumpul di atas lapangan.
Kunta membuka mata, "Apakah akan hujan? Tapi cuaca tadi cerah."
Jayak, dengan ekspresi cemas, berbisik, "Mado, apa yang kau lakukan?"
Sebelum Mado bisa menjawab, tiba-tiba hujan mulai turun. Namun, bukan air yang jatuh, melainkan ikan-ikan kecil! Desa itu seketika menjadi hiruk-pikuk. Anak-anak berlarian kesenangan mencoba menangkap ikan, sementara orang dewasa tampak bingung dan terkejut.
Mado, dengan wajah pucat, menatap Jayak dan Kunta, "Aku... Aku rasa aku salah mantra."
Jayak, berusaha menahan tawa, berkata, "Ya, kami bisa lihat itu. Tapi lihat sisi cerahnya, kita punya banyak ikan untuk makan malam."
Kunta menambahkan, "Dan mungkin aku bisa menjual beberapa di antaranya besok."
Seiring waktu, warga desa mulai menikmati 'hujan ikan' tersebut. Mereka bercanda, tertawa, dan bersyukur atas berkah tak terduga ini.
Saat matahari mulai tenggelam, ritual pun selesai. Meski tak seperti yang diharapkan, hari itu meninggalkan kenangan yang akan diceritakan berulang-ulang selama bertahun-tahun.
"Terima kasih, Mado," ujar Kunta sambil tersenyum, "Kau mungkin salah mantra, tapi kau telah memberikan desa ini cerita yang tak akan pernah dilupakan."
Mado tersenyum malu, "Hanya berharap tahun depan aku bisa mengingat mantra yang benar."
Jayak menepuk punggung Mado, "Kau lakukan dengan baik. Dan hey, siapa yang bisa mengatakan mereka pernah membuat hujan ikan jatuh dari langit?"
Sinar matahari mulai memudar, menciptakan nuansa oranye yang hangat di langit. Daun-daun pepohonan di tepi sungai bermain-main dengan angin sore, menciptakan melodrama alam yang begitu tenang dan damai. Air sungai mengalir dengan ritme tertentu, mencerminkan cahaya matahari yang mulai tenggelam dan menari-nari di permukaannya.
Jayak, Mado, dan Kunta duduk di sebuah batu besar di tepi sungai. Jayak sedang mengikat umpan pada kail pancingnya, Mado sibuk dengan buku catatannya, sedangkan Kunta tampak kesal dengan pancingannya yang selalu berantakan.
"Kau yakin kau bisa mengajariku memancing, Jayak?" tanya Kunta dengan ekspresi frustasi.
__ADS_1
Jayak menoleh dengan senyum simpul. "Sabarlah, Kunta. Memancing memerlukan kesabaran. Lihat, begini caranya." Jayak kemudian melempar kailnya ke tengah sungai dengan gerakan yang begitu lincah.
Kunta menatap dengan penuh perhatian. "Tampak mudah saat kau melakukannya."
Mado, tanpa menoleh dari bukunya, menyahut, "Segalanya tampak mudah saat Jayak melakukannya."
Jayak tertawa. "Terima kasih atas pujianmu, Mado. Sekarang giliranmu, Kunta."
Dengan penuh semangat, Kunta mencoba melempar kailnya. Namun, alih-alih mendarat di tengah sungai, kailnya malah tersangkut di ranting pohon di belakangnya.
Mado tergelak, "Sepertinya kau lebih mahir memancing pohon, Kunta."
Kunta mendengus kesal, "Aku akan mencoba lagi."
Beberapa menit berlalu, dan Kunta mulai merasakan ada yang menarik-narik kailnya. Matanya berbinar. "Aku mendapatkan sesuatu!"
Jayak dan Mado menatap dengan penuh antusiasme. Namun, saat Kunta menarik kailnya, bukan ikan yang didapat, melainkan sebuah botol tua dengan tutup yang masih rapat.
Mado mengejek, "Selamat! Kau telah menangkap... botol!"
Jayak, yang selalu berusaha positif, menambahkan, "Mungkin ada harta karun di dalamnya."
Kunta membuka botol itu dan menemukan selembar kertas yang sudah lusuh. Dengan penuh rasa ingin tahu, ia membacanya.
"'Bagi siapa pun yang menemukan pesan ini: Selamat! Kau telah menemukan pesan dari seseorang yang sangat bosan. Semoga harimu lebih menyenangkan daripada saya saat menulis ini.'", bacanya dengan ekspresi bingung.
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak. "Setidaknya, ini membuat sore kita lebih menarik," kata Mado.
Kunta, meskipun awalnya kesal, kini tersenyum. "Ya, aku setuju. Dan aku rasa, memancing bukanlah bakatku."
__ADS_1
Jayak menepuk punggung Kunta dengan lembut. "Setiap orang memiliki bakatnya masing-masing. Mungkin memancing bukan salah satunya untukmu."
Mereka bertiga kemudian duduk dengan damai, menikmati hangatnya sinar matahari yang semakin redup, sambil mendengarkan desir angin dan alunan air sungai yang mengalir. Meskipun tak ada ikan yang berhasil ditangkap, sore itu tetap menjadi salah satu momen berharga yang mereka nikmati bersama.