
Ketiga sahabat - Jayak, Mado, dan Kunta - berdiri di tengah kota metropolitan yang tak pernah mereka bayangkan sebelumnya. Gedung-gedung menjulang tinggi, melebihi puncak gunung di desa mereka. Jalan-jalannya dipenuhi oleh kendaraan bergerak cepat, dengan suara berisik yang menggema di telinga mereka. Sinar matahari yang menyinari kota itu menciptakan kilauan pada kaca gedung-gedung tinggi, seolah-olah seluruh kota itu berpendar.
Jayak, dengan rambut panjangnya yang terurai dan mata yang tajam, menatap salah satu gedung pencakar langit. Matanya memancarkan semangat seorang pendekar yang melihat tantangan baru. "Apa kalian melihat itu?" katanya dengan nada penuh semangat. "Itu seperti gunung, tapi terbuat dari batu dan kaca. Bukankah itu tantangan yang sempurna untuk seorang pendekar seperti saya?"
Mado, yang selalu terlihat tenang dengan jubahnya yang sederhana dan buku yang selalu berada di tangannya, menarik napas panjang. Ia memandang Jayak dengan alis yang bertaut, "Jayak, itu bukan gunung. Itu adalah rumah bagi banyak orang. Sebuah tempat yang disebut apartemen atau hotel."
Kunta, dengan senyum kikuknya, menggaruk kepalanya yang botak, "Tapi bagaimana kita bisa tinggal di sana? Kita tak punya uang dari zaman ini."
Sebelum percakapan mereka berlanjut, Jayak, yang sudah terlanjur terbakar semangat, mulai mendekati gedung pencakar langit itu. Dengan langkah cepat, ia mulai memanjat dinding gedung dengan menggunakan celah-celah kecil sebagai pegangan. Orang-orang di sekitarnya berhenti dan menatap dengan kagum dan kebingungan.
Mado berteriak, "Jayak! Turun dari sana!"
Tapi Jayak, dengan senyumnya yang lebar, menjawab, "Tantangan ini akan kucerahkan, Mado! Aku akan menaklukkan gunung ini!"
Kunta, dengan ekspresi cemas, menepuk dada kirinya yang berdebar, "Demi para dewa, apa yang sedang dia lakukan?"
Mado, dengan ekspresi serius, memandangi gedung itu. Kemudian dengan langkah cepat, ia mendekati seorang petugas keamanan yang berdiri di pintu gedung. "Maaf, saudaraku. Temanku, dia... kurang mengerti. Bisakah Anda memaafkannya?"
Petugas keamanan itu, dengan alis yang berkerut, menatap ke atas dan melihat Jayak yang kini telah mencapai lantai sepuluh. "Dia harus turun, atau aku akan memanggil polisi!"
Dengan langkah panik, Mado berteriak, "Jayak! Turunlah sekarang!"
Dari kejauhan, Jayak melihat kerumunan orang yang semakin banyak di bawahnya. Dia merasa ragu sejenak, menatap ke bawah dengan keringat yang membasahi wajahnya. Kemudian, dengan hati-hati, ia mulai menuruni gedung itu, mendarat dengan selamat di tanah.
Kunta, dengan mata yang membelalak, menepuk-nepuk punggung Jayak, "Kau benar-benar gila! Kau tahu itu?"
Jayak, tersenyum lebar dengan napas yang terengah-engah, menjawab, "Itu... itu adalah salah satu petualangan terbaikku."
Mado mendekap bukunya erat-erat, "Kau benar-benar harus berhenti melakukan hal-hal gila seperti itu. Kita di sini untuk mencari cara kembali, bukan mencari masalah."
Jayak mengangkat bahu, "Setidaknya aku mencoba."
__ADS_1
Ketiganya, dengan perasaan campur aduk antara amarah, kelegaan, dan kebingungan, berjalan meninggalkan gedung itu, mencari tempat yang bisa mereka jadikan rumah sementara di dunia yang asing ini.
Dengan matahari yang mulai menjulang tinggi, ketiganya berjalan melintasi jalan-jalan kota yang dipenuhi dengan orang yang sibuk menuju pekerjaannya. Udara kota terasa berbeda; aroma bensin bercampur dengan aroma kopi dari kafe-kafe di sepanjang jalan, sementara desiran kendaraan membuat suara latar yang konstan.
"Apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Kunta, matanya mengamati setiap toko dan kantor yang mereka lewati, mencari petunjuk tentang dunia bisnis modern.
Jayak, mengenakan pakaian sederhana yang mereka beli dari toko pakaian bekas, menunjuk ke sebuah gedung dengan papan nama "Keamanan Garda". "Aku bisa bekerja di sana. Menjaga dan melindungi adalah keahlianku," ujarnya dengan penuh percaya diri.
Mado memperhatikan sebuah toko dengan papan besar bertuliskan "Internet Café". "Mungkin aku bisa mencari pekerjaan di sini. Aku bisa menulis, seperti yang selalu kulakukan."
Ketiganya memutuskan untuk mencoba keberuntungan di tempat yang mereka pilih. Jayak masuk ke kantor keamanan, Mado menuju kafe internet, dan Kunta memutuskan untuk mengunjungi beberapa toko dan kantor untuk memahami lebih lanjut tentang bisnis.
Di dalam kafe internet, Mado duduk di depan sebuah komputer. Dia memandangi layar, keyboard, dan sebuah benda kecil yang disebut 'mouse'. Dengan alis berkerut, dia bertanya pada pelayan kafe, "Bagaimana cara menggunakannya?"
Pelayan, dengan senyum sabar, menjelaskan, "Itu adalah mouse, Tuan. Anda bisa menggunakannya untuk menggerakkan kursor di layar."
Mado memegang mouse dengan ragu-ragu, tetapi ketika dia melihatnya bergerak-gerak, dia melemparkannya ke lantai sambil berteriak, "Tikus! Ada tikus!"
Mado merasa malu, mengambil mouse dan duduk kembali, berusaha menulis dengan cara yang dia kenal: mengetik di keyboard.
Sementara itu, di kantor keamanan, Jayak sedang menjalani wawancara. "Jadi, Anda memiliki pengalaman di bidang keamanan?" tanya manajer kantor dengan serius.
Jayak, dengan mata yang bersinar, menjawab, "Dulu, di desaku, aku adalah pendekar terbaik. Aku bisa melindungi dan bertarung."
Manajer itu tampak bingung tetapi tertarik. "Baiklah, kita akan memberi Anda kesempatan. Anda bisa mulai besok."
Ketika hari mulai gelap, ketiganya bertemu kembali. Kunta, dengan semangat baru, berkata, "Aku sudah memahami sedikit tentang bisnis di sini. Kita bisa memulai sesuatu yang baru."
Mereka berjalan bersama, berbagi cerita tentang hari mereka. Dengan setiap langkah, mereka semakin memahami dunia modern ini dan bagaimana mereka bisa beradaptasi di dalamnya. Meskipun banyak tantangan dan kesulitan, semangat persahabatan dan kerja keras mereka membimbing mereka melalui setiap rintangan.
Seiring waktu berlalu di kota modern, ketiganya mulai menyadari betapa pentingnya teknologi dalam kehidupan sehari-hari. Meski berusaha keras, mereka tetap merasa kewalahan dengan semua inovasi yang ada di depan mata mereka.
__ADS_1
Sebuah sore yang cerah, Jayak duduk di ruang tamu apartemen kecil yang mereka sewa, menatap kotak datar yang disebut televisi. Layarnya menampilkan gambar-gambar bergerak dengan suara yang jernih, membuat Jayak terpesona. "Apakah ini jendela ke dunia lain?" tanyanya dengan mata terbelalak, menyentuh layar dengan jari-jarinya yang kasar.
Mado masuk ke ruangan dengan gelas teh di tangannya, "Itu bukan jendela, Jayak. Itu adalah televisi. Sebuah alat yang menampilkan gambar dan suara dari seluruh dunia."
Jayak memiringkan kepalanya, "Tapi bagaimana mungkin? Apakah ini sihir?"
Mado tersenyum, "Bukan sihir. Ini teknologi."
Di sudut lain apartemen, Kunta terobsesi dengan benda kecil berbentuk persegi yang disebut kalkulator. Ia menekan tombol-tombol dengan penuh kegembiraan, melihat angka-angka muncul di layar. "Luar biasa! Aku bisa melihat angka tanpa perlu berhitung!"
Dengan semangat yang meluap-luap, keesokan harinya Kunta pergi ke pasar dengan kalkulator di tangannya. Ia berdiri di tengah kerumunan, menawarkan jasanya. "Dengarkan! Aku memiliki alat ajaib yang dapat memberitahumu masa depan! Hanya dengan beberapa koin, aku akan memberitahumu apa yang akan terjadi!"
Orang-orang di sekitarnya bertukar pandang, bingung dengan tawaran aneh Kunta. Seorang pria tua mendekati Kunta, memberikan beberapa koin dan bertanya, "Baiklah, berapa hasil dari tujuh dikali sembilan?"
Kunta, dengan percaya diri, mengetik angka di kalkulator dan menunjukkan hasilnya, "Lihat! Jawabannya adalah 63!"
Pria tua itu tertawa, "Itu bukan ramalan masa depan. Itu hanya matematika dasar!"
Mado, yang kebetulan berada di pasar, mendekati Kunta dan berbisik di telinganya, "Kalkulator itu hanya untuk berhitung, bukan untuk meramal."
Kunta tampak kecewa, "Oh, aku kira aku sudah menemukan harta karun."
Di apartemen, saat malam mulai turun, Mado duduk di depan komputer, mencoba memahami konsep internet. "Jadi, ini seperti perpustakaan besar yang berisi segala informasi?"
Jayak, yang kini menjadi fans berat acara pertarungan di televisi, menjawab tanpa mengalihkan pandangannya, "Itulah yang kau katakan, tetapi aku masih bingung."
Mado mengepalai tangannya, frustrasi, "Semua ini membingungkan. Ada begitu banyak hal yang harus dipelajari."
Jayak berdiri, mematikan televisi, "Mungkin kita tidak perlu memahami semuanya. Mungkin kita hanya perlu memahami yang penting bagi kita."
Mado mengangguk, "Kau benar. Dunia ini besar, dan kita masih memiliki banyak waktu untuk belajar."
__ADS_1
Ketiganya duduk bersama, menyadari bahwa meskipun teknologi modern mungkin membingungkan, mereka memiliki satu sama lain untuk memandu mereka melalui semua rintangan dan kesulitan. Teknologi mungkin berubah, tetapi persahabatan mereka tetap kuat.