
Langit kota berpendar dengan cahaya neon dari gedung-gedung tinggi yang menjulang. Awan tipis berarak di atas, terlihat menari-nari dipantulkan oleh lampu kota. Angin malam menerpa halus, membawa aroma khas kota yang padat dengan sedikit hint aroma tanaman dari taman kecil yang terletak di pinggir jalan.
Di sebuah kafe kecil yang terletak di pojok jalan, Mado duduk di salah satu meja teras. Ia memandang sekeliling, melihat orang-orang yang sibuk dengan perangkat mereka. Di tangan Mado, sebuah laptop hitam bersinar terang dengan ikon-ikon aneh yang berkedip-kedip.
Jayak, yang duduk di seberangnya, menyeruput minumannya dan bertanya dengan ekspresi bingung, “Mado, kenapa kau memandangi ‘batu ajaib’ itu dengan tatapan kosong?”
Mado mengernyitkan dahinya, “Aku hanya ingin menuangkan pikiran dan perasaanku, Jayak. Tapi, aku tak mengerti cara mengoperasikan benda ini.” Wajahnya tampak frustrasi, matanya memerah, dan rahangnya menegang.
Kunta, yang duduk di sebelah Mado, tertawa kecil. “Itu bukan batu ajaib, Mado. Itu adalah alat tulis zaman ini. Coba, biar aku tunjukkan.” Ia menggerakkan jarinya di atas touchpad, namun Mado dengan cepat menarik laptop itu, memukul-mukulnya pelan, dan berkata dengan nada kesal, “Mengapa benda ini tak merespons sentuhan tanganku seperti yang dilakukan oleh orang-orang lain?”
Jayak menahan tawa, sambil menunjukkan giginya yang putih, "Mungkin benda itu memerlukan mantra khusus, Mado."
Mado memutar bola matanya, "Ini bukan saatnya bercanda, Jayak." Bibirnya mengecil, dan ia tampak sedikit cemberut.
Seorang pelayan kafe, seorang gadis muda berambut pirang, mendekat dengan senyum ramah, “Maaf mengganggu, apakah Anda memerlukan bantuan?”
Mado menatap gadis itu dengan tatapan harap, “Bisakah kau mengajarkanku bagaimana cara menggunakan... ‘laptop’ ini?”
Gadis itu menunjukkan senyum manisnya dan duduk di samping Mado. “Tentu! Mari saya tunjukkan.” Dengan gerakan jari yang lincah, ia memperlihatkan bagaimana menggunakan laptop, sementara Mado memperhatikannya dengan seksama, matanya membesar penuh kekaguman.
Kunta tertawa pelan, menepuk bahu Mado, “Tenang, sahabat. Kita semua perlu belajar. Aku yakin kau akan menguasainya dengan cepat.”
Mado mengangguk, “Terima kasih, Kunta. Aku hanya merasa... kangen dengan masa lalu kita. Dengan cara kita menulis, cara kita berkomunikasi. Semuanya terasa begitu asing di sini.”
Jayak menatap jauh ke langit kota yang berpendar, “Kita semua merasa demikian, Mado. Tapi, kita harus beradaptasi. Dan, siapa tahu? Mungkin dengan ‘batu ajaib’ ini, kau bisa menyampaikan kisah kita kepada dunia.”
Mado tersenyum tipis, menghela nafas panjang, dan mulai mengetik di laptop dengan hati-hati, “Baiklah, mari kita mulai dari awal.”
Dengan lampu kota yang berpendar di kejauhan, suara desiran angin malam, dan gemerincing gelas dari kafe, Mado mulai menuliskan kisah mereka. Kekaguman dan rasa penasaran mengisi setiap ketukannya di keyboard, mengawali babak baru petualangan mereka di dunia yang asing ini.
Sebuah taman luas dengan rimbunnya pohon-pohon tua berbaris di sepanjang jalan setapak. Kicauan burung terdengar merdu, menyatu dengan gemericik air dari sebuah kolam buatan di tengah taman. Langit sore berubah warna menjadi oranye keemasan, menciptakan suasana yang hangat dan romantis.
Mado duduk di bawah pohon rindang dengan selembar kertas dan pena di tangannya. Dia tenggelam dalam pikiran dan perasaannya, tulisannya mengalir cepat di atas kertas. Kunta dan Jayak duduk beberapa meter darinya, memperhatikan anak-anak bermain bola di lapangan terbuka.
__ADS_1
“Kau pikir Mado akan baik-baik saja?” tanya Jayak, mengambil sebuah batang rumput dan memainkannya di antara jarinya.
Kunta mengangkat bahu, “Mado selalu punya cara sendiri untuk mengatasi hal-hal. Mungkin menulis adalah salah satunya.”
Jayak tertawa pelan, “Sepertinya ‘batu ajaib’ itu bukan untuknya. Pena dan kertas lebih pas.”
Tidak lama kemudian, seorang wanita berjalan mendekati Mado dengan langkah cepat. Ia mengenakan setelan blazer, dengan rambut hitam panjang yang tergerai indah. Di tangannya, ia membawa majalah dengan logo yang dikenal sebagai salah satu majalah populer.
“Permisi, saya Lina dari majalah ‘Dunia Sastra’. Apakah saya bisa melihat apa yang Anda tulis?” tanya Lina dengan senyum ramah namun penasaran.
Mado terkejut, mata coklatnya membesar. Dengan polos, ia memberikan lembaran kertasnya kepada Lina. “Tentu, silakan.”
Lina memandangi tulisan Mado dengan ekspresi kagum. Namun, saat ia hendak membalik halaman, ia menyadari bahwa beberapa bagian dari tinta masih basah dan menempel di tangannya. Ia terdiam, melihat noda tinta biru di tangannya dengan ekspresi campur aduk.
Mado, menyadari kesalahannya, merasa canggung. “Maaf, saya lupa bahwa tintanya belum kering.”
Jayak dan Kunta segera berlari mendekat, mencoba membantu situasi. Jayak dengan polosnya berkata, “Tinta di zaman kami langsung kering, jadi kami tak pernah khawatir tentang hal ini.”
Lina tertawa pelan, “Tidak masalah. Saya selalu punya tisu di tas saya.” Dengan gerakan cepat, ia membersihkan tangannya. “Saya sangat terkesan dengan tulisan Anda. Apakah Anda tertarik untuk menerbitkannya di majalah kami?”
Kunta berusaha menjelaskan, “Maksudnya, ceritamu akan dicetak dan dibaca oleh banyak orang, Mado.”
Mimik wajah Mado berubah, dari bingung menjadi senang. “Oh, tentu! Saya akan sangat senang.”
Lina tersenyum lebar, “Baiklah, saya akan mengatur semuanya. Terima kasih telah memberikan kesempatan ini kepada kami.” Dengan langkah cepat, ia berlalu meninggalkan taman.
Ketiganya duduk kembali, saling bertukar tatapan. Jayak tertawa, “Sepertinya Mado akan menjadi penulis terkenal!”
Kunta menambahkan, “Siapa sangka, tinta yang belum kering bisa membawa keberuntungan seperti ini?”
Mado tersenyum malu, “Terima kasih, teman-teman. Tanpa kalian, mungkin aku tak akan pernah menulis kisah kita.”
Di bawah pohon rindang, dengan langit senja sebagai latar, ketiganya merayakan awal dari petualangan baru mereka di dunia literasi modern.
__ADS_1
Di pinggir jalan kota yang sibuk, sebuah papan iklan besar berdiri megah menampilkan poster kompetisi bela diri. Gambar petarung dengan tatapan tajam dan pakaian modern, berkontras dengan latar belakang langit kota yang mendung. Di bagian bawah poster, tulisan besar menantang: “Siapakah Petarung Terbaik? Daftar dan Buktikan!”
Jayak, dengan mata berbinar, menatap papan iklan tersebut. “Kunta, lihat! Ini kesempatan bagus untukku menunjukkan keahlianku dalam bela diri.”
Kunta menatap papan iklan dengan ekspresi ragu, “Kau yakin? Gaya bela dirimu mungkin terlalu kuno untuk kompetisi seperti ini.”
Jayak mengepalkan tinjunya, “Itulah yang akan membuatku menonjol. Aku akan menggabungkan teknik kuno dengan gaya modern.”
Mado tersenyum sinis, “Apakah kau akan mengajari mereka cara menari sebelum menyerang?”
Jayak menatap Mado dengan tatapan tajam, “Tertawa sepuasnya sekarang. Nanti kau akan melihat.”
Dengan semangat membara, Jayak memutuskan untuk berlatih di taman kota. Tempat itu adalah lahan hijau luas dengan pepohonan yang rindang, bersebelahan dengan kolam kecil yang airnya tenang. Beberapa orang sedang berjogging, sementara anak-anak bermain di area bermain yang didekorasi dengan warna-warni.
Jayak mulai dengan pemanasan, menggerakkan tubuhnya dengan gerakan lambat dan anggun, mirip dengan tarian. Kemudian, ia mulai mengeksekusi serangan dan pertahanan dengan gerakan yang penuh semangat dan energik. Gayanya memang kuno, namun kekuatan dan keahliannya terlihat jelas.
Seiring berjalannya waktu, banyak orang yang berhenti dan memperhatikan. Seorang ibu muda dengan anak kecilnya berkomentar, “Lihat, Nak! Pria itu tampak seperti petarung dari film kuno!”
Anak kecil itu, dengan mata berbinar, mulai menirukan gerakan Jayak. Ia mengangkat kakinya, berputar, dan berusaha melakukan tendangan seperti yang dilakukan Jayak. Beberapa anak lainnya ikut bergabung, mencoba meniru dengan cara mereka sendiri. Beberapa di antaranya terjatuh dengan lucu, sementara yang lain tertawa riang. Tak lama, taman itu menjadi ramai dengan anak-anak yang berusaha menirukan gaya bela diri kuno Jayak.
Kunta dan Mado, yang semula duduk di pinggir taman, tertawa melihat kekacauan yang tercipta. “Kau benar, Jayak,” kata Kunta sambil tertawa, “Kau memang menonjol!”
Mado menambahkan, “Dan kau punya banyak murid kecil sekarang!”
Jayak menghentikan latihannya, tersenyum melihat anak-anak yang bersemangat. “Mungkin ini adalah cara kami berbagi budaya,” katanya dengan bangga, “Melalui bela diri.”
Seorang pria paruh baya mendekati Jayak, “Maaf mengganggu. Saya pelatih di sebuah dojo di kota ini. Saya terkesan dengan gaya Anda. Apakah Anda tertarik untuk bergabung dengan kami?”
Jayak menatap pria tersebut dengan tatapan serius, “Tentu, namun saya harus memastikan bahwa gaya saya diterima.”
Pria itu tersenyum, “Kami selalu terbuka dengan gaya baru. Kita akan melihat di kompetisi nanti.”
Mata Jayak berbinar, “Baiklah, saya akan mendaftar!”
__ADS_1
Sore itu, taman kota menjadi saksi bagaimana budaya kuno bertemu dengan modern, dan bagaimana seni bela diri menjadi jembatan antara dua dunia yang berbeda.