
Kegelapan menyelimuti kota modern yang sebelumnya begitu bercahaya. Ketiganya, Jayak, Mado, dan Kunta, merasa terpaku dalam kegelapan ini, tetapi mereka tahu bahwa saat ini adalah saat yang kritis untuk menemukan batu permata yang telah dicuri. Dengan hati-hati, mereka mulai mencari petunjuk di jalanan yang gelap.
Di antara kegelapan, Kunta yang berjalan paling depan secara tidak sengaja menabrak sesuatu yang besar dan keras. Sebuah pohon Natal raksasa di pusat kota terguncang hebat dan roboh dengan gemuruh. Dahan-dahan pohon Natal itu jatuh, dan bola-bola kaca yang menghiasinya pecah, menimbulkan gemerisik kaca pecah yang mengejutkan.
Jayak, Mado, dan Kunta melihat kejadian itu dengan ngeri. Mereka berusaha meredakan kepanikan di antara kerumunan orang yang menyaksikan pohon Natal raksasa itu tumbang.
Jayak berkata dengan nada cemas, "Ini adalah tindakan kami yang tak sengaja. Kami akan menggantinya, saya janji."
Orang-orang di sekitarnya mulai tertawa dan mengambil video kejadian tersebut dengan ponsel mereka. Beberapa dari mereka membagikan video itu di media sosial. Kunta, yang merasa sangat malu, mencoba menjelaskan, "Maaf, kami bukan dari sini. Kami tidak tahu apa-apa tentang... pohon Natal."
Mado mencoba menenangkan kerumunan dengan kata-kata bijak, "Setiap kegelapan pasti akan diikuti oleh cahaya. Mari kita semua bersatu dan membantu mengatasi situasi ini bersama-sama."
Suasana menjadi lebih tenang, dan sementara kerumunan mulai membantu membersihkan reruntuhan pohon Natal, Jayak, Mado, dan Kunta melanjutkan pencarian mereka. Mereka tahu bahwa batu permata adalah kunci untuk kembali ke masa mereka sendiri.
Mereka mengikuti jejak musuh ke arah yang lebih gelap di antara bangunan yang terlupakan. Di tengah kegelapan, mereka terus berkomunikasi satu sama lain.
Kunta bertanya kepada Mado dengan khawatir, "Kami harus menemukan batu itu dengan segera. Tidak hanya masa depan kami yang terancam, tapi juga masa kini mereka."
Mado mengangguk, "Saya tahu, Kunta. Tapi kita tidak boleh panik. Mari berpikir dengan jernih."
Sementara mereka berjalan, Jayak yang mendengarkan percakapan mereka merasa sedikit terasing. Ia merenung, "Ini dunia yang sangat berbeda. Teknologi mereka membuat saya tercengang. Apa yang terjadi pada dunia kami?"
Tiba-tiba, mereka mendengar suara gemuruh. Ini bukan lagi suara kerumunan orang, melainkan suara derap langkah kaki yang mendekati mereka. Ketiganya bersembunyi di antara reruntuhan bangunan dan berbicara dengan bahasa pelan.
"Ada yang mendekati. Saya akan pergi mencari tahu," kata Jayak, dan ia melangkah pergi ke arah suara tersebut.
Mado dan Kunta menunggu dengan ketegangan. Beberapa saat kemudian, Jayak kembali dengan mimik muka tertegun. "Saya tahu siapa yang datang," ujarnya. "Itu adalah musuh kita."
Mado dan Kunta bertanya dengan cemas, "Bagaimana kita akan menghadapinya?"
__ADS_1
Jayak tersenyum penuh tekad, "Dengan keberanian, persatuan, dan sedikit kelicikan, kita akan mengalahkannya."
Jayak, Mado, dan Kunta terus melacak musuh mereka yang bersembunyi di tengah kegelapan kota yang dilanda blackout. Di antara reruntuhan dan jalan gelap, Jayak mengandalkan insting pendekarnya untuk melacak jejak musuh tersebut. Setiap langkah mereka sangat hati-hati, karena mereka tahu bahwa batu permata yang dicuri adalah kunci untuk kembali ke masa mereka sendiri.
Sementara Jayak fokus pada pencarian mereka, Mado dan Kunta menjaga kewaspadaan mereka. Mado berkata dengan suara pelan, "Kita harus menjalankan rencana ini dengan cermat. Jangan sampai musuh mengetahui keberadaan kita sebelum kita siap."
Kunta setuju, "Benar. Dan kita perlu menemukan cara untuk mengambil batu permata itu kembali tanpa terlalu banyak pertempuran."
Jayak mendengarkan dengan serius, "Saya akan mencoba mengetahui berapa banyak musuh yang kita hadapi dan apa persenjataan mereka."
Sementara Jayak memusatkan perhatiannya pada melacak musuh, ia tiba-tiba merasa lapar. Rasa lapar itu mengganggunya, dan dia merasa perlu makan sesuatu sebelum mereka melanjutkan pencarian. Tanpa berpikir panjang, Jayak melihat cahaya samar di kejauhan dan mengarahkan mereka ke arah itu. Mado dan Kunta mengikuti Jayak dengan penuh kebingungan.
Sesampainya di tempat yang terang, mereka kaget mendapati sebuah kedai es krim yang tetap buka meski listrik padam. Seorang penjual es krim dengan senyum ramah menyambut mereka.
"Selamat datang! Kami masih buka meski listrik padam. Anda ingin mencoba es krim kami?" tawar sang penjual es krim.
Kedua temannya, Mado dan Kunta, terkejut dengan pesanannya. Mado tertawa pelan sambil berkata, "Jayak, itu adalah buah asing di zaman kami. Bagaimana rasanya?"
Jayak mengangkat bahu sambil menjawab, "Saya tidak tahu, tapi saya merasa perlu mencoba hal baru. Ini adalah kesempatan yang unik."
Penjual es krim itu tersenyum dan memberikan es krim rasa durian kepada Jayak. Jayak, yang masih memikirkan misi mereka, dengan serius mencicipi es krim tersebut. Wajahnya langsung berubah, dan ia mencoba menahan ekspresi kagum dan kebingungannya.
Mado dan Kunta yang melihat reaksi Jayak tertawa terbahak-bahak. Mado berkata, "Saya kira 'durian' memang memiliki rasa yang cukup kuat, bukan?"
Jayak mengangguk pelan, "Iya, rasanya sangat... unik. Tapi ini bagus. Saya pikir saya bisa terbiasa dengan ini."
Setelah Jayak menyelesaikan es krimnya, mereka kembali fokus pada pencarian batu permata. Mereka tahu bahwa mereka tidak bisa terlalu lama terpaku pada kenikmatan es krim, meskipun dalam kegelapan yang mendalam ini, sesuatu yang lucu seperti pesanan Jayak memberikan sedikit keceriaan di tengah ketegangan mereka.
Kegelapan yang melanda kota terus berlanjut, dan Jayak, Mado, dan Kunta terus berjalan menjauhi kedai es krim yang memberi mereka sedikit hiburan. Sambil berjalan, Mado merasa perlu mencoba menghubungi ilmuwan yang menawarkan bantuan mereka sebelumnya. Dia mengeluarkan ponselnya dari saku dan mencoba menyalakannya, tapi tentu saja, layar ponsel tetap gelap karena listrik padam.
__ADS_1
Mado berkata kepada Jayak dan Kunta, "Saya punya power bank. Saya akan mencoba menghidupkan ponsel ini agar kita bisa menghubungi ilmuwan tersebut."
Dengan hati-hati, Mado menyambungkan ponselnya ke power bank dan mencoba menyalakannya. Cahaya layar kecil ponsel menyala dengan redup. Mado dengan cepat mencari nomor kontak ilmuwan yang telah memberikan bantuan kepada mereka.
Namun, ketika Mado mencoba menelepon, sesuatu yang tidak terduga terjadi. Sebuah suara tiba-tiba muncul dari speaker ponsel, bukan suara ilmuwan yang mereka harapkan, melainkan suara seorang operator layanan pesan suara.
Suara itu berkata dengan nada ceria, "Selamat datang di Layanan Pesan Suara Otomatis! Anda sudah terhubung ke mesin layanan kami. Untuk memproses permintaan Anda, kami meminta Anda untuk melakukan tarian tango. Silakan mulai menari sekarang."
Mado, Jayak, dan Kunta saling pandang dengan kebingungan. Mado mencoba menjelaskan, "Ini bukan yang saya maksud. Saya ingin berbicara dengan ilmuwan yang menawarkan bantuan."
Namun, suara dari operator pesan suara tersebut tetap tegas, "Tidak ada yang dapat saya lakukan sampai Anda menari tango. Silakan mulai sekarang."
Mado menatap ponsel dengan frustrasi. Jayak, yang sebenarnya tidak memiliki pengalaman menari, mencoba mengikuti Mado. Mereka berdua mencoba menari tango di tengah kegelapan yang gelap, di antara reruntuhan bangunan.
Kunta yang awalnya bingung, akhirnya juga bergabung dalam tarian yang aneh ini. Mereka melangkah dengan langkah-langkah yang kikuk dan kadang-kadang terantuk di bebatuan di jalanan yang tak terlihat. Tetapi mereka terus berusaha, meskipun dengan ragu.
Suara operator pesan suara itu tampaknya puas dengan usaha mereka, karena setelah beberapa saat, suara itu berkata, "Terima kasih atas tarian tango Anda yang memukau! Kami telah mencatatnya. Silakan lanjutkan dengan pertanyaan atau permintaan Anda."
Mado, Jayak, dan Kunta berhenti menari dan Mado berkata, "Kami ingin berbicara dengan ilmuwan yang menawarkan bantuan kami. Kami memiliki masalah yang perlu dipecahkan."
Suara operator pesan suara itu menjawab, "Saat ini, semua operator sedang sibuk. Mohon tunggu sebentar."
Mereka merasa cemas, karena waktu terus berjalan dan musuh mereka mungkin semakin mendekat. Jayak berkata dengan cemas, "Kita tidak punya waktu untuk menunggu."
Tiba-tiba, ponsel Mado berdering. Itu adalah panggilan dari seorang ilmuwan yang mereka hubungi. Mado dengan cepat menjawab panggilan tersebut dan menjelaskan situasinya dengan cepat.
Ilmuwan itu, meskipun agak bingung dengan cerita yang tidak biasa ini, berjanji untuk membantu mereka secepat mungkin. Dia memberikan petunjuk lebih lanjut tentang cara melacak musuh mereka dan mengambil kembali batu permata yang dicuri.
Setelah menutup panggilan, Mado, Jayak, dan Kunta merasa lega bahwa mereka memiliki bantuan dari ilmuwan tersebut. Mereka kembali melanjutkan pencarian mereka dalam kegelapan, dengan harapan bahwa batu permata akan segera kembali ke tangan mereka.
__ADS_1