
Matahari pagi yang cerah menyeruak di antara dedaunan tebal, menyoroti lapisan embun yang membasahi rumput hijau. Dalam hening, hanya terdengar nyanyian burung dan desir angin yang lembut. Jayak, dengan panah dan busurnya, bergerak lincah mengejar rusa muda yang tampak cerdas. Ia menginjak ranting kering, membuat suara retak yang mengagetkan rusa tersebut.
"Ah, Jayak! Hatimu sekeras batu namun kakimu selalu ceroboh!" ejek Mado sambil tertawa, menepuk-nepuk pundak Jayak yang tampak kesal.
Jayak memutar bola mata, "Jangan mengejek, Mado. Kau hanya duduk menulis puisi sambil tertawa melihatku."
Mado mengedikkan bahu, "Kau tahu, Jayak, ada keindahan dalam setiap kegagalan."
Sementara keduanya berdebat, Kunta, dengan serius, mencoba membuat perangkap. Dengan tangan bergetar, ia berusaha mengikat seutas tali yang selalu saja kusut. "Aduh, tali ini! Sepertinya dewa perangkap tidak berpihak padaku hari ini," gerutunya.
Jayak mendekati Kunta dan menunjukkan wajah sinisnya, "Mungkin kau harus mengikatnya dengan puisi, Mado pasti bisa membantu." Kedua pria itu tertawa, sementara Mado pura-pura cemberut.
"Oke, oke," Mado mendekap kitab kecilnya, "Jangan ejek puisiku. Lihat, bahkan pohon besar di sana pun menari-nari mendengarkannya."
Saat tertawa bersama, Jayak mundur beberapa langkah dan hampir tergelincir di lereng kecil. Ketika ia berusaha menyeimbangkan diri, tangannya menyentuh dinding batu yang dingin, menemukan mulut gua yang tersembunyi di balik semak-semak. Daun-daun rimbun, penuh dengan embun pagi, menutupi mulut gua, membuatnya tampak seperti lukisan alam.
"Hai, lihat ini!" seru Jayak.
Kunta dan Mado mendekat, mata mereka membulat melihat gua yang tersembunyi. "Astaga! Bagaimana kita bisa melewatkannya selama ini?" tanya Kunta dengan mata terbelalak.
Mado menatap gua dengan ekspresi penuh kekaguman, "Mungkin karena kita terlalu sibuk dengan kehidupan kita sendiri dan lupa melihat keajaiban yang ada di depan mata."
Jayak mengangguk, "Atau mungkin karena kita terlalu sibuk tertawa atas kekonyolan satu sama lain."
Mereka tertawa. Di tengah heningnya alam, tawa mereka menjadi simfoni yang sempurna, menyatu dengan keindahan alam di sekitar mereka. Saat tertawa, matahari pagi menyinari wajah mereka, menampilkan semburat oranye yang membingkai wajah mereka dengan sempurna.
Dengan rasa penasaran, mereka memutuskan untuk mendekati gua dan mengeksplorasi lebih lanjut. Namun, sebelum itu, mereka duduk bersama, menikmati kebersamaan di tengah indahnya alam, membiarkan angin pagi menyapu wajah mereka, sebelum memulai petualangan berikutnya.
__ADS_1
Ketiganya berdiri di depan mulut gua yang tersembunyi di balik rimbunnya semak-semak. Gua tersebut mengeluarkan aroma tanah basah dan kelembaban yang memeluk. Sinar matahari yang menerobos antara dahan dan dedaunan menciptakan sorotan cahaya yang memantul pada dinding batu gua, memperlihatkan tekstur kasar dan warna gelap yang kontras dengan kehijauan sekitarnya.
"Kalian pikir ada apa di dalamnya?" Kunta bertanya dengan mata berbinar penuh rasa ingin tahu. Sambil menggosok-gosok dagunya yang mulai ditumbuhi jenggot, ia mencoba mengintip ke dalam gua yang tampak gelap.
Mado, dengan mata melamun, berkata, "Gua ini bagaikan misteri yang tak terpecahkan. Seperti..." Ia berhenti sejenak, mencari inspirasi.
"Seperti apa, Mado?" tanya Jayak dengan senyum jahil.
"Seperti... hmm... hati wanita yang sulit ditebak?" Mado mencoba menyusun kata-katanya.
Jayak tertawa terbahak-bahak, "Itu bukan puisi, itu lelucon!"
Kunta, berusaha menahan tawa, menimpali, "Mungkin Mado sedang berusaha memikat hati wanita dengan puisinya."
Mado memutar bola matanya, "Baiklah, biarkan saya coba lagi. Gua ini bagaikan... rahasia dunia yang mendalam, menanti untuk ditemukan."
"Hei, mungkin burung ini punya rahasia tentang gua ini," celetuk Jayak, masih dengan senyum lebarnya.
Mado menepuk dahi, "Ah, kau selalu saja, Jayak! Tidak bisa serius sebentar?"
Ketiganya tertawa bersama, merasakan kehangatan persahabatan di tengah keindahan alam yang mengelilingi mereka. Udara pagi yang segar, dengan aroma bunga-bunga liar dan dedaunan basah, semakin menambah kesan mistis di sekitar gua.
Mereka kemudian duduk di bebatuan dekat gua, menikmati sejenak kebersamaan sebelum memutuskan langkah selanjutnya. Kunta mengeluarkan bekal yang dibawanya, membagikannya kepada Jayak dan Mado. Sambil makan, mereka berbicara tentang masa lalu, tentang petualangan mereka sebelumnya, dan tentu saja, tentang gua misterius yang baru saja ditemukan.
"Menurutku, kita harus masuk dan mengeksplorasi gua ini," ujar Kunta dengan semangat.
Jayak menyetujui, "Saya juga berpikir demikian. Siapa tahu kita akan menemukan sesuatu yang berharga di dalamnya."
__ADS_1
Mado mengangguk, "Tapi kita harus berhati-hati. Seperti puisi yang sulit ditebak, gua ini mungkin juga memiliki rahasia yang tak terduga."
Ketiganya berdiri, memantapkan hati, dan memutuskan untuk memulai petualangan baru dalam gua misterius tersebut.
Seiring mendekati mulut gua, atmosfer di sekitar mereka menjadi lebih tebal dan dingin. Kedalaman gua memancarkan suasana misterius, seperti memanggil-manggil mereka untuk masuk lebih dalam. Namun, saat mereka bersiap memasuki gua, sesuatu yang tak terduga menghentikan langkah mereka.
Dari balik bayangan yang gelap, muncullah sosok binatang mitos yang gagah, dengan tanduk melingkar dan sayap besar yang tampak kokoh. Tubuhnya dilapisi bulu tebal berwarna keemasan yang memantulkan cahaya matahari, memberikan kesan magis dan anggun. Ekornya panjang dan berakhir dengan rumbai-rumbai halus yang berkilauan.
Ketiganya, dengan mata terbelalak, menatap binatang tersebut. Jayak, yang selalu berani, mengambil napas dalam-dalam, siap untuk berbicara, namun sebelum ia bisa mengeluarkan suara, binatang tersebut berbicara duluan.
"Hei! Siapa kalian dan apa yang kalian cari di sini?" Suara binatang itu tinggi dan melengking, sangat kontras dengan penampilannya yang gagah. Suaranya terdengar seperti suara burung canary yang sedang bersiul.
Ketiganya tampak bingung, dan wajah mereka berubah merah menahan tawa. Kunta menutup mulutnya dengan tangan, berusaha keras tidak tertawa, sementara Mado dengan cepat menutupi wajahnya dengan kitab kecilnya.
Jayak, berusaha untuk bersikap sopan, menjawab, "Maaf, kami hanya penasaran dengan gua ini. Kami tidak berniat mengganggu atau mengambil sesuatu dari sini."
Binatang tersebut mengangguk dengan mimik serius, "Saya adalah penjaga gua ini. Nama saya Lyno. Gua ini memiliki sejarah yang panjang dan banyak rahasia yang tersembunyi di dalamnya. Jika kalian ingin masuk, kalian harus menjawab pertanyaan saya."
Kunta, yang sudah berhasil menenangkan diri, berkata, "Baiklah, Lyno. Kami siap menjawab pertanyaanmu."
Lyno menatap mereka dengan mata yang tajam, "Baiklah, pertanyaannya adalah... Siapa pemenang lomba lari di desa kalian tahun lalu?"
Ketiganya tampak bingung. Bagaimana mungkin Lyno tahu tentang lomba lari di desa mereka? Namun, Mado, yang selalu cerdas dalam mengingat hal-hal kecil, segera menjawab, "Itu adalah Bimo, tetangga kami!"
Lyno tampak puas, "Benar sekali! Kalian boleh masuk. Tapi ingat, jangan mengambil apa pun dari dalam gua. Hargai sejarah dan rahasia yang ada di dalamnya."
Ketiganya mengangguk, mengucapkan terima kasih, dan memasuki gua dengan hati-hati, sambil berbisik-bisik tentang Lyno yang memiliki penampilan gagah namun suara melengking. Di tengah kegelapan gua, cahaya matahari yang menerobos memberikan sedikit penerangan, memandu langkah mereka menuju petualangan yang menanti di dalam.
__ADS_1