
Senja yang indah memercikkan cahaya jingga ke langit kota modern. Di tengah kebisingan kota, Jayak, Mado, dan Kunta berdiri di depan gedung perpustakaan yang megah. Bangunan tua itu, dengan pintu-pintu besarnya yang terbuat dari kayu berukir indah, terasa seperti sebuah tempat yang jauh dari keramaian.
Ketiga pria itu memasuki perpustakaan dengan perasaan antusias, membayangkan pengetahuan yang melimpah di dalamnya. Mereka berjalan melewati lorong-lorong yang dihiasi oleh rak buku yang tinggi. Aroma kertas kuno dan kayu yang memenuhi udara memberikan atmosfer yang tenang dan nyaman.
"Sekarang, kita harus mencari buku tentang batu permata ini," kata Mado sambil menyapu pandangannya ke sekeliling.
Jayak, yang biasanya terlihat sangat gagah, sekarang terlihat canggung dengan pakaian modern yang mereka kenakan. Celana panjangnya terlalu ketat, dan dia terlihat kesulitan bergerak. "Ini adalah tempat yang sangat besar," kata Jayak dengan heran. "Bagaimana kita akan menemukannya?"
Kunta tersenyum dan menyentuh bahunya. "Tenang saja, Jayak. Kami akan mencarinya bersama-sama. Pertama-tama, mari kita periksa buku-buku di bagian sejarah dan mitologi."
Mereka memasuki bagian sejarah perpustakaan dan mulai mencari buku-buku kuno tentang batu permata tersebut. Rak-rak penuh dengan buku yang lempang, dan judul-judulnya membuat mata mereka berbinar-binar. Jayak mulai mengambil sebuah buku dari rak dan membukanya dengan penuh antusiasme.
Namun, saat ia hendak membaca buku itu, Kunta yang sedang mencari buku lain secara tidak sengaja menabrak meja di dekatnya. Sebuah botol tinta terjatuh dan tumpah, memercikkan tinta hitam yang kental ke buku yang tengah dibaca Jayak.
"Aduh! Maaf, Jayak!" seru Kunta panik.
Jayak menatap buku yang sekarang sudah penuh dengan tinta hitam dengan ekspresi campuran antara kesal dan canggung. "Tidak apa-apa, Kunta. Kita bisa membersihkannya."
Mado mencari-cari tisu atau kain yang bisa digunakan untuk membersihkan tinta tersebut. Tiba-tiba, mereka mendengar suara langkah kaki mendekat. Seorang pustakawan yang berpakaian rapi dan kacamata besar berjalan mendekati mereka.
"Mungkin dia bisa membantu kita," bisik Mado kepada yang lainnya.
Pustakawan itu menghampiri mereka dengan senyum ramah. "Ada yang bisa saya bantu, Tuan-Tuan?"
Kunta menjawab dengan gemetar, "Kami sedang mencari buku tentang batu permata kuno, tetapi sepertinya kami mengalami kecelakaan kecil dengan tinta ini."
Pustakawan itu menatap buku yang tumpah tinta dengan tatapan cemas. "Oh, ini bukan hal yang baik. Mari kita bersihkan ini sebelum noda semakin parah."
Mereka berempat berusaha membersihkan buku itu dengan tisu dan cairan pembersih yang disediakan oleh pustakawan. Jayak yang canggung dengan teknologi modern mencoba menjelaskan tentang batu permata kepada pustakawan.
"Saya kira batu ini sangat penting dan bisa membantu kami kembali ke zaman kami," kata Jayak dengan nada serius.
Pustakawan itu mengangguk mengerti sambil memandangi batu permata yang digambarkan oleh Jayak di layar ponselnya. "Ini terdengar menarik. Saya akan membantu Anda mencari informasi tentang batu permata tersebut di koleksi kami."
Selama beberapa jam, mereka berdua mencari informasi tentang batu permata itu. Mado dan Kunta mulai tertarik dengan beberapa buku tentang sejarah, sementara Jayak terus berfokus pada buku tentang batu permata.
__ADS_1
Tiba-tiba, Pustakawan itu berseru, "Saya menemukannya!" Dia memegang sebuah buku berusia ratusan tahun yang memiliki gambar yang mirip dengan batu permata yang mereka bawa. "Ini adalah buku tentang artefak kuno yang ditemukan di gua kuno di daerah ini. Batu ini dikenal sebagai 'Batu Zaman.'"
Mado, Jayak, dan Kunta mendekati pustakawan dan membuka buku itu dengan hati-hati. Mereka membaca tentang kekuatan batu tersebut dan cara menggunakannya untuk memanipulasi waktu.
Dengan senyuman di wajah mereka, mereka tahu bahwa mereka telah menemukan petunjuk penting dalam pencarian mereka untuk kembali ke zaman mereka sendiri. Pustakawan itu memberi mereka izin untuk meminjam buku tersebut, dan mereka kembali ke tempat tinggal mereka untuk melanjutkan penelitian mereka.
Sambil berjalan keluar dari perpustakaan, mereka tertawa bersama, merasa lega bahwa mereka telah membuat kemajuan dalam pencarian mereka. Namun, mereka tidak menyadari bahwa petualangan mereka masih jauh dari selesai, dan banyak rintangan yang menunggu di depan.
Saat matahari terbenam dan kota modern semakin sibuk dengan lampu-lampu neon yang menyala, Jayak, Mado, dan Kunta telah tiba di depan sebuah galeri seni yang indah. Gedung besar dengan jendela kaca besar memamerkan karya seni yang menakjubkan di dalamnya.
Jayak melihat ke dalam galeri dengan tatapan tajamnya. "Batu itu harus ada di dalam sana," katanya mantap.
Mado menambahkan dengan semangat, "Kita harus mencarinya dengan hati-hati. Kita tidak ingin menyebabkan masalah di tempat ini."
Mereka masuk ke dalam galeri, dan suasana di dalamnya sangat berbeda dari lingkungan perpustakaan tadi. Musik klasik yang lembut mengalun di latar belakang, dan lampu sorot mengarahkan perhatian pengunjung ke berbagai lukisan dan patung yang dipajang dengan indah.
Kunta mencari petunjuk mengenai keberadaan batu permata sambil berjalan mengelilingi galeri. Sementara Jayak dan Mado mendekati pameran yang menampilkan batu permata yang sangat dicari itu. Batu itu terlihat mengkilap dan begitu memikat.
Namun, ketika Jayak hendak menyentuhnya, batu tersebut lenyap dengan tiba-tiba di depan mata mereka. Jayak mengulurkan tangannya dalam kebingungan, mencoba meraihnya lagi, tetapi hanya mendapati tangan kosong.
Kunta bergabung dengan mereka, dan mereka berdua terlihat bingung. "Batu itu hilang begitu saja. Apa yang terjadi?" tanya Kunta.
Anak laki-laki itu, sekitar usia sepuluh tahun, mengenakan pakaian yang agak kusut dan terlihat sedikit kotor. Matanya yang berbinar-binar begitu fokus pada yoyonya yang berputar-putar.
Jayak, Mado, dan Kunta mendekati anak tersebut. "Hei, apakah kamu tahu apa yang terjadi dengan batu permata itu?" tanya Jayak dengan nada serius.
Anak laki-laki itu berhenti bermain yoyonya sejenak dan menatap mereka dengan polos. "Batu apa?" tanyanya dengan suara yang belum beranjak dari masa kecilnya.
Mado menunjuk ke pameran yang kosong. "Batu permata yang tadi ada di sini. Kamu melihatnya?"
Anak tersebut menggelengkan kepala. "Saya hanya ingin memperlihatkan trik yoyonya kepada Anda. Lihat!" katanya sambil memutar yoyonya dengan cepat.
Kunta melihat trik yoyonya dengan kagum. "Wow, itu keren sekali!"
Jayak memandangi anak tersebut dengan tatapan skeptis, tetapi melihat kepolosannya yang jelas. "Maafkan kami, kami terlalu cepat menuduhmu. Namun, kita sedang mencari sesuatu yang sangat penting."
__ADS_1
Anak tersebut mengangguk mengerti. "Saya tahu tempat yang bagus untuk mencari benda-benda yang hilang. Ada sebuah toko barang antik tua di dekat sini. Banyak barang-barang unik di sana. Barang-barang misterius sering muncul di sana."
Mado berterima kasih kepada anak tersebut sambil memberinya uang receh. "Terima kasih atas informasinya. Kami akan mencoba ke sana."
Mereka meninggalkan anak tersebut yang kembali fokus pada yoyonya dan menghilang dalam kerumunan pengunjung galeri. Dengan bantuan petunjuk dari anak tersebut, mereka berharap bisa menemukan batu permata yang hilang dan melanjutkan pencarian mereka untuk kembali ke zamannya sendiri.
Saat mereka keluar dari galeri seni, matahari telah tenggelam sepenuhnya, dan kota modern mulai bercahaya dengan sinar lampu malam. Mereka berjalan menuju toko barang antik tua yang telah diceritakan oleh anak tersebut, tak sabar untuk menemukan apa yang mungkin ada di sana.
Setelah mendapatkan petunjuk dari anak yang bermain yoyo di galeri seni, Jayak, Mado, dan Kunta bergerak menuju toko barang antik tua yang diceritakan oleh anak tersebut. Mereka berjalan cepat melewati jalan-jalan kota yang ramai hingga akhirnya tiba di sebuah taman kota yang tenang. Taman itu penuh dengan pepohonan hijau yang tinggi dan bunga-bunga yang berwarna-warni.
Taman ini ternyata menjadi tempat pertemuan berikutnya dengan si pencuri yang misterius. Mereka melihat seorang pria yang mengenakan mantel hitam berlarian melewati semak-semak di taman tersebut. Mado langsung memperingatkan yang lainnya, "Itu dia! Itu pencurinya!"
Tanpa ragu, Jayak, Mado, dan Kunta mulai mengejar pria tersebut melalui taman yang semakin gelap karena matahari telah terbenam sepenuhnya. Mereka melewati jalur berliku yang dikelilingi oleh pohon-pohon besar, mencoba untuk tetap berada di belakang si pencuri.
Namun, selama pengejaran mereka, taman itu mulai menampilkan sisi unik dari zaman modern yang membuat ketiganya tercengang. Mereka melewati sekelompok anak-anak yang bermain "sembunyi-sembunyi" di semak-semak. Anak-anak itu menyambut mereka dengan tawa riang, dan Jayak, Mado, dan Kunta tidak bisa menolak untuk bergabung sebentar dalam permainan tersebut.
"Kamu ikut, Jayak?" tanya salah satu anak, seorang gadis kecil dengan pakaian warna-warni.
Jayak yang agak keberatan akhirnya setuju dan mencoba menyembunyikan dirinya di balik pohon. Sementara itu, Mado dan Kunta juga terlibat dalam permainan tersebut. Mereka mengejar dan menangkap anak-anak yang berusaha sembunyi di semak-semak.
Suasana permainan itu membuat mereka lupa sejenak tentang misi utama mereka. Tawa ceria anak-anak itu menghadirkan kebahagiaan sederhana yang mungkin telah lama mereka tinggalkan di zaman mereka.
Namun, saat permainan semakin seru, Jayak yang sedang bersembunyi di balik pohon mendengar suara lari yang mendekat. Ia segera melihat si pencuri misterius melintas di depannya. Dengan cepat, ia melompat keluar dari persembunyiannya dan berteriak kepada yang lainnya, "Dia di sini! Cepat!"
Mado dan Kunta yang awalnya terlibat dalam permainan anak-anak, segera menyusul Jayak yang mengejar si pencuri. Mereka berlari melewati anak-anak yang terkejut, dan tawa menjadi teriakan kegembiraan. Namun, si pencuri tetap menjadi prioritas utama mereka.
Saat mereka berusaha mengejar si pencuri melalui taman yang semakin gelap, Jayak yang tetap memegang komitmen untuk menangkapnya, melihat seorang pemain badut yang berdiri di pinggir taman. Pemain badut itu mengenakan kostum berwarna-warni dan terus menawarkan balon kepada siapa saja yang melewati jalannya.
Pemain badut itu tampak sangat antusias saat Jayak, Mado, dan Kunta mendekat. "Hei, Tuan! Mau balon? Ini gratis!" ujarnya dengan semangat.
Jayak, yang sudah kebingungan dengan teknologi modern, melihat pemain badut itu dengan heran. "Apa yang dia lakukan?" gumamnya pada dirinya sendiri.
Sementara itu, Kunta, yang awalnya tertarik dengan tawaran balon itu, dengan cepat teralihkan oleh lonceng yang tergantung di baju pemain badut tersebut. Lonceng itu mengingatkannya pada suara lonceng di toko barang antik tua yang diceritakan oleh anak tadi.
"Jayak, ini bisa jadi petunjuk!" seru Kunta. "Tolong saksikan pemain badut ini. Saya akan mencari tahu lebih lanjut!"
__ADS_1
Kunta berbicara dengan cepat dan pergi menyusuri taman dengan cepat. Jayak, yang masih bingung dengan pemain badut, akhirnya mengangguk dan terus mengejar si pencuri bersama Mado.
Saat mereka semakin mendekati si pencuri yang misterius, petualangan mereka di taman kota ini semakin rumit. Tapi mereka tahu bahwa petunjuk itu bisa menjadi kunci untuk menemukan batu permata yang sangat dicari dan mengungkap misteri di balik hilangnya benda berharga tersebut.