
Dalam laboratorium yang canggih, ketiga pria dari zaman kuno, Jayak, Mado, dan Kunta, bersama dengan seorang ilmuwan modern yang bernama Dr. Emily, berdiri di sekitar sebuah meja yang dipenuhi dengan alat dan peralatan ilmiah. Di atas meja, batu permata yang telah mereka bawa dari masa lalu ditempatkan di dalam alat aneh yang tampak seperti kombinasi antara komputer dan mesin waktu.
Angin sepoi-sepoi musim semi merasuki laboratorium melalui jendela-jendela yang terbuka, memberikan sentuhan kehidupan pada ruangan yang sejuk dan steril itu. Suara gemercik air dari pancuran air terjun buatan di pojok ruangan menciptakan atmosfer yang menenangkan.
Jayak, dengan mata tajamnya, memandang batu permata itu dengan rasa heran. "Batu ini adalah kunci kita kembali ke rumah," ucapnya dengan tegas.
Dr. Emily, seorang wanita cerdas berambut cokelat dan kacamata, mengangguk. "Benar, Jayak. Dengan bantuan batu ini, kita harus bisa membuka portal kembali ke masa kalian."
Mado, penyair dengan mata tajamnya, melihat hieroglif yang tertulis di sekitar batu itu dan berbicara dalam bahasa mereka. "Ini adalah saat yang penting. Semoga kita berhasil."
Kunta, pedagang yang cerdik, menjelaskan, "Kami harus tetap waspada. Siapa pun yang ingin menggunakan pengetahuan kita harus dicegah."
Dr. Emily mulai mengatur peralatan dengan hati-hati. Dia menekan beberapa tombol di panel kontrol dan layar-layar di sekitarnya mulai berkedip. Alat-alat ilmiah yang rumit mulai berputar dan berbunyi seperti musik modern yang aneh.
Saat proses pembukaan portal dimulai, semua mata tertuju pada batu permata yang bersinar terang di dalam mesin. Cahaya yang keluar dari batu itu semakin terang, memenuhi seluruh ruangan dengan cahaya biru yang memukau.
Namun, tiba-tiba, ruangan menjadi gelap. Listrik mati. Sebuah kebingungan dan kepanikan melanda mereka. Jayak mengutuk dalam bahasanya yang kuno, sementara Mado mencoba meresapi situasi dengan bijaksana.
"Sialan! Apa yang terjadi?" Jayak berteriak, dan ketiganya mencoba mencari tahu apa yang terjadi.
Dalam kegelapan itu, Mado bergerak dengan tenang menuju salah satu dinding. Dia meraba-raba dan menemukan saklar lampu darurat. Dengan tenang, dia menyalakannya, dan ruangan pun terang kembali dengan cahaya merah temaram. Cahaya ini memberikan suasana yang lebih misterius pada laboratorium.
Mado tersenyum, "Tenangkan diri, teman-teman. Ini hanyalah gangguan kecil. Sekarang, mari kita fokus pada batu permata ini dan portal."
Dr. Emily kembali mengatur peralatan. Mesin itu mulai berbunyi lagi, dan layar-layar komputer menampilkan perhitungan yang rumit. Cahaya biru dari batu permata kembali bersinar, meskipun kali ini dalam suasana yang lebih tenang dan damai.
Kunta, yang sebelumnya cemas, merasa lega. "Saya rasa kita sedang dalam perjalanan yang benar."
__ADS_1
Dengan hati-hati, Dr. Emily memasukkan koordinat waktu yang tepat ke dalam sistem komputer. "Kita siap untuk membuka portal. Semoga kita kembali dengan selamat."
Jayak menatap batu permata itu dengan tekad. "Kita kembali ke rumah, bersama-sama."
Dalam sekejap mata, ruangan itu dipenuhi dengan cahaya yang menyilaukan. Portal telah terbuka, membuka jendela menuju masa lalu. Dalam keadaan tegang dan penuh harap, ketiga pria itu bersiap-siap untuk melangkah ke dalam portal dan kembali ke zamannya masing-masing.
Setelah berhasil membuka portal, ketiga pria dari masa lalu, Jayak, Mado, dan Kunta, tiba di taman kota yang luas dan indah di era modern. Mereka segera disambut oleh warga kota yang telah mendengar kisah petualangan mereka yang luar biasa. Taman itu dipenuhi dengan orang-orang yang ingin berkenalan dan berbicara dengan ketiga pria yang datang dari masa lalu.
Taman itu sendiri adalah tempat yang menakjubkan. Pohon-pohon besar yang rimbun memberikan naungan yang sejuk, dan bunga-bunga berwarna-warni menghiasi taman. Di tengah-tengah taman terdapat sebuah panggung kecil yang telah disiapkan untuk acara perpisahan mereka. Meja-meja bundar dengan makanan dan minuman modern telah disusun di sekitar panggung.
Kunta, yang selalu cerdik dalam berurusan dengan orang, segera berbicara dengan beberapa warga kota yang datang. "Terima kasih atas sambutannya yang hangat," kata Kunta dengan senyuman. "Kami merasa sangat terhormat berada di sini."
Seorang wanita muda dengan rambut pirang panjang tersenyum pada mereka. "Kami sangat penasaran dengan kisah-kisah Anda. Bagaimana rasanya datang dari masa lalu?"
Mado, yang selalu gemar berbicara, menjawab dengan penuh semangat. "Rasanya seperti mengalami petualangan yang tak terlupakan. Kami belajar banyak tentang dunia ini dan juga tentang diri kami sendiri."
Jayak, yang biasanya pendiam, mengangguk setuju. "Kami belajar tentang keberanian, kebijaksanaan, dan persahabatan sejati. Pengalaman ini telah mengubah kami."
Kunta tersenyum dan mengajak warga kota untuk menari. Dia segera menarik seorang wanita muda ke tengah lapangan dan mulai menari dengan lincah. Jayak, yang biasanya lebih serius, tertawa melihat Kunta dan segera mengikuti jejaknya dengan gerakan yang gagah.
Mado, yang selalu memiliki selera seni yang tajam, mendekati panggung dan berbicara dengan penyanyi. "Apakah saya boleh bergabung?" tanyanya dengan lembut. Penyanyi itu mengangguk dan memberikan mikrofon kepadanya. Mado dengan penuh perasaan mulai menyanyikan sebuah lagu kuno dari zaman mereka, membuat semua orang terpesona oleh suaranya yang mengalun indah.
Sementara itu, Kunta dan Jayak terus menari dengan semangat, meskipun dengan gerakan yang terlihat agak kaku. Warga kota yang lain bergabung dengan mereka, dan taman itu menjadi tempat pesta yang tak terlupakan.
Namun, momen paling lucu terjadi saat Jayak mencoba es krim untuk pertama kalinya. Seorang anak kecil memberinya sepotong es krim cokelat dengan balon kecil di atasnya. Jayak memandang es krim itu dengan ekspresi kagum, seolah-olah dia baru saja menemukan harta karun.
"Surga manis!" serunya sambil menggigit es krim itu. Ekspresinya berubah menjadi campuran antara keterkejutan dan kegembiraan. "Apa ini? Bagaimana ini bisa begitu enak?"
__ADS_1
Warga kota yang hadir tertawa melihat reaksi Jayak yang luar biasa. Mado dan Kunta bergabung dengan tawa, dan Jayak dengan malu-malu menjilat es krim dari ujung hingga pangkal, berusaha untuk tidak mencemaskan tumpahan es krim di jubahnya yang klasik.
Dalam suasana kebahagiaan yang penuh tawa itu, ketiga pria dari masa lalu merasa terhibur dan dihargai oleh warga kota. Mereka menyadari bahwa meskipun mereka akan kembali ke masa lalu, pengalaman mereka di masa kini akan selalu menjadi bagian berharga dalam sejarah mereka sendiri.
Pesta perpisahan di taman kota berlanjut dengan semangat yang tinggi. Warga kota terus berbondong-bondong datang, ingin berbicara dengan Jayak, Mado, dan Kunta, serta memberikan hadiah sebagai tanda penghargaan atas petualangan mereka. Di bawah sinar matahari yang hangat dan langit yang cerah, suasana taman terasa semakin meriah.
Kunta, dengan senyum ramah, menerima sebuah hadiah dari seorang anak kecil yang tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Anak itu mengulurkan sebuah kotak berbentuk mobil miniatur yang canggih dengan antusias. "Ini untuk Anda, Pak Kunta!" serunya dengan riang.
Kunta menatap hadiahnya dengan senyuman dan mengangguk tanda terima kasih. "Terima kasih, nak. Ini sangat indah." Dia berpura-pura memeriksa mobil miniatur itu, seolah-olah sedang melakukan inspeksi resmi.
Anak itu melanjutkan, "Ini adalah mobil tercepat di dunia, Pak Kunta! Anda pasti akan menyukainya."
Kunta tertawa ringan. "Sungguh? Saya akan merasakannya nanti ketika kami kembali ke masa kami." Dia memandang mobil miniatur itu dengan senyum penuh kehangatan.
Sementara itu, Mado mendekati seorang wanita yang membawa sebuah hadiah berbentuk buku. Wanita itu dengan senyum lembut memberikan buku itu kepada Mado. "Ini adalah buku catatan modern, Bapak Mado. Kami berharap Anda akan menulis tentang pengalaman Anda di masa kini."
Mado memandang buku catatan itu dengan rasa penasaran. Dia melihat alat tulis yang aneh, yang ternyata adalah pena digital. "Terima kasih banyak. Ini sangat berharga." Dia mencoba mengoperasikan pena digital itu dengan canggung, tetapi hanya berhasil membuat garis-garis acak di halaman pertama.
Wanita itu tersenyum dan menjelaskan, "Anda cukup menyentuh layar dengan pena itu, Bapak Mado. Ini akan mencatat semua yang Anda tulis."
Mado mencoba lagi dan akhirnya berhasil menulis beberapa kata di layar. Dia tertawa kecil. "Sangat berbeda dengan gulamguli dan perkamen yang biasa kami gunakan di masa kami."
Sementara itu, Jayak, yang semula sibuk mencicipi makanan modern dengan penuh antusiasme, dihampiri oleh seorang pemuda dengan rambut berwarna-warni. Pemuda itu memberikan Jayak sebuah bungkusan kecil. "Pak Jayak, ini adalah makanan ringan favorit saya. Saya harap Anda suka."
Jayak melirik bungkusan itu dan mencoba makanan ringan modern pertamanya. Ekspresinya berubah menjadi campuran antara keterkejutan dan kegembiraan. "Luar biasa! Rasanya begitu gurih." Dia melihat pemuda itu dengan mata penuh penghargaan. "Terima kasih banyak, anak muda."
Pemuda itu tersenyum bangga. "Sama-sama, Pak Jayak. Ini kehormatan besar bagi kami bisa mengenal Anda."
__ADS_1
Saat ketiga pria itu menerima hadiah-hadiah dari warga kota, suasana taman kota semakin hangat dan akrab. Mereka menghabiskan waktu dengan berbicara, tertawa, dan berbagi cerita dengan warga kota yang ramah. Semua orang merasa bahwa perpisahan ini adalah momen yang tak terlupakan dalam sejarah kota mereka.
Sementara itu, matahari terus bersinar cerah di atas langit biru. Bunga-bunga di taman mengembangkan warna-warna cerah mereka, menciptakan latar belakang yang indah untuk pesta perpisahan ini. Di tengah-tengah semua kegembiraan, ketiga pria dari masa lalu merasa bersyukur atas sambutan yang hangat dan hadiah-hadiah yang mereka terima, mengukuhkan persahabatan mereka dengan warga kota yang baik hati ini.