
Langit senja di kota metropolitan tersebut mulai berubah menjadi ungu gelap, menciptakan bayangan panjang dari gedung-gedung pencakar langit. Dedaunan yang gugur ditiup angin ringan, menari-nari sepanjang trotoar. Di lantai atas sebuah hotel mewah, kamar suite yang ditempati oleh Jayak, Mado, dan Kunta memberikan pemandangan kota yang menakjubkan dengan lampu-lampu yang mulai menyala.
"Kalian melihat itu?" Kunta, dengan mata yang terbelalak, menunjuk ke jendela besar, menatap layar raksasa di gedung seberang yang menampilkan iklan produk terbaru. "Orang-orang ini terjebak di dalam kotak besar!"
Jayak mendekat dan memandang dengan alis berkerut. "Itu seperti gambar yang bergerak, seperti yang ada di kotak kecil di kamar ini." Dia menunjuk ke arah televisi.
Mado tertawa ringan, "Ah, teknologi masa kini benar-benar sulit dipahami."
Saat mereka tenggelam dalam diskusi tentang "kotak-kotak" tersebut, terdengar ketukan pintu yang lembut. Jayak, dengan gerakan lincah khas seorang pendekar, mendekat ke pintu dan memeriksa melalui lubang kecil.
Seorang pria setengah baya dengan jas mewah dan dasi berdiri di luar, diiringi oleh dua orang pria berpakaian serba hitam. Jayak membuka pintu.
"Selamat malam," kata pria berjas itu dengan senyum manis, "nama saya Pak Dharma. Saya mendengar tentang kalian dan ingin menawarkan kesepakatan."
Kunta, yang masih sibuk dengan remote TV, bertanya tanpa menoleh, "Apa itu 'pause'? Mengapa orang-orang di kotak ini berhenti bergerak saat saya menekannya?"
Mado, menepuk punggung Kunta, berujar, "Tinggalkan dulu, teman. Tamu kita tampaknya memiliki hal penting untuk dibicarakan."
Pak Dharma tersenyum, "Ah, ya. Saya mendengar bahwa kalian datang dari zaman kuno. Saya pikir, dengan pengetahuan kalian, kita bisa menciptakan sesuatu yang besar di zaman ini."
Jayak, dengan mata yang tajam dan ekspresi curiga, bertanya, "Apa yang Anda inginkan dari kami?"
Dharma menghela nafas, "Dunia ini, terutama pasar muda, selalu mencari sesuatu yang otentik, kuno, tapi tetap relevan. Bayangkan jika kita bisa menggabungkan pengetahuan kalian dengan teknologi masa kini. Kita bisa menciptakan produk atau layanan yang belum pernah ada sebelumnya."
Mado, dengan rasa ingin tahu, mencondongkan tubuh, "Seperti apa produknya?"
Dharma menunjukkan tablet miliknya, memperlihatkan gambar-gambar ide konsep, "Bayangkan pakaian tradisional dengan teknologi pintar yang tertanam di dalamnya, atau mungkin senjata kuno yang bisa menjadi aksesori modern."
Sementara itu, Kunta yang akhirnya menemukan tombol "play", bersorak kecil, "Aha! Mereka bergerak lagi!" Namun, saat dia mendongak dan menyadari semua mata tertuju padanya, pipinya sedikit memerah, "Maaf, saya terlalu terpesona dengan kotak ajaib ini."
Dharma tertawa ringan, "Tidak apa-apa. Jadi, bagaimana? Apakah kalian tertarik?"
Jayak, setelah berpikir sejenak, menjawab, "Kami perlu waktu untuk mempertimbangkannya. Ini bukan keputusan yang mudah."
Dharma mengangguk, "Tentu, saya mengerti. Berikan saya kabar saat kalian sudah memutuskan." Dia berdiri, menjabat tangan mereka satu per satu, dan meninggalkan ruangan dengan langkah pasti.
__ADS_1
Mado, dengan pandangan khawatir, berkata, "Apa yang harus kita lakukan? Apakah kita harus bekerja sama dengan orang itu?"
Kunta, yang kini lebih fokus pada diskusi, menambahkan, "Kita harus berhati-hati. Dunia ini penuh dengan misteri dan kita harus memastikan kita tidak terjebak."
Dengan pemandangan kota yang kian malam di luar jendela, ketiganya tenggelam dalam diskusi mendalam, mencoba memutuskan langkah terbaik mereka di dunia yang asing ini.
Matahari pagi menyinari studio televisi dengan hangat, memantulkan sinar emas dari kaca-kaca besar yang mengelilingi bangunan tersebut. Suasana di luar studio gemuruh dengan suara-suara gemuruh dari kendaraan dan orang-orang yang sibuk dengan rutinitas mereka. Namun, di dalam studio, atmosfer berbeda—ada rasa tegang dan harapan di udara.
Mado, Jayak, dan Kunta berdiri di tengah-tengah set yang masih kosong dengan tatapan bingung. Kamera besar menghadap ke arah mereka, sedangkan awak produksi berlarian dengan kabel-kabel dan peralatan lainnya.
"Bagaimana rasanya berada di dalam kotak besar ini?" Kunta bertanya dengan polos, menatap sekitar dengan rasa ingin tahu yang mendalam.
Jayak menepuk pundak Kunta, "Kita sebenarnya tidak di dalam kotak, temanku. Tapi aku juga tidak yakin bagaimana ini semua bekerja."
Seorang wanita muda dengan rambut panjang yang diikat kuda-kuda mendekati mereka, "Selamat pagi! Saya Lisa, produser acara ini. Terima kasih sudah datang. Sebelum kita mulai, ada beberapa hal yang perlu kita persiapkan."
Lisa menyerahkan mikrofon klip kecil kepada masing-masing dari mereka. "Ini akan memungkinkan kami mendengar apa yang Anda katakan dengan jelas," katanya.
Saat mikrofon diletakkan di bajunya, Mado merasa ada sesuatu yang aneh. "Apa ini? Ada suara di kepalaku!" katanya dengan kaget, menunjuk ke telinganya.
Kunta melihat ke arah Jayak dengan tatapan khawatir, "Apakah mereka bisa mendengar pikiran kita juga?"
Jayak tertawa pelan, "Tidak, Kunta. Hanya apa yang kita katakan."
Mado, masih dengan ekspresi terkejut, bertanya, "Tapi bagaimana suara bisa masuk ke dalam kecil ini?"
Lisa tersenyum sabar, "Teknologi, Mado. Sesuatu yang akan kalian pelajari semakin banyak selama kalian di sini."
Setelah selesai dengan mikrofon dan earpiece, sesi latihan dimulai. Awak produksi memberikan petunjuk kepada ketiganya tentang di mana harus berdiri, bagaimana melihat kamera, dan apa yang perlu dikatakan.
"Saat kamera berkedip, itu berarti kalian sedang disiarkan langsung," jelas Lisa. "Dan saat saya atau sutradara memberi instruksi melalui earpiece, harap ikuti saja."
Kunta, yang masih merasa tidak nyaman dengan earpiece, menggaruk-garuk telinganya, "Ini seperti ada serangga kecil yang berbisik di telingaku."
Mado, berusaha memahami konsep siaran langsung, bertanya, "Jadi, semua orang di luar sana bisa melihat kita di kotak-kotak kecil mereka saat kita berbicara di sini?"
__ADS_1
Lisa mengangguk, "Tepat sekali. Tapi jangan khawatir, cukup anggap saja kalian sedang bercerita kepada teman-teman."
Jayak menarik nafas dalam-dalam, mencoba meredakan rasa gugup yang mulai merasuk, "Kita akan melakukan yang terbaik."
Sesi latihan berlangsung selama beberapa jam, dengan banyak kesalahan dan tawa. Namun, seiring berjalannya waktu, ketiganya mulai merasa lebih nyaman di depan kamera. Meskipun begitu, suasana tegang tetap menggantung di udara, menunggu siaran langsung yang sesungguhnya nanti malam.
Seiring matahari mulai terbenam dan lampu studio menyala lebih terang, Jayak, Mado, dan Kunta menyadari bahwa petualangan mereka di zaman modern baru saja dimulai.
Saat sesi latihan untuk siaran langsung telah selesai, Jayak, Mado, dan Kunta diberi waktu untuk istirahat sejenak di ruang tunggu backstage. Ruangan ini dipenuhi dengan cermin, kursi, dan peralatan riasan yang aneh bagi mereka. Dinding-dindingnya dihiasi dengan poster selebriti modern.
Ketiganya duduk di kursi sekitar meja bundar yang terletak di tengah ruangan. Sebuah cermin besar berdiri di sisi dinding, mengundang mereka untuk mengeksplorasi perubahan penampilan mereka. Mado melihat seorang wanita yang sedang merias wajahnya dan bertanya dengan wajah penuh rasa ingin tahu, "Apa yang mereka lakukan pada wajah ini, Jayak?"
Jayak, yang duduk di dekat Mado, mengerutkan kening saat melihat wanita tersebut mengambil kuas riasan. "Saya pikir mereka mencoba memasang perisai perang di wajah saya. Tapi kenapa tidak ada pedang?"
Kunta, yang duduk di samping cermin besar, menunjuk ke arah televisi yang menampilkan gambar ombak pantai yang tenang. "Tampaknya kita bisa melihat pantai ini dari dalam kotak ini. Mungkin saya bisa mencoba merasakan airnya."
Mado, yang tahu bahwa Kunta selalu memiliki kecenderungan untuk mencoba segala sesuatu, menertawakan ide absurd tersebut. "Kunta, kita tidak bisa merasakan air laut dari dalam ruangan ini. Itu hanya gambar."
Kunta mendongak dengan wajah yang penuh semangat, "Tapi kita sudah melihat gambar ini di kotak ajaib tadi, kan? Siapa yang tahu apa yang bisa kita lakukan di zaman ini?"
Sementara Kunta tetap asyik dengan eksperimennya, Jayak melihat ke arah cermin yang diisi dengan berbagai macam riasan. Wajahnya yang khas pendekar dengan janggut lebatnya yang gagah kini tampak penuh dengan warna-warni cat riasan.
"Dengan ini, saya akan lebih menakutkan di mata musuh," kata Jayak, mencoba menjelaskan riasan dengan logika perangnya.
Mado dan Kunta tertawa melihat wajah Jayak yang aneh. Mado berkata, "Jayak, kau mungkin akan lebih menakutkan, tapi bukan pada musuh. Orang-orang akan tertawa melihatmu."
Kunta, yang sudah bosan dengan eksperimennya di depan layar TV, berjalan ke cermin dan mencoba menghapus cat riasan dari wajah Jayak. "Mari kita bersihkan wajahmu, teman. Kita tidak ingin membuat penonton tertawa terbahak-bahak saat siaran nanti."
Sementara Kunta mencoba dengan berbagai cara untuk menghapus riasan wajah Jayak, Mado menjelaskan lebih lanjut tentang bagaimana riasan digunakan dalam dunia modern. Dia menjelaskan konsep make-up dan bagaimana wanita sering menggunakannya untuk meningkatkan kecantikan mereka.
Setelah Jayak kembali ke wajahnya yang normal, Kunta berhasil menghapus semua cat riasan dengan tisu basah. Jayak, meskipun masih merasa bingung dengan konsep riasan, merasa lega kembali memiliki wajah yang tanpa hiasan.
Saat mereka duduk bersama, menunggu giliran untuk siaran langsung, Kunta mencoba menjelaskan lebih lanjut kepada teman-temannya tentang bagaimana dunia modern ini bekerja. Mado dan Jayak mulai memahami sedikit demi sedikit bagaimana teknologi dan budaya modern berbeda dengan zaman mereka.
Dalam suasana ruang tunggu backstage yang penuh dengan tawa dan kebingungan, ketiganya mulai merasa lebih dekat satu sama lain. Mereka menyadari bahwa mereka harus saling bergantung satu sama lain untuk menghadapi tantangan zaman modern ini.
__ADS_1