Tiga Pemuda Lintas Zaman

Tiga Pemuda Lintas Zaman
Uang Kertas dan Kesalahpahaman


__ADS_3

Hari itu terik di kota, menyinari jalanan yang dipenuhi dengan orang-orang yang beraktivitas. Gedung-gedung pencakar langit mengeluarkan bayangan panjangnya ke atas trotoar, memberikan sedikit teduh bagi pejalan kaki. Di antara mereka, Kunta berjalan dengan langkah pasti, memasuki sebuah taman kota yang penuh dengan pohon rindang dan bunga-bunga berwarna-warni. Taman ini menjadi semacam oasis bagi penduduk kota yang ingin melepas penat.


Setelah berkeliling, mata Kunta tertuju pada seorang penjual es krim yang sedang melayani anak-anak kecil. Kunta mendekat, tertarik untuk mencicipi. "Berapa harganya?" tanyanya, menunjuk es krim coklat.


Penjual es krim, seorang pria paruh baya dengan kumis tebal dan senyum ramah, menjawab, "Lima ribu rupiah saja, Tuan."


Kunta mengambil dompetnya dan membukanya. Melihat tumpukan uang kertas di dalamnya, ia mencoba mengingat pelajaran tentang mata uang yang dia pelajari dari Jayak dan Mado. Namun, satu hal yang terlewat oleh Kunta adalah konsep nilai nominal. Dengan asumsi bahwa uang dengan gambar yang lebih besar bernilai lebih tinggi, Kunta mengambil lembar uang seratus ribu dan memberikannya kepada penjual.


Penjual itu terkejut, matanya membelalak sejenak, lalu dia tersenyum lebar. "Terima kasih banyak, Tuan! Ini kembaliannya," katanya, memberikan Kunta es krim dan sejumlah uang kembalian, namun jelas tidak sebanding dengan apa yang seharusnya Kunta terima.


Kunta, dengan polosnya, menerima es krim dan uang kembalian tersebut. "Aneh," gumamnya, "Kenapa dia terlihat begitu gembira? Apakah es krim ini sangat istimewa?"


Dia duduk di bangku taman, menikmati es krimnya sambil menonton anak-anak bermain. Jayak dan Mado kemudian muncul, membawa tas belanjaan. Melihat Kunta sedang menikmati es krim, Mado bertanya, "Bagaimana rasanya?"


Kunta menjawab, "Biasa saja, tapi penjualnya tampak sangat senang saat aku membayarnya."


Jayak, yang penasaran, bertanya, "Kau bayar berapa?"


Kunta menunjukkan lembaran uang seratus ribu. "Aku pikir ini yang paling berharga karena gambarnya besar."


Mimik wajah Mado berubah, "Kunta! Itu terlalu banyak untuk es krim! Kau seharusnya memberinya uang lima ribu!"


Jayak mencoba menahan tawa, "Jadi kau memberinya tip besar, ya? Tidak heran dia tampak begitu gembira."


Kunta tampak bingung, "Tip? Apa itu?"


Mado menjelaskan, "Itu adalah uang tambahan yang diberikan kepada pelayan atau penjual sebagai tanda terima kasih. Tapi biasanya tidak sebanyak itu."


Kunta merasa malu, "Oh, aku belum terbiasa dengan uang kertas ini. Di zaman ku, kita menggunakan barang-barang berharga seperti emas atau perak untuk bertransaksi."


Jayak menepuk punggung Kunta, "Tidak apa-apa. Kita semua masih belajar. Lagipula, mungkin hari ini kau membuat hari penjual es krim itu menjadi lebih baik."


Ketiganya tertawa, menyadari bahwa meski terkadang mereka melakukan kesalahan karena kurangnya pengetahuan tentang dunia modern, mereka selalu memiliki satu sama lain untuk saling mengingatkan dan belajar bersama.


Di sebuah toko serba ada yang berada di sudut jalan kota, hiruk pikuk pembeli memberikan kehidupan pada lingkungan itu. Langit berwarna senja dengan sentuhan oranye dan pink, memantulkan cahayanya ke lantai berkeramik toko yang berkilauan. Suara gemerincing uang dan decitan mesin kasir bercampur dengan deru angin dan suara anak-anak kecil yang sedang bermain di taman seberang jalan.


Kunta memegang lembaran uang seratus ribu di tangannya, berjalan ragu menuju kasir. "Maaf, bisakah saya tukar ini dengan uang kertas yang lebih kecil?" tanyanya dengan suara gemetar.

__ADS_1


Pelayan kasir, seorang wanita muda dengan rambut dikepang dua, mengerutkan kening. "Kau mendapatkannya darimana?" tanyanya dengan curiga.


Kunta bingung dengan reaksi wanita itu, "Saya mendapatkannya dari seseorang saat membayar. Kenapa?"


Tiba-tiba, sebuah suara keras berkumandang dari belakang. "Tahan dia!" teriak pemilik toko sambil berlari menuju Kunta, ditemani oleh seorang polisi.


Kunta kaget dan memundurkan langkah, "Ada apa ini?"


"Dia pencuri!" tuduh pemilik toko, menunjuk-nunjuk Kunta. "Uang kertas ini palsu!"


Jayak, yang melihat keributan dari jarak jauh, langsung berlari menuju Kunta. Melihat polisi, Jayak dengan cepat mengambil posisi bertarung, siap menunjukkan jurus silat andalannya. "Lepaskan temanku!" katanya dengan nada tegas.


Polisi itu menaikkan alis, terkejut tapi sekaligus terhibur. "Tenang, Tuan. Kita bisa bicara baik-baik," katanya dengan sabar.


Tiba-tiba, Mado berlari mendekat, bernapas pendek, dan berhenti tepat di antara Kunta dan Jayak. "Tunggu sebentar!" teriaknya, lalu tanpa ragu ia mulai berbicara dengan nada puitis, "Di taman bunga kota ini, kesalahpahaman merajalela, seperti bunga yang tertukar potnya. Mari kita berbicara dengan hati dan kepala dingin, agar tidak terjadi kekacauan."


Semua yang ada di sana tampak bingung. Jayak memiringkan kepalanya, "Mado, apa yang kau lakukan?"


Mado menarik napas panjang, "Saya mencoba menenangkan suasana dengan puisi."


Polisi itu mencoba menahan tawa. "Baiklah, mari kita dengar penjelasan pria ini," katanya, menunjuk Kunta.


Setelah beberapa saat investigasi, dengan melihat CCTV dan interogasi beberapa saksi, polisi itu menyimpulkan bahwa Kunta memang tidak bersalah. Uang palsu tersebut didapatnya dari penjual es krim yang sebelumnya dia beli.


Mado, dengan wajah lega, berkata, "Kita harus lebih berhati-hati di masa depan."


Jayak mengangguk, "Benar. Dan mungkin sebaiknya kita belajar lebih dalam tentang dunia ini."


Kunta tersenyum lemah, "Terima kasih, teman-teman. Kalian selalu ada untuk saya."


Dengan matahari yang semakin tenggelam, ketiganya berjalan meninggalkan toko dengan hati yang lebih ringan, namun dengan pelajaran yang berharga tentang kehidupan di zaman modern.


Dengan latar belakang langit yang mulai gelap, sebuah apartemen sederhana berdiri megah di tengah-tengah perkotaan. Gedung-gedung tinggi di sekelilingnya tampak seperti raksasa yang menjulang, dengan cahaya-cahaya jendela mereka yang berkelip-kelip bagai bintang. Apartemen yang mereka pilih berada di lantai lima, dengan pemandangan kota yang menakjubkan dari jendelanya.


"Kita akhirnya punya rumah sendiri," kata Mado dengan wajah sumringah sambil menarik napas lega.


Kunta mengangguk, "Benar. Meskipun ini bukan seperti rumah di zaman kita, setidaknya kita punya tempat untuk beristirahat."

__ADS_1


Jayak melangkah masuk, berdiri di tengah ruangan dengan ekspresi serius, "Ada banyak peralatan asing di sini. Kita harus berhati-hati."


Mado menunjuk ke sebuah benda kotak di sudut ruangan, "Itu apa? Sepertinya sebuah oven, tapi berbeda dengan yang biasa kita lihat."


"Itu microwave," jawab Kunta yang pernah melihatnya saat berjalan-jalan di mall. "Tapi saya tidak tahu cara menggunakannya."


Jayak mendekatinya, memeriksa dengan saksama, dan tanpa sengaja menekan tombol 'start'. Microwave berbunyi dengan suara beep yang kencang dan berputar. Jayak, dengan refleks cepat, siap dengan posisi bertarung, "Serangan apa ini?!"


Kunta mencoba menenangkan Jayak, "Tenang, itu hanya mesin. Tidak akan menyakiti kita."


Mado tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepala, "Kita benar-benar harus belajar banyak tentang peralatan di sini."


Tiba-tiba, bel pintu berbunyi, membuat ketiganya terlonjak kaget. Jayak dengan cepat mengambil posisi bertahan, "Ada yang datang!"


Mado berjalan menuju pintu, "Itu hanya bel. Mungkin tetangga yang datang menyambut."


Namun, saat Mado membuka pintu, tidak ada siapa-siapa. Kunta mengangkat sebuah benda kecil dari lantai, "Apa ini?"


"Itu remote control," jawab Mado. "Untuk mengontrol televisi."


Kunta memandang benda itu dengan mata berbinar, "Tongkat sihir! Saya dengar tentang ini. Dengan ini, kita bisa mengontrol segalanya!"


Mado tertawa, "Bukan tongkat sihir, Kunta. Coba tekan tombolnya."


Kunta menekan beberapa tombol, dan televisi di ruang tamu menyala, menampilkan gambar dan suara. Kunta tampak terpesona, "Ini ajaib!"


Jayak mendekat dan memeriksa remote, "Jadi dengan ini, kita bisa melihat apa saja yang terjadi di dunia?"


Mado mengangguk, "Ya, kita bisa melihat berita, film, atau acara lainnya."


Ketiganya duduk di sofa, menonton televisi sambil mencoba memahami program yang ditayangkan. Meski awalnya bingung, mereka mulai terhibur dengan tayangan-tayangan modern yang ada.


Ketika malam semakin larut, Mado berdiri dan menguap, "Sudah waktunya tidur. Besok kita harus mulai menjalani kehidupan baru di sini."


Kunta dan Jayak mengangguk, "Benar. Terima kasih atas semua yang telah kau lakukan, Mado."


Mado tersenyum, "Kita adalah tim. Bersama-sama kita bisa melewati apapun."

__ADS_1


Dengan rasa syukur dan harapan baru, ketiganya tidur di apartemen barunya, memulai babak baru dalam kehidupan mereka di era modern.


__ADS_2