Tiga Pemuda Lintas Zaman

Tiga Pemuda Lintas Zaman
Petunjuk Tersembunyi


__ADS_3

Pengejaran di taman kota telah membuahkan hasil. Jayak, Mado, dan Kunta semakin mendekati si pencuri misterius. Mereka berlari melewati semak-semak dan pohon-pohon, hampir mengejar si pencuri yang mulai kehabisan napas.


Tiba-tiba, si pencuri itu berbelok tajam menuju area taman yang lebih gelap, menjauh dari jalan utama. Ketiganya terus mengejar dan berusaha untuk tidak kehilangan jejak. Namun, saat mereka tiba di tempat tersebut, si pencuri sudah menghilang.


"Kita kehilangan dia!" kata Mado dengan frustrasi.


Kunta, yang tetap membawa koran di tangannya, tersenyum tiba-tiba. "Tunggu sebentar. Apa ini bisa menjadi petunjuk?"


Dia menunjuk ke sebuah batu besar yang tampaknya berbeda dari batu lainnya. Di atas batu itu, ada selembar kertas yang tampak seperti pesan yang ditinggalkan oleh si pencuri.


Jayak, Mado, dan Kunta mendekati batu tersebut. Mado dengan cepat meraih kertas itu dan mulai membacanya. Teks yang tertulis membuatnya mengerutkan kening. "Ini bukan pesan biasa. Ini adalah teka-teki!"


Kunta, yang masih memegang koran, merasa gembira. "Teka-teki? Saya ahlinya!"


Mado memberikan kertas tersebut kepada Kunta dengan nada penasaran. "Baiklah, Kunta, coba deh baca dan pecahkan teka-teki ini."


Kunta mulai membaca teka-teki tersebut dengan penuh semangat. "Dengan mata yang tajam, mencari di bawah sinar bulan, di antara bintang-bintang yang bersinar terang. Pergi ke tempat yang memberi cahaya pada malam, di situlah batu akan kau temukan."


Jayak, yang serius, berpikir sejenak. "Ini pasti berkaitan dengan tempat yang terang pada malam hari. Kita perlu mencari petunjuk lebih lanjut."


Kunta, yang masih fokus pada koran, tiba-tiba berhenti membaca dan tersenyum lebar. "Saya tahu jawabannya! Itu adalah... koran ini!" Dia menunjuk ke koran yang ia bawa.


Mado dan Jayak terlihat bingung. "Apa yang kamu maksud, Kunta?"


Kunta menjelaskan dengan antusias, "Teka-teki ini mengacu pada benda yang bersinar terang di malam hari, dan apa yang lebih bersinar terang daripada koran yang dipenuhi dengan berita dan iklan yang berkilau? Jadi, kita harus mencari petunjuk lebih lanjut di dalam koran ini!"


Mado dan Jayak akhirnya tersenyum. Mungkin Kunta benar, dan koran itu berisi petunjuk lebih lanjut. Mereka mulai memeriksa koran dengan seksama, mencari apa pun yang tampak mencurigakan atau berkaitan dengan batu permata yang hilang.


Sementara itu, Kunta terus memecahkan teka-teki silang yang ada di koran. Meskipun tidak berkaitan dengan batu permata, ia terlihat senang dapat menemukan kata-kata yang cocok.


Setelah beberapa saat, Mado tiba-tiba berseru, "Aha! Saya menemukannya!" Ia menunjuk ke sebuah iklan yang terlihat mencurigakan. Di iklan tersebut, terdapat gambar sebuah museum seni terkenal yang diikuti dengan alamatnya.


Jayak dan Kunta melihat iklan tersebut dan mengangguk. "Inilah petunjuk kita!" kata Jayak.


Mado menatap Kunta dengan heran. "Kamu memang ahli dalam menemukan petunjuk, Kunta. Tapi aku rasa teka-teki ini lebih bersifat simbolis daripada sebenarnya."

__ADS_1


Kunta menggelengkan kepala dan menghadapkan diri ke teka-teki yang masih belum terpecahkan. "Mungkin iklan ini adalah teka-teki yang lain yang sedang menunggu untuk dipecahkan!"


Dengan petunjuk baru ini, mereka pun bersiap untuk mengunjungi museum seni tersebut. Namun, mereka juga menyadari bahwa pencarian mereka masih jauh dari selesai. Tantangan baru menanti di museum seni, dan mereka harus bersiap untuk menghadapinya dengan kepala dingin dan semangat yang kuat.


Setelah menemukan petunjuk di koran, Jayak, Mado, dan Kunta bergerak menuju alamat yang tertera di iklan, yang ternyata adalah alamat sebuah rumah tua yang terletak di pinggiran kota. Saat mereka tiba di depan rumah tersebut, suasana malam semakin gelap, dan awan mendung mulai menutupi langit.


Rumah tua itu terlihat seperti sesuatu yang bisa ditemukan di masa lalu mereka. Tua dan agak seram dengan pintu kayu besar dan jendela-jendela yang terlihat seperti mata yang mengintai. Mado menelan ludahnya, sedangkan Jayak tampak siap untuk bertindak.


Mereka berdiri di depan pintu rumah dan berdebat sejenak tentang siapa yang sebaiknya mengetuk pintu. Akhirnya, Kunta yang memutuskan untuk mengetuk pintu dengan lembut.


Setelah beberapa saat, pintu terbuka perlahan, dan di hadapan mereka terlihat seorang nenek yang berpakaian serba merah muda dengan rambutnya yang keriting dan putih. Nenek itu tersenyum manis dan berkata dengan suara lembut, "Oh, selamat datang, anak-anak. Apa yang bisa saya bantu?"


Mado, yang selalu menjadi yang terbuka dalam berbicara, menjawab, "Kami mencari sesuatu yang penting, Nyonya. Kami yakin itu ada di sini."


Nenek itu mengerutkan keningnya. "Sesuatu yang penting, katakanlah. Apa itu?"


Jayak dengan sopan mencoba menjelaskan, "Kami mencari sebuah batu permata yang sangat berharga, Nyonya. Kami punya petunjuk bahwa itu bisa ada di sini."


Nenek itu mengangguk mengerti. "Oh, tentu saja. Mari masuk dan bicarakan ini dengan lebih baik. Saya akan sediakan kue dan teh untuk kalian."


Nenek itu mengundang mereka masuk ke dalam rumahnya yang berantakan dengan berbagai barang antik dan koleksi pribadi. Mereka duduk di ruang tamu yang memiliki kursi-kursi empuk berlapis kain merah muda dan meja teh yang dihiasi dengan bunga-bunga kering.


Nenek itu segera pergi ke dapur, dan mereka mendengar suara cangkir dan piring yang digeser. Namun, saat nenek itu kembali ke ruang tamu dengan tiga porsi kue dan teh panas, mereka menyadari bahwa mereka telah terjebak dalam perbincangan yang lambat dengan nenek tersebut.


Nenek itu tampak begitu ingin berbicara dan menceritakan kisah-kisah masa lalunya. Setiap kali mereka mencoba untuk bertanya tentang batu permata, nenek itu mengalihkan pembicaraan dengan cerita-cerita tentang cucunya atau kunjungan tamu-tamu terdahulu. Ia tampak sangat bahagia bisa memiliki tamu.


Jayak dan Mado mulai merasa frustasi dan tak sabar. Mereka saling berbisik, mencoba mencari jalan untuk memancing informasi dari nenek tersebut.


Kunta, sementara itu, lebih tertarik pada teka-teki silang yang tergeletak di atas meja teh. Ia mulai memecahkan beberapa kata dan tampak sangat senang ketika berhasil menyelesaikannya.


Saat mereka hampir menyerah, Mado secara tiba-tiba memutuskan untuk mencoba metode yang berbeda. Ia tersenyum manis kepada nenek tersebut dan berkata, "Nyonya, cerita-cerita Anda sungguh menarik, tetapi kami sangat ingin tahu tentang batu permata itu. Ini sangat penting bagi kami."


Nenek itu menatap Mado dengan mata yang tiba-tiba terangkat dari secangkir teh. "Oh, saya mengerti, Sayang. Maafkan saya jika saya berbicara terlalu banyak. Batu itu ada di dalam rumah ini. Tapi saya ingin Anda mencari sendiri."


Kunta menyelesaikan teka-teki silang yang terakhir dengan riang. "Kami akan mencarinya dengan senang hati, Nyonya."

__ADS_1


Nenek itu tersenyum dan menunjukkan arah ke sebuah ruang lain. "Ada satu petunjuk terakhir. Cari cermin di ruang itu. Di sana, Anda akan menemukan batu permata yang Anda cari."


Mereka berterima kasih kepada nenek tersebut, dan setelah beberapa saat mencari di ruang lain, mereka menemukan cermin besar yang dipasang di dinding. Dan di dalam cermin itu, tergantung dengan indahnya, ada batu permata yang sangat dicari oleh mereka.


Saat mereka menyentuh batu permata itu, tiba-tiba terjadi kilatan cahaya yang memenuhi seluruh ruangan. Dan mereka tahu bahwa perjalanan mereka untuk kembali ke zaman mereka sendiri masih panjang.


Dalam kejutan yang besar, ketika Jayak, Mado, dan Kunta menemukan batu permata yang seharusnya tersembunyi di dalam cermin, mereka menyadari bahwa itu hanya sebuah mainan plastik palsu. Mereka merasa kecewa dan bingung, tetapi pada saat yang sama, mereka tidak menyerah.


Kunta yang pintar dalam menemukan petunjuk mencari lebih lanjut. Ia merasa ada yang aneh dengan mainan plastik tersebut. Dengan hati-hati, ia menginspeksi mainan itu dan menemukan bahwa batu permata sebenarnya tersembunyi di dalamnya, di belakang lapisan plastik palsu.


Kunta tersenyum dan berkata, "Ini benar-benar rumit. Mereka mencoba menyembunyikan batu ini dengan sangat baik."


Mado mengangguk setuju dan dengan lembut mengeluarkan batu permata asli dari mainan plastik palsu tersebut. Batu permata itu bersinar dengan keindahannya yang sejati, mengeluarkan cahaya yang memenuhi ruangan.


Jayak, yang tampil tenang sepanjang perjalanan ini, tidak bisa menahan rasa leganya. "Kita telah menemukannya! Kami telah berhasil."


Mereka mengamati batu permata tersebut dengan penuh rasa takjub. Ini adalah hadiah yang mereka cari selama perjalanan mereka yang panjang dan penuh petualangan. Tetapi kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama.


Sebuah suara tawa tinggi tiba-tiba mengalun di ruangan. Mereka berpaling ke arah suara tersebut dan melihat pemain badut yang mereka temui sebelumnya di galeri seni. Pemain badut itu melayang-layang di udara dengan sejumlah balon besar yang terikat padanya.


"Tentu saja, pemain badut itu!" kata Kunta.


Pemain badut itu mendarat dengan ringan di dekat mereka dan tersenyum lebar. "Terima kasih telah membeli balon dari saya, anak-anak. Tapi satu lagi hal yang harus saya katakan..."


Tanpa kata-kata lain, pemain badut itu menarik salah satu balonnya yang terikat pada balon lainnya. Dan saat balon itu lepas dari tali pengikatnya, mereka semua melihat dengan terkejut bahwa batu permata yang mereka temukan tadi terikat pada balon tersebut.


Balon dengan batu permata itu mulai melayang tinggi ke langit malam yang gelap. Jayak, Mado, dan Kunta meraihnya dengan sia-sia, tetapi balon itu terlalu cepat dan tinggi untuk dijangkau.


Mado berteriak dengan frustrasi, "Kita tidak bisa membiarkan batu itu pergi begitu saja!"


Jayak, yang selalu tenang, berpikir cepat. "Kita perlu mendapatkan bantuan dari pemain badut ini. Dia mungkin tahu cara mengendalikan balon tersebut."


Mereka berlari mendekati pemain badut tersebut dan memohon bantuannya. Pemain badut itu tertawa-tawa dan akhirnya mengungkapkan bahwa dia memiliki kendali atas balon-balon tersebut dengan menggunakan remote control yang ia sembunyikan di balik kostumnya.


Setelah membantu mereka mendapatkan batu permata kembali, pemain badut itu tertawa dan berkata, "Kalian adalah tim yang luar biasa! Semoga kalian bisa menyelesaikan petualangan kalian dan kembali ke zaman kalian."

__ADS_1


Jayak, Mado, dan Kunta mengucapkan terima kasih kepada pemain badut tersebut dan melanjutkan perjalanan mereka. Mereka tahu bahwa ada banyak rintangan yang masih menunggu di depan, tetapi mereka memiliki tekad yang kuat untuk menyelesaikan misi mereka dan kembali ke zamannya sendiri.


Saat mereka berjalan menjauh dari pemain badut itu, mereka melihat batu permata yang bersinar terang di tangannya dan tersenyum satu sama lain. Mereka tahu bahwa petualangan ini telah membawa mereka lebih dekat satu langkah lagi untuk mencapai tujuan mereka yang utama, dan mereka siap untuk menghadapi apa pun yang akan datang


__ADS_2