Tiga Pemuda Lintas Zaman

Tiga Pemuda Lintas Zaman
Rasa Rindu yang Menyiksa


__ADS_3

Di tengah-tengah taman kota yang luas, Jayak, Mado, dan Kunta duduk berjejer di bangku panjang berwarna coklat. Taman tersebut tampak sepi, hanya ada beberapa orang tua yang sedang berjalan-jalan dan anak-anak yang bermain di area bermain. Daun-daun yang berguguran ditiup angin, menari-nari seolah memberi kesan nostalgia. Awan putih berarak di langit biru, bagaikan kapas yang terapung, sementara sinar matahari memberikan kehangatan yang sempurna untuk hari tersebut.


Jayak, dengan rambut hitam panjangnya yang terurai, menutup mata, menghirup udara segar. "Tahukah kalian? Aroma udara ini hampir mirip dengan kampung halaman kita, tapi ada yang kurang," katanya sambil menatap ke jauh.


Mado, dengan jubah birunya yang menari saat angin bertiup, memejamkan mata dan berkata, "Angin... Saya rindu bunyi angin yang bertiup lembut di antara dedaunan. Di sini, suaranya tertutup oleh kebisingan kota."


Kunta, yang lebih berisi dibandingkan dua sahabatnya, mengusap perutnya yang lapar dan berkata, "Yang saya rindu adalah aroma masakan ibu. Tidak ada yang bisa mengalahkan itu." Mimik wajahnya terlihat sedih, mata yang sembab menandakan kerinduan yang mendalam.


Mengambil helaan nafas panjang, Jayak berkata, "Bagaimana kalau kita mencoba membuat masakan tradisional kita dengan bahan-bahan dari sini? Mungkin itu bisa mengurangi rasa rindu kita sebentar."


Mado dan Kunta saling bertukar pandangan, kemudian dengan senyuman simpul, Mado berkata, "Itu ide yang bagus! Tapi... Apa kamu tahu cara memasaknya, Jayak?"


Jayak tersenyum lebar, "Ada pepatah di kampung kita, 'Tidak ada salahnya mencoba.' Kita bisa mencari resepnya di perangkat ajaib ini." Ia mengeluarkan ponsel dari sakunya.


Setelah beberapa saat mencari di supermarket terdekat, Jayak kembali dengan beberapa kantong belanjaan. Ia dengan semangat mengeluarkan sayuran, rempah-rempah, dan daging. "Ini dia! Saya pikir ini cukup mendekati bahan asli kita."


Mereka memulai proses memasak di sebuah area piknik. Jayak, dengan wajah penuh konsentrasi, memotong sayuran dengan gerakan tangan yang cekatan. Mimik wajahnya terlihat serius, namun matahari yang menyinari wajahnya menambahkan aura keemasan, memberi kesan seolah ia sedang melakukan ritual suci.


Setelah beberapa saat, aroma masakan mulai menyebar. Namun, saat Jayak mencoba meracik rempah, sesuatu tampak salah. Ketika semua bahan dicampur, yang tercipta bukanlah masakan yang mereka kenal, melainkan bubur hitam yang berlendir.


Kunta, dengan wajah tak percaya, bertanya, "Jayak, apa ini?" Ia berusaha menahan tawa, namun gagal.


Mado, yang awalnya berusaha menjaga kesopanan, akhirnya tertawa terbahak-bahak, "Sepertinya kita harus menunggu lebih lama untuk merasakan masakan kampung halaman, ya?"


Jayak, meskipun sedikit malu, ikut tertawa. "Setidaknya saya sudah mencoba," katanya sambil mengangkat bahu.


Ketiganya tertawa bersama, mengisi taman dengan tawa yang tulus. Meski mereka jauh dari rumah, persahabatan mereka membuat segalanya terasa lebih hangat.

__ADS_1


Matahari telah bergeser ke barat, memberikan cahaya keemasan yang memantulkan bayangan panjang ketiganya saat mereka berjalan melalui jalan kota yang ramai. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur modern berdiri megah di sisi jalan, sementara aroma kopi dan roti panggang bercampur dengan hiruk pikuk suara klakson dan percakapan para pejalan kaki.


Kunta, dengan mata yang besar dan selalu penasaran, melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Sebuah selebaran yang diletakkan di salah satu dinding bangunan tua dengan gambar artefak kuno. Ia berhenti mendadak, membuat Jayak dan Mado hampir tersandung padanya.


"Apa yang kau lihat, Kunta?" tanya Jayak, sambil menyesuaikan jubahnya yang terhembus angin.


Dengan mata berbinar, Kunta menunjuk selebaran tersebut. "Lihat! Menu makanan khas kita! Mereka menjualnya di sini!" serunya dengan antusias.


Mado mendekat dan memandangi selebaran itu, lalu tertawa pelan. "Kunta, itu bukan menu makanan. Itu pameran tentang peradaban kuno di museum."


Jayak mendekat, menepuk bahu Kunta dengan lembut, sambil tertawa, "Ha! Kau benar-benar kelaparan, ya? Sampai-sampai melihat pameran sebagai menu makanan."


Kunta tampak malu, pipinya memerah. "Aku... Aku hanya terlalu bersemangat," ujarnya dengan suara pelan, namun senyumnya tetap merekah.


Mado melingkarkan tangan di bahu Kunta, "Tidak apa-apa. Aku mengerti perasaanmu. Tapi pameran ini tampak menarik. Mungkin kita bisa mendapatkan sedikit informasi tentang bagaimana kita bisa kembali."


Jayak mengangguk setuju, "Benar. Mungkin kita bisa menemukan petunjuk atau seseorang yang tahu sesuatu."


Setelah beberapa saat berjalan, mereka tiba di depan museum yang megah. Bangunan berwarna putih dengan pilar-pilar besar di depannya, memberikan aura keagungan. Jayak, Mado, dan Kunta memasuki museum dengan harapan besar.


Ketika berada di dalam, mereka terpesona dengan koleksi-koleksi yang ada. Namun, Kunta, yang selalu bersemangat, tampaknya belum bisa melupakan kesalahan tadi.


"Dengar, aku minta maaf," ujarnya sambil menunduk.


Jayak menepuk-nepuk punggung Kunta, "Tidak apa-apa. Setiap kesalahan memberikan pelajaran. Sekarang, mari kita cari petunjuk."


Ketiganya melanjutkan pencarian mereka, berharap menemukan sesuatu yang bisa membawa mereka kembali ke zaman mereka. Namun, rasa penasaran dan humor yang selalu menyertai mereka, membuat setiap detik di masa kini menjadi berharga.

__ADS_1


Sore itu, Jayak, Mado, dan Kunta berkumpul di sebuah kafe kecil yang terletak tak jauh dari museum. Dinding kafe tersebut dilapisi dengan batu bata merah tua, memberikan nuansa hangat. Di luar, langit mulai berubah menjadi oranye keunguan, menandakan matahari akan segera tenggelam.


Dengan secangkir kopi panas di depannya, Jayak berkata, "Kita perlu rencana yang sempurna. Penjaga museum pasti sangat ketat, apalagi saat malam hari."


Mado, yang sedang melihat-lihat ponselnya, menimpali, "Saya mendengar dari salah satu teman saya di media sosial bahwa di sana ada sistem keamanan canggih. Kita harus berhati-hati."


Kunta, dengan semangatnya yang khas, bertepuk tangan ringan, "Aku punya ide! Bagaimana kalau kita mengalihkan perhatian penjaga dengan sesuatu yang menarik?"


Jayak mengangguk, "Itu ide bagus. Tapi, apa yang bisa kita gunakan?"


Kunta dengan cepat menunjukkan sebuah kotak kecil yang berisi alat musik sederhana, "Aku punya ini. Kita bisa membuat pertunjukan musik di depan museum. Pasti akan menarik banyak orang, termasuk penjaga."


Jayak tertawa, "Kau selalu punya cara untuk membuat segalanya menjadi menarik, ya?"


Sementara itu, Mado tampak sibuk mencari sesuatu di tasnya. Dengan mata berbinar, ia mengeluarkan sebuah pakaian yang terlihat seperti seragam karyawan museum, namun dengan warna yang terlalu mencolok dan aksesori yang aneh. "Lihatlah ini! Saya menemukannya di toko pakaian bekas. Kita bisa menyamar sebagai karyawan museum."


Jayak dan Kunta menatap Mado dengan kagum, namun setelah melihat pakaian itu dengan seksama, Jayak berkata, "Mado... Apa kau yakin dengan pakaian itu? Kamu malah terlihat seperti... badut."


Mado tampak kebingungan, "Benarkah? Aku pikir ini terlihat otentik."


Kunta, yang selalu berusaha menjaga suasana hati, mencoba menenangkan Mado, "Tidak apa-apa, Mado. Kita bisa modifikasi sedikit. Tapi untuk saat ini, bagaimana kalau kau mencobanya dulu?"


Dengan sedikit ragu, Mado mengenakan pakaian tersebut dan berjalan-jalan di jalan kota. Namun, reaksi orang-orang tak seperti yang ia harapkan. Banyak yang tertawa, ada yang menunjuk, bahkan ada yang memintanya untuk foto bersama. Mado merasa malu, namun ia mencoba berpura-pura percaya diri.


Ketika kembali ke kafe, Jayak dan Kunta berusaha menahan tawa mereka. "Aku tahu, aku tahu," kata Mado sambil melepas kostumnya, "Ini bukan ide yang bagus."


Jayak menepuk bahu Mado, "Tidak apa-apa. Setidaknya kita tahu sekarang. Kita harus memikirkan rencana lain."

__ADS_1


Ketiganya kembali fokus pada rencana mereka, memetakan rute masuk dan keluar, mencari titik-titik lemah keamanan, dan mempersiapkan segalanya dengan matang.


Malam itu, dengan semangat yang tinggi dan hati yang penuh harapan, mereka bersiap-siap untuk menyelinap masuk ke museum, berharap menemukan petunjuk yang akan membawa mereka pulang.


__ADS_2