
Setelah peristiwa hotdog yang membingungkan, mereka bertiga memutuskan untuk duduk di tepi taman, di sebuah bangku kayu yang dikelilingi oleh semak-semak berbunga ungu dan kuning. Angin ringan berhembus, meniupkan aroma bunga yang segar ke hidung mereka.
Mado, yang sedang mencoba bermain dengan ponsel yang ia pinjam, berkata, "Seandainya ada cara untuk kembali ke zaman kita."
Jayak menepuk pundak Mado, "Kita pasti akan menemukan jalan pulang. Kita hanya perlu waktu."
Sementara mereka tenggelam dalam percakapan, sebuah suara halus menghampiri mereka, "Maaf, apakah kalian tiga pria yang datang dari gua yang diceritakan dalam legenda?"
Mereka bertiga seketika menoleh, mendapati seorang gadis muda berambut cokelat panjang dan mata hijau yang tajam. Ia mengenakan pakaian sederhana, namun ada sesuatu yang misterius dari auranya.
Kunta, dengan mata yang membelalak, berkata, "Siapa kamu? Bagaimana kamu tahu tentang kami?"
Gadis itu tersenyum, "Nama saya Lila. Legenda gua itu diceritakan oleh nenek saya sejak saya masih kecil. Legenda tentang tiga pria yang akan datang dari masa lalu dan mencari jalan pulang."
Jayak mendekat, "Bisakah kamu membantu kami? Kami benar-benar bingung dengan semua ini."
Lila mengangguk, "Tentu, tapi sebelum itu—" Tiba-tiba, ia tergelincir di atas kulit pisang yang sengaja ditinggalkan di jalanan. Adegan itu begitu klasik dan konyol sehingga membuat ketiganya tertawa terbahak-bahak.
Gadis itu bangkit dengan wajah merah padam, "Oh, bagaimana bisa aku tergelincir seperti itu? Sungguh memalukan!"
Mado, dengan tawa yang masih tersisa, berkata, "Itu mengingatkan kami pada beberapa adegan kocak dari zaman kami. Terima kasih sudah membuat kami tertawa, Lila."
Lila tersenyum malu, "Tidak masalah. Jadi, kalian ingin tahu lebih banyak tentang legenda itu?"
Kunta mengangguk, "Tolong ceritakan kepada kami."
Gadis muda itu duduk di antara mereka, "Nenek saya mengatakan bahwa ada sebuah gua, di mana tiga pria berani dari masa lalu akan muncul. Mereka mencari cara untuk kembali, dan petunjuknya ada di tiga tempat berbeda di kota ini."
Jayak bertanya, "Apa saja ketiga tempat itu?"
Lila berpikir sejenak, "Saya tidak yakin dengan detail pastinya. Tapi saya bisa membawa kalian ke rumah nenek saya. Mungkin dia bisa memberi kalian petunjuk lebih lanjut."
Kunta, dengan wajah penuh harapan, berkata, "Kami akan sangat berterima kasih jika kamu bisa membantu kami."
__ADS_1
Gadis itu bangkit dari duduknya, "Mari ikuti saya. Dan berhati-hatilah dengan kulit pisang lainnya," katanya dengan senyuman nakal.
Mereka bertiga tersenyum, merasa sedikit lebih berharap. Mungkin, dengan bantuan Lila dan neneknya, mereka akan menemukan jalan pulang yang mereka cari.
Mereka berempat berjalan menelusuri jalan-jalan kota yang ramai. Lila, yang sudah akrab dengan keadaan kota, memandu mereka dengan langkah yakin. Namun, bagi Jayak, Mado, dan Kunta, setiap elemen kota adalah sebuah misteri yang menanti untuk diungkap.
Saat sebuah bus kota berwarna cerah melintas dengan kecepatan tinggi, Jayak sontak mengira itu adalah makhluk buas raksasa. Ia mengambil ancang-ancang, dengan maksud menaikinya seperti menaiki kuda atau gajah.
"Jayak! Tunggu! Itu bukan binatang!" teriak Lila, tapi terlambat. Jayak telah melompat, berusaha memanjat sisi bus yang sedang berhenti sejenak di halte.
Mado dan Kunta, melihat aksi Jayak, bergegas mengikutinya ke dalam bus yang pintunya sedang terbuka, dengan pemikiran mereka masing-masing.
"Ini pasti naga mekanik," gumam Mado sambil memegangi tiang di dalam bus dengan mata terbelalak, kagum dengan interior bus yang modern.
Sementara itu, Kunta, yang sadar bahwa mereka mungkin perlu membayar untuk naik, mulai mencoba menukar beberapa barang antik yang ia bawa dari zamannya dengan penumpang lain, berharap mendapatkan sesuatu yang bisa digunakan sebagai tiket.
Seorang ibu muda dengan keranjang belanjaan di tangannya tertawa melihat Kunta, "Tidak, Tuan, saya tidak memerlukan benda itu. Tapi kau lucu sekali!" katanya sambil mengusap kepala anak kecilnya yang tampak terhibur.
Lila, yang sekarang juga sudah naik ke bus, berlari ke arah Jayak yang masih berusaha memahami apa yang terjadi. "Jayak, ini adalah bus, sebuah alat transportasi. Bukan binatang. Dan kalian harus membayar untuk bisa naik," katanya sambil menarik Jayak agar duduk di kursi kosong.
Lila mengeluarkan beberapa uang kertas dan koin dari dompetnya, membayar untuk mereka semua. "Sudah, tenang saja. Saya akan membantu kalian. Tapi tolong, jangan coba-coba menaiki 'binatang' lainnya lagi, ya?"
Mado, yang kini sudah tenang, bertanya, "Lila, ke mana bus ini akan membawa kita?"
Lila mengangkat bahu, "Sejujurnya, saya tidak tahu. Kita naik tanpa tujuan. Tapi mungkin ini akan menjadi petualangan lain bagi kalian. Siapa tahu kita menemukan sesuatu yang menarik."
Kunta, yang akhirnya duduk di sebelah seorang kakek, bertanya dengan polos, "Apa ini naga? Mengapa ia bisa bergerak tanpa api?"
Kakek itu tertawa, "Bukan, Nak, ini adalah bus. Digerakkan oleh mesin, bukan api. Dan tentu saja bukan naga."
Mereka bertiga saling berpandangan, tergelitik dengan semua kesalahpahaman yang telah mereka buat. Namun, dengan Lila di sisi mereka, setidaknya mereka merasa sedikit lebih aman di dunia yang penuh keanehan ini. Mereka berharap, di antara lampu kota yang berkelap-kelip dan jalanan yang ramai, mereka akan menemukan petunjuk untuk kembali ke rumah.
Langit mulai meredup, menunjukkan peralihan hari ke malam. Rona jingga dan ungu bercampur di cakrawala, memberikan kontras dengan lampu-lampu kota yang mulai berkelip. Jayak, Mado, dan Kunta merasa lelah setelah sepanjang hari menghadapi banyak kejutan.
__ADS_1
"Kita perlu mencari tempat beristirahat," ujar Lila, yang tampak khawatir dengan ketiganya.
Sambil berjalan melewati jalan-jalan yang mulai ramai dengan pejalan kaki yang beraktivitas malam, mata mereka tertuju pada sebuah bangunan dengan tulisan "Hotel Kapsul".
Lila, yang tahu apa itu hotel kapsul, mencoba menjelaskan, "Itu adalah hotel dengan ruangan kecil, seperti kapsul. Kalian mungkin suka."
Namun, sebelum Lila selesai berbicara, Kunta berdecak kagum, "Sarang burung raksasa! Aku pernah mendengar cerita tentang ini!"
Jayak menatap bangunan itu dengan rasa ingin tahu, "Apakah kita akan tidur di dalam 'telur' burung raksasa itu?"
Mado menambahkan, "Aku rasa ini akan menjadi pengalaman yang menarik!"
Mereka berempat memasuki hotel tersebut. Di dalam, suasana hangat dengan pencahayaan yang lembut menyambut mereka. Beberapa tamu tampak sibuk mengatur barang bawaannya atau duduk santai di area lounge.
Dengan bantuan Lila, mereka mendapatkan tiga kapsul untuk mereka bertiga. Saat memasuki area kapsul, Kunta tampak kesulitan. Barang-barang antik yang ia tawarkan kepada orang-orang sepanjang hari tampaknya menjadi penghalang baginya untuk masuk ke dalam kapsul.
"Kunta! Kau harus menaruh barang-barangmu di loker dulu," seru Lila sambil mencoba menolong Kunta yang terlihat kikuk.
Namun, Kunta dengan wajah polos bertanya, "Apakah loker itu aman? Bagaimana jika seseorang mencuri barang-barangku?"
Mado tertawa mendengar pertanyaan Kunta, "Kunta, di dunia ini, sepertinya barang-barang antikmu belum tentu berharga seperti di zaman kita."
Kunta mengerutkan keningnya, "Tapi barang-barang ini sangat berarti bagiku."
Lila menenangkan, "Tenang saja, Kunta. Lokernya aman. Kita akan mendapatkan kunci untuk menjaga barang-barangmu."
Dengan berat hati, Kunta menaruh barang-barangnya di loker dan akhirnya berhasil masuk ke dalam kapsul dengan tenang. Mereka semua merasa nyaman dengan kapsul masing-masing. Walaupun sempit, tapi rasa hangat dan pencahayaan lembut membuat mereka merasa rileks.
Jayak, dari kapsulnya, berbisik ke Mado di sebelahnya, "Aku tak pernah membayangkan akan tidur di tempat seperti ini. Dunia ini penuh kejutan."
Mado mengangguk, "Benar, Jayak. Tapi bersyukurlah kita punya Lila yang membantu kita."
Kunta, yang mendengar percakapan mereka, menambahkan, "Ya, Lila seperti malaikat penolong untuk kita di dunia asing ini."
__ADS_1
Lila, yang mendengar ucapan Kunta, tersenyum, "Tidurlah dengan nyenyak. Besok kita akan menjelajahi lebih banyak lagi."
Dan di bawah lampu-lampu kota yang berkelip, di dalam kapsul kecil itu, mereka tertidur dengan nyenyak, memimpikan petualangan hari berikutnya di dunia modern yang penuh tanda tanya.