
Stadion terbesar di kota itu penuh sesak dengan penonton. Sorak-sorai dan tepukan tangan menggema di udara. Di tengah-tengah stadion, sebuah ring bela diri berdiri megah, dikelilingi oleh lampu sorot yang menyinari setiap inci dari permukaannya. Papan skor menampilkan nama "Jayak" dan "Aryo", juara bela diri masa kini.
Di sudut stadion, Jayak sedang melakukan pemanasan dengan Kunta dan Mado di sisinya. “Kau harus tenang dan fokus,” pesan Kunta sambil menepuk bahu Jayak.
Mado menambahkan, “Jangan lupa nafas dalam-dalam. Tenangkan dirimu.”
Jayak mengangguk, “Aku siap. Aku akan menunjukkan kekuatan bela diri kuno kita.”
Saat Jayak naik ke ring, sorak-sorai penonton meningkat. Aryo, seorang pemuda dengan tubuh atletis dan wajah tampan, sudah menunggu di sisi lain. Senyumnya sinis, matanya menilai Jayak dari kepala sampai kaki.
“Jadi kau adalah petarung kuno yang telah mencuri perhatian semua orang?” tanya Aryo dengan nada mengejek.
Jayak tersenyum tenang, “Saya hanya di sini untuk bertarung, bukan untuk bicara.”
Pertarungan dimulai dengan cepat. Aryo dengan gerakannya yang lincah mencoba menyerang Jayak, namun Jayak mampu menghindar dengan gerakan yang anggun dan elegan. Beberapa kali, Jayak berhasil menyerang Aryo dengan pukulan dan tendangan yang kuat, membuat penonton bersorak kagum.
Namun, saat pertarungan semakin sengit, Jayak merasa ada yang mengganjal di kaki kanannya. Sepatunya terikat dengan benang yang panjang. Setiap kali dia mencoba bergerak, benang itu menarik sepatunya, membuatnya tersandung. Aryo, melihat kesempatan, semakin meningkatkan serangannya.
Jayak mencoba melepaskan benang tersebut, namun setiap kali ia hampir berhasil, Aryo menyerangnya. Dalam kebingungannya, Jayak memutuskan untuk menggunakan gaya "dancing" untuk menghindari benang dan serangan Aryo. Gerakannya menjadi kombinasi antara tarian dan bela diri, membuat penonton tertawa terbahak-bahak.
Kunta dan Mado di pinggir ring, melihat dengan cemas. “Apa yang dia lakukan?!” seru Kunta.
Mado hanya bisa menggelengkan kepala, “Itu gaya Jayak. Selalu penuh kejutan.”
Di ring, Aryo tampak bingung. Ia tidak tahu bagaimana menghadapi gerakan "dancing" Jayak. Beberapa kali, Jayak bahkan berhasil menyerang Aryo dengan tendangan yang diakhiri dengan pirouette.
Setelah beberapa menit yang tampak seperti keabadian, Jayak akhirnya berhasil melepaskan benang yang mengikat sepatunya. Ia kembali fokus, dan dengan serangkaian gerakan cepat, berhasil mengalahkan Aryo.
Penonton bersorak kagum dan memberikan tepukan meriah. Jayak menunduk hormat ke arah Aryo, yang tampak terkejut namun mengakui kekalahan dengan anggun.
Saat Jayak turun dari ring, Kunta dan Mado mendekatinya dengan wajah penuh kebanggaan. “Kau luar biasa!” seru Kunta.
Mado tertawa, “Meski dengan gaya dancingmu yang... unik.”
Jayak tersenyum, “Terkadang, kita harus beradaptasi dengan situasi, bukan?”
Di tengah sorak-sorai penonton, ketiganya berjalan meninggalkan stadion, dengan hati penuh kebanggaan dan kepuasan. Sebuah pertarungan yang tak terlupakan, di mana tradisi bertemu modern, dan di mana kekacauan menjadi kemenangan.
__ADS_1
Mado duduk tegak di belakang panggung, menyesap teh dari cangkir yang disajikan dalam ruang tunggu studio televisi. Warna-warna neon dari lampu studio memantulkan cahaya pada dinding yang dilapisi kaca, memberikan kesan futuristik yang jauh dari kenangan masa lalunya.
“Mado, lima menit lagi kamu akan on-air!” teriak asisten produser, seorang wanita muda berambut coklat yang memakai headset dan berbicara dengan cepat.
Kunta dan Jayak duduk di sebelahnya, mencoba memberikan semangat. “Ingat, gunakan bahasa sederhana. Jangan terlalu rumit,” Jayak berpesan.
Mado mengangguk, wajahnya tampak serius. “Aku akan mencoba.”
Tidak lama kemudian, musik tema acara mulai berkumandang, dan Mado diantar ke panggung. Cahaya sorotan menghujani wajahnya, sementara ratusan pasang mata menatapnya dari kursi penonton.
Pembawa acara, seorang pria berwajah tampan dengan rambut gelap yang tersisir rapi, menyambutnya dengan hangat. “Selamat datang di 'Sorotan Minggu Ini', Mado! Kami sangat bersemangat memilikimu di sini.”
Mado menunduk singkat sebagai salam, “Terima kasih telah mengundangku, tuan.”
“Sebelum kita mulai,” kata pembawa acara, “bagaimana perasaanmu sekarang, menjadi selebriti mendadak di masa kini?”
Mado tampak bingung sejenak, "Seleb...riti? Ah, kau maksud seperti pahlawan perang yang terkenal di desaku?"
Tawa penonton pecah. Pembawa acara tersenyum, mencoba menjelaskan, “Tidak persis. Selebriti adalah seseorang yang terkenal di dunia hiburan. Seperti aktor, penyanyi, atau penulis seperti kamu.”
Mimik wajah Mado menunjukkan kebingungannya. “Ah, mengerti. Aku merasa seperti mendapatkan banyak perhatian, namun kadang-kadang itu membuatku merindukan kesederhanaan desaku.”
Mado menatap jauh, “Aku merindukan masa laluku. Ingin menceritakan keindahan dan kesulitan hidup di zaman kami.” Dia lalu menambahkan dengan nada bercanda, “Dan tentu saja, menghindari ‘batu ajaib’ yang kalian sebut laptop.”
Gelak tawa penonton kembali pecah. Pembawa acara tertawa, “Ah, tentu! Bagaimana rasanya beradaptasi dengan teknologi masa kini?”
Dengan polos, Mado menjawab, “Seperti mencoba memahami bahasa yang belum pernah kudengar. Sangat menantang.”
Acara berlanjut dengan serangkaian pertanyaan yang sebagian besar membuat Mado bingung. Namun, justru itulah yang membuat penonton terhibur. Ekspresi polos dan cara bicaranya yang kuno menjadi suguhan komedi yang tak terduga.
Ketika acara berakhir, Mado kembali ke belakang panggung, disambut oleh Jayak dan Kunta dengan tepukan tangan.
“Kau luar biasa!” seru Kunta.
Jayak menambahkan, “Meski kau bingung dengan banyak hal, kau tetap autentik. Itulah yang membuat penonton menyukaimu.”
Mado tersenyum lebar, “Terima kasih. Aku senang bisa membuat orang tertawa, meskipun tidak sengaja.”
__ADS_1
Ketiganya meninggalkan studio dengan hati gembira, menikmati kehidupan di zaman yang asing namun penuh petualangan.
Sebuah ruangan luas dengan dinding berwarna pastel, diterangi oleh lampu-lampu gantung yang memberikan kesan hangat, menjadi lokasi yang sempurna untuk pesta kemenangan Jayak. Dekorasi balon berwarna emas dan perak tergantung di langit-langit, bergerak-gerak seiring dengan aliran udara.
Jayak, yang baru saja tiba, tampak terkejut dengan kehadiran banyak orang yang sudah menunggunya di dalam ruangan. “Apa ini?” tanyanya dengan ekspresi terkejut namun senang.
“Selamat! Kami bangga padamu!” seru Mado, memeluk Jayak erat.
Kunta menambahkan, “Kau telah membuktikan bahwa bela diri zaman dulu tak kalah hebatnya dengan masa kini.”
Tertawa, Jayak menjawab, “Terima kasih. Tapi sejujurnya, benang panjang yang mengikat sepatuku memberi sedikit bantuan.”
Teman-teman Jayak bergantian memberikan ucapan selamat. Namun, aroma aneh mulai tercium dari dapur. Beberapa tamu mulai berbisik, bertanya-tanya apa yang sedang dimasak.
Dari dapur, terdengar suara microwave yang sedang beroperasi. Kunta, dengan niat baik, mencoba memanaskan beberapa hidangan dengan menggunakan microwave. Namun, dengan pengetahuannya yang terbatas tentang teknologi masa kini, ia salah mengatur waktu dan suhu.
Tiba-tiba, suara ledakan kecil terdengar dari dapur, diikuti oleh asap tebal yang memenuhi ruangan. Alarm asap berbunyi dengan keras, membuat beberapa tamu panik.
Mado berteriak, “Apa yang terjadi?!”
Dengan ekspresi terkejut dan wajah pucat, Kunta muncul dari dapur, tangannya penuh dengan sisa makanan yang hangus. “Aku... aku hanya ingin memanaskan makanan.”
Jayak, meskipun terkejut, mulai tertawa. “Kunta, apa yang kau lakukan dengan microwave?”
Menggaruk kepalanya yang bingung, Kunta menjawab, “Aku pikir itu seperti api unggun. Aku menaruh makanan dan menunggu hingga matang.”
Mado menepuk dahi, namun senyumnya menunjukkan bahwa ia tak bisa marah pada Kunta. “Kau seharusnya bertanya padaku atau Jayak dulu.”
Beberapa tamu mulai membantu membersihkan dapur dan mengeluarkan asap. Meskipun situasi tampak kacau, suasana tetap ceria. Tamu-tamu mulai tertawa, berbagi cerita tentang kesalahan lucu mereka saat pertama kali mengenal teknologi.
Seorang tamu berkomentar, “Aku ingat saat pertama kali menggunakan blender. Aku lupa menutupnya dan seluruh ruangan penuh dengan smoothie.”
Tawa menggema di seluruh ruangan. Jayak memeluk Kunta, “Terima kasih telah memberikan kita momen tak terlupakan ini.”
Kunta tampak malu, namun tersenyum. “Aku hanya ingin membuat malam ini spesial.”
“Dan kau telah melakukannya,” tambah Mado.
__ADS_1
Malam itu berlanjut dengan tawa dan keceriaan. Meskipun ada beberapa insiden tak terduga, itu hanya menambah kenangan indah dari pesta kemenangan Jayak.