Tiga Pemuda Lintas Zaman

Tiga Pemuda Lintas Zaman
Harapan Baru, Dr. Alina


__ADS_3

Suasana pagi yang sejuk menyelimuti tepian hutan. Daun-daun bergoyang diterpa angin lembut, sementara sinar matahari yang merembes menerobos kanopi pohon menciptakan adegan yang dramatis dengan bayangan-bayangannya. Di tepi hutan, gua besar dengan mulutnya yang terbuka lebar tampak menanti.


Dr. Alina, dengan pakaian penelitian dan helm dengan lampu, tampak siap memandu ketiganya. "Kita harus hati-hati. Gua ini belum banyak dieksplorasi, dan kita tidak tahu apa yang akan kita temui di dalam," katanya sambil menyesuaikan helmnya.


Mado, dengan semangat membara, berkata, "Ini adalah kesempatan kita untuk kembali. Kita harus mencobanya."


Jayak mengangguk, "Benar, kita harus mencari tahu."


Ketika memasuki gua, suasana menjadi hening. Hanya suara tetes air dari stalaktit dan gaung langkah kaki mereka yang terdengar. Dinding gua yang basah berkilauan saat disinari oleh lampu helm mereka.


Kunta, merasa tegang, berbisik pada Mado, "Apa kamu merasa ada kehadiran lain di sini?"


Mado mencoba menenangkan diri. "Kita harus tetap fokus," katanya. Kemudian, untuk mengalihkan perhatian dan membangkitkan semangat, Mado mulai menyanyikan sebuah lagu kuno dari zaman mereka. Sayangnya, suaranya yang fals menyebabkan sebuah kawanan kelelawar yang sedang hibernasi terkejut dan mulai terbang ke mana-mana.


Jayak, yang terkejut, berteriak, "Apa yang kamu lakukan, Mado?!"


Dr. Alina, yang tampak panik, berteriak, "Kepala ke bawah!"


Mereka berempat menunduk, sambil berusaha menghindari kelelawar yang terbang liar. Setelah beberapa menit, kelelawar-kelelawar itu akhirnya menenangkan diri dan kembali ke tempat semula.


Mado tampak malu. "Maaf, saya hanya ingin membangkitkan semangat," katanya sambil menunduk.


Dr. Alina tersenyum ringan, "Saya mengerti maksudmu, namun kita harus lebih berhati-hati di sini."


Ketiganya mengangguk setuju.


Dengan hati-hati, mereka melanjutkan perjalanan, memeriksa setiap sudut dan celah gua. Jayak, dengan mata yang tajam, menemukan sebuah relief di salah satu dinding gua. "Lihat ini," katanya sambil menunjuk.


Relief tersebut tampak seperti sebuah portal dengan simbol-simbol kuno di sekelilingnya. Dr. Alina tampak bersemangat. "Ini mungkin petunjuk yang kita cari!" ujarnya.

__ADS_1


Kunta mendekat dan menyentuh relief itu, "Ini mirip dengan cerita lama yang diceritakan oleh leluhur kami. Mungkin ini adalah portal yang kita cari."


Dr. Alina mengangguk, "Kita harus melakukan penelitian lebih lanjut. Mungkin ada cara khusus untuk mengaktifkannya."


Dengan hati penuh harapan, mereka meninggalkan gua, siap untuk memulai tahap berikutnya dari petualangan mereka. Meskipun ada beberapa hambatan, semangat mereka tidak pernah padam, dan mereka semakin dekat dengan tujuan mereka untuk kembali ke masa lalu.


Dengan latar belakang matahari yang mulai tenggelam, mereka berkumpul di depan gua. Langit berwarna jingga keunguan, memberikan nuansa mistis pada suasana sekitar. Suara jangkrik dan burung hantu mulai terdengar, menciptakan latar sonora yang misterius.


Dr. Alina membuka buku kuno yang berisi berbagai ritual. "Menurut catatan ini, ada ritual khusus untuk mengaktifkan portal di gua ini. Kita memerlukan beberapa bahan khusus untuk itu," katanya sambil menunjukkan halaman buku tersebut kepada yang lain.


Kunta, dengan mata cemerlang, berkata, "Biarkan saya mengumpulkannya. Saya ingat beberapa tanaman di sekitar sini yang mungkin sesuai dengan deskripsi di buku."


Jayak menepuk punggung Kunta. "Kerjakan dengan baik, temanku. Kita mengandalkanmu."


Sementara Kunta pergi mengumpulkan bahan-bahan, Mado dan Jayak membantu Dr. Alina menyiapkan area ritual. Mereka menata batu-batu besar membentuk lingkaran dan menyalakan lilin di sekitarnya.


Setelah beberapa lama, Kunta kembali dengan sejumlah bahan. Namun, yang mengejutkan, di antara tumpukan daun dan bunga, ada sebotol soda besar.


Kunta tampak bingung. "Oh, saya pikir kita memerlukan sesuatu yang berbuih untuk ritual. Bukankah begitu?"


Mado dan Jayak berusaha keras menahan tawa. "Kunta, mungkin kamu salah paham. Soda bukan bagian dari ritual kuno," ujar Mado sambil tertawa.


Dr. Alina, meski tampak sedikit terhibur, berkata, "Tidak apa-apa, Kunta. Mari kita lanjutkan dengan bahan yang sudah kita miliki."


Ketika ritual dimulai, Dr. Alina mulai mengucapkan mantra-mantra kuno. Jayak dan Mado dengan serius mengikuti setiap langkahnya. Saat tiba saatnya untuk menuangkan cairan khusus ke dalam bejana, Kunta, masih berpikir soda itu diperlukan, membuka botol soda itu.


Dengan suara 'pssst' yang keras, busa soda memercik ke mana-mana. Beberapa tetesan jatuh ke lilin, menciptakan percikan api yang membuat efek dramatis. Efek busa dan percikan api membuat ritual tampak seperti adegan ajaib di film-film fantasi.


Mado, dengan mata terbelalak, berkata, "Apa ini? Apakah portalnya aktif?"

__ADS_1


Jayak, yang sedikit basah karena soda, tertawa. "Saya pikir ini hanya efek samping dari soda Kunta."


Kunta, dengan wajah memerah, berkata, "Maaf, saya benar-benar pikir itu diperlukan."


Dr. Alina, yang juga tertawa, berkata, "Meskipun bukan bagian dari rencana, efeknya memang menakjubkan. Tapi kita harus fokus dan melanjutkan ritual dengan benar."


Setelah kejadian lucu tersebut, mereka kembali serius dan melanjutkan ritual sesuai dengan petunjuk di buku. Semua berharap ritual itu akan membawa mereka satu langkah lebih dekat ke tujuan mereka: mengaktifkan portal dan mengembalikan ketiga pria tersebut ke masa mereka.


Dekapan malam semakin pekat, merengkuh gua dengan cengkeraman yang dalam. Suara alam terdengar hening, seolah-olah menunggu sesuatu yang signifikan terjadi. Namun, di dalam gua, lampu senter Dr. Alina memberikan penerangan yang cukup untuk mereka melanjutkan pencarian.


Mado, yang tampak kecewa, duduk di sebuah batu besar. "Mungkin kita tidak bisa kembali, teman-teman," katanya dengan nada berat.


Jayak menepuk bahunya, "Kita tidak boleh menyerah. Pasti ada cara."


Ketika Kunta memeriksa dinding gua, ia menemukan sesuatu yang menarik. "Teman-teman, lihat ini!" serunya.


Mereka semua mendekat dan menemukan simbol yang terukir di dinding gua. Simbol itu rumit, terdiri dari beberapa lingkaran, bintang, dan garis yang terjalin. Di tengah-tengahnya, ada bentuk yang mirip mata.


"Saya rasa ini adalah kunci," kata Dr. Alina, memeriksa simbol dengan saksama. "Ini mungkin petunjuk tentang bagaimana mengaktifkan portal."


Jayak, dengan mata berbinar, berkata, "Saya tahu ini! Mirip dengan logo makanan cepat saji yang kita kunjungi beberapa hari lalu!" Gerak tubuhnya yang semangat, serta ekspresi wajahnya yang penuh dengan antusiasme, kontras dengan keseriusan situasi.


Mado menoleh dengan ekspresi bingung, "Makanan cepat saji? Jayak, kita sedang berbicara tentang portal antar dimensi, bukan burger dan kentang goreng."


Kunta, yang tidak bisa menahan diri, mulai tertawa terbahak-bahak. "Bayangkan saja, portal kuno ini diaktifkan dengan pesanan burger!" tawanya menggema di gua.


Jayak, menyadari kesalahannya, memerah. "Maafkan saya, saya hanya teringat sesuatu yang familiar. Tapi, siapa tahu? Mungkin pendiri makanan cepat saji itu terinspirasi oleh simbol kuno ini!" katanya mencoba membela diri, wajahnya yang tulus membuat yang lainnya sulit marah.


Dr. Alina tersenyum tipis, "Walau kalian memiliki pandangan yang unik, saya rasa ada benarnya. Simbol-simbol kuno sering menjadi inspirasi untuk banyak hal di zaman modern. Tapi kita harus fokus dan mencari tahu makna sebenarnya dari simbol ini."

__ADS_1


Mereka memutuskan untuk memfotokopi simbol tersebut dan membawanya ke ahli simbol untuk dianalisis. Ketika keluar dari gua, udara malam yang sejuk menyelimuti mereka. Langit malam yang dipenuhi bintang, dengan rembulan yang mengintip dari balik awan, memberi mereka harapan baru.


Mereka berjalan bersama menuju mobil Dr. Alina, dengan tekad baru untuk mengungkap misteri yang telah membingungkan mereka. Meskipun mereka sudah jauh dari gua, tawa mereka masih menggema, menandakan bahwa semangat mereka tetap tinggi meskipun menghadapi rintangan.


__ADS_2