Tiga Pemuda Lintas Zaman

Tiga Pemuda Lintas Zaman
Konflik Tiga Pemuda


__ADS_3

Di tepi sungai yang tenang di sebuah taman kota modern, ketiga sahabat, Jayak, Mado, dan Kunta, duduk bersila di bawah pohon rindang. Udara segar dan nyaman menyejukkan kulit mereka yang belum terbiasa dengan pusat peradaban masa kini. Mereka memandang air mengalir perlahan sambil merenungkan keputusan yang sulit yang harus diambil.


Jayak, pria berperawakan gagah dengan rambut panjang dan mata tajam, memulai pembicaraan. "Kita harus memutuskan, apakah kita akan mencoba kembali ke masa lalu atau memilih tinggal di sini."


Mado, yang duduk di sebelahnya, seorang penyair dengan wajah yang penuh ekspresi, mengangguk setuju. "Aku merindukan masa lalu, Jayak. Namun, ada banyak hal menarik di masa kini. Aku bahkan jatuh cinta, kamu tahu!"


Kunta, yang duduk dengan santai sambil mengunyah jeruk, tersenyum lebar. "Dan aku, teman-teman, melihat peluang bisnis yang tak terbatas di masa depan. Bagaimana jika kita membawa teknologi ini ke masa lalu dan menjadi orang paling kaya di sana?"


Jayak mengerutkan kening. "Tapi Kunta, masa lalu adalah tempat kami, tempat kami memiliki arti dan kehormatan. Apakah kamu benar-benar ingin meninggalkannya?"


Sementara mereka terus berbicara, matahari perlahan tenggelam di cakrawala, memancarkan warna oranye keemasan yang memantulkan ke sungai. Di antara percakapan serius mereka, ada keceriaan di udara.


Kunta, yang selalu penuh ide cemerlang, tertawa ceria. "Aku punya gagasan brilian! Bagaimana jika kita memulai bisnis batu-batu energi kuno dari masa lalu kita?"


Mado tertawa mendengar ide Kunta. "Batu-batu energi kuno? Apa itu?"


Kunta menjawab dengan serius, "Kamu tahu, batu-batu yang kita lihat di gua? Mereka bisa kita jual sebagai peningkat energi. Orang-orang modern pasti akan tertarik!"


Mado memutar matanya dengan senyum. "Kunta, itu hanyalah batu biasa! Tapi siapa tahu, mungkin ada yang percaya."


Sementara mereka bercanda, Jayak menggelengkan kepala. "Kalian berdua selalu menghibur. Tapi kita harus fokus pada keputusan ini. Ini bukan lelucon."


Suasana taman semakin sejuk dengan semilir angin malam yang lembut. Matahari sepenuhnya terbenam, meninggalkan langit malam yang penuh bintang. Kedua sisi sungai dipenuhi lampu jalan yang berkilauan, menciptakan pemandangan yang memesona di kota modern ini.


Jayak, sambil memandang kejauhan, mempertimbangkan pilihan mereka. "Mungkin kita perlu mencari tahu lebih banyak tentang portal itu, bagaimana cara menggunakannya. Itu bisa menjadi solusi terbaik."


Mado setuju. "Benar, Jayak. Sementara itu, aku ingin tetap di sini sebentar. Aku ingin mengejar cinta dan kebahagiaan di masa kini."

__ADS_1


Kunta tersenyum puas. "Dan aku akan mencoba bisnis batu-batu energi kuno ini. Siapa tahu, mungkin aku bisa menjadi konglomerat terkaya di dunia modern!"


Malam semakin dalam, dan ketiga sahabat ini terus berbicara hingga bulan purnama bersinar terang di langit. Mereka tahu bahwa keputusan ini akan memengaruhi seluruh hidup mereka, dan mereka harus memilih dengan bijak.


Mado, yang tadinya bingung dan ingin kembali ke masa lalunya, merasa semakin tertarik pada dunia modern ketika ia bertemu dengan Linda. Mereka bertemu di perpustakaan kota, di antara rak buku yang menjulang tinggi. Sama-sama tenggelam dalam buku-buku dan kisah-kisah yang ada di sana, mereka berdua seperti magnet yang saling tertarik.


Pertemuan pertama mereka terjadi dengan cara yang tak terlupakan. Mado, yang ingin memberi kesan yang baik pada Linda, mengusulkan sebuah ide yang mungkin terasa agak aneh di mata orang modern. Ia mengajak Linda untuk menunggang kuda di taman kota, yang menurutnya adalah pengalaman yang romantis.


Saat mereka tiba di taman, Mado dengan bangga membawa sepeda kuda yang telah ia pinjamkan dari seorang teman masa kini. Dia berpikir bahwa ini akan menjadi momen yang luar biasa, tetapi reaksinya sangat tidak terduga.


Mado dengan penuh semangat membantu Linda naik ke sepeda kuda, yang memiliki roda yang dipercantik dan dekorasi bertema kuda. Linda, seorang wanita modern yang terbuka pikiran, tertawa terbahak-bahak saat melihat alat transportasi yang tidak biasa ini.


"Duh, Mado, aku tidak pernah menunggang kuda di taman kota sebelumnya!" kata Linda sambil tertawa. "Tapi aku harus mengakui, ini cara yang sangat unik untuk menghabiskan sore."


Mado tersenyum, meskipun merasa agak canggung. "Aku berpikir, dengan cara ini, kita bisa merasakan sedikit nostalgia dan mengenal satu sama lain lebih baik."


Mado dan Linda berhenti sejenak di bawah pohon rindang dan duduk di bangku taman. Mado merasa canggung dan mencoba mencari topik pembicaraan yang tepat. "Jadi, apa yang kamu tulis, Linda? Aku tahu kamu seorang penulis."


Linda bersemangat berbicara tentang karya-karyanya, dan Mado mendengarkan dengan antusias. Mereka berdua menemukan minat yang sama dalam sastra dan seni. Sementara itu, matahari perlahan terbenam di balik gedung-gedung pencakar langit kota, menciptakan langit yang penuh warna.


"Saat pertama kali aku melihatmu di perpustakaan," kata Linda, "aku merasa ada magnet yang menarikku padamu. Ternyata, kita memiliki minat yang serupa."


Mado tersenyum, merasa bahagia. "Aku juga merasakannya, Linda. Dan aku sangat senang bisa mengenalmu."


Mereka menghabiskan sore itu dengan berbicara tentang sastra, berjalan-jalan di taman, dan tertawa bersama. Mado mulai merasa bahwa mungkin dia tidak perlu terburu-buru untuk kembali ke masa lalunya. Mungkin ada sesuatu yang berharga di masa kini, seperti hubungannya dengan Linda.


Saat mereka berdua mengayuh sepeda kuda menuju matahari terbenam, Mado merasa bahwa dia telah menemukan sepotong masa kini yang sangat berharga, yang mungkin akan menjadi alasan baginya untuk tinggal lebih lama di dunia ini.

__ADS_1


Di tepi sungai yang tenang, ketiga sahabat, Jayak, Mado, dan Kunta, duduk di bawah pohon yang menjulang tinggi. Kali ini, atmosfernya lebih tegang daripada sebelumnya. Mereka telah berkumpul untuk membahas keputusan yang harus diambil: apakah mereka akan mencoba kembali ke masa lalu atau tetap bertahan di masa kini.


Jayak, dengan ekspresi serius yang melekat di wajahnya, memulai perdebatan. "Kami harus memutuskan nasib kita dengan bijak. Masing-masing dari kita punya alasan kuat untuk pilihan kami."


Kunta, yang selalu optimis tentang peluang bisnis di masa depan, langsung berbicara. "Bagi saya, masa kini adalah peluang besar. Teknologi, bisnis, dan kemajuan ini tak terbatas. Mungkin kita bisa menjadi orang terkaya di dunia ini."


Mado, yang sudah jatuh hati pada Linda, mengangguk. "Saya juga merasa terikat dengan masa kini. Ada banyak hal yang saya pelajari, orang yang saya temui, termasuk cinta. Saya tidak yakin apakah saya siap untuk meninggalkan semuanya."


Jayak, dengan tegas, menyatakan pandangannya. "Saya merindukan ketenangan dan kehormatan zaman dulu. Kehidupan itu sederhana dan penuh arti. Saya tidak yakin saya cocok dengan semua kerumitan di masa kini."


Sementara perdebatan semakin memanas, seekor kucing jalanan berwarna abu-abu masuk dan bermain dengan tali sepatu Jayak. Awalnya, Jayak merasa terganggu dan mencoba menjauhkan kucing tersebut. Namun, segera ia melihat betapa lucunya tingkah kucing itu dan tersenyum.


"Kalian lihat ini?" kata Jayak, menggoda teman-temannya. "Kucing ini mengingatkan saya pada kesederhanaan kehidupan zaman dulu."


Mado menertawakan kelucuan kucing itu. "Mungkin kita perlu belajar dari kucing ini, Jayak. Bahwa kebahagiaan bisa ditemukan dalam hal-hal sederhana."


Kunta, yang awalnya serius tentang bisnis, ikut tertawa. "Kamu benar, Mado. Mungkin kita terlalu serius dalam memikirkan ini semua."


Mereka melanjutkan perdebatan mereka dengan pikiran yang lebih terbuka. Masing-masing dari mereka mencoba memahami sudut pandang yang berbeda-beda. Mado menunjukkan betapa dia merasa nyaman di masa kini, tetapi juga menghormati kerinduan Jayak akan masa lalu yang tenang.


Kunta, yang awalnya hanya memikirkan peluang bisnis, mulai memahami pentingnya hubungan dan kebahagiaan pribadi dalam hidupnya. Mereka berbicara dengan antusias dan berdebat dengan penuh gairah, tetapi suasana hati mereka menjadi lebih harmonis seiring berjalannya waktu.


Saat bulan mulai muncul di langit malam, mereka mulai melihat betapa kompleksnya keputusan ini. Satu hal yang mereka sepakati adalah pentingnya memahami konsekuensi dari pilihan mereka.


Jayak, yang awalnya keras kepala tentang kembali ke masa lalu, sekarang lebih terbuka untuk melihat manfaat yang mungkin ada di masa kini. Mado, yang awalnya ingin bertahan di masa kini, memahami bahwa kembali ke masa lalu juga memiliki nilai sentimental yang tak ternilai. Kunta, yang awalnya terobsesi dengan bisnis, merasa bahwa cinta dan hubungan sosial juga memiliki peran penting dalam kebahagiaan.


Malam itu, mereka meninggalkan tempat duduk mereka dengan pemikiran yang lebih dalam dan pemahaman yang lebih baik tentang pilihan-pilihan mereka. Keputusan akhir masih belum diambil, tetapi mereka setuju untuk terus menjalani pengalaman mereka di masa kini sambil mencari tahu lebih banyak tentang gua misterius dan cara menggunakannya. Dengan hati-hati, mereka berjalan pulang, tahu bahwa tak ada keputusan yang mudah dalam petualangan lintas waktu mereka.

__ADS_1


__ADS_2