Tiga Pemuda Lintas Zaman

Tiga Pemuda Lintas Zaman
Kedatangan di Dunia Asing


__ADS_3

Langit cerah dengan sentuhan jingga pagi menyambut kedatangan tiga sahabat yang terdampar di masa yang bukan zamannya. Burung-burung perkotaan terbang rendah, berkejaran di antara gedung-gedung tinggi yang menjulang, menciptakan bayangan yang bergerak cepat di tanah.


Sebuah taman kota yang luas dengan pepohonan yang rindang, air mancur yang bersinar di bawah sinar matahari, dan bunga-bunga berwarna-warni yang bermekaran, menjadi saksi bisu kedatangan mereka. Dari kejauhan, suara anak-anak tertawa riang terdengar, dan aroma roti panggang dari sebuah kedai di seberang taman mulai menyebar.


Mado bangun pertama, matanya yang lebar memandang sekitarnya dengan rasa kagum dan kebingungan. "Jayak, Kunta! Bangun! Lihatlah tempat ini!" ujarnya sambil menepuk-nepuk kedua sahabatnya.


Jayak yang bangun dengan rambut acak-acakan dan wajah yang masih mengantuk berkata, "Ini pasti mimpi. Tidak mungkin kita berada di sini."


Kunta yang duduk dengan posisi bersila memandang sekelilingnya dengan ekspresi serius, "Mimpi atau bukan, kita harus menemukan tahu apa yang terjadi."


Jayak, dengan mata yang mulai terbuka lebar, melihat sebuah patung besar di tengah taman. Patung tersebut tampak seperti gunung kecil bagi Jayak. Dengan semangatnya yang khas, Jayak berkata, "Aku akan memanjat gunung itu untuk melihat lebih jelas sekitarnya." Ia bergegas menuju patung tersebut, namun saat ia mencoba untuk memanjat, permukaan patung itu licin, membuat Jayak tergelincir.


Mado tertawa melihat kejadian itu, "Itu bukan gunung, Jayak! Itu hanyalah patung!"


Kunta yang sedikit terhibur menambahkan, "Mungkin patung itu bisa memberi kita petunjuk. Tapi jangan coba panjat lagi, kau terlihat konyol!"


Sementara itu, beberapa orang yang berada di taman mulai mengambil ponsel mereka, merekam aksi Jayak yang mencoba memanjat patung. Seorang ibu muda dengan anak kecilnya berkomentar, "Pertunjukan jalanan mungkin? Lucu sekali!"


Jayak yang merasa malu berusaha berdiri dengan tegap, menyeka tanah dari pakaian kulitnya dan berjalan kembali ke Mado dan Kunta. Wajahnya yang memerah kontras dengan warna kulit sawo matangnya. "Baiklah, aku akui itu bukan ide yang bagus."


Mado, dengan senyum khasnya yang mengembang, berkata, "Setidaknya kau sudah mencoba. Tapi lihatlah, orang-orang tampaknya menikmati 'pertunjukanmu'."


Jayak menghela napas, "Aku hanya ingin cepat menemukan jawaban dan kembali ke tempat kita seharusnya berada."


Kunta menatap taman yang luas, mencoba menemukan petunjuk. "Mari kita cari tahu lebih banyak tentang tempat ini, mungkin ada yang bisa memberi kita informasi."


Mereka bertiga lalu melanjutkan petualangan mereka di dunia asing, dengan harapan menemukan jawaban dari misteri yang mengelilingi mereka. Meskipun situasinya membingungkan, persahabatan mereka tetap kokoh, bersama-sama mencari jalan pulang.


Setelah insiden patung, mereka bertiga berjalan lebih dalam ke taman, mencoba memahami lingkungan baru yang dikelilingi oleh gedung-gedung kaca pencakar langit. Gemerisik daun-daun yang berguguran karena angin sepoi-sepoi menambah suasana asing yang sudah begitu kental. Di antara kerumunan orang yang berjalan-jalan di taman, Mado memperhatikan sesuatu yang ganjil.


"Mengapa semua orang memegang benda kecil di tangan mereka dan menatapnya?" tanya Mado dengan rasa ingin tahunya yang mendalam.

__ADS_1


Kunta, yang sibuk memerhatikan detail lain dari lingkungan, menjawab, "Mungkin itu semacam jimat atau alat sihir. Lihat, mereka seperti berkomunikasi dengannya."


Jayak mengangguk, "Sepertinya begitu. Aku juga melihat ada cahaya yang bersinar dari benda itu."


Mado, yang selalu dikenal karena sifatnya yang penasaran, mendekati seorang pemuda yang sedang duduk di bangku taman sambil asyik bermain dengan "jimat" tersebut. "Permisi, bolehkah saya melihat benda ajaibmu?" tanya Mado dengan ekspresi wajah yang penuh keingintahuan.


Pemuda tersebut terkejut, "Oh, ini? Ini hanya ponsel, bukan benda ajaib," jawabnya sambil tertawa.


Mado mencoba memegang ponsel itu, namun dengan ketidakpastiannya, ia tanpa sengaja menekan tombol kamera dan mengambil selfie. Hasilnya? Wajah Mado yang terkejut dengan mata membelalak dan mulut sedikit terbuka. Di belakangnya, Jayak dan Kunta tampak dengan ekspresi serupa.


Pemuda itu tertawa terbahak-bahak, "Kau baru pertama kali melihat ponsel ya? Ini foto terbaik yang pernah kudapatkan!"


Mado, dengan pipi yang memerah karena malu, berkata, "Saya... saya minta maaf. Kami hanya... tidak familiar dengan ini."


Jayak mendekati mereka dan berkata, "Kami berasal dari tempat yang jauh dan berbeda. Apakah kamu bisa memberi tahu kami lebih banyak tentang benda ini?"


Pemuda itu, yang mulai tertarik dengan tiga pria berpakaian aneh ini, menjelaskan, "Ini adalah ponsel. Kita bisa berkomunikasi dengan orang lain, mencari informasi, bahkan mengambil foto dengan ini."


Pemuda itu tertawa lagi, "Tidak, sama sekali bukan. Tapi, jika kau berada di zaman ini tanpa ponsel, mungkin kau akan merasa seperti tanpa jimat."


Mado memandang ponsel dengan tatapan bingung, "Jadi, bagaimana kita bisa menggunakan 'jimat' ini untuk menemukan jalan pulang?"


Pemuda itu menggaruk kepalanya, "Aku tidak yakin. Tapi mungkin kalian bisa mencari informasi tentang gua tempat kalian datang. Siapa tahu ada petunjuk di sana."


Jayak mengangguk, "Terima kasih, pemuda. Kau telah memberi kami sedikit harapan."


Pemuda itu tersenyum, "Semoga kalian menemukan jalan pulang. Dan jangan lupa, selfie kalian akan selalu ada di ponselku," katanya sambil tertawa.


Mereka bertiga melanjutkan petualangan mereka dengan pemahaman baru tentang dunia ini, dan Mado, dengan rasa ingin tahunya, memiliki alat baru untuk dipelajari: ponsel. Meskipun mungkin tidak akan membawa mereka pulang, setidaknya itu memberi mereka sedikit wawasan tentang keajaiban masa kini.


Setelah pembelajaran singkat tentang teknologi dari pemuda tadi, kelaparan mulai menyergap mereka bertiga. Mado dan Jayak sibuk memperhatikan orang-orang yang lalu lalang, namun Kunta terdistraksi oleh sesuatu yang lain. Hidungnya yang peka mencium aroma yang menggoda—aroma daging yang dipanggang, saus manis, dan rempah-rempah.

__ADS_1


"Dari mana aroma ini berasal?" gumam Kunta sambil menarik napas panjang, matanya mencari-cari sumber bau tersebut.


Tanpa memberi tahu kedua sahabatnya, Kunta mulai mengikuti aroma tersebut, dengan langkah pasti menuju sebuah truk besar berwarna cerah dengan gambar makanan di sisinya. Di sekitarnya, banyak orang berdiri sambil menunggu giliran untuk memesan.


Penjual di truk makanan tersebut, seorang wanita berambut keriting dengan tato di lengannya, memandang Kunta dengan ekspresi bingung. "Halo! Ingin memesan apa?" tanyanya dengan semangat.


Kunta, dengan mata membelalak menatap berbagai makanan yang dipajang, berkata, "Aku ingin mencoba... makanan ajaib ini." Ia menunjuk ke hotdog yang berada di papan menu.


Wanita itu tertawa, "Hotdog bukanlah makanan ajaib, tapi banyak yang menyukainya. Kamu mau pesan?"


Kunta mengangguk, lalu mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin batu permata dari zamannya, "Aku ingin menukarkan ini dengan makananmu. Apakah ini cukup?"


Wanita tersebut terkesima dengan keindahan liontin tersebut, "Wow, ini sangat cantik! Tapi aku tidak bisa menerimanya sebagai pembayaran. Hotdog harganya tidak seberapa, kau bisa mendapatkannya gratis."


Namun Kunta bersikeras, "Ini untukmu, sebagai tanda terima kasih."


Setelah sedikit berdebat, wanita itu menerima liontin tersebut dengan senyum lebar, "Baiklah, satu hotdog spesial untukmu!"


Saat hotdog siap dan disajikan di tangan Kunta, ekspresinya berubah menjadi bingung. Bagaimana cara memakannya? Tanpa berpikir panjang, Kunta membawa hotdog ke mulutnya, seolah-olah hotdog tersebut adalah sebuah terompet.


Sebuah gelak tawa terdengar, Mado dan Jayak yang telah mencari-cari Kunta kini berdiri di belakangnya, tertawa melihat sahabat mereka yang salah paham.


"Apa yang kau lakukan, Kunta? Itu bukan terompet!" tawa Mado.


Jayak menambahkan sambil tertawa, "Kau harus memakannya, bukan meniupnya!"


Wanita penjual juga tertawa, "Itu cara term lucu yang pernah kulihat seseorang mencoba makan hotdog!"


Kunta, dengan wajah yang memerah, akhirnya memahami kesalahannya. Ia memakan hotdog tersebut dengan cara yang benar, dan ekspresi wajahnya berubah menjadi senyum puas. "Ini... ini enak sekali! Kalian harus mencoba!"


Mado dan Jayak, meskipun masih terhibur, akhirnya memutuskan untuk mencoba 'makanan ajaib' itu juga. Mereka menghabiskan waktu di truk makanan, tertawa dan bercerita, sementara orang-orang di sekitar mereka menikmati pemandangan tiga pria dari masa lalu yang mencoba beradaptasi dengan dunia modern.

__ADS_1


__ADS_2