
Langit pagi yang cerah dengan embun pagi yang masih tersisa di ujung-ujung dedaunan menambah keindahan panorama kota metropolitan itu. Burung-burung berkicau riang, menandakan kehidupan baru di dunia yang asing bagi tiga pria dari masa lalu. Gedung-gedung pencakar langit berdiri megah dengan kaca-kaca yang memantulkan cahaya matahari, memberikan nuansa futuristik. Di bawahnya, jalan-jalan dipenuhi dengan lalu lintas kendaraan yang bergerak cepat dan bising.
Jayak, dengan mata yang tajam dan ekspresi serius, mengenali sebuah taman yang tampak familiar. "Ini tempatnya," katanya sambil menunjuk ke sebuah area hijau yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan tinggi.
Mado menatap sekitar dengan mata berbinar, mengingat kembali kejadian saat mereka tiba. "Ya, saya ingat pohon besar itu," kata Mado, menunjuk ke sebuah pohon tua dengan akar yang menjalar di permukaan tanah.
Kunta, dengan langkah ragu, mendekati pohon tersebut. Wajahnya mencerminkan campuran antara harapan dan ketakutan. Dengan perlahan, dia mengelus batang pohon, seolah mencari jawaban atau petunjuk. "Saya merasa... ada sesuatu yang aneh saat kita pertama kali tiba di sini," gumamnya.
Tiba-tiba, sebuah bunyi dering keras menggema di udara, membuat ketiganya terlonjak kaget. Kunta, yang tanpa disadarinya berdiri di samping sebuah mobil sport berwarna merah, dengan cepat mundur beberapa langkah. Alarm mobil itu berbunyi keras, menarik perhatian orang-orang yang sedang berjalan di sekitar taman.
"Sialan! Apa yang kamu lakukan?" teriak seorang pria berbadan tambun yang tampaknya adalah pemilik mobil tersebut. Dia mendekati Kunta dengan wajah yang memerah karena marah.
Jayak, dengan gerakan cepat namun berwibawa, menghadang pria tersebut. "Maafkan kami, kami tidak bermaksud merusak. Ini semuanya adalah kesalahpahaman," ujarnya sambil menunjukkan tangan terbuka sebagai tanda damai.
Pria berbadan tambun itu menatap Jayak dari kepala sampai kaki, tampaknya dia terkesan dengan postur Jayak yang gagah. "Hanya pastikan kalian hati-hati di sekitar mobil saya," katanya dengan nada yang sedikit lebih lunak sebelum pergi.
Sementara itu, Mado tertawa kecil melihat Kunta yang masih tampak terkejut. "Kunta, sepertinya kamu benar-benar memiliki kemampuan untuk menemukan masalah di mana-mana," godanya.
Kunta, dengan wajah memerah karena malu, balas membela diri, "Saya hanya ingin mencari tahu apakah ada petunjuk di sekitar pohon tersebut. Saya tidak sengaja menyentuh mobil itu."
Mereka bertiga kemudian duduk di sebuah bangku taman, berusaha mengumpulkan pikiran mereka. Meskipun situasi menjadi tegang sejenak, suasana alam di sekitar mereka—dengan dedaunan yang berdesir ditiup angin sejuk pagi dan aroma tanah basah—memberikan ketenangan.
"Saya merasa kita semakin dekat menemukan jawabannya," kata Jayak dengan penuh harapan.
Mado mengangguk, "Kita hanya perlu lebih berhati-hati dan saling menjaga. Dan Kunta... mungkin sebaiknya kamu menjauh dari mobil-mobil, ya?"
Ketiganya tertawa, mengakhiri hari itu dengan semangat yang lebih tinggi dan harapan yang semakin membara.
Setelah kejadian di taman, ketiganya memutuskan untuk mencari petunjuk di perpustakaan kota. Gedung perpustakaan berdiri megah dengan dinding-dinding batu berukir khas era klasik, dikelilingi oleh taman yang hijau dan beberapa patung kuno. Suara air dari sebuah kolam kecil terdengar memberikan keteduhan di siang hari yang cerah. Beberapa orang bisa dilihat asyik membaca buku di bawah naungan pohon rindang.
__ADS_1
Kunta, yang terus menerus kagum dengan setiap sudut kota modern, berkata dengan nada berbisik, "Luar biasa, tempat ini penuh dengan pengetahuan yang terkumpul selama ribuan tahun."
Jayak mengangguk, "Betul, kita harus memanfaatkan sumber informasi ini untuk mencari petunjuk."
Mado, yang lebih proaktif, sudah mulai menjelajahi rak-rak buku. Tangan gemulainya memilih satu buku tebal bercover tua dan duduk di salah satu sudut yang tenang. Saat membuka halaman-halamannya, sekeping kertas jatuh dari buku tersebut. Dia mengambilnya dan matanya membulat. "Jayak! Kunta! Lihat ini!" serunya.
Kedua pria tersebut mendekat, dan Mado menunjukkan sketsa gua yang tergambar di kertas itu. "Ini mirip sekali dengan gua tempat kita pertama kali tiba di masa ini," kata Mado dengan nada penuh keheranan.
Kunta menatap gambar itu dengan ekspresi serius, "Benar sekali. Tapi apa artinya? Kenapa gambar gua itu ada di buku ini?"
Jayak, dengan mata berbinar ide, berkata, "Kita mungkin bisa memindai gambar ini dan mencari informasi lebih lanjut di internet." Jayak, meskipun belum sepenuhnya paham, telah belajar sedikit tentang teknologi masa kini dari Dr. Alina.
Mereka bergerak ke bagian komputer dan peralatan. Jayak, dengan rasa percaya diri yang berlebihan, mencoba menggunakan mesin scanner. Namun, alih-alih meletakkan kertas di atas mesin, dia malah memasukkan mukanya ke dalam mesin scanner dan menekan tombol 'start'.
Mado dan Kunta menatap dengan heran saat mesin itu berbunyi dan tiba-tiba Jayak terlonjak kaget. Tak lama kemudian, mesin tersebut mengeluarkan sebuah kertas dengan gambar wajah Jayak yang lucu karena terpencet.
Mado, yang tak bisa menahan tawa, menambahkan, "Seharusnya kamu meminta bantuan daripada memindai dirimu sendiri!"
Jayak, yang pada awalnya tampak malu, akhirnya ikut tertawa. "Saya pikir scanner itu bisa membaca pikiran saya," katanya sambil tertawa.
Seorang petugas perpustakaan mendekat dengan wajah bingung. "Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya.
Mereka menjelaskan situasi dan petugas perpustakaan tersebut membantu mereka memindai gambar gua dengan benar. "Kalian benar-benar dari zaman sebelum masehi?" tanya petugas perpustakaan dengan nada penuh keheranan.
Jayak mengangguk, "Ya, dan kami sedang mencari cara untuk kembali."
Petugas perpustakaan tersebut tersenyum dengan ramah, "Semoga kalian menemukan apa yang kalian cari."
Dengan gambar gua yang sudah terpindai dengan benar, ketiganya bersemangat untuk terus mencari petunjuk tentang cara kembali ke masa mereka. Meski dihantui kesulitan dan kebingungan teknologi modern, persahabatan dan kekompakan mereka selalu menjadi pendorong semangat.
__ADS_1
Kafetaria itu berada di sudut sebuah taman di pusat kota. Suasana tenang dan nyaman dengan kursi-kursi outdoor yang dikelilingi oleh tanaman hijau dan beberapa meja payung yang meneduhkan. Ada suara gemericik air dari sebuah air mancur kecil dan semilir angin yang membawa aroma kopi dan roti panggang dari dapur.
Mereka bertiga duduk di salah satu meja, menunggu kedatangan Dr. Alina. Mado tenggelam dalam buku yang baru saja ia ambil dari perpustakaan, sementara Kunta sibuk memperhatikan orang-orang yang lalu lalang. Jayak, dengan rasa penasaran yang tak kunjung habis, mencoba memahami menu yang ada di atas meja.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita berambut cokelat panjang dan berkacamata datang mendekat. "Selamat siang," katanya dengan senyum ramah, "Aku Dr. Alina."
Ketiganya berdiri dan memberikan salam. "Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk bertemu dengan kami," ujar Jayak dengan sopan.
Dr. Alina mengangguk, "Aku sangat tertarik dengan kisah kalian. Jadi, apa yang bisa aku bantu?"
Mereka duduk kembali dan Mado dengan cepat menjelaskan tentang gambar gua yang mereka temukan. Dr. Alina tampak serius mendengarkannya.
Tak lama, pelayan datang mengantarkan pesanan makanan dan minuman mereka. Sebotol saus merah berkilau diletakkan di tengah-tengah meja.
Jayak, yang mengira itu adalah jenis minuman, dengan cepat mengambilnya dan mengguyur isinya ke mulutnya. Tak sampai dua detik, matanya membulat dan wajahnya memerah. Saus tersebut ternyata sangat pedas! Jayak berdiri dengan cepat, lidahnya terjulur keluar dan ia berlari menuju meja lain mencari air.
Kunta dan Mado, yang menyadari kesalahan Jayak, tak bisa menahan tawa. "Tidak pernah terpikir olehku bahwa Jayak akan melakukan hal semacam itu," kata Kunta sambil tertawa.
Dr. Alina, meskipun tampak terkejut, juga tertawa. "Sepertinya kalian memang benar-benar dari masa yang berbeda," katanya sambil memberikan gelas air kepada Jayak yang kembali dengan napas tersengal-sengal.
Jayak, yang sudah kembali tenang, berkata, "Maafkan saya. Saya benar-benar tak tahu itu adalah saus pedas."
"Sudah tidak apa-apa," balas Dr. Alina dengan senyum, "Jadi, mengenai gua yang kalian sebutkan, aku memang pernah mendengar tentang gua misterius yang konon menjadi portal antar zaman. Namun, itu semua masih merupakan mitos dan legenda."
Mado mengangkat sehelai kertas yang berisi gambar gua. "Apakah Anda bisa membantu kami menemukan gua ini?"
Dr. Alina menatap gambar tersebut dengan serius. "Aku akan membantu kalian. Tapi kalian harus bersabar. Penelitian seperti ini membutuhkan waktu."
Ketiganya mengangguk dengan penuh harapan. Meskipun ada beberapa momen lucu dan tak terduga, pertemuan dengan Dr. Alina membawa harapan baru bagi mereka untuk kembali ke zaman mereka.
__ADS_1