
Ketika langkah mereka semakin memasuki kedalaman gua, suara gemerincing air terdengar, dan cahaya rembulan yang merembes lewat celah-celah atap gua memberi penerangan redup. Dinding gua tampak basah dengan stalaktit dan stalagmit yang membentuk pola unik dan memukau. Suasana gua yang sejuk dan hening hanya sesekali terganggu oleh suara tetes air yang jatuh ke permukaan bebatuan.
Tiba-tiba, Lyno muncul lagi dari balik salah satu pilar batu gua. Dengan langkah gagah dan sayap yang sesekali bergerak lembut, ia mendekati ketiganya. "Sebelum kalian melanjutkan, ada petunjuk yang perlu kalian ketahui," katanya dengan suara melengkingnya.
Mado mendekat, wajahnya serius. "Kami siap mendengar, Lyno."
Lyno menatap Mado dengan mata yang dalam, "Di balik bayangan, di bawah gemerincing air, ada jalan rahasia yang harus kalian cari. Namun, hanya hati yang murni yang bisa melihatnya."
Ketiganya saling berpandangan, mencoba memahami maksud dari petunjuk tersebut. Mado menggaruk kepalanya, "Bayangan? Gemerincing air? Apa maksudmu, Lyno?"
Jayak, yang selalu penuh humor, mencoba menirukan suara melengking Lyno sambil menirukan gerakan sayapnya, "Mungkin maksudnya di balik batu besar atau di bawah air terjun mini di dalam gua ini. Siapa yang tahu?" Ia tertawa, membuat Kunta ikut tertawa.
Lyno, meskipun tampak kesal dengan tingkah Jayak, tidak bisa menahan senyuman. "Aku memberi petunjuk dengan cara teka-teki agar perjalanan kalian lebih menantang. Aku yakin, dengan kecerdasan dan kekompakan kalian, kalian akan menemukannya."
Kunta, yang selalu menjadi penengah, berkata, "Terima kasih, Lyno. Kami akan berusaha memecahkan teka-teki ini dan menemukan jalan rahasia tersebut."
Mereka melanjutkan perjalanan, dengan Mado yang terus berpikir keras dan Jayak yang sesekali melempar lelucon. Ketiganya berjalan melewati lorong-lorong gua yang berliku, sambil sesekali berhenti untuk memeriksa setiap sudut.
Tak lama kemudian, mereka tiba di sebuah ruangan luas dengan kolam alami di tengah-tengahnya. Air terjun mini dari atas memecah kesunyian dengan gemerincingnya. Jayak menunjuk ke arah air terjun, "Mungkin di sana! Di bawah gemerincing air!"
Mado mendekat ke kolam, mencoba mencari sesuatu. "Aku rasa kita harus mencari bayangan atau pantulan apa pun di air ini."
Ketiganya bekerja sama, dengan Kunta yang mencoba menerangi sekitarnya dengan obor yang ia bawa, Jayak yang terus mencari petunjuk, dan Mado yang mencoba memecahkan teka-teki tersebut.
Dalam kesibukan mereka, tiba-tiba seekor kupu-kupu malam muncul, hinggap di bahu Mado, menunjukkan arah tertentu. Mungkin, inilah petunjuk yang mereka butuhkan untuk melanjutkan petualangan mereka di gua misterius ini.
__ADS_1
Setelah menerima petunjuk dari Lyno, ketiganya menyadari bahwa perjalanan ke dalam gua ini akan lebih mendalam dan kompleks dari yang mereka bayangkan. Ada kebutuhan untuk mempersiapkan diri dengan baik. Di tepi kolam alami, di bawah cahaya rembulan yang merembes masuk, mereka mulai merencanakan.
Sebuah tas besar terletak di sisi Mado. Dari dalamnya, ia mengeluarkan tali panjang, kompas, dan beberapa botol kecil yang berisi minyak. "Kita harus siap untuk setiap kemungkinan," ujarnya serius.
Jayak mengangguk, "Benar. Gua ini mungkin memiliki rahasia yang belum kita ketahui. Siapa tahu ada labirin atau jebakan di dalamnya."
Sementara mereka berbicara, Kunta sudah mulai sibuk dengan tugasnya. Ia mengambil batang pohon kecil yang kering dan mengikatkan kain di salah satu ujungnya. Dengan minyak dari botol kecil yang diberikan Mado, ia mencoba menyalakan obor. Namun, Kunta yang sedang bersemangat bercerita tentang pengalaman masa lalunya dengan gua, tanpa sadar terlalu sering mendekatkan obor ke mulutnya saat berbicara. Akibatnya, api pada obor itu padam berulang-ulang.
Melihat kejadian ini, Mado tidak bisa menahan diri dan mulai tertawa. "Kunta! Kamu terlalu bersemangat! Cobalah tenang sedikit!"
Jayak, dengan senyuman nakal di wajahnya, berkata, "Seharusnya kita memberi obor itu kepada seseorang yang lebih sedikit bicara."
Kunta hanya mengedikkan bahu, dengan wajah yang sedikit malu. "Maaf, aku hanya terlalu bersemangat. Baiklah, aku akan fokus pada obor ini."
Setelah beberapa percobaan, akhirnya Kunta berhasil menyalakan obor dengan sempurna. Jayak, yang selalu memperhatikan detail, memberikan saran agar Kunta mengikat obor pada tongkat yang lebih panjang agar lebih aman saat digunakan untuk menerangi jalan.
Sementara itu, Mado mengambil beberapa kitab dari dalam tasnya. "Ini adalah kitab yang berisi tentang gua-gua misterius. Mungkin ada petunjuk atau cerita yang bisa membantu kita," jelasnya.
Kunta, yang kini sudah tenang, memeriksa tali dan peralatan lainnya. "Aku rasa kita sudah siap. Hanya saja, kita harus selalu waspada."
Jayak menepuk bahu Kunta, "Jangan khawatir, kita bersama. Tidak ada yang bisa mengalahkan kita jika kita bersatu."
Dengan semangat yang membara, ketiganya berdiri, siap untuk melanjutkan petualangan mereka. Meski penuh tantangan dan rintangan, mereka yakin bahwa bersama, mereka bisa menghadapinya. Gua misterius itu menunggu, dan rahasia yang tersembunyi di dalamnya segera akan terungkap.
Langkah demi langkah, Jayak, Mado, dan Kunta mendekati mulut gua. Cahaya obor yang dinyalakan oleh Kunta memberikan cahaya oranye lembut yang menyoroti dinding gua yang basah. Sebentar-sebentar, cahaya obor menyinari kristal kecil yang tertanam di dinding gua, menciptakan kilauan seolah-olah bintang-bintang kecil bersinar di sepanjang koridor gelap.
__ADS_1
"Sejujurnya, gua ini tampak lebih indah dari yang kubayangkan," gumam Mado sambil memandangi dinding gua yang penuh dengan kristal-kristal.
"Benar," sahut Jayak. "Meski aku rasa, kita baru melihat puncak gunung es. Masih banyak yang harus kita jelajahi."
Ketika ketiganya semakin mendalam ke dalam gua, udara mulai terasa lebih dingin. Mado menggigil, merasakan udara lembab yang mulai menempel di kulitnya.
Jayak mengambil selimut dari tasnya dan menyelimuti Mado. "Kita harus tetap hangat. Gua bisa sangat dingin, terutama semakin dalam kita masuk."
Seiring dengan percakapan mereka, suara tetesan air mulai terdengar semakin jelas. Di kejauhan, sebuah kolam alami tampak dengan air yang jernih. Dari atas, air terus menetes, menciptakan suara yang menenangkan.
Saat Kunta melangkah mendekati kolam, ia tidak menyadari ada genangan air di depannya. Sepatu yang ia kenakan sudah basah dari persiapan sebelumnya. Tanpa diduga, kaki Kunta tergelincir. Dengan refleks cepat, ia mencoba mencengkeram lengan Mado, yang berdiri di sebelahnya. Namun, momentum yang tercipta membuat Mado kehilangan keseimbangan dan menarik Jayak bersamanya.
Seluruh adegan berlangsung dalam hitungan detik. Tiga sahabat itu jatuh bersama-sama dengan posisi yang kocak, berserakan di tepi kolam dengan ekspresi terkejut di wajah mereka.
Mereka saling menatap, kebingungan. Namun, kemudian Jayak mulai tertawa, diikuti oleh Mado dan Kunta. Mereka tertawa keras, merasakan kelegaan setelah kejutan tiba-tiba tersebut.
"Sialan, Kunta!" tawa Mado sambil menepuk punggung Kunta. "Kamu harus lebih hati-hati!"
"Maaf," Kunta menjawab sambil mencoba bangkit, "Aku tidak menyadari ada genangan air di sana."
Jayak, yang sudah berdiri dan membersihkan pakaian basahnya, menambahkan, "Kita semua harus lebih berhati-hati. Siapa tahu ada lebih banyak genangan air atau bahkan jebakan di dalam gua ini."
Setelah tertawa puas, ketiganya melanjutkan perjalanan mereka. Dengan obor di tangan, mereka melangkah hati-hati, mengikuti jalan yang diterangi oleh cahaya obor.
Dinding gua yang lembab, suara tetesan air, dan kilauan kristal memberikan suasana yang magis. Meskipun ada beberapa insiden kocak, petualangan mereka di gua misterius ini baru saja dimulai. Dan mereka yakin, banyak rahasia yang menanti untuk ditemukan.
__ADS_1