
Happy reading 💙.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah pembicaraan Selir Qilan dengan Kaisar tempo waktu memberikan kesan aneh di hati selir Qilan.
"Aku bingung harus apa sekarang, aku takut kalau nanti aku malah terjebak di sini". Gumam Selir Qilan memikirkan nasibnya.
"Sebenarnya apa mau permaisuri, kenapa untuk menjaga kaisar aku harus jadi istrinya. Apakah yang dikatakan putri Alice bener? ahh tapi emangnya ada istri yang menyerahkan suaminya sebelum meninggal? semua ini membuatku pusing saja".
"Setelah semuanya aman aku harus seperti apa nantinya. Tetap bertahan sebagai Selir atau harus pergi dari sini".
"Kalau aku bertahan menjadi selir aku merasa tak pantas, aku mengambil posisi permaisuri yang merupakan junjunganku".
"Tapi Putri Alice bilang permaisuri memang menginginkan aku bersanding dengan Kaisar, terlebih perkataan Kaisar tadi seperti menerimaku sebagai pendampingnya".
Selir Qilan hanyut dalam pikirannya sendiri, mengingat bahwa dia hanya diutus untuk menjaga Kaisar dari kelicikan wanita bangsawan, membuat Selir Qilan sadar akan posisinya.
Tak ingin bertambah pusing dengan terus memikirkan hal itu Selir Qilan memutuskan untuk keluar mencari angin sendirian. Ya sendiri lah mau sama siapa lagi Selir Qilan sendiri tidak punya teman di Istana ini.
Berjalan menyusuri tanaman bunga cantik disekitar kediamannya, menuju ke bebatuan sungai yang berada di belakang kediamannya.
Meningkatkan suara arus sungai yang terdengar merdu serta kicauan burung yang bertengger di pohon sekitar sungai.
"Apa aku bisa menjadi Ibu selirnya Putri Alice, pantaskah?". Ternyata suasana tenang dan nyaman belum bisa membuat Selir Qilan melupakan semuanya.
Terlalu terbawa dengan lamunannya membuat Selir Qilan tak menghiraukan sekitarnya, melupakan kesiagaannya hingga.
Byur...
__ADS_1
"Aahkk_".
......................
Sedangkan di sisi lain Alice bersama dengan Nana, Bao dan Mou sedang menunggu pengawal yang diperintahkan-nya mengambil kuda untuk mereka berempat.
Dia akan menunggangi kuda untuk berkunjung ke kediaman kakeknya dari Ibu. Pergi bertiga tanpa pengawal sedikitpun memang sangat mengejutkan oleh orang yang melihatnya.
Tapi yang namanya Alice akan menganggap semuanya tak ada. Masa bodoh mereka mau mikir apa, begitu prinsipnya.
Dengan hanya berbekal 3 kantong koin mas dia menempuh perjalanan yang setidaknya butuh waktu satu hari jika tidak terburu-buru, namun tidak terlalu santai pula. Dan jika dilewati dengan cepat akan menghabiskan waktu paling tidak 15 jam.
Jalanan-nya tidak sulit untuk dilalui hanya saja cukup jauh jaraknya.
"Kak Bao seberapa jauh lagi untuk sampai desa selanjutnya, aku sudah laper ingin makan". Tanya Alice pada Bao dengan pandangan tetap lurus ke depan.
"Tidak jauh lagi sekitar setengah jam akan sampai di desa Sero". Jawab Bao.
"Iya desa yang terkenal karena pria-pria gila, yang suka bermain wanita. Apakah Tuan Putri Alice kita sedang takut sekarang". Celoteh Mou yang sangat ingin dikubur hidup-hidup.
"Cih...jangan membuatku kesal disaat sedang laper paman". Cecar Alice yang tetap memanggil paman pada Mou.
"Aihh kenapa kau tetap memanggilku paman sedangkan Bao kamu panggil kakak". Kesal Mou tak suka.
"Itu terserah mauku apa dong Paman, mengapa harus marah seperti itu. Ingat paman orang yang suka marah akan cepat tua nantinya". Cecar Alice.
"Dasar kau ya..".
"Bisakah kalian tidak berdebat, kawasan ini rawan penjahat jadi kalian harus tetap was..."
__ADS_1
"Hei serahkan barang berharga kalian sekarang". Tiba-tiba penjahat yang baru saja diucapkan muncul dihadapan mereka.
"Kenapa harus aku serahkan padamu". Ucap Alice menatap satu-persatu para angj*ng kecil yang bertopeng serigala dihadapannya.
"Owhh ada gadis cantik ternyata, apa kau seorang tuan putri hemm? baiklah aku akan berikan kau kebebasan cantik, dengan syarat jadilah istriku yang ke__ ah iya ke 13. Syarat yang sangat mudah bukan, bagaimana bebas atau mati disini". Ujar pemimpin penjahat itu dengan tatapan menjijikkan.
"Kau yakin bandit jelek, aku ragu dengan kemampuan mu yang sangat terlihat minim". Ejek Alice dengan sinis.
"Ternyata kau punya mulut yang sangat tajam ya cantik. Aku semakin menginginkan dirimu". Ujar pemimpin penjahat itu dengan senyuman mengerikan. Sedangkan anak buahnya hanya mengikuti arus, memperhatikan pemimpinnya.
Beda lagi dengan Nana, Bao dan Mou mereka menatap kasihan pada para penjahat yang sangat bodoh itu.
Mereka salah memilih lawan untuk bertarung. Salah memilih orang untuk ditindas. Nasib para penjahat itu sudah bisa dilihat oleh mereka. Yang pasti nasibnya akan sangat buruk.
"Hahahhh, kalian sangat lucu dimataku". Alice tertawa kecil melihat para penjahat itu.
Alice turun dari kudanya mendekati para penjahat itu, semakin mendekat dengan memainkan ranting kecil ditangannya.
Berhenti melangkah sejenak sembari memperhatikan mereka satu-persatu hingga tatapannya berhenti pada pemimpin penjahat itu.
Mengayunkan tangannya yang memegang ranting di udara dan ' jleb'.
"Ahkk sakit".
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kembali lagi dengan saya author Arin G tapi bukan Arin gila ya☺️.
G nya itu marganya author 😉
__ADS_1
Bay-bay bestiii 👋👋💙.