
Jam menunjukkan pukul 5 dini hari, suara dering jam beker yang tersusun rapi diatas nakas samping tempat tidur tampaknya mulai mengusik makhluk cantik yang masih ingin menikmati waktu tidurnya sedikit lagi. Dia mengulurkan tangannya meraih jam beker yang semakin mengusik tidurnya, kemudian mengeliat.
“ Ah aku masih mengantuk,” erangnya. Setelah itu senyap, sedetik kemudian gadis itu terlonjak bangun. Ia harus membuat sarapan untuk kedua orangtuanya setelah itu membuat bekal untuk dibawa kekasihnya. Mau tidak mau dirinya harus menjejakkan kaki mungilnya ke lantai kamarnya mencari sendal lucu berbulu dengan kepala boneka didepannya berwarna biru laut.
Menggosok giginya dengan malas, membasuh wajahnya dengan enggan. “ Jani semangatlah.” Ujar perempuan itu sembari menuruni tangga lantai dua menuju dapur.
“ Non Jani dah bangun.” Seru suara keibuan dari arah dapur, suara Bi Ira, seorang perempuan yang sudah ikut keluarga Jani sejak ibunya baru saja menikah dengan ayahnya.
“ Mau siapin sarapan buat mama sma papa mbok, sama bikin bekal buat Mas Ian.” Ucap gadis itu sambil membuka lemari es dan mengeluarkan semua bahan yang sebagian sudah dia siapakan sedari malam setelah tutup toko. “ Mama sama papa belum bangun ya mbok?”.
“ Belum non bapak sama ibu kan biasanya bangun jam 6.”
“ Mbok, tolong bantu Jani masakin nasi ya mbok.” Pintanya yang langsung disambut Bi Ira yang udah hapal sekali kebiasaan anak majikannya tersebut.
Sambil bersenandung Jani memasak beef teriyaki untuk dibawa bekal dan sebagian untung orang rumah. Dengan sigap sembari menunggu masakannya matang, Jani memasukkan beberapa roti kedalam toaster. Menghidupkan drip coffee menyetel waktunya dan membiarkan mesin itu bekerja untuk menyeduh kopi yang setiap pagi diminum oleh ayahnya.
“ Selesai,” ucap Jani, tak lama dia mendengar bunyi roti keluar dari toaster dan mesin drip coffee berbunyi dengan lampu kecil merah menyala pertanda kopi siap diminum. Jani tersenyum puas. Berlari kecil keluar dapur, mencari Bi ira sebelum dia naik keatas sebelum membersihkan diri.
“ Bi minta tolong nanti dihidangkan seperti biasa ya. Lalu bekalku sama bekal Mas Ian jangan lupa juga ya Bi.” Ucpanya yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Bi Ira, dengan terburu\-buru Jani naik keatas untuk bersiap karena sudah hampir pukul 6 pagi.
Begitula keseharian January Kinanthya Widi, anak tunggal dari pasangan Sulistyo Widi dan Santika Widi yang notabene adalah pemilik rumah mode Rosemary yang terkenal dengan kain import yang mahal dengan kualitas ciamik. Tapi semua tak membuat gadis yang akrab disapa Jani bermanja\-manja begitu saja. Mulai dari lulus SMA Jani sudah tertarik dengan patisserie, kemudian ia melanjutkan studynya di Le Cordon Bleu University. Merantau ke negeri orang sendirian untuk kuliah, membuat gadis berperawakan mungil dengan rambut hitam dan mata coklat keabu\-abuan ini menjadi orng yang sangat mandiri.
Setelah menyelesaikan pendidikannya Jani tidak langsung pulanb ke Indonesia. Dia magang di sebuah toko roti terkenal di Paris, dengan kinerjanya membuat gadis berkulit putih dan bibir tipis kecil ini mampu diakui keahlian mumpuninya dalam bidang patisserie. Dan ketika dia kembali ke Indonesia pun, dia kembali dilirik salah satu restoran terkenal Jack Rabbit, hingga akhirnya dia berhasil mendirikan sebuah toko pastry miliknya sendiri bernama La Petite Boulangerie, dan semua itu telah dia raih diumur terbilang muda yaitu 22tahun.
__ADS_1
\*
“ Jam berapa Ian jemput kamu Jani.” Ujar ayahnya. Saat mereka sudah berkumpul di meja makan.
“ Jam 7 pah,” balas gadis vantik itu sembari melirik jam tangannya. Saat itu sudah hampir pukul set 7, masih ada waktu sembari menunggu Ian kekasihnya datang menjemput untuk mengantarnya ke toko kue miliknya. Dan seperti itu terus setiap harinya.
“ Nak kapan kalian menikah? Umur kalian sudah cukup.” Ujar sang mama tiba-tiba yang membuat jani tersedak jus jeruk yanh baru akan diminumnya.
“ Apaan sih ma, Jani masi 22 tahun. Lagian Mas Ian belum selesai pendidikan perwiranya.”
“ Tapi kalian pacaran sudah lama Jani, 7 tahun sayang. Kalian pacaran dah kayak bayar cicilan motor sih nak.” Sewot sang mama sambil menikmati roti panggang yang sudah disiapkan Jani tadi. Dan lagi gadis itu hanya diam saja tidak menghiraukan ucapan mamanya.
Memang betul tahun ini hubungannya dengan kekasihnya sudah menginjak 7 tahun. Dia kembali Ingat saat pertama Ian sang kekasih mengajaknya berpacaran adalah saat dia pertama kali menjadi siswa baru di SMA. Julian Widya Perdana adalah kakak tingkat akhir di SMA tempatnya bersekolah. Ian sangat populer. Pintar, mantan ketua OSIS, jago berenang dan tidak playboy tentunya. Itu alasan yang membuat Jani langsing mengatakan “Ya” saat Ian memintanya menjadi kekasih.
Jani tersenyum saat mengingat masa- masa mereka pacaran tidak direstui. Apalagi saat mereka memutuskan untuk menjalani LDR sehabis Jani lulus karena gadis itu memutuskan untuk mengejar cita-citanya menjadi seorang patisserie yang handal, membuay dirinya harus melanjutkan kuliahnya di Paris, Prancis. Disitu kesabaran Ian benar-benar diuji karena saat itu Jani masi sangat cemburuan, dan ternyata tidak. Ian sangat setia, Ian mencintai Jani secara tulus. Sampai ketika Jani pulang ke Indonesia, kekasihnya memutuskan untuk mengambil sekolah perwira dan Jani pun juga bersedia menunggu.
“ Selamat pagi ma, pa. “ Ucap suara bariton yang tidak perlu Jani lihat sosoknya pun dia sudah tahu siapa pemiliknya. Pria gagah itu mendekati meja makan lalu mencium tangan kedua orangtua Jani dengan hormat
“ Pagi Ian.” Jawab Pak Tyo, papa Jani.
“ Pagi nak, sini sarapan dulu.”
“ Nanti saja mah dikantor, Jani sudah membawakan bekal buat Ian. Ada apel pagi jadi Ian tidak boleh telat.”
“ Ya ampun Ian, kamu tidak malu bawa bekal seperi anak kecil nak?”
“ Tidaklah ma, kan itu lebih sehat. Kan tidak mungkin Jani kasi racun aku ma.” Serunya jahil yang langsung dihadiahi cubitan diperut sixpack oleh perempuan yang sedari tadi mendengarkan celotahan kekasihnya itu dengan ibunya. Lalu mulutnya bergumam mengancam Ian. Lelaki itu tertawa geli melihat wajah perempuan yang ia cintai meberengut.
__ADS_1
“ Ma, pa Ian dan Jani berangkat dulu ya sudah hampir pukul 07.00. Takut macet.” kata Ian sembari mencium tangan kedua paruh baya tersebut diikuti oleh Jani. Ian memacu motor besarnya , mengantar kekasihnya ke toko kue milik gadis itu kurang lebih 20 menit mereka sampai didepan La Petite Boulangerie.
“ Yang nanti aku jemput ya.” Ucap Ian
“ Waktu tutup toko kan? Seperti biasa.”
“ Tidak sayang, aku menjemputmu lalu kita makan malam diluar.”
“ Ih ngaco deh kamu yang, enggak bilang dulu. Aku g bawa ganti baju.”
“ Udah engga usah yang. Gitu juga cantik kok.”
“ Kamu tu selalu gitu, enggak suka ah.”
“ Engga usah terlalu cantik, nanti banyak yang liat aku engga suka.” Kata pria itu sambil mencubit hidung Jani yang kecil bangir.
“ Iya, iya. Ya sudah jemput jam 6 ya. Habis makan malam balik ke toko lagi lalu bantuin tutup toko ya.” Kata Jani daambil mengalungkan tangannya dileher Ian kemudian mengecup kedua pipi kekasihnya.
“ Baik ratuku. Siap laksanakan.”
“ Sudah sana yang keburu telat. Jangan lupa bekalnya dimakan ya. Jangan lupa tempat makannya dibawa yang, awas kalau lupa.” Jani memperingatkan pria itu. Kemudian melambaikan tangan dan masuk ke dalam toko.
Ian melihat punggung kekasihnya sampai gadis itu memasuki toko kue miliknya. Memasukkan bekal kedalam tas lalu melajukan motornya sembari bergumam. “ Tidak boleh lupa lagi, atau Jani akan murka.” Ian seorang yang pelupa terkadang meninggalkan kotak bekalnya di kantor dan berujung hilang entah kemana. Setelah itu Jani akan mengomelinya habis- habisan. Tapi pria itu suka, perhatian Jani dari dulu membuatnya nyaman.
\\\*
__ADS_1