
Reynold Hutomo, pemimpin sekaligus penerus tunggal H£G( Hutomo Enterprises Group), dengan setelan barang branded dari ujung rambut hingga ujung kakinya, rambut yang selalu tertata rapi dan parfum mahal yang selalu menguar tercium dari badannya. Siang ini dirinya benar-benar penat, meeting dengan kesepakatan yang alot mambuat suasana hatinya memburuk.
“ Tidak tahu diri, Lukas... semua yang berurusan dengan Heiwa Company selidiki. Berani sekali mereka bermain denganku, akan aku akusisi semua milik mereka.” Ucapnya licik. Reynold memang dikenal bertangan dingin dalam mengurus bisnis ayahnya yang hampir bangkrut saat sang ayah meninggal 12 tahun lalu.
“ Baiklah, tapi kamu harus tahu ini dulu Rey.” Ucap Lukas, pria itu memang terbiasa memanggil Rey dengan akrab saat tidak ada.orang disekeliling mereka. Rey mendongak melihat sahabatnya semenjak ia tinggal di America, lalu mengerutkan kening saat dirinya menerima amplop berwarna coklat. “ Bukalah, aku menunggu pertanyaanmu baru aku pergi. Ujarnya lagi
Reynold mengerutkan keningnya, membuka amplopnya, terlihat berlembar\-lembar foto, dengan sileut orang yang sangat ia hapal. Kinan. “ Jelaskan!!”
“ Itu kegiatan Kinan setelah siuman.” Lukas menjawab tanya sedikitpun mengalihkan pandangan dari Reynold, “ Oh kalau itu saat mereka sedang dinner. Kira-kira 4 hari lalu.” Jawab Lukas lagi saat ia melihat Reynold mengangkat sebuah foto Kinan dengan seorang pria duduk berhadapan di sebuah restaurant. Difoto itu Kinan sedang tertawa bahagia.
“ Sial kenapa dia tertawa seperti itu dihadapan pria lain, sudah kubilang aku tunangannya.” Gerutu Reynold. “ Lu, kita sudah seminggu lebih dari hari kita pergi kerumah Kinan, Betulkan?” yang ditanya hanya mengangguk. “ Sepertinya gadis itu menyepelekan perkataanku.”
“ Lalu kau akan melakukan apa pada Kinan, Rey?”
Sambil menggeleng Reynold tersenyum. “ Bukan dia Lu, tapi kau tahu siapa dia kan? Nah lanjutkan pekerjaanmu.” Ucapnya pada Lucas, yang langsung mengangguk dan dia pergi begitu saja. Rey tersenyum puas, dia tidak perlu banyak bicara dan Lucas sudah mengerti apa yg dia inginkan.
**
Siang itu Kinan sedaang duduk di taman belakang rumahnya sambil membaca beberapa buku ulasan tentang dunia kuliner, sesuatu yang menjadi kegiatan favoritnya saat ini. Setelah memutuskan hiatus sebentar dari dunia kuliner, dirinya lebih sering menghabiskan waktunya dirumah. Memasak makanan sehat untuk kedua orangtuanya, tak jarang juga Ian ikut makan dirumahnya.
Tiba-tiba ponselnya berbunyi, nomer asing. Kinan enggan mengangkatnya, ia takut itu Reynold, tapi kalau dia tidak angkat bisa celaka kalau dia membuat ulah seperti kemarin lagi. “ Halo...” setengah berbisik, jantungnya berdebar.
“ Ma cherrie Jani..comment allez-vouz mon cher?” ucap suara diseberang telepon sana kental dengan logat Prancisnya. Membuat Kinan bisa bernafas lega.
__ADS_1
“Bien, mais désolé qui tu es?”
“Jani, est belle. Ini aku Axelle.” Seketika Jani membekao mulutnya, ia berteriak senang.
“ Chef Axelle.. Oh tuhan ada apa chef meneleponku siang-siang begini.” Ucapnya lagi
“ Kau ada waktu? Mari kita minum teh.” Ucapnya ramah. Dan Kinan langsung menyetujuinya. Setelah menetapkan tempat mereka akan bertemu Kinan bersiap\-siap. Ia menitipkan pesan pada orang rumahnya kalau hari ini dia tidak memasak dan juga tidak lupa mengabari tunangannya, untuk tidak perlu datang karena dia akan menemui temannya.
Kinan mengemudi mobil sambil tersenyum, Chef Axelle, hampir 3 tahun dia bekerja di Jack Rabbit dibawah kepemimpinan lelaki tua bangka yang tidak mau disebut tua itu. Ia sangat penyayang, selalu memberitahu dirinya, menyemangatinya saat down, Axelle selalu mengganggapnya putri kandungnya. Karena itu ia selalu nyaman berada didekat pria tua. Masi ad sekitar 2 jam lagi ia bertemu Axelle, dirinya memberhentikan mobil di area parkir supermarket yang tidak jauh dari tampat mereka akan bertemu. Kinan berencana untuk membeli beberapa bahan yang kosong dirumahnya dan itu menyenangkan.
Setelah selesai dengan kegiatan belanjanya Kinan berjalan menuju, sebuah cafe dipinggiran Jakarta. Ketika ia memasuki caffe tersebut dia berfikir datang terlalu cepat, padahal tidak, dibagian caffe ini tapi outdoor dia melihat siluet pria gagah yang duduk membelakangi dirinya, Kinan tersenyum, ia tahu itu Axelle. Ia hapal sekali bagaimana pria yang sudah seperti ayah kandungnya itu, cara berpakainnya, cara duduknya, gesture badannya saat menunggu seseorang. Menggoyangkan kaki lalu mengetuk meja dengan jarinya.
“ Monsieur Axelle.” Panggil Kinan, dan Axelle menopeh ke belakang dan tersenyum. “ Hai pak tua.” Ucapnya lagi menggoda Axelle
“ Oh ayolah Jani, aku belum setua itu sayang.” Lelaki iti berdiri menyambut Kinan, memeluknya hangat. “ Bagaimana kabarmu, ma fille.” Seperti biasa, candaan Kinan selalu sukses membuatnya protes.
Tidak terasa hampir 3 jam mereka berbincang, hingga akhirnya Axelle mengakhiri perbincangan mereka. “ Jani, aku ingin bicara serius padamu.” Ucap Axelle sembari menatap manik mata Kinan yang hitam pekat. “ Aku tidak akan berada di Jakarta lagi, aku harus pulang ke Belanda.” Ucap lelaki itu lagi sembari menggenggam tangan Kinan.
Kinan terbelalak, ia pikir ia akan sering bertemu Axelle disela waktu senggang pria itu. “ Kapan?”
“ Mungkin 2 minggu lagi.”
“ Secepat itu?” Axelle mengangguk,
“ Aku butuh bantuanmu Jani, aku ingin kau menjadi Head Chef di restaurant milikku, aku tidak masalah kalaupun nanti kau akan mempunyai toko desert sendiri.” Kata Axelle lagi, Kinan hanya menggeleng panik. “ Please I trust you.”
“ How about Juna? He deserves more than me.”
“ He has replaced me on Jack Rabbit? Please Jani I need your help.”
__ADS_1
“ Ok I will. When I must start to work?”
“ Oh ma reine, thank you. Three day before I leave, I will show you my recipe.”
“ Ok, you have my number, just call me. I must to go home, my parent waiting me..bye mon amour.” Kinan berdiri dari kursinya lalu memeluk pria itu, mengecup ujung kepala pria yang sudah lama tidak ia temui itu dengan sayang. Kinan harus pulang atau kalau tidak ia akan terlambat memasak untuk orangtuanya. Sebentar lagi dirinya akan bekerja, jadi dia harus menikmati waktu bersama mama dan papanya sebelum ia sibuk kembali.
Tak lama setelah sampai Kinan langsung berkutat didapur rumahnya. Beberapa masakan sudah terhidang dimeja tinggal menunggu orangtua dan Ian datang karena tadi dirinya sudah mengirim pesan pada kekasihnya itu. Berkali-kali ia melihat ponselnya tidak ad balasan dari Ian, padahal sesibuk apapun Ian pasti akan meembalasnya. Tiba-tiba hapenya berdering, dari Ian yang langsung membuat Kinan tersenyum.
“ Halo yang.” Kinan terdiam beberapa saat, ponselnya terlepas dari tangannya mengenai ujung kursi dan jatuh pelan menimbulkan bunyi “ Prak”
“ Non?”
“ Bi terusin masaknya ya,” ucap Kinan. Berlari menuju mobil lalu mengendarainya seperti orang gila. Tidak mungkin. Ian tidak akan melakukan hal yang akan memakai barang biadab itu. Kinaan tak habis pikir bagaimana bisa dimobil Ian bisa terdapat narkoba. Ia harus menemui Ian bertanya apa yang sudag terjadi. Baru saja ia menikmati hati tenang. Kini ia sudah kembali diusik lagi oleh masalah yang tidak masuk akal.
Tring
Ponselnya berbunyi menandakan ad pesan masuk. Kinan meminggirkan mobilnya sejenak, melihat siapa yang mengiriminnya pesan daan seketika tubuhnya tegang. “ Reynold biadab.” Ucapnya sambil mencengkram setir kuat hingga membuat buku jarinya memutih.
Kau menikmati hukumanmu?
__ADS_1