
Pagi ini Kinan terbangun dengan kondisi yang sangat tidak nyaman. Matanya bengkak, dan lehernya sakit karena dirinya berbaring dengan kondisi yang sembarangan diatas kasur miliknya. Matanya betul-betul perih, ia sendiri tidak tau sudah berapa lama ia menangis semalam sampai akhirnya jatuh tertidur.
Cepat-cepat ia mengambil air hangat dan waslap untuk mengompres matanya, berharap saat bertemu Ian nanti matanya sudah sedikit membaik. Iya benar. Ian, tunangannya. Tunangan yang sebentar lagi akan ia tinggalkan. Ketika mengingat itu mata Kinan mulai basah lagi. “ Oh ayolah Jani...kenapa kau cengeng sekali.” Gumamnya pelan.
Sambil mengompres matanya dengan washlap hangat ia menaruh water bag yang ia isi air panas untuk ia taruh dibelakang lehernya. Ia harus benar-benar menuntut Reynold karena perkataannya membuat dirinya tidak bisa tidur dengan nyenyak dan berujung sakit leher plus mata bengkak, “ Dasar gila...diktator sarap...!! Dalam mimpi saja ia masih suka memaksa.” Gerutunya lagi mengingat mimpi yang membuatnya terbangun. Mimpi dimana Reynold memaksa mencium bibirnya.
Tanpa sadar Kinan menyentuh bibirnya, walaupun mimpi rasanya seperti nyata. Rasa bibir Reynold yang menyambangi bibirnya sama seperti rasa saat bibir Reynold mengecup keningnya san menggigit telinganya. Basah, lembab dan hangat. “ Oh Tuhan ada apa denganku!! Disaat begini kenapa aku memikirkan si brengsek itu..!! Harusnya aku bingung dengan apa yang akan aku lakukan pada Ian nanti.” Ucapnya sambil sesekali memukul pelan kepalanya.
“ Tidur Jani..!!!” ucapnya untuk dirinya sendiri, “ Tidur supaya kau kembali waras..!!!” ucapnya lagi sembari menempel masker untuk matanya, menyetel jam bekernya, kemudian mencari posisi ternyaman untuk kembali melanjutkan tidurnya.
***
“ Jani...kamu benar-benar tidak mau sarapan nak?” ucap sang mama ketika melihat Kinan turun dari tangga lantai 2, hanya dibalas gelengan oleh gadis itu. “ Kau cantik sekali nak, tumben pagi-pagi Ian udaah jemput? Mau kemana?” tanya wanita paruh baya itu yang sukses membuat Kinan memutar bola matanya jengkel. Dan wanita yang masi cantik diakhir usia 40tahun itu hanya tertawa melihat tingkat anak semata wayangnya.
“ Jani...” sela sang papa saat Kinan hendak mengambil jus jambu yang sudah dituangkan ibunya untuk dirinya.
“ Ya pa.” Ucap Kinan menghentikan gerakannya.
“ Hubunganmu baik-baik saja dengan Ian kan?” Ucap Tyo, karena merasa akhir-akhir ini pihak keluarga Hutomo sudah tidak pernah mengganggunya lagi, lagipula perusahaan miliknya sudah kembali normal juga.
Kinan hanya mengangguk, tersenyum lalu melanjutkan kegiatan minumnya yang tertunda tadi. Sebetulnya setelah mendengar pertanyaan ayahnya, ia sudah enggan meminum jus jambu itu lagi. Hanya saja ia harus meminumnya jika tidak ingin ayahnya melihat matanya mulai berair lagi. Jujur, jus jambu kali ini merupakan jus terburuk yang pernah ia minum. Hambar. Padahal ia selalu menyukai segala macam bentuk jus buah, tapi tidak kali ini. Ia akan mengenang jus itu sebagai jus terburuk dalam sejarah harinya menemui Ian.
Tinnn...tinn
Suara klakson mobil milik kekasihnya mengembalikan lagi pikirannya yang sedari tadi entah hilang kemana. Kinan langsung bergegas. Mengabaikan teriakan ibunya, “ Jani...!!! Kenapa tidak kau suruh Ian turun? Astaga anak ini.” Tidak ad jawaban. Kinan sudah mengambil langkah seribu. Bergegas menuju mobil.
“ Kenapa lari-lari sih?” tanya Ian lembut, “ Pasti takut dikejar mama kan?? Lagian kenapa sih.., tumben aku engga boleh masuk?” tanya ian bertubi-tubi.
“ Telat yang..!! Keburu siang, nanti macet...!!! Aku belum makan ni...nungguin makan bareng kamu. Kalo mama kelamaan ribet nanti ah.” Ujar Kinan sambil memasang sitbelt-nya dengan sedikit merajuk, tapi hal itu justru membuat geli Ian. Lelaki itu mengelus pipi kekasihnya lembut.
“ Iya queen..... jangan marah lagi nanti jadi jelek.” Tukas Ian sambil menowel bibit Kinan yang masih ditekuk. “ Ini kenapa masih manyun..., nanti cantiknya hilang lo.” Ucapnya lagi menggoda gadisnya.
Hari ini seperti ucapan Ian, Kinan tampil cantik. Ia mengenakan dres dengan bentuk seperti kimono, berwarna hitam dengan motif daun maple berwarna salem. Berlengan pendek dengan kerah berbentuk V. Tidak lupa dengan tali pengikat diluar dan didalam yang didesain seperti bentuk kerut untuk menyatukan kimono menjadi sebuah dress.
Kali ini ia mengenakan sepatu flat bentuk kerut polos berwarna hitam, sling bag sebagai tentengan. Rambutnya ia biarkan tergerai begitu saja. Soal make up tidak usah ditanya, Kinan hanya memoles liptint tipis berwarna merah marun. Membuat kesan bibirnya yang sudah kecil bertambah imut dan tebal, lalu softlens berwarna coklat.
__ADS_1
“ Mau makan dulu?” tanya Ian.
“ Engga...nanti aja...!!” balas Kinan sambil melihatbjam tangannya, “ Keburu macet yank...udah jam 9.”
“ Siap ratu...” ucap Ian melajukan mobilnya menuju Dufan, beberapa kali memang kekasihnya selalu minta untuk pergi ke Dufan, dan dirinya memang belum bisa menepati janjinya. Ketika dirasa ini waktu yang tepat. Tanpa sepengetahuan Kinan, Ian mengajak tunangannya itu untuk bermain di Dufan sampai mereka lelah.
***
“ Jani....sayang...bangun.” Ian mengelus pipi Kinan. Membangunkan gadis itu saat dirinya sudah tiba dan memarkirkan mobilnya di sekitar area yang berdekatan dengan Dufan, “ Sayang...ayolah!! Bukannya kamu mau naik bianglala.” Kata Ian sembari mencubit-cubit pipi Kinan karena gadis itu tidak kunjung bangun. Sebetulnya jarang sekali Kinan tertidur dimobil, hanya jika ia lelah, dirinya akan tertidur dan pulas.
Setelah melihat Kinan mulai mengerjapkan matanya. Ian tersenyum. “ bangun sayang...!! Lihat..!! Kita sudah di Dufan.” Perkataan Ian membuat Kinan buru-buru duduk lalu memutar kepalanya. Matanya melebar saat melihat dua menara dari rangkaian besi berbentuk lengkung kembar dengan bulatan ditengah dan gerbang bergelombang, khas main gate Ancol, tak sadar Kinan memekik senang.
Sebetulnya ini bukan kali pertama dirinya ke Ancol, tapi pergi bersama Ian dan menghabiskan waktu sehatian bersama itu sangat jarang sekali ia rasakan. “ Huwaaa...Ancol sayang..aku boleh naik bianglala?” Ian mengangguk, “ Naik kora-kora?” sekali lagi Ian mengangguk. “ Roller coaster...seaworld?” pintanya lagi antusias.
“ Sayang..!! Kamu boleh naik semuanya.”
“ Benarkah? Semuanya Ian? Sampai tempat ini tutup lalu kita makan diluar? Apakah bisa?” serunya senang setengah berteriak. Yang dianggap Ian sebagai teriakan gembira.
“ Iya...hari ini aku akan menemanimu.” Tukasnya, dan Kinan langsung bertepuk tangan senang. “ Ayo sayang...aku beli tiket dulu ya.”
Drrrttt....drrttt
Handphonenya bergetar dan Kinan tahu yang menelponnya adalah Reynold. Kinan abaikan.
Angkat atau aku menyusulmu di kedai minuman itu
Sekali lagi Kinan melotot melihat isi chat tersebut. Belum otaknya mencerna hapenya sudah kembali berbunyi lagi.
“ Kau mau mati...!!! Aku menyuruhmu mengembalikan cincin itu bukan pergi berkencan.” Suara menggelegar dari membhat dirinya refleks menjauhkan handphone demi kesehatan gendang telinganya. “ Kau tuli..!!! Diam disitu akan aku jemput sekarang..!!!”
Kontan saja ancaman itu membuat Kinan sadar. " Ja....jangan...biarkan aku pergi sehari ini....dengan Ian...aku mohon Rey.”
“ Kau pikir aku gila!! Membiarkan tunanganku berkencan dengan pria lain.”
__ADS_1
“ Aku mohon Rey...please..hari ini saja..!! Kumohon hari ini saja..” ucap Kinan memelas, “ Setelah itu aku akan melupakan dia...aku janji Rey.” Kata Kinan sambil menahan tangis.
“ jam 8 malam...batas waktunya jam 8 malam...kau harus sudah selesai jam 8 malam...kalau tidak aku akan menyeretmu pulang..!!!!”
Kinan menghembuskan nafas lega, buru- buru ia melihat jam tangan miliknya. Jam 10.30, masi ada 9,5 jam sebelum pukul 8. Ia harus memanfaatkan waktunya, waktu terakhir dengan tunangannya. Sebersit ada raut wajah sedih, buru-buru ia menepuk pipinya lalu berlari kecil menuju tempat kekasihnya sekarang.
***
“ Kamu senang hari ini Jani?” tanya Ian.
“ Senang....aku bahagia sekali Ian...kamu tadi keren, saat menembak tadi keren banget pacarku.”
“ Ih kok pacar sih....calon suami!!” tegas Ian.
“ Iya...iya calon suamiku.”
“ Sekarang mau coba apalagi sebelum tutup?” dengan cepat Kinan langsung menunjuk kearah bianglala yang sana tinggi. “ Baiklah...permainan terakhir hari ini...setelah itu kita makan lalu pulang...ok..!!”
“ Siap bos..!” Kinan tersenyum menggoda Ian, setelah Ian berbalik berjalan mendahului Kinan untuk mengantri terlebih dahulu barulah senyum gadis itu hilang. Seharian ini dirinya sudah cukup bersenang-senang denan Julian, naik beberapa wahana, makan camilan, membeli permen kapas. Dan semua ia lakukan bersama tunangannya. Tunangan yang beberapa jam lagi sudah akan menjadi kenangan manis untuk Kinan.
Perempuan itu melihat jam di ponselnya. Jam 17.30, 3jam lagi semuanya usai. Dan dirinya harus benar-benar memanfaatkan momen terakhir ini. Kinan berlari kecil menyusul Ian, dan mendapat pria itu ternyata sudah membuat antrian sehingga tidak lama mereka berdua tidak perlu menunggu waktu lama untuk mendapat giliran naik bianglala.
“ Hanya 3 putaran saja sayang...sudah mau tutup soalnya!” seru Ian.
“ Its ok sayang...aku cuma mau liat sunset berdua....nanti foto ya diatas.”
“ Iya....pasti.” Ian hanya tersenyum melihat tingkah Kinan, yang sedari tadi meminta foto. Padahal biasanya gadisnya tidak begitu. Biasanya Kinan selalu menikmati saat mereka jalan berdua tanpa terganggu dengan handphonenya. Dan biasanya Kinan hanya mengambil gambar makanan hasil olahannya. Ian hanya berfikr Kinan terlalu senang karena sudab lama memang mereka tidak berkencan seperti ini.
Mereka berdua sudah berada didalam tempat duduk berbentuk sangkar. Mesin bianglala pelan\-lan embawa mereka naik keatas.
“ Oh sunset belum muncul.” Ungkap Kinan kecewa.
“ Sabar.!!! Kan masi ad 3 putaran lagi...putaran pertama juga belum sampai atas sayang.” Kata Ian mencubit dagu Kinan. Yang hanya dibalas anggukan, lalu gadis itu membidik kamera kearah mereka berdua lalu mengambil gambar dirinya dan Ian. Sementata mereka asik berfoto? Tidak terasa sudah 1putaran terlalui dan sekarang pas mereka berhenti dipuncak bianglala. Tegak vertikal, dan sunset. Tak menyiakan waktu Kinan langsunh mengabadikan momen tersebut.
Dirinya mencium Ian tepat dibibir, dan hepretan yang bagus terlihat seperti siluet dua orang makhluk ciptaan Tuhan yang saling terikat takdir. Bianglala yg merek tumpani sempat berhenti 3 menit, memang para pengunjung yang naik bianglala saat sunset diberikan waktu khusus selama 3 menit untuk menikmati moment matahari terbenam bersma orang terkasih mereka. Dan Kinan tidak menyia-nyiakan hal itu, Kinan memagut bibir Ian, mencecap setiap inchi bibir dan mulut Ian, lalu mengingat bagaimana rasa bibir kekasihnya itu.
“ Jani....” ucap pria itu kaget, pasalnya Kinan tidak pernah seagresif ini. Kinan menatap dalam mata pria itu. Melepas cincin tunangan, lali meletakkannya pelan-pelan ditelapak tangan Ian.
“ Sayang....ini kenapa?” Mata Ian membulat.
__ADS_1