
2 hari sejak terakhir Kinan melihat Reynold, pria itu belum menampakkan lagi batang hidungnya, dan Kinan pun juga tidak berharap melihat lelaki itu lagi. Hari – hari Kinan sudah kembali seperti semula, berangkat dan pulang bersama tunangannya. Tidak hanya itu, hubungan Kinan dan kedua orangtuanya pun berangsur – angsur membaik. Kinan sudah menduga bahwa Reynold hanya pria gila dengan isi otak yang tidak kalah gila. Sedari awal harusnya ia sadar kalau Kinan sudah memiliki tunangan.
Pukul 14.00, La Petite Boulangerie berjalan seperti biasa banyak customer hilir mudik. Kinan yang sedang duduk dikursi paling ujung favoritenya, sedang terlihat melamun sambil menopang dagu. Hari ini seperti biasa ia menunggu jam pulang, menunggu Ian-nya menjemput dirinya lalu makan malam sebelum pulang. Romantis bukan. Kinan tersenyum sampai tiba – tiba ponselnya berdering. Menatap siapa yang menelponnya tengah hari begini dengan malas, setelah itu matanya membulat. Mamanya. Seorang Nyonya Santika Widi menelpon anaknya siang hari, mustahil. Bukankah hari ini mamanya ada jadwal praktek.
“ Jani...nak, datanglah kerumah sakit tempat mama kerja sekarang.”
“ Buat apa ma? Mama mau Jani jemput?”
“ Cepat kesini Jani. Papamu masuk rumah sakit.”
Kinan shock, hampir saja ponselnya lepas dari genggamannya. Papanya masuk rumah sakit, sedangkan tadi pagi saat dirinya akan berangkat sang papa baik – baik saja. Bahkan papanya sempat menggoda dirinya dan Ian. Entahlah, tapi saat ini Kinan benar – benar kalut, mendengar suara bergetar mamanya. Kinan rasa papanya sakit serius. Kinan lari, hampir menabrak pelanggan yang baru saja masuk. Dirinya sudah tidak menghiraukan panggilan Mia, yang ada diotaknya sekarang adalah sampai ke rumah sakit.
Dengan serampangan ia menghentikan taxi. Menyebutkan arah tujuannya setelah itu terdiam, hening. Hanya suara kuku beradu dengan gigi saja yang terdengar. Ya. Kinan mempunyai kebiasaan menggigit kuku jempolnya saat ia sedang kalut. Dan hari ini ia kalut. Ia takut ada apa – apa dengan ayahnya. Setelah sampai Kinan membayar dan membuka pintu berlari seperti orang gila. Menyebutkan nama ayahnya dimeja resepsionisy dan disinilah ia sekarang. Di ruang VIP, melihay ayahnya terbaring lemah dengan infus dan selang oksigen.
Jujur baru pertama kali Kinan melihat papanya sesakit ini, hatinya sakit. Memang sejak beberapa hari yang lalu papanya selalu murung, tidak jarang juga papanya melewatkan sarapan kadang Bi Ira juga bercerita kalau ayahnya jarang makan malam sekarang.
“ Jani.., nak?”suara mamanya bergetar, Kinan memeluk perempuan paruh baya itu, mamanya menangis. Pundak bergetar karena rintihannya yang tertahan. Wanita sekuat mamanya menangis melihat belahan jiwanya tergolek tak berdaya
“ Papa sakit apa ma?” ucap Kinan lirih.
“ Serangan jantung Jani.” Mata Kinan membulat, setahu gadis itu papanya selalu menerapkan hidup sehat. Bagaimana bisa?. “ Perusahaan papamu bangkrut. Semua pemilik saham dan investor serempak pergi, mama takut papamu tidak bisa bertahan.” Ungkap Santika. Kali ini tangisnya isakan yang lebih kencang. Ibunya takut. Seorang dokter spesialis bedah seperti ibunya bisa takut. Apalagi dirinya. Oh Tuhan, Kinan tidak habis pikir apa yg terjadi lagi kali ini.
**
__ADS_1
“ Yang kamu dimana? Kenapa engga ada ditoko?” Tanya Ian saat Kinan mengangkat telponnya.
“ Dirumah sakit tempat mama kerja yang. Papa sakit, serangan jantung mendadak.”
“ Astaga, tunggu. Aku kesana yang.” Hampir 1 jam Ian sampai diruangan tempat ayah kekasihnya dirawat. Ia membuka pintu perlahan takut mengganggu seseorang yang sedang tidur. “ Sayang.” Panggil Ian lirih, dan gadis yang sudah tau siapa pemilik suara itu segera menoleh. Ian tersenyum prihatin, kekasihnya terlihat sayu, matanya sembab.
“ Gimana papa?”
“ Masi belum siuman.”
“ Kenapa tiba – tiba yang? Bukannya tadi waktu kerja papa sehat?”
“ Papa serangan jantung yang, kata mama perudahannya papa bangkrut. Sahamnya merosot, dan engga ada investor yang mau mendanai.”
Hampir 2 jam Kinan dan Ian mengunggu ibunya pulang untuk mandi dan berganti baju. Padahal Kinan sudah menyuruh ibunya untuk istirahat tapi Nyonya Santika bersikeras ingin menunggui suaminya.
“ Ma, Jani pulang dulu. Nanti pagi – pagi sekali Jani datang, mama istirahat jangan begadang nanti ikut sakit.” Kata Jani. Sang mama hanya tersenyum, mengelus pipi Jani.
“ Ma, itu Ian sudah beli camilan. Sma ada sup dilemari es nanti mama panasin saja ya. Jangan engga dimakan ya ma.” Lagi – lagi wanita paruh baya itu hanya tersenyum sambil meremas pelan tangan calon menantunya.
“ Titip Jani ya Ian, kalian hati – hati pulangnya.”
“ Iya, mama juga ya. Makan lalu istirahat ma.” Ucap pria itu sembari mencium tangan Santika, kemudian menatap sang putri dan memeluknya.
“ Pasti papa sembuh kok ma. Jani sama Mas Ian pulang dulu ya mah.” Ucap Kinan menenangkan. Mamanya hanya mengangguk, setelah itu mereka pamit. Suasana hening terbawa sampai didalam mobil. Mereka berdua sama – sama larut dengan pikiran masing – masing. Sampai pada akhirnya mobil berbelok masuk kedalam rumah bergaya minimalis, tapi sangat luas dengan pintu gerbang hitam yang langsung dibuka oleh pekerja rumah Kinan.
__ADS_1
Seperti biasa Ian mengantar Kinan sampai didepan pintu rumah, memeluk perempuan itu, mengelus pundaknya. Dan saat itu tangis gadis itu pecah. Tumpah ruah didada bidang Ian. Ian tau sedari tadi Kinan menahan tangisnya, gadisnya tidak ingin membuat mamanya khawatir.
“ Sudah sayang, sudah nanti matamu bengkak, nanti kamu tidak cantik lagi.” Hiburnya. Menangkup wajah Kinan setelah itu agak menekan wajahnya sehingga mulut Kinan seperti ikan bontal. Keduanya tertawa. “ Masuklah, sudah larut. Besok aku jemput lagi.”
“ Kamu juga hati - hati dijalan yang.” Ian mengecuo kening Kinan lalu berbalik pulang. Kinan mendesah, tak berapa lama ia berbalik melewati ruang tamu. Matanya menangkap sesuatu yang aneh. Seikat buket bunga mawar, lalu disampingnya tergeletak 2 kotak dengan besar dan jubahan yang berbeda. Kotak yang satu berwarna salem dengan pita terikat berwarna putih transparan, yang lain lebih kecil terrbuat dari bahan beludru warna hitam.
“ Bi....Bibi, tolong kesini sebentar.” Teriak Kinan, Bi Ira datang tergopoh – gopoh.
“ Ya non Jani.”
“ Ini, dari kapan benda ini ada?”
“ Engga lama habis bapak sama ibu berangkat kerja non, ada laki-laki dua orang yang nganter. Katanya buat Non Kinan, mereka kenan non dengan nama Kinan.”
Kinan memijat pelipisnya lagi. Mamanya sudah tau pasti siapa pengirimnya dan beliau tidak menyinggungnya sama sekali tentang hadiah pria brengsek itu. Kinan melihat memo kecil berwarna pink pucat tersemat diantara rangkaian mawar.
Hai sweety, suka dengan kejutanku?
“ Biadap, laki- laki iblis.” Ucap Kinan, meremas memo itu dengan tangan gemetar, jantungnya bertalu kakinya lemas. Sekali lagi gadis itu menangis.
__ADS_1