
Jani menatap jengah pria itu. Kalau tidak menghormati ayahnya, ia tidak akan sudi duduk setelah tau bahwa pria itu adalah pria angkuh yang tadi pagi menjadi pelanggan toko kuenya. Pria itu menampilkan smirk, menilai Jani lagi diri atas hingga bawah. Menegapkan cara duduknya, mengulurkan tangan ke Jani. Tersenyum simpul dan itu membuat ketampanannya meningkat berkali lipat dari sebelumnya
Diam. Terperangah. Jani mengumpat dalam hati, ia benci rasa percaya diri yang tinggi pada diri lelaki didepannya sekarang tapi juga dirinya tidak dapat menampik kalau lelaki ini sungguh tampan. Ya. Lebih tampan dari kekasihnya, dan itu harus ia akui. Mungkin saja kalau dirinya tidak pernah mengenal Ian, pasti dan mungkin Jani akan menganggap pria didepannya sekarang adalah pria paling tampan.
Lelaki itu mulai menaikkan salah satu alisnya dengan heran, jabat tangannya tidak kunjung mendapat sambutan dari gadis didepannya. Ia memberikan tanda mata pada Jani, menunjuk ke arah tangannya. Tanda Jani harus menyambut uluran tangan pria itu. Dan sekali lagi, Jani kalah. Ia harus menyambut tangan itu. Orangtuanya memperhatikan Jani, bisa saja perilakunya dianggap menyinggung, kemudian berimbas pada kelangsungan perusahaan sang papa. Oh my God. Tidak. Mau tidak mau.
“ Reynold Hutomo.” Tersenyum puas.
“ January Kinanthya Widi...Kinan.” ucap gadis itu. Orangtau Jani saling berpandangan, mereka tau kalau putri mereka memperkenalkan diri dengan nama Kinan, berarti putri semata wayang mereka tidak ingin berhubungan lebih jauh dengan orang tersebut. Dan mereka tau, jarang sekali. Jani, putri mereka memberikan nama tengahnya untuk dijadikan nama panggilan.
Sulistyo Widi menghela nafas, mengurut pelipisnya pelan. Begitu juga Santika Widi, wanita paruh baya yang masi keliatan cantik tersebut meremas tangan suaminya pelan. Menyalurkan kegelisahannya. Sebagai seorang ibu, ia tahu putrinya tidak akan suka dengan ide ini.
“ Cincinnya terlalu sederhana untuk ukuran wanita secantik dirimu Kinan,” Mencium tangan putih Kinan. “ kalau wanitaku tidak akan memakai cincin murahan seperti ini.”
Sialan, ba**ngan tengik
“ Tapi saya menyukainya, karena ini dari orang yang saya CINTAI,” Jani memberi penekanan pada kata – kata cinta sembari menarik tangannya lepas dengan kasar. “ dan kamu tidak sopan, mencium tangan wanita secara sembarangan.”
“ Bagaimana aku bisa mencium wanita sembarangan jika itu adalah calon istriku sendiri.” Ucap pria itu licik.
Perkataannya seperti sambaran petir untuk Jani. Seketika pandangannya buram, ia merasa pusing dan sesak. Seperti oksigen diambil semua dari sekeliling gadis itu, sehingga membuat Jani tercengang sejenak. “ Baiklah pernikahan akan diselenggarakan seminggu lagi. Bolehkan ayah mertua?” ucapnya sekali lagi dengan nada mengejek.
“ Apa maksudmu memanggil papaku dengan sebutan ayah mertua?”
“ Of course, karena kita akan menikah otomastis orangtuamu menjadi orangtuaku juga kan sweety?” melihat tidak ada protes dari kedua orangtua Jani. Reynold tersenyum menang, bangkit berdiri dari kursi lalu menampilkan senyum yang sebetulnya membuat Jani ingin sekali mencekik leher lelaki itu. “ Baiklah pa, ma..saya pamit pulang...oh iya, i almost forgot sweety, kau harus bersiap untuk pernikahan kita seminggu lagi..,dan aku memberimu waktu 5 hari untuk memberitahukan ke tunanganmu agar mengambil kembali cincin INI.” Mengecup kening Jani lalu pergi.
Jani lemas. Dia merasa kakinya tidak ada. Air matanya luruh seketika, hatinya sakit. Ia kecewa pada semuanya, terutama orangtuanya. Bagaimana mereka tidak membelanya, sedangkan mereka tahu ia sudah bertunangan dan bahkan mereka sendiri yang menyiapkan pertunangan dirinya dengan Ian. Jani merasakan tangannya diremas, ayah dan ibunya sudahn ada disamping dan didepan Jani.
“ Maafkan papa sayang.” Ucap pria paruh baya itu tercekat. Gadis itu bergantian memandang orangtuanya menuntut penjelasan. “ Pria itu pemegang saham terbesar, dan ian menginginkan kamu sebagai istrinya. Sebagai gantinya dia tidak akan mencabut investasinya dari perusahaan papa.”
“Kenapa harus Jani pa? Jani sudah bertunangan. Jani tidak cinta.” Akhirnya air mata yang sedari tadi sudah jatuh, kini semakin jatuh dengan tidak tahu diri. Sesak. Jani memegang dadanya. Bagaimana ia menghadapi Ian. “ papa dan mama engga bisa nolongin Jani? Pa? Ma?” diam. Hening. Saat itu Jani tau dia sendiri yang harus memikirkan jalan keluarnya.
“ Jani, nak.” Ucap mamanya.
“ Jangan. Jangan panggil Jani aku muak...aku muak.” Jani berteriak. Berdiri dari sofa tempat ia duduk menuji lantai 2. Kamarnya. Membanting pintu kamarnya. Melempar barangnya asal lalu masuk kekamar mandi. Menyalakan air dingin, membiarkan bajunya basah. Ia tidak peduli akan demam. Persetan. Jani menangis, terduduk dibawah shower sambil memeluk kakinya. Dia kecewa.
**
Sudah pukul 02.00 dini hari. Gadis itu masi belum bisa tidur, padahal dirinya sangat lelah. Mungkin saja kalau tidak ada insiden itu dia akan tidur sangat nyenyak, apalagi tadi saat pulang moodnya dalam kondisi bagus. Dan yang lebih memperburuk suasana hatinya adalah. Sang kekasih esok hari tidak bisa menjemput dan menemaninya di toko, karena ia harus mengantar ibu dan ayahnya berkunjung ke rumah saudaranya di Bogor. Iseng dirinya mengambil hape, men-dial nomer dengan tulisan “ my king ”. Satu kali, dua kali nada dering, tiga kali dan...
“ Good morning sayang.” Ucap suara serak disebelah yang langsung membuat gadis itu membekap mulutnya sendiri. Menyembunyikan isakan kecil dari mulutnya. “ yang...ngapain kok g dijawab?”
__ADS_1
“ Morning too love.”balasnya jani
“ Ada apa sayang? Kok pagi-pagi udah mewek gitu.” Dan Ian selalu bisa menebak dengan tepat, sekecil apapun dirinya tidak bisa menyembunyikannya dari Ian. Kekasihnya, pria yang sudah 7 tahun menemaninya, pria yang sudah 7 tahun berkorban bersama dirinya dan selalu menerima dirinya yang kadang manja, cengeng, egois dan segala macam sifatnya yang kadang hanya membuat lelakinya itu menghela nafas.
Tangisan jeni semakin keras, isakannya semakin sesak. Ian membiarkan Jani menangis sampai gadis itu puas. Menunggu. Ia tahu gadisnya itu akan tetap menangis sampai dia ingin berhenti dengan sendirinya. Dan betul 15 menit kemudian saat Jani sudah mulai tenang, hanya menyisakan isakan kecil. Ian kembali bertanya lagi. “ Apa yang terjadi yang? Kamu sedih aku tidak bisa menjemputmu? Maafkan aku sayang.”
Ada terdengar nada sedih disuara bariton Ian. Lelakinya ikut sedih. Padahal bukan salahnya tapi selalu saja Ian yang lebih dulu mengucapkan kata maaf. “ Nanti kalau masi sempat, aku akan ketoko. Kita makan malam bareng ya yang..udah ya jangan nangis, aku jadi berat lo nganterin mama sama papa.” Ucapnya lagi.
“ Aku kangen kamu yang.” Isak Jani lagi. Tanpa Jani tau lelaki yang dia telpon diseberang sana tersenyum. Tepat seperti dugaannya, kekasihnya itu sering menangis didepannya. Tetapi yang ia tahu Jani tidak pernah menangis tanpa alasan dan kali ini ia benar. Jani merindukannya, tangisan itu karena perempuannya merindukannya dan itu membuay dia bahagia.
“ Iya aku tau my queen. Tidur. Besok aku usahakan pulang cepat langsung ke toko ya. Tidur January-ku. Sleep thight baby, have a good dream. Aku juga akan tdur jam 5 nanti aku berangkat.”
“ I love you.”
“ Love you too queen.”
Jani tetap tidak bisa tidur. Akhirnya ia mengganti baju, mengambil sweter rajut miliknya. Keluar dari kamarnya menuju garasi. Ia harus keluar, ia harus mencari kesibukan. Itu sudah menjadi kebiasaannya sejak dulu saat ia di Eropa, saat ia tidak bisa mengikuti kuliah dengan baik. Ia memacu mobilnya, menembus jalan di Jakarta yang mulai gelap dan sepi.
Dreet....dreettt....dreett
“ Kenapa?” jawab suara khas orang bangun tdur dari ujung telpon menjawab.
“ Ikuti. Jangan sampai hilang.” Ucapnya yang langsung melempar ponselnya diatas kasur, berlari kekamar mandi, tidak sampai beberapa detik lelaki itu menyambar sweter. Mengacak laci untuk mencari kunci mobilnya. “ Sialan perempuan itu. Awas saja kalau kamu berani bertemu tunanganmu.” Monolognya sambil mengeluarkan mobilnya dan memacu dengan kecepatan penuh.
Handphone Reynold berkedip menandakan ada pesan masuk. Sebuah pesan dari Lukas yang mengirimkan lokasi dimana calon istrinya Kinan berada sekarang. Reynold mengerutkan keningnya sejurus kemudian berubah menjadi senyum tipis. Dia tau dimana itu *La Petite Boulangerie*.
**
Kinan melepaskan sweternya. Menaruhnya di dalam pantry, suasana toko agak gelap karena dirinya hanya menyalakan lampu di ruang produksi saja. Ia mulai mengambil celemeknya, menguncir rambut panjangnya menjadi satu keatas supaya tidak mengganggu. Pagi itu kinan memang sengaja memakai blouse tanpa lengan dengan bahan transparan tipis dan celana pendek diatas lutut. Dirinya tidak mau repot menyingsingkan lengan bajunya
Gadis itu mulai membuat macaron, seperti menemukan semangatnya lagi. Ia mulai mengadon dan mencampur tepung almond dan meringue. Mencetak dalam kertas kecil dengan cetakan bulat, membantingnya pelan agar udara keluar. Ia lakukan semua sambil bersenandung kecil. Terkadang ia memejamkan matanya saat mencicipi ganache buatannya sendiri. Bahagia. Itu satu kata yang selalu ia bisa temukam saat didapur membuat pastry. Sejak dari ia menempuh pendidikan memasak, ini cara paling ampuh mengembalikan moodnya yang sedang *d*own.
Saking seriusnya. Kinan tidak sadar ada seseorang yang memperhatikannya dari balik bagian luar ruang produksi. Reynold sudah tiba sedari Kinan mulai mengadon adonan untuk membuat macaron. Lelaki itu melihat segala tingkah polah Kinan, ia tersenyum. Ia merasa geli, tapi sedetik kemudian ia kembali diam dengan muka dingin. Tidak, jantungnya tidak boleh berdetak seperti itu. Dirinya sendiri tidak mengijinkan untuk jatuh hati pada Kinan. Ketika Ia hendak berbalik pergi. Tiba- tiba.
Prang...
“Owh kau mengagetkanku. Bisakah kau muncul dengan memberitahuku dulu. Mengucap salam atau semacamnya.” Sembur Kinan, baki yang ia pegang jatuh kelantai. Untung saja kosong, tidak berisi adonan ataupun telur. Karena jika itu terjadi Kinan akan merasa harinya lebih buruk. “ Kenapa kamu kesini?” bentaknya pada Reynold, yang hanya mengangkat bahunya.
“ Khawatir saja.” Balasnya.
__ADS_1
“ Kau menguntitku diam - diam? Jangan- jangan kau ingin memperkosaku. “ ujar Kinan begidik. Dan sialnya ia hanya memakai blouse tanpa lengan dan celana pendek yang tentu saja sukses menampilkan kulit mulusnya.
Reynold menampilkan smirknya. Mendekati Kinan perlahan, semakin dekat hingga memojokkan Kinan didepan pintu chilling room. Lelaki itu tau tubuh gadis didepannya menegang. “ Memangnya kenapa kalau aku memperkosa calon istriku sendiri.” Bisiknya ditelinga Kinan, dan memberikan bonus gigitan kecil di daun telinganya yang membuat Kinan menahan nafas karena merasakan gelanyar – gelanyar aneh diseluruh tubuhnya yanh tidak pernah ia rasakan.
Reynold menyentil kening Kinan, dan yang disentil hanya melotot sambil mengusap keningnya. “ Kenapa? Mau lanjut? Nanti setelah menikah aku akan memuaskanmu princess.” Tawa Reynold senang.
“ Siapa yang mau jadi istrimu bodoh.” Teriak Kinan tersengal-sengal. Lalu masuk kembali keruang produksi. Ia sebal, masa dirinya sempat berpikir yang aneh- aneh dengan manusia iblis itu. Nafasnya masi tersengal- sengal. “ Pria bi**ap.” Cetusnya sambil menutup mukanya yang memerah.
Jam hampir menunjukkan pukul 06.00, Kinan sudah hampir menyelesaikan semua pastry. “ Eclair sudah, macaron sudah, mille-feuille sudah. Apa lagi ya aduh banyak.” Menggumam sendirian, sembari menatap etalase yang sudah terisi pastry yang cantik, hangat dan sudah pasti enak. “ ah croissant.” Gumam gadis itu lagi sambil melihat kearah Baking room.
Kinan menatap Reynold yang tidur bersandar di jendela kaca, dikursi paling pojok ruangan. Tempat duduk favorit Kinan saat ia mampir, alih – alih duduk diruang administrasi kadang ia bosan. Kinan menghampiri Reynold, “ Rey..Rey, sudah pagi. Pulanglah, aku tidak apa sendirian disini.” Kata gadis itu sambil mengguncang tangan Reynold pelan.
“ Sebentar lagi.” Ucapnya masih dengan posisi yang sama dan mata terpejam. Kinan tersenyum, kalau saja Reynold tidak menjengkelkan pasti Kinan senang berteman dengannya.
Ting.
Bunyi oven membuat Kinan sedikit terkejut, ia memukul pelan keningnya kemudian berlari keruang baking room untuk mengeluarkan *croissant*. Pikiran Kinan seperti ter-distruction, masa bisa ia berandai – andai dengan Reynold. Tidak. Ini pasti karena hari ini Ian tidak menemaninya. Betul, itu alasannya. Kinan menenangkan dirinya sendiri.
\*\*\*
“ Kau tidak memberiku sarapan? Padahal aku sudah bersusah payah menunggumu.”
“ Aku tidak memintamu melakukan itu, lagipula juga aku sudah terbiasa sendiri.” Ucap Kinan sambil memilih pastry untuk Reynold.
“ Jangan pastry yang terlalu manis sweety.” Dan sekali lagi Kinan bergidik mendengar Reynold memanggilnya sweety, dan berkali – kali Kinan protes juga tidak diindahkan oleh pria iblis itu.
“ Croissant or *f*inancier.”
“ Financier please.” Kinan mengangguk membawakan dua potong financier dan segelas 1americano, dan langsung disesap oleh Reynold
“ kau tidak suka manis?” Reynold hanya mengangguk, “ kalau begitu financier cocok untukmu, makanlah.” Ucap Kinan sambil membelah kue itu dengan tangannya dan bermaksud menyuap Reynold. Pria itu kaget saat Kinan menaruh kue itu tepat didepan mulutnya, ragu – ragu tapi akhirnya membuka mulut dan menerima suapan Kinan. “ Enak? Tidak terlalu manis kan? “
“ Iya.”
“ Kalau begitu makanlah, mumpung masi hangat.” Ucap Kinan yang kemudian menyesap chamomile tea favoritnya sambil melihat luar melalui jendela kaca. Tiba – tiba gadis menuju etalase lalu keluar membawa beberapa roti hangat dan coklat panas. “ Kalian...ayo sarapan.” Ucapnya pada ajudan Reynold yang berjumlah 4 orng termasuk Lukas. “ Masuklah, duduk didalam.” Salah satu dari ajudan tersebut melihat Reynold, meminta persetujuan yang hanya dibalas jentikan tangan olehnya.
“ Tidak nona, kami dimobil saja. Terimakasih.” Balas salah satunya sambil menerima baki lalu pergi kearah mobil diikuti yang lain. Reynold diam saja, melihat apa yang dilakukan Kinan. Gadis itu masi tersenyum menampilkan gesture yang memang sudah ramah. Reynold ber-*s*mirk
Apa kau masi bisa tersenyum seperti itu lagi January Kinanthya widi?
Hai terimakasih buat yang sudah berkenan membaca karyaku yang abal2 ini. terus baca dan vote. komen juga ya
oh iya jangan bingung antara Jani dan Kinan ya karena merekam satu cast kok. terimakasih
__ADS_1
Hug, Love and peace💕💕💖💖