
Reynold keluar dari kamarnya dengan pakaian rapi, merasa asing dengan bau harum cenderung manis, mengingatkan pria itu pada salah satu toko roti yang pernah ia kunjungi saat usianya masi remaja. Ya! Toko roti yang membuat hidupnya berubah, sama sekali berubah. Lagi, ia menuntun langkahnya kearah sumber bau itu dan menemukan Kinan.
Gadis berumur 22 tahun itu dengan telaten menata beberapa pastry yang sudah ia buat. Rambutnya panjang sebahunya dikepang mulai dari pangkal kepalanya sampai ujung rambut kemudian dihiasi jepit kupu-kupu kecil. Dilihat dari banyaknya pastry yang ia buat tidak mungkin gadis itu hanya membuat dalam waktu 1 atau 2 jam saja.
“ Rey, sudah bangun? Aku baru saja memanggang financier. Mau coba?” senyumnya manis, tapi Reynold bukanlah lelaki yang tidak peka. Dirinya melihat ada sedikit bengkak diujung mata milik Kinan, “ Duduklah Rey! Aku ambilkan financier mu! Kopi atau teh?” ucap Kinan menyibukkan diri, gadis itu lelah hanya saja ia tidak ingin terus-terusan menangis seperti tadi malam. Kinan tahu dirinya mengambil keputusan yang tepat dengan tidak menyeret Ian kedalam masalah keluarganya yang dia juga belum bisa menemukan titik terangnya, karena itu juga dia tidak bisa selalu menyiksa dirinya.
Kinan membawa sepiring financier yang masi hangat, lalu menuangkan segelas teh untuk Reynold, “ Jangan terlalu sering minum kopi saat perutmu kosong Rey,” kata Kinan sembari tersenyum lalu meminum susu yang ia bawa untuk dirinya sendiri.
“ Apa yang kamu minum?”
“ Hem...ini? Susu Almond. Aku lihat ada kacang almond jadi aku membuatnya. Mau? ” kata Kinan lalu melanjutkan lagi kegiatan minumnya yang tertunda.
“ Dari jam berapa kamu membuat semuanya?”
Pertanyaan Reynold membuat Kinan terdiam beberapa detik, kemudian gadis itu tersenyum. “ Tidak lama, hanya beberapa jam saja.”
“ 1 jam? 2 jam? Atau 6 Jam? Kamu pikir aku tidak tau seperti apa dirimu!! Perempuan yang mengendarai mobilnya sendiri pagi-pagi buta dengan pakaian tipis!! Pergi membuat roti hanya karena pikiranmu kalut!! Aku salah?” ucap Reynold dengan tangan terlipat didepan dadanya dan raut muka mencemooh Kinan.
Kinan, gadis itu diam sesaat. Memainkan gelasnya yang isinya tinggal separuh. Menggigit bibir bawahnya kemudian tersenyum, “ Tidak ada yang salah dengan ucapanmu Rey, tidak ada yang salah! Tapi jangan berbicara seolah-olah kamu mengenalku dengan baik! Jangan Rey!” ucapnya lemah.
Rey terkejut saat menatap mata Kinan, mata yang sorotnya tersirat luka. Baru kali ini, padahal saat diinya bertemu Kinan dan gadis itu jatuh sakit didepannya. Sorot matanya tidak seterluka itu. “ Aku...”
“ Tidak apa Rey.” Ucap Kinan sembari berlalu dari hadapan Reynold yang masi saja diam. Tidak ada raut mencemooh seperti tadi.
\*\*\*
Jack Rabbit, Kinan masi menandang tulisan restoran yang pernah menjadi saksi perjuangannya saat masi menjadi chef muda. Sebenarnya sudah dari setengah jam yang lalu dirinya tiba didepan restoran itu, tapi sekali lagi mood nya tidak baik-baik saja karena perkataan Reynold tadi.
Melihat ponselnya dan mendapati Axelle sedang memanggilnya.
“ Jani, Ma Cherrié oú es-tu?” ( Jani sayang kamu dimana)
“ Dans la voiture.” ( didalam mobil)
“ Allez, ne plaisante pas, j'attends à l'intérieur.” ( ayolah, jangan bercanda. Aku tunggu didalam)
Tidak lama setelah menutup sambungan telponnya, Kinan sudah berada didalam restauran. Masi sama, sama seperti saat ia mengundurkan diri dan memilih untuk mengikuti passion nya dibidang pastry.
“ Oh chef.. selamat pagi...sudah lama tidak jumpa?” ucap salah seorang pramusaji yang ia kenal. Kinan tersenyum ramah pada lelaki itu.
“ Hallo Dani selamat pagi..bagaimana keadaanmu?”
“ Baik-baik saja chef. Dan chef juga masi sama seperti dulu, masi murah senyum.” Mendengar penuturan Dani, gadis iti hanya tersenyum.
__ADS_1
“ Ma Cherrié...kenapa tidak langsung masuk saja? Cepat ganti bajumu lalu kita pergi bersama ke cuisine.” Kinan mengangguk.
Tidak lama Kinan sudah mengenakan jaket chef pink favoritnya. Terlihat manis seperti pastry yang selalu ia buat, lalu menyusul Axelle menuju dapur.
“ Oh ma cherrié sudah lama tidak melihatmu memakai chef coat berwarna pink itu.”
“ Diamlah pak tua, ayo bekerja,” Kinan tersenyum nakal karena sudah lama ia tidak membuat menu masakan selain pastry dan ini menyenangkan. Sama menyenangkannya dengan ia membuat cake atau cookies.
...***...
Entah sudah berapa lama ia tidak mendengar teriakan menu lalu bunyi bel untuk memberitahu para pramusaji kalau menu yang dipesan suda siap. Lelah, tapi ia bahagia karena bisa membuatnya lupa tentang prianya.
Sekarang dirinya sedang beristirahat diruangannya memejamkan matanya sebentar, restaurant suda tidak begitu hetic karena jam makan siang sudah lewat 1 jam yang lalu. Jadi kalaupun ada pelanggan ada chef lain yang bisa menghandle.
Tentang Axelle. Jangan ditanya pria tua itu pergi setelah memperkenalkan dirinya sebagai Head Chef yang baru. Sialnya dirinya tidak tahu kemana sekarang lelaki itu. Hampir saja ia memejamkan mata, suara ketukan pintu mengganggunya.
“ Chef...maaf chef mengganggu..ada customer yang. Beliau mau makan siang, tapi ia ingin bertemu chef dulu.” Ucap Dani segan, “ saya sudah bilang chef baru saja istirahat, tapi prang itu tetap kekeuh chef. Emmm, apa saya bilang chef sedang tidak bisa diganggu?”
“ Tidak perlu Dani, tolong antar aku ketempat mereka!” Kinan melangkah menuju meja tempat customer restaurant mereka. Dari kejauhan kinan hanya melihat beberapa rombongan pria dan wanita berpakaian rapi, dengan percaya diri Kinan mendekat dan..
Reynold...manusia ini, ya tuhan
“ Selamat siang, perkenalkan saya chef Kinan. Ada yang bisa saya bantu?” senyum Kinan melihat rombongan itu. Tatapannya bertemu dengan tatapan mata Reynold.
“ Baik monsieur saya yang akan menangani menu milik anda.”
“ How?” seolah mengerti pertanyaan Reynold, Kinan hanya tersenyum
“ Restauran kami menyediakan fasilitas open kitchen, jika ada pelanggan yang ingin melihat proses menu mereka dimasak. Tapi tuan harus pindah kemeja sebelah sana.” Kata Kinan sembari tangannya dengan sopan menunjuk sebelah kanan ruangan yang dibuat seperti lounge bercampur dengan kitchenette, “ dan tentang menunya?”
“ Baiklah tidak masalah kalau bisa melihat anda bekerja menyiapkan makanan untukku. Dan sebuah kehormatan untukku jika chef seperti anda memilihkan hidangan yang akan aku santap bukan!!” kata Reynold dengan senyumnya.
“ Dani, tolong antar tamu kita ke kitchenette, aku akan bersiap!”
Reynold kenapa manusia itu seperti hantu..membuat mata batinku tercemar.
“ Tolong persiapkan menu lengkap. Jangan lupa siapkan dua pilihan amuse bouche.”
Kinan mulai memakai celemek, mulai mengiris dan mengolah bahan yang akan ia hidangkan dihadapan Tuan Reynold terhormat. Jika bisa dia juga ingin melempar semua bahan ini ke muka Reynold.
Tidak Kinan kau kan gadis elegan....kau chef...kapan-kapan kamu bisa meracuninya tapi jangan disini.
Satu per satu hidangan Kinan sajikan. Mulai dari Amuse bouche atau kudapan berupa Kiwi boat topped with salmon and scallion dan juga cucumber tomato bites with creamy pamesan herb. Beranjak dari kudapan Kinan menuju ke hidangan appetizer.
__ADS_1
Kinan menyajikan creamy dip artichoke dan roasted garlic soup khusus untuk Reynold. Saat sup hangat itu tiba didepannya Reynold tersenyum. Siang ini memang ia ingin mengawali lunch nya dengan sesuatu yang hangat dan tidak begitu berat. Main course Kinan mengantarkan grilled salmon with fresh cherry salsa.
Kinan menunggu sampai Reynold memakan suapan pertamanya, dan saat melihat pria itu tersenyum mau tidak mau dirinya ikut lega. Entah tebakannya betul atau tidak tapi gadis itu rasa Reynold tidak memakan financier yang ia panggang tadi pagi.
“ Dan ini hidangan penutup kami Vanilla-Cardamom Kulfi with Citrus Rose Syrup. Rasa asam yang light dan bercampur dengan ginger dan rose yang segar, bisa mengembalikan lagi indra perasa anda. Silahkan dinikmati, hidangan terakhir dari kami.” Setelah membungkukan badan Kinan pamit dan berjalan menuju ruangannya. Dan hampir terjatuh jika Dani tidak memegangnya.
Kinan memberi kode baik-baik saja pada Dani, “ kembalilah, aku akan istirahat sebentar Dani, dan tolong bawakan teh camomile untukku.” Kali ini Kinan merasa dunianya berputar, dirinya benar-benar pusing. Seharusnya tadi jam istirahatnya akan ia gunakan tidur sebentar lalu makan. Kenyataannya nihil.
Dan kitchen yang panas semakin membuat tenaganya terkuras, sehingga membuatnya berakhir tragis diatas kursi kerjanya dengan perut lapar dan berkunang-kunang. " Sebentar...aku ingin tidur sebentar saja," gumamnya.
30 menit
1 jam
Kinan membuka matanya perlahan, lelahnya sudah mulai sedikit hilang. Sebetulnya ia belum ingin bangun, tapi dahaga seperti membakar tenggorokannya. Membuatnya mau tidak mau harus bangun sesegera mungkin,” Ya Tuhan.....Reynold...ya ampun jantungku yang malang.” Kinan terkejut bukan main saat yang ia lihat pertama kali adalah Reynold yang duduk tepat didepannya.
“ Aku disini dari tadi..salahmu tidur dengan pintu tidak dikunci!”
“ Selain kamu tidak ada yang berani masuk ruanganku!”
“ Pelayan pria tadi. Yang menolongmu saat hampir jatuh, dia masuk begitu saja.”
“ Dia mengantarkan teh itu,” sembari menunjuk teh chamomile yang sudah dingin. “ Lagipula lebih berbahaya kamu yang masuk dari pada Dani!”
“ Aku? Kenapa? Oh jadi pelayan itu bernama Dani! Padahal aku menunggumu bangun agar kamu bisa makan.” Menunjuk kotak makanan berisi garden salad, sandwich dan juga spaghetti, “ Padahal aku ingin memastikan calon isriku makam dengan baik..aku terluka.” Ucap Reynold sembari berakting lucu memegang dadanya seolah terluka.
Memang ada 3 kotak dihadapan Kinan yang luput dari pandangannya tadi. Kinan tersenyum, “ maaf dan terimakasih Rey, akan aku makan nanti. Kembalilah kekantormu Rey! Pasti kamu juga sibuk.”
“ Makan dulu baru aku pergi.” Lelaki itu mulai membuka satu persatu kotak, mengeluarkan sandwich, “ aaa..buka mulutmu ayoo, aaa.” Dan memaksa Kinan untuk menerima suapan darinya. “ Enak kan? Ini sandwich yang aku sering makan dulu.” Begitu seterusnya secara bergilir menyuapi salad bahkan spaghetti.
“ Kau makanlah juga.”
Menggelengkan kepalanya kemudian melihat arlojinya, “ Aku harus pergi sekarang, lega melihat calon istriku makan dengan baik.” Ucapnya sembari menyeka pinggir mulut Kinan, berdiri lalu mencium puncak kepala wanita itu. “ Ah iya, aku jemput nanti.”
“ Aku bawa mobil Rey.”
“ Tidak ada penolakan sayang.” Ucap Reynold sambil berjalan keluar. Dan apa yang terjadi dengan Kinan, gadis itu pipinya memanas dan telinganya bersemu merah. Dirinya tersipu karena perlakuan Reynold.
Berbanding terbalik dengan keadaan diluar, “ saputanganmu Lucas.” Begitu mendapatkannya Reynold menyeka tangannya dengan keras meninggalkan bekas merah ditempat tadi ia menyeka mulut Kinan. “ Buang! Bakar! Karena itu menjijikkan.” Menyerahkan lagi pada si empunya sapu tangan.
“ Tapi,” sahut pria yang bernama Lucas itu ragu-ragu.
“ Buang Lu, aku akan membelikan 1000...tidak!! Bahkan pabriknya akan aku belikan untukmu.” Ujarnya.
__ADS_1