Timeless Winter

Timeless Winter
BAB 16


__ADS_3

 


     Kinan membuang pandangannya keluar, melihat hujan dari balik kamarnya. Lebih tepat lagi kamarnya dirumah Reynold tentu saja. Sejenak gadis itu tidak bergeming sedikitpun, tidak menyadari ada langkah kaki lebar mendekat kearahnya kemudian berhenti tepat dibelakang tubuhnya.


 


     “ Hujan lebih menarik dariku huh? Sampai kau mengabaikanku!” seru suara berat dari balik punggungnya, seketika membuat gadis itu tersentak kaget.


 


     “ Setidaknya ketuk pintu dulu! Tidak sopan!” ucap Kinan geram melihat Reynold berjalan santai menuju sofa.


 


     “ Entahlah, ini rumahku! Aku bebas mengunjungi setiap sudut rumahku, termasuk kamar calon istriku,” sangkalnya sembari menggedikkan bahunya. Kinan hanya bisa memutar matanya dengan malas.


 


Oh Tuhan bisa kau cabut saja nyawa pria didepanku, dengan senang hati aku akan selalu menaburkan bunga diatas makamnya.


 


     “ Kenapa melamun? Hah? Berpikir untuk menyuruhku mati!!”


 


     “ Haaahhh!! Kenapa bisa ada pria menyebalkan seperti dirimu!! Haahhh!” Kinan menghentakan kedua kakinya kesal, persis seperti anak kecil yang merajuk, berjalan menuju walk in closet miliknya dengan mulut yang masi memaki Reynold.


 


     Sedangkan Reynold, pria itu sudah pasti ia mendengar semua umpatan Kinan. Dan reaksinya. Tentu saja dirinya senang karena mengganggu Kinan merupakan salah satu agenda yang akan ia lakukan setiap harinya.


 


     “ Menyingkir aku mau tidur,” usir Kinan setelah keluar dari walk in closet memakai baju tidurnya yang lebih mirip lingerie, “ Oh Tuhanku, Reynold! Apa yang kamu pikirkan saat membeli baju tidur ini untukku? Ya Tuhan aku harus membeli pjamas besok!! Oh tidak aku akan pulang mengambil baju dan sendalku.” Gerutu Kinan lagi.


 


Oh Tuhan aku tidak bisa tidak menggerutu disamping pria iblis ini


 

__ADS_1


     “ Tidak! Tidak ada kata pulang kerumahmu! Berani pulang, aku akan mengurungmu sampai hari pernikahan kita,” ada penekanan yang membuat Kinan membeku. Sejenak perempuan itu merasa terancam. Reynold yang mengerti arti tatapan gadis itu hanya tersenyum simpul.


 


     “ Ayolah ini masih jam 7malam Kinan! Its time for dinner, a whole day we prepare for our wedding and skip our lunch,” Kinan mengangguk.


 


     “ Mau yang berkuah and little bit spicy?”


 


     “ Not spicy please”


 


     “ Escargots, Bouillabaisse, Groupésuppe, Caldo verde or”


 


     “ Soupe a Ľoignon, je veux manger ça, puis-je? (Soupe a Ľoignon, aku ingin makan itu, boleh?


 


 


     “ Merci.” ( terimakasih)


 


     Reynold melangkah keluar dari kamar Kinan, seketika wajah riangnya berubah, “ Ma Cherrié! Menjijikkan!” mengusap mulutnya dengan saputangan lalu membuangnya.


 


***


     Jam makan malam sudah lewat dari dua jam yang lalu, sekarang Kinan sudah bergelung dibawah selimut dan dikamarnya sendiri. Walaupun masi dikediaman Reynold, tapi dirinya berhasil membujuk Reynold untuk memberinya kamar sendiri sebelum mereka menikah.


 


     Jujur dirinya sama sekali belum mengantuk, pandangannya tertuju pada benda kotak pipih diatas nakas samping tempat tidurnya. Sejak dari ia memutuskan hubungannya dengan Ian, dirinya takut sekali menyalakan ponselnya. Perlahan ia mengulurkan tangannya, meraihnya lalu mengaktifkannya kembali.

__ADS_1


 


     Bersamaan dengan benda itu hidup, masuk pula ratusan chat, ratusan panggilan tak terjawab dari Ian. Tangan gadis itu gemetar, ia tidak sanggup membaca satu pesanpun dari pria yang sudah menemaninya itu. Dadanya tiba-tiba sesak, air matanya menetes saat melihat pesan dari lelakinya itu. Pesan yang bertuliskan “ aku membutuhkanmu sayang,” sontak membuat Kinan membekap mulutnya menggunakan bedcover.


 


     Dia tahu lelakinya lelah, lelakinya putus asa. Ia sangat tahu lelakinya akan bermalam didepam rumahnya menunggunya pulang. Dadanya semakin sesak, Kinan menangis sampai gadis itu susah bernafas. Kinan mendial nomer Ian, tidak sampai dering ketiga Ian sudah mengangkatnya.


 


     “ Sayang...sayangku,” ucap suara serak diseberang sana.


 


     “ Iya....iya Ianku,”


 


     “ Pulang sayang, ayo kita bicara baik-baik..eumm..mau kan? Aku jemput ya.”


 


     “ Ianku, pulanglah...maafkan aku! Eumm! Maaf karena me inggalkanmu, aku mohon hiduplah dengan baik untukku.”


 


     “ Bagaimana kamu bisa menyuruhku hidup dengan baik jika aku sangat terluka karenamu!! Heem!! Jika kamu diposisiku, apa kamu bisa hidup baik-baik saja!! Hatiku sakit Jani, sangat sakit sampai rasanya hampir meledak!! Aku juga tidak ingin terluka separah ini Jani, tapi ini benar-benar menyakitiku.” Ucap Ian dengan suaranya yang mulai bergetar.


 


     “ Aku mencintaimu, maafkan aku” Kinan menutup telponnya, memegangi dadanya. Hari ini jika ia bisa memilih lebih baik ia pergi dari dunia ini, “ Oh Tuhan ini terlalu sakit.” Ucap Kinan meremas dadanya, air matanya semakin deras. Gadis itu sudah tidak peduli matanya akan membengkak keesokan harinya, “ Maaf karena aku, kamu terluka


 


     Tidak jauh beda dengan lelaki yang sedang berada didalam mobil bermil-mil jauhnya dari tempat Kinan. Pria itu memukul kemudi mobilnya, kemudian memukul dadanya, sesaķ sampai membuatnya pusing. Memanggil nama perempuannya berkali-kali meski dia tahu itu akan semakin melukainya. Tapi entahlah air matanya tidak mau dikendalikan sama sekali. Dan sungguh! Kali ini pria itu mengakui dirinya sangat terluka.


 


 


 

__ADS_1


__ADS_2