Timeless Winter

Timeless Winter
BAB 18


__ADS_3

     Kinan baru saja kembali dari kitchenette, mendapati handphone miliknya diatas nakas bergetar berkali-kali kemudian mati. Gadis itu melihatnya kemudian senyum tipis sedikit terukir dibibir ranumnya, belum lepas senyum dari si empunya benda tipis itu sudah bergetar lagi.


     “ Ya Rey...emm mungkin 30 menit lagi.” ucapnya sambil melihat arloji kecil manis yang bergulung di pergelangan tangannya, “ Oh baiklah,” ucapnya lagi kemudian meletakkan benda tipia itu keatas nakas lagi.


     Mengganti chef coat miliknya menjadi pakaian biasa, sembari menyesap teh camomile yang sudah sangat dingin. Tapi nampaknya Kinan tidak keberatan karena gadis itu terus menyesap teh itu sampai habis, sembari mengikis waktu menunggu Reynold menjemputnya.


     Rencananya hari ini mereka akan kerumah orangtua Kinan, untuk meminta ijin dan mengambil beberapa barang milik Kinan. Tapi bukan berarti Kinan setuju untuk menghabiskan hidup bersama Reynold. No. Tidak sama sekali. Gadis itu masi memikirkan Julian, laki-laki yang sudah bersamanya selama 7 tahun. Hanya saja Kinan terlalu takut Julian terluka karenanya.


     Pekerjaan Julian sekarang adalah impian pria itu sedari mereka pacaran. Dan sekarang dia mau menghancurkan mimpi pria itu hanya karena dirinya..tidak akan. Menjauhinya sementara waktu itu sudah cukup, tapi tidak dengan menikahi Reynold.


     Sekali Kinan melihat jam tangannya. Sudah 15 menit dan sepertinya ia akan turun sekarang dan mampir membeli sesuatu di minimarket sebelah restaurant tempatnya bekerja. Gadis itu turun sembari memainkan ponselnya, menanggapi sapaan beberapa pekerja.


     “ Jani....” suara bass seorang pria mampu menghentikan langkah kakinya yang hampir menuju minimarket yang tadi ingin ia kunjungi.


     “ Jani....my queen. Kamu tidak merindukanku hemm.” Sekali lagi suara itu membuat Kinan membeku, jantungnya berdetak cepat..dadanya sesak seakan oksigen menghilang untuk beberapa saat. Otaknya tidak bisa berpikir, sampai pemilik suara itu membalikkan tubuhnya, mengelus pipi Kinan dan tersenyum.


     “ Aku merindukanmu queen.” Belaian yang sudah lama Kinan rindukan, aroma parfume tobacco bercampur dengan rempah yang sangat cocok dengan pria itu, aroma yang ia rindukan. Mengalahkan nalarnya saat ini.


     Bilang saja dirinya wanita bodoh. Iya, Kinan akui dirinya memang bodoh, karena tangannya refleks menggenggam tangan Julian yang berada di pipinya, mengeratkannya untuk menyentuh pipinya. Sampai suara ponselnya yang tiba-riba jatuh. Seakan menarik gadis itu kembali ke nalar sehatnya.


     “ Maafkan aku,” bisiknya lalu pergi. Membuat Julian tertegun, sedetik kemudian mata lelaki itu melihat ponsel pujaan hatinya tergeletak. Mengambilnya. Lalu menyusul Kinan.

__ADS_1


     “ Jani,” mendengat namanya dipanggil Kinan menoleh. Gila kau Kinan. Rutuk gadis itu dalam hati. “ Ponselmu...,”


     Kinan hanya mengangguk, kemudian pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun. Membuat Julian lagi-lagi harus menarik tangannya secara paksa untuk menghentikannya. Meminta penjelasan atas sikap gadisnya yang berubah 180°. “ Kenapa? Kenapa kita jadi seperti ini sayang?”


     Dan sekali lagi tidak ada penjelasan sampai Kinan menepis tangan Julian kemudian berlari. Memberhentikan taxi secara acak. Dan yang dilakukan pria tegap itu. Tidak ada. Julian kaget baru kali ini selama mereka mengenal Jani-nya benar-benar berubah.


     Dan Kinan. Jangan tanya lagi. Gadis itu menangis, menumpahkan airmata yang sedari tadi ia tahan mati-matian agar tidak meleleh didepan Julian. Sembari memukul dadanya. Sakit. Nyeri, hingga rasanya gadis itu susah bernafas.


     Kinan sudah tampak lebih tenang, gadis itu menyandarkan kepalanya pada kaca taxi sembari menutup matanya sejenak. Perih. Matanya perih karena terlalu banyak menangis. Sampai tiba-tiba taxi yang dirinya tumpangj berhenti mendadak.


     “ Maaf nona...mobil itu menyalip dan berhenti tepat didepan taksi saya.” Ucap pengemudi taksi yang membuat Kinan mengubah atensinya jalanan depan mereka. Dan betapa terkejutnya gadis itu saat melihat mobil mewah berwarna silver mengkilat itu. Siapa lagi kalau bukan Reynold, yang turun dari mobil dengan gagahnya, berjalan dan berhenti tepat dijendela tempat Kinan duduk.


     Memberi isyarat pada Kinan dengan jari telunjuknya. Dan Kinan memilih acuh. Merasa diacuhkan, Reynold mengetuk sekali lagi dan tetap nihil. Dan bukan Reynold Hutomo jika lelaki dingin itu kehabisan akal. Kau mau mempermainkan ku Kinan. Kita lihat.


     Reynold berjalan mendekati pengemudi. Buka. Isyarat mulutnya pada pria didepan, lalu cklek. Sang pengemudi membuka kunci pintu. Seketika lelaki itu membuka pintu penumpang, menggandeng Kinan. Dan tidak lupa meletakkan beberapa lembar uang untuk sang pengemudi.


    “ Tuan ini terlalu banyak.” Pengemudi itu turun hampir mengejar pasangan itu.


    “ Tidak perlu, terimakasih sudah menjaga istriku,” ujar Reynold tanpa menoleh. Dilain sisi, Kinan gadis itu masi saja menunduk, menyembunyikan mata bengkaknya dari Reynold. Gadis itu tidak ambil pusing sebenarnya kalau saja si Tuan Pemaksa itu melihat matanya bengkak. Dirinya tidak peduli. Hanya saja saat ini dia tidak mau menjawab pertanyaan apapun dari si Tuan Pemaksa itu. Menyebalkan.


     Setelah beberapa saat hening. “ Kamu masih menemui laki-laki itu?” hening, dan tidak bergeming, “ Mengabaikanku? Kamu pikir bisa mengabaikanku saat ini!” dan Kinan tetap diam.

__ADS_1


     “ Apa aku harus mengancammu lagi Kinan? Kamu pikir aku bercanda dengan ancaman itu?” ucap Reynold penuh penekanan. Seketika membuat gadis itu menoleh. Memperlihatkan anak sungai dipipinya yang sudah mulai mengalir lagi. “ Maaf...aku hanya tidak suka calon istriku bertemu pria lain dibelakangku.”


     “ Darimana kamu tahu? Kamu mengikutiku Reynold?” ucap gadis itu tidak terima, Reynold hanya menggeleng sembari tetap fokus. “Aku sudah menunggumu dari satu jam sebelum waktu pulangmu.” Mata Kinan membesar tak percaya. Berarti laki-laki culas ini sudah melihatnya dari tadi. Sial.


     “ Jadi kamu...” ucap Kinan terpotong dengan anggukan kepala lelaki disampingnya. Lidah Kinan kelu berarti Reynold melihat dirinya tadi menyambut tangan Julian dipipinya. Mata gadis itu memejam erat, seketika kepalanya pening. Gadis itu tidak peduli jika hanya berimbas pada dirinya sendiri tapi Julian. Bagaimana nasib lelaki itu.


     Reynold menepikan mobilnya, lalu tangannya terulur mengusap pipi yang tadi disentuh Julian. “Disinikan?” membuat Kinan buru-buru membuka mata dan alisnya berkerut tanda perempuan itu tidak tahu kearah mana lelaki dihadapannya itu bicara. “ Disinikan tadi lelaki itu menyentuhmu? Aku tidak suka! Aku tidak suka milikku disentuh orang lain.”


     Reynold mengusap pipi Kinan pelan. Lembut. Mata teduhnya memandang Kinan. Sial Kinan. Jangan terpancing. Reynold semakin mendekatkan wajahnya, mencium bibir Kinan lembut tidak menuntut tapi meninggalkan efek seduktif pada gadis itu. Reynold memberikan waktu Kinan untuk mengambil nafas disela-sela ciuman mereka.


     Melepas sabuk pengaman Kinan, lalu merengkuh gadis itu lalu memindahkan kepangkuannya. Mengalungkan kedua tangan gadis itu dilehernya, sedangkan kedua tangannya menangkup kedua sisi kepala Kinan lembut untuk memperdalam ciumannya.


     Sedangkan Kinan, gadis itu sudah tidak mengingat apapun. Rasa bibir Reynold sudah memenuhi isi kepalanya saat itu. Rasa mint dari mulut pria itu berpindah saat mereka bertukar saliva. Sampai saat pria itu menghentikan ciuman mereka lalu menempelkan keningnya pada kening Kinan. “ Aku cemburu...jangan lakukan itu lagi Kinan!” suara berat Reynold terdengar seperti rintihan membuat Kinan sedikit berjenggit nyeri.


     Dia tidak menyangka belum satu minggu dirinya mengenal Reynold, lelaki ini sudah bisa membuatnya melupakan Julian walaupun hanya sesaat. “ Maaf...” ujarnya lirih saat Reynold meletakkan kepalanya dibahunya. “ Maafkan aku..” ucapnya sambil mengelus rambut Reynold. “ Mari kita menikah, dan buat aku melupakan lelaki itu Rey.”


     Seketika Reynold membulatkan matanya tak percaya, Kinan yang melihat reaksi itu hanya tersenyum dan mengangguk. “ Kau tidak bohong?” sekali lagi gadis itu mengangguk lalu mengelus pipi Reynold...membuat lelaki itu tersenyum lalu memeluk Kinan.


     “ Kinan...kamu tidak akan menyesal menikah denganku?” tanya lelaki jangkung itu. “ Apa dirimu menyesal Rey?” Kinan balik bertanya.


     “ Tidak....aku tidak menyesal love” ucap lelaki itu sembari mengelus punggung Kinan pelan. “ Kalau begitu aku juga tidak.” Ucap Kinan yang tidak diketahu Reynold gadis itu menangis. Dan Reynold. Ya. Lelaki itu tersenyum entah kenapa merasa rencananya berhasil dengan sangat mulus.

__ADS_1


__ADS_2