Timeless Winter

Timeless Winter
BAB 15


__ADS_3

     Samar-samar Kinan mendengar bunyi gemericik air, ya bunyi gemericik air itu mengusik telinga, membangunkannya dari tidur nyenyak Memaksa tubuh lelahnya untuk bangun sekali lagi. Kinan mulai membuka matanya perlahan, mencerna pemandangan sekelilingnya, lalu dengan perlahan bangkit untuk duduk, yang tidak ia sadari bersamaan dengan dibukanya pintu kamar mandi oleh Reynold.


 


     “ Sudah bangun sweety?” tanya Reynold sambil mengelap rambutnya yang masih basah.


 


     “ Hmm,” jawab Kinan sambil mengucak matanya, “Kau sudah mandi? Kau akan pergi kerja Rey?” tanya Kinan sekali lagi.


 


     “ Tidak!! Hari ini jadwal kita fitting baju untuk pemberkatan kita menikah!” Kinan melongo, “ Dan kau girl cepat mandi!! Atau kau mau kembali aku makan seperti tadi.” Seperti mendapatkan kembali nyawanya yang terbang, Kinan teringat kejadian tadi pagi dan lihat, dadanya sekarang terekspos didepan Reynold.


 


     “ Ahhh....kau mesum!!” teriak Kinan sambil menarik selimut keatas menutupi seluruh tubuhnya yang sekarang kembali meringkuk lagi.


 


     “ Kau sendiri yang lupa sweety, sekarang bangun atau aku tarik selimutmu,” tukas Reynold sambil pura-pura menarik ujung selimut yang membuat Kinan panik. Gadis itu berputar, mencegah selimutnya ditarik dan..


Bugh...


 


     Dirinya terjatuh kelantai dengan selimut membalut tubuhnya, Reynold yang melihat kejadian itu hanya tersenyum. “ Butuh bantuanku untuk membuka selimut?” goda pria itu lagi.


 


     “ Tidak!”  ucap Kinan sambil berlari menuju kamar mandi sambil sesekali hampir terjungkal karena ujung selimut menutupi kakinya. “ Astaga pria mesum...” tukas Kinan dibalik pintu kamar mandi, wajahnya memerah saking malunya.


 


***


 


     Kinan melihat gedung besar yang menjulang tinggi dari balik kaca mobil, ia dan Reynold saat ini sedang menuju butik tempat mereka memesan baju pernikahan.


 


     “ Bibirmu masih sakit?” tanya Reynold yang hanya dijawab gelengan oleh Kinan, “ coba aku lihat?” ucapnya lagi sembari meraih dagu Kinan supaya menengok ke arahnya, tapi belum juga dirinya melihat baik-baik Kinan sudah menepuk lengannya sambil menunjuk lampu yang sudah berubah warna menjadi hijau.


 


     “ Turun!!”


 


     “ Kita sudah sampai?”


 


     “ Buat apa aku menyuruhmu turun kalau kita masi jauh..cepat turun!!” Reynold yang sudah lebih dulu turun, membanting pintu mobilnya.


 


     “ Dih..cowo gila! Sebentar marah sebentar perhatian...stress!!” ucap Kinan sambil mengerucutkan bibirnya. Gadis itu memilih buru-buru turun dan mengikuti Reynold, ia malas berurusan panjang dengan lelaki itu.


 


     Kinan mendorong pintu kaca sebuah butik yang ia tahu tidak ada harga gaun yang murah disana. “ Wah....astaga,” Kinan terkagum, ia tidak menyangka dalam butik itu luas dan mewah.


 


     “ Lap air liurmu, dasar kampungan!”


 


     “ Kampungan begini kau memaksaku menikah denganmu.” Balasnya sambil melenggang pergi meninggalkan Reynold yang tercengang dengan perkataan Kinan.


 

__ADS_1


     Pelayan butik tersebut membungkukan badannya hormat saat melihat Reynold masuk, bagaimana tidak Reynold merupakan pelanggan tetap disana. Banyak wanita teman kencannya yang sudah ia ajak kebutik tersebut.


 


     “ Selamat siang Tuan Reynold, silahkan duduk didalam lounge, saya akan memanggil Nona Renya.” Reynold, lelaki itu hanya bungkam, sembari berjalan menuju ruangan lounge yang dimaksud pelayan tadi.


 


     Kinan yang tidak tahu apa-apa hanya mengikuti sosok pria tersebut yang sepertinya sudah hapal dengan baik butik ini, mungkin saking hapalnya Reynold hapal berapa debu yang menempel didalam tempat itu.


 


Astaga!!! Ini yang perempuan tadi sebut lounge!! Aku pikir lounge hanya ada dibandara dan restaurant!


 


     Gadis itu kaget saat melihat ruangan dilantai 2 yang tersembunyi dibalik kaca besar. Ruangan yang megah, didominas warna putih tulang dengan sofa besar yang nyaman berwarna salem senada dengan karpet bulu dibawahnya. Kemudian ia melihat ada ruangan yang dihalangi oleh tirai yang sangat besar sekali yang entah dia tidak terlalu mengerti apa itu.


 


     “ Tuan dan nona ingin minum apa?” tanya seorang pelayan lagi kepada kami.


 


     “ Apapun!” ucap Reynold angkuh, pria itu memainkan telpon selulernya, “ Kenapa duduk jauh dariku?” tanyanya tiba-tiba tanpa melihat kearahku.


 


     “ Haduh kaget!!” timpal Kinan yang memang betul terkejut karena dirinya masih dibuat takjub dengan lounge sebuah butik, yang jujur saja baru ia tahu sekarang,


 


     “ Aku tidak suka diabaikan sweety!!” ucap Reynold sekali lagi, kini pria itu menarik tubuh Kinan agar mendekat ke dirinya, karena menurut lelaki itu mereka duduk terlalu berjauhan dan dia tidak suka sama sekali itu. “ Kau tidak boleh mengabaikanku!!” perintahnya lagi sembari memegang dagu Kinan agar perempuan itu melihat kearahnya, “ aku tidak suka!! Ini perintah!!”


 


     “ Iya bawel.” Ucap Kinan sambil menyingkirkan tangan lelaki itu dari dagunya yang sakit karena Reynold menekannya agak kencang.


 


 


     “ Carikan baju pengantin yang paling mahal dan mewah!!! Ah...tidak!! Buatkan!! Buatkan aku baju pengantin yang tidak bisa dipakai siapapun setelah wanitaku memakainya!!” ucap Reynold lebih seperti mengancam.


 


     “ Dengan siapa kau akan menikah Rey?” tatapan perempuan itu seperti tidak suka. Bukan. Lebih tepatnya cemburu, sama persis seperti dulu Kinan cemburu pada wanita yang mencoba genit pada ian. Oh, Ian. Tetiba Kinan merindukan pria yang sampai saat ini masi bercokol dihatinya. Pria yang dua hari lalu menjadi mantan kekasihnya. “ Rey kau belum menjawab pertanyaanku.” Rengeknya sambil merajuk dan kembali bergelayut manja pada iblis bernama Rey.


 


     Rey diam, pandangannya saja yang menuju kearah Kinan duduk yang tepat berada dipinggirnya. Membuat wanita ganjen bernama Renya itu terbelalak, mulutnya menganga. Pasalnya sedari tadi dia tidak menyadari atau lebih tepatnya mengabaikan keadaan gadis itu. Karena dia pikir gadis itu hanya yah....pembantu.


 


Sialan...ingin kusumpal mulut perempuan ganjen ini.


 


     “ Kau tidak bercanda kan Rey?” tanya wanita itu memastikan lagi, “ Lihat aku Rey!! Lihat aku! Bener wanita itu yang akan menikah denganmu?”


 


     Tidak menjawab mulutnya masi bungkam, Rey, lelaki tengil itu hanya tersenyum jumawa. Seketika perempuan itu beranjak dari sisi Reynold sembari menghentak-hentakan kakinya. “ Kenapa dia? Perempuan ini bahkan tidak lebih cantik dariku! Wanita pungutanmu paling jelek Reynold!!” teriaknya seperti orang gila sambil menunjuk-nunjukku.


 


     Tangan Kinan mengepal, gadis itu mulai tersulut emosinya. Menurutnya perkataan wanita itu menjengkelkan. Setidaknya dirinya masi ada harga diri, tidak asal menempel seperti dirinya, sampai sebuah tangan besar dan hangat menggenggamnya. Lebih tepatnya menggenggam kepalan tangan yang menyatu dilututnya, membuat Kinan tercekat dan menoleh.


 


     Reynold bisa melihat manik mata gadis dihadapannya mulai berkaca-kaca, ada sisi iba dan tidak rela saat gadisnya, yah walaupun dia tidak menyukainya itu disakiti. Reynold kembali melihat kedepan menatap Renya yang masih merajuk.


 

__ADS_1


     “ Aku tidak terima jika kalah dari wanita ini Reynold!!! Aku masi bisa memaklumi jika aku kalah dari Estelle...”


 


Braak...praang


 


     Semua yang ada diruangan itu terkejut, termasuk Kinan. Rey menggebrak meja dihadapannya hingga vas bunga dan cangkir teh kami terpelanting. Menimbulkan suara berisik, tapi bukan itu masalahnya. Masalahnya ada pada ekspresi Reynold yang seperti ingin membunuh desaigner perempuan itu. Demi Tuhan baru kali ini Kinan melihat ekspresi Reynold yang seperti itu.


 


     “ Jangan sebut namanya lagi jika kamu masi ingin hidup Renya!!” perintahnya dengan suara dingin, dan Kinan masi bisa melihat perubahan mimik muka desaigner tersebut yanb buru-buru menundukkan muka. “ Kau tahu kan, aku Reynold Hutomo bisa membuat rumah modemu menjadi sebuah sejarah!!”


 


     “ Maaf,” cicit perempuan itu lagi.


 


     “ Sekarang tugasmu hanya memilihkan desaign, mengukur dan membuat baju untuk wanitaku!” Perintah Reynold lagi, kata  wanitaku yang diucapkan Reynold membuat Kinan merasa ia dibela, perempuan itu mengulas senyum tipis sembari kepalanya tetap menunduk, melihat kearah tangan Reynold yang tidak melepaskan genggaman tangannya sedari tadi.


 


     “ Mari nona ikut kami ke ruang fitting.” Salah seorang maid memanggil Kinan, menunjukkan jalan ke ruangan yang ia sebutkan tadi. Nampak disana sudah berdiri wanita yang bernama Renya tadi dengan raut wajah masi jengkel dan tidak ikhlas.


 


     “ Pilihlah! Itu desaign yang bahkan belum kuluncurkan.” Ucapnya ketus.


 


     Kinan mulai mendekat dan menilik satu per satu beberapa model gaun pengantin yang cocok untuknya. “ Kau menyukainya?” desis Renya.


 


     “ Apa? Gaunnya atau Reynold?” balas Kinan tanpa melepaskan pandangan dari gaun pengantin yang menurutnya semua menarik.


 


     “ Munafik! Kau hanya menyukai hartanya bukan!! Seorang pewaris Hutomo!”


 


     “ Tidak ada salahnya kan. Aku juga wanita.” Kinan kini menatap Renya. “ Toh Reynold tidak keberatan aku menghabiskan uangnya.” Ucap perempuan itu sambil menggedikkan bahunya. “ Ah aku mau ini,” ucapnya detelah menemukan gaun pengantin bermodel klasik berbahan dasar renda dan sulaman. Dengan belahan dada berbentuk A-line tanpa lengan, yang menarik bagi Kinan adalah lengannya dipersatukan seperti pita yang memanjang kebelakang. Sehingga menurut Kinan mirip sayap peri.


 


     Dan yang pasti tidak ada rok yang mengembang pada gaun itu...hanya rok panjang dengan renda dan sulaman bertumpuk, anggun dan indah menurut Kinan. Dan yang pasti tidak membuat dirinya tenggelam karena terlalu jmengembang.


 


     “ Aku ingin ini,” ujarnya Kinan, menunjuk gaun pengantin yang diletakkan didalam etalase kaca bulat, baju yang menbuatnya nampak seperti peri.


 


     Seketika muka Renya berubah, air mukanya menggelap sembari menggigit bibirnya. “ Khusus itu tidak kujual!”  wanita itu membuang muka.


 


     Membuat tersenyum tidak percaya, “ Kenapa? Enggan menjualnya? Bermimpi memakai baju pengantin itu dan menikah dengan Rey-ku?”  ucap Kinan denga senyum liciknya. Sebenarnya Kinan juga merasa geli dengan tambahan kata kepemilikan dirinya dibelakang nama Rey, tapi Kinan tidak mau Renya melecehkannya lagi.


 


     Tangan Renya sudah terangkat, siap menampar Kinan. “ Kenapa? Mau menamparku? Silahkan!!” Kinan terus mau mendesak Renya yang terus melangkah mundur, “ Sekarang bagi Reynold aku sama berharganya dengan Estelle. Dan kau, aku tidak tau apa yang akan Reynold perbuat padamu jika tau ada luka dipipi calon istrinya!”


 


     Renya marah, menurunkan tangannya dan mengepal sampai tangannya bergetar hebat.


 


Hah, Kinan bodoh!! Untung kamu selamat pipi mulusku..

__ADS_1


 


__ADS_2