Timeless Winter

Timeless Winter
BAB II


__ADS_3

 


Jam sudah mulai menunjukkan pukul 18.00, Jani sudah siap dengan dres berwarna biru langit polos selutut, sepatu flat shoes senada dengan rambut dibiarkan terjepit setengah. Jani memoles wajahnya dengan make up flawless, gadis itu memang tidak terlalu menyukai make up bold, begitu pula Ian juga tidak menyukai ketika dirinya mencolok, karena itu Jani merasa beruntung.


“ Lama sekali.” Ujar Jani lagi. Membuang mukanya ke balik pintu kaca, alih-alih membuang jengkelnya. Dirrinya sudah siap daritadi padahal Ian belum datang sampai jam sudah menunjukkan hampir 18.30.


“ Selamat sore, bisa saya bertemu Ibu Jani?” Suara bariton Ian memanggil Jani dengan senyum jahil, Ian yang sudah tahu kalau gadisnya itu akan marah karena dirinya terlalu lama menjemputnya.


“ Oh ternyata pulang dulu, mandi dulu, dandan dulu. Pantesan lama yang. Gitu aku aja engga boleh dandan.” Jani mengerucutkan bibirnya. Ian hanya terkikik geli melihat tingkah Jani, menggandeng kekasihnya lalu jalan menuju kendaraan yang diparkir tepat didepan toko kue Jani.


“ Udah yang jangan ngambek, nanti cantiknya hilang.” Kata Ian sembari memasangkan seatbelt. Mulai melajukan pelan kendaraannya, melewati jalan utama jakarta. Detelah hampit 1 jam mereka berkendara menuju ke sebuah restoran dengan gaya megah ala Prancis dengan fasilitas rooftop caffe diatasnya. Segera Ian menggandeng Jani menuju tempat teratas dari restaurant tersebut yang seketika membuat Jani terkesima.


“ Sayang, ini bukan hari ulang tahunmu..engg, juga bukan anniversary kita berdua.” Ucap Jani sambil menutup mulutnya, memang buka satu dua kali dia melihat restaurant mahal dan dinner di restaurant tersebut. Bahkan saat dia di Perancis dulu hampir setiap hari ia menyambangi restaurant berbintang 5 hanya unyuk sekedar mampir untuk makan atau bekerja. Tapi berbeda saat ini, ia benar\-benar terkejut. Tidak. Lebih tepatnya terharu, karena Ian bukan orang yang romantis dan kali ini kekasihnya itu sukses membuatnya ingin menangis

__ADS_1


 


Dasar bodoh untung aku bawa baju ganti, kalau tidak aku bakal seperti gembel. Dasar Ian untung aku sayang...


 


Setelah menarik kursi untuk Jani dan membenahi posisi duduknya sendiri. Ian meminta waitress untuk mengeluarkan makan malam mereka. Hampir 2 jam mereka makan sambil berbincang diatas rooftop tersebut. Sampai pada akhirnya Jani terganggu oleh tatapan seorang pria yang sedari tadi berusaha ia abaikan. Tapi kali ini tidak bisa lagi, karena pria itu menatapnya seolah ingin membunuh Jani saat itu, bahkan Jani sempat berpikir kalau saja dirinya pernah menyinggung lelaki itu. Dan nyatanya tidak. Tidak sama sekali. Karena sedari tadi ia mengacak – acak memory nya dan tidak berhasil sama sekali menemukan siapa pria yang sedang menatapnya dingin saat ini.


“ Sayang ada lelaki yang dari tadi memandangku, aku risih.” Ian hampir memalingkan mukanya dan, “ Jangan lihat kebelakang yang, nanti dia tahu.” Jani memegang tangan kekasihnya memberi tanda. Ian melotot heran. Salah satu sifat Jani yang dirinya tidak suka adalah selalu.merasa tidak enak pada orang lain.


“ Emm IIe Flottante. Enak. Aku rindu rasa ini.” Jani seperti kembali ke saat dia masi menjadi mahasiswa di Le Cordon Bleu, dia rindu. Gadis itu amat menikmati dessert nya, perhatiannya semua tercurah pada makanan manis didepannya. Pikirannya sudah tidak terganggu oleh pria asing itu. Sampai terdengar bunyi dentingan sendoknya beradu dengan suatu benda keras dibawah creme anglaise yang hampir habis.


“ Ian....ini, cincin. Ian sepertinya makananku tertukar sayang.” serunya mengambil cincin itu lalu menaruhnya diatas tisu dan membersihkannya. Gadis itu memandang kekasihnya dengan heran.

__ADS_1


“ Jani, sayang. Aku ingin menikahimu, tapi karena pendidikanku belum selesai. Aku ingin bertunangan denganmu. Aku ingin mengikatmu...supaya kamu tidak berpaling.” Ian menyematkan cincin dijari manis Jani, yang hanya dibalas dengan gelengan kepala tidak percaya. “ Jani I Love You....aku harap kamu menungguku sedikit lagi.”


“ Yes i do, i will waiting you....I...I really love you.” Ungkap Jani terbata\- bata. Dia memeluk Ian. Ini hari bahagianya, pria yang sudah ia tunggu melamarnya walaupun hanya bertunangan tapi ia tahu Ian sungguh – sungguh dengan ucapannya.


Tapi tidak dengan pria dengan jas hitam yang sedari tadi mengamati Jani. Dia geram. Meremas tangannya dengan kuat hingga buku\-buku jarinya memutih pucat. Kalo ingat dia sedang ditempat umum ingin segera dia memenggal kepala dua sejoli itu.


“ Presdir apa kita harus mengacaukannya.” Ucap lelaki yang sedaribawal berdiri disebelah pria itu. Dan yang ditanya hanya menggelengkan kepala tanpa mengalihkan pandangan dari dua sejoli yang saling berpelukan bahagia itu.


“ Biarkan mereka bertunangan, setelah itu akan aku hancurkan.” Setelah itu ia meninggalkan restaurant .


 


Maaf kalau pendek..mohon suportnya ya karena masi baru.

__ADS_1


like, comment , and share😗😗😗😀😀


__ADS_2