Timeless Winter

Timeless Winter
NINE


__ADS_3

Seperti kesetanan Kinan membawa mobilnya menuju tempat Ian ditahan sementara waktu. Tergopoh – gopoh ia berlari menghampiri tunangannya, jantungnya serasa berhrnti berdetak saat melihat kondisi kekasihnya dibalik sel, namun setidaknya ia masih lega saat melihat tidak ada lebam atau tanda kekerasan dibadan calon suaminya itu, “ Sayang.” Ucap Kinan. Suaranya bergetar menahan tangis. Ian mendongak, berjalan mendekati sel, mendatangi kekasihnya.


 


“ Jani, kenapa datang kesini sayang?” pria itu tersenyum. Ian betul-betul tidak ingin membuat Jani khawatir. Mengelus wajah Kinan dari balik jeruji besi, menenangkan kekasihnya yang ia tahu sudah hampir menangis. “ Tidak apa Jani, aku tidak apa-apa sayang.” Ucapnya saat melihat Kinan sudah mulai menangis. “ Lihat aku, itu bukan milikku dan aku tidak memakai barang itu...percaya padaku Jani.” Ucapnya menenangkan. Kinaan mengangguk, sembari mencium tangan Ian yang terjulur dari sela--sela jeruji. “ Kita hanya tinggal menunggu penyelidikan untuk mengetahui siapa pemilik barang itu...oke.” Ujar Ian sambil mengelus bibir kekasihnya lembut.


Kinan hanya mengangguk sembari menangis, ia sangat benci dirinya yang mudah menangis jika bersangkutan dengan orang yang ia kasihi, sehingga membuat otaknya buntu tidak bisa berpikir cara untuk mengeluarkan Ian dari penjara. Kinan memegang tangan Ian lalu menciuminya penuh sayang, ia tidak tega meninggalkan Ian sendirian. “ Ibu dan ayah, apa mereka tau?” tanya Kinan, Ian langsung menggeleng cepat, “ Kau harus memberitahu mereka Ian.” Ucap Kinan lagi.


Sekali lagi Ian menggeleng. Pria itu betul-betul tidak mau, ia tidak ingin membuat ayah dan ibunya khawatir. “ Ini tidak lama Jani...paling lama 3 hari aku sudah keluar.”


“ Bisakah aku mempercayaimu yang?” tanya Kinan. Dirimya benar-benar kalut saat ini. Kinan tidak bisa berpikir apapun.


Ian mengangguk sekali lagi untuk meyakinkan Kinan, menyentuh pipinya sekali lagi. “ Pulanglah, jangan sampai papa dan mama mencarimu..besok kau masi bisa kesini sayang.” Ucap lelaki itu, Ian tahu Kinan masi belum ingin pergi, terlihat dari terlihat dari alisnya yang berjenggit naik saat dirinya meminta Kinan untuk pulang. Ian melihat sorot mata kecewa dari kekasihnya, tapi Kinan hanya tersenyum lalu mengangguk. Menyetujui permintaan Ian kemudian berlalu.


Kinan menangis dibalik kemudinya, melihat Ian, ia tidak tega. Dia pikir setelah masalah disegelnya toko kue miliknya, semua perlahan akan membaik, ternyata tidak ia salah. Dirinya masih harus melewati satu cobaan ini lagi bersama Ian. Kinan tersentak kaget saat tiba-tiba ponsel yang ada didalam tasnya berbunyi.


 


Nomer asing.


 


Kinan membiarkan ponselnya berdering, masi melamun dan belum beranjak sekalipun dari area parkir kepolisian. Kepalanya kembali pusing, dan ponselnya yang terus saja berdering mengganggunya. Sehingga mau tidak mau membuat Kinan harus menjawab panggilan tersebut.


“ Halo,” ucap Kinan agak kasar, yang hanya dibalas kekehan kecil oleh orang diseberang tersebut.


“ Halo sweety, sudah selesai drama penuh airmatanya?” ejek suara itu lagi yan seketika mampu membuat mata Kinan membulat sempurna.


“ Reynold?” jadi kamu yang melakukan ini padaku dan Ian.”


“ Aku tidak melakukannya padamu, hanya pada lelaki bernama Ian itu.”


“ Kenapa brengsek?” bentak Kinan.


“ Oww...kau kasar sekali sweety. Aku hanya memberinya pelajaran, bahwa menggoda milikku adalah sebuah kesalahan besar.”

__ADS_1


“ Sudah kubilang aku bukan tunanganmu.” Teriak Kinan putus asa


“ Baiklah, kuanggap lelaki tengik itu belum mau melepaskan gadisku dan aku harus memberi pelajaran lagi padanya.” Ucap Reynold setengah mengancam, membuat Kinan menelan ludahnya kasar. Khawatir, ia betul-betul tidak tahu apa yang akan dilakukan Reynold. Pria itu sangat menyeramkan baginya, karena Kinan tidak bisa menebak jalan pikirnya.


“ Aku ingin bertemu denganmu.”


“ Gadisku ingin menemuiku, sepertinya hari ini hari keberuntunganku.” Ucapnya dengan nada riang yang dibuat-buat. “ Tunggu disitu, akan ada yang menjemputmu.” Ucap Reynold yang langsung menutup sambungan teleponnya. Kemudian Kinan dibuat terkejut saat ada seorang pria mengetuk jendela mobilnya.


“ Selamat siang nona, saya Lucas. Tuan Reynold menyuruh saya untuk membawa nona bertemu dengan beliau, jadi nona akan naik mobil bersamaku.” Ujar Lucas, sembari menunggu Kinan turun dari mobilnya.


“ Tapi mobilku?”


“ Bisa saya pinjam sebentar kunci mobil milik nona?” ucapnya lagi dengan nada yang formal dan kaku. Mau tidak mau Kinan memberikan kunci mobilnya pada pria yang bernama Lucas tadi. “ Kau...bawa mobil nona Kinan kerumahnya dan katakan pada orng dirumahnya kalau nona Kinan akan pulang terlambat.” Ucapnya pada salah satu pria dengan setelan jas hitam dan hanya dibalas anggukan.


“ Tapi...maaf Tuan Lucas. Mereka tidak tahu rumahku.”


“ Mereka tau persis rumah nona Kinan dengan akurat.” Mendengar ucapan Lucas membuat Kinan heran. Pasalnya, Kinan saja tidak mengenal siapa mereka, tapi mereka tahu posisi rumah Kinan.


“ Apalagi yang Tuan tahu tentangku?” tanya gadis itu lagi.


 


***


 


Kinan memandang makanan didepannya dengan enggan, berbanding terbalik dengan Reynold yang makan dengan lahap. Ya, sudah hampir 30 menit Kinan duduk dimeja makan didalam ruangan kerja Reynold yang besar dan megah.


“ Kenapa tidak kai makan sweety?”


“ Aku kemari bukan untuk makan Rey...” ucapannya terpotong oleh gerakan jari lelaki itu yg menyuruhnya diam.


“ Aku sangat lapar karena seharian ini belum makan apapun sweety, dan itu karena aku menunggumu.”


“ Cih...siapa juga yang ingin makan denganmu, kalau bisa aku justru tidak ingjn bertemu denganmu.” Ucap Kinan sinis. Reynold hanya tersenyum melihat Kinan, yang memalingkan muka dengan cemberut. “ Bebaskan Ian, dia tidak memiliki masalah apapun denganmu.” Pinta Kinan yang sontak membuat Rey menghentikan kegiatan makannya.

__ADS_1


“ Menggoda tunanganku apakah menurutmu dia tidak membuat masalah denganku?”


“ Siapa tunanganmu katakan padaku? Siapa?” jerit Kinan


“ Kau...sudah kukatakan aku tidak suka milikku diganggu oleh orang lain. Mengerti.”


“ Aku bukan milikmu dasar gila, aku bukan barang...Sejak kapan aku menjadi milikmu...jangan terlalu gila Reynold Hutomo” tangan perempuan itu bergetar menahan marah.


“ Sejak aku datang kerumahmu, sejak itu kau adalah milikku...tunanganku...gadisku, dan aku tidak gila.” Ucap Reynold mengejek.


Seluruh tubuh Kinan bergetar menahan marah, nafasnya tersengal- sengal. Dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan pria yang sekarang ada tepat dihadapannya. Terlalu biadab, rasanya Kinan ingin mencekik lelaki itu sampai mati.


“ Baiklah sweety, aku memberimu dua pilihan.” Ucapnya dengan tenang sembari mengelap mulutnya menggunakan serbet kemudian menatap Kinan dengan pandangan dingin. “ Putuskan hubunganmu dengan pria itu dan aku akan membebaskan pria itu, atau tetap bersamanya tapi kau melihat pria itu hancur.” Tukas Reynold dingin.


“ Iblis...kau benar-benar iblis.”


“ Ya, itu nama tengahku sweety.” Reynold tertawa licik,


Seketika itu Kinan merasa dunianya hancur. Pilihan yang berat, tapi ia tidak tega melihat Ian hancur terpuruk. Tanpa sadar Kinan menangis, isakannya perlahan mulai terdengar pilu, dan Reynold pria itu menikmati pemandangan itu. Ia senang melihat gadis didepannya tersiksa.


“ Tidak enak bukan kehilangan orang yang kita cintai?” ujarnya lagi.


“ Kenapa kau seperti ini...aku tidak mengenalmu, kenapa kau seperti menaruh dendam padaku.” Isak Kinan sekali lagi, kali ini dadanya terasa sakit. Ian-nya, dia tidak tahu apa-apa


“ Aku hanya mengembalikan semuanya ke alur yang benar...bukankah mata harus dibalas mata Kinan.” Ucapan Reynold kali ini bernada dingin, membuat Kinan terkesiap. Reynold memegang dagu Kinan, menghadapkan mata gadis itu untuk bertemu dengan matanya. “ Aku tidak pernah main-main Kinan, akan kubuat pria itu hancur, sampai tidak ada orang yang mengenalinya.”


Darah Kinan seperti membeku, membayangkannya Ian mengalami hal itu saja membuatnya putus asa, membuat nafasnya sesak. Refleks Kinan menggeleng, airmatanya semakin deras hanya dengan membayangkan hal itu. Siapa lelaki didepannya ini? Ia tidak pernah ada diingatan Kinan, bahkan dirinya tidak pernah merasa mempunyai masalah dengan penerus keluarga Hutomo ini.


Ingatan Kinan langsung tersambung dengan kejadian saat ia sedang berdua dengan Lucas. Perkataan Lucas mengenai luka dipaha kanannya. “ Kau memata-mataiku selama ini?” Reynold hanya diam, tersenyum tipis penuh arti. “ Kenapa? Kenapa kamu seperti itu padaku? Aku...aku.” Terbata. Kinan menangis lagi.


“ Kuberi waktu 5 hari sweety...kau sudah harus mengembalikan cincin itu, jika tidak....” ucap Reynold sembari memberi gigitan- gigitan kecil ditelinga Kinan. Membuat Kinan geli dan merasa aneh, tubuhnya memanas. Wajahnya memerah, sebelum semuanya lepas kendali Kinan berdiri, mendorong Reynold kebelakang dan dirinya sendiri mundur kebelakanh beberapa langkah hingga menyentuh kursi yang terdorong kebelakang beberapa inchi.


“ Tepati janjimu.” Seru Kinan lantang, menutupi rasa malunya, lalu bergegas keluar dari ruang kerja Reynold. Sedangkan Reynold tersenyum, menyukai reaksi Kinan yang polos tapi tidak lama wajahnya berubah dingin dengan ekspresi yang tidak terbaca.


 

__ADS_1


Aku mendapatkannya....tunggulah sebentar lagi


__ADS_2