
Kinan memaksa agar dirinya untuk tetap terjaga. Rasa sakit yang terkadang memburamkan matanya membuat dirinya tidak berani terlalu laju untuk membawa mobil. Hampir 2 jam menyetir akhirnya dirinya tiba didepan pintu rumahnya, memaksa tubuhnya untuk berjalan. Gadis itu hanya mematikan mobil, setelah ia tidak peduli, kepalanya pening sekali.
Brakk...
Kinan mendorong pintu rumahnya kasar, seorang pria yang duduk diruang tamu menunggunya kaget sehingga refleks menoleh kearah sumber suara.
“ Jani kamu...,” Ucapan Ian tiba-tiba terhenti. Lelaki itu tadi berniat memarahi kekasihnya, karena saat dia kembali untuk mengantar makan siang, dirinya tidak mendapati sang kekasih ditempat tidur, dan ketika Bi Ira bilang kalau Kinan berada di toko kuenya karena ada sedikit masalah, ia bergegas kesana dan toko disegel. Karena itu ia menunggu Kinan untuk menuntut jawaban.
Tapi ketika melihat kondisi Kinan yang benar-benar tidak baik- baik saja dengan darah yang membasahi sebagian baju depannya, membuat Ian panik. Mendekati gadis itu yang langsung oleng jatuh dipelukan Ian. Ian yang terkejut langsung membawa Kinan kekamar, mengganti baju Kinan lalu mengompresnya. Suhu badan Kinan sangat tinggi.
“ Gimana kondisi Jani, Dam?” Tanya Ian pada sahabatnya yang ia panggil tak lama setelah Kinan pingsan.
“ Its oke, Dia cuma kecapean dan sedikit dehidrasi, tapi Ian apa Jani sering mimisan?” Tanya Damar sambilalu karena diirinya sedang memasang infus.
“ Iya sedari dulu tapi tidak sering, tapi saat dia mimisan darahnya mengalir banyak.”
“ Hemm kamu harus membujuk dia untuk memeriksakan kondisinya. Mencegah saja.” Ucap Damar lagi. “ Ok selesai, biarkan dia tidur dulu, pastikan kalau dia sudah sadar ia minum obatnya.” Ucap Damar sembari menulis resep.
“ Thanks a lot Dam.”
“ Nanti kalau ada apa- apa telpon saja, gue jalan dulu.” Ucap Damar sambil tersenyum jelek pada Ian.
Damar adalah teman dekatnya sejak kecil. Ia langsung menyuruh teman dekatnya itu datang untuk melihat kekasihnya. Setelah Damar pergi, Ian kembali duduk disebelah Kinan, menatap wajah wanita, mengelus tangannya yang terdapat infus, mengelus tangan sebelah wanita itu dan cukup terkejut saat ada lebam besar didekat siku kiri wanita itu.
“ Apa yang sebenarnya terjadi padamu sayang? Apa yang kamu sembunyikan dariku? Cepat sembuh Jani, aku lebih suka melihatmu menangis daripada seperti ini sayang.” Ucapnya lagi kali ini dengan nada bergetar. Ian mengusap wajah Kinan pelan, ia mendesah, wajah calon istrinya terlihat kurus hanya dalam beberapa hari ia tidak bertemu.
Ian mengecup kening Kinan lalu beranjak dari kamar gadis itu, sebelum pulang ia menitipkan Kinan pada Bi Ira, karena papa dan mama wanita itu masi dirumah sakit. Sebetulnya Ian enggan meninggalkan gadis itu, tapi mereka belum menikah. Ian tidak peduli jika dirinya yang jadi bahan pembicaraan tapi ia tidak ingin Kinan dan keluarganya jadi buah bibir hanya karena ia menginap saat kedua orangtua Kinan tidak ada. Karena itu dengan berat hati ia memutuskan pulang.
__ADS_1
**
Kinan mengerjap matanya, melihat sekeliling yang ternyata dia sudah ada didalam kamarnya. Terakhir dirinya ingat dia melihat Ian setelah itu semuanya blackout. Kinan haus, ia berusaha bangun, menyingkap selimutnya, agak terkejut melihat bekas infus ada ditangan kanannya.
Kinan turun dari tempat tidurnya, mencari orang untuk dia tanyai apa yang sudah terjadi pada dirinya. Tapi nihil, diruang bawah tidak ada orang, didapur juga tidak ada orang sama sekali. Setelah mengambil minum ia pergi kekamar orangtuanya, mencoba mengetuk pintu, siapa tahu ada sahutan dari dalam sana.
“ Ma, Pa.” Ucap Kinan sambil memutar gagang pintu, ia tersenyum saat melihat papanya sudah pulang dari rumah sakit, ia berjalan mendekati kedua orangtuanya, terlihat papanya masi lemah tapi lebih baik dari pada hari itu.
“ Jani, kau sudah bangun nak?” Kata Santika yang sedang menyuapi suaminya. “ kau sudah baikan? Ingin makan sesuatu nak?” Tanya mama Kinan. Kinan menggeleng.
“ Papa kapan pulang?”
“ Benarkah pa? Memang berapa hari Jani tidur.”
“ 3 hari, Ian bilang kamu kelelahan dan dehidrasi. Kamu pulang dalam keadaan mimisan dan demam.” Ucap Sulistyo.
“ Jangan forsir tenagamu Jani, ingat kesehatanmu nak. Jangan toko dessertmu saja yang kamu pikir”
“ Maaf ma.”
“ Maaf juga karena kami tidak bisa menungguimu nak, mau mama buatkan makan?” Wanita paruh baya itu tersenyum saat melihat putri satu-satunya mengangguk. Kinan menangis, apa yang ia takutkan tidak terjadi. Ayahnya sehat, persetan dengan Reynold. Berapapun hutang ayahnya akan ia bayar, walaupun itu berarti ia harus kehilangan La Petite Boulangerie toko yang ia rintis dari nol, toko yang sudah seperti nyawanya. Tidak apa-apa ia masih bisa memulainya lagi asal keluarganya bahagia.
**
__ADS_1
Hari ini tepat hari keempat disegelnya La Petite Boulangerie milik Kinan, ia meminta maaf pada seluruh karyawannya serta membayar gaji mereka full. Semuanya sudah selesai dan berakhir baik-baik saja, perusahaan milik ayahnya pun juga mulai stabil.
Tutupnya La Petite Boulangerie sangat disayangkan oleh pelanggan maupun teman sejawatnya. Banyak sekali teman seprofesi Kinan menanyakan keadaannya kemudian meminta dirinya untuk bergabung ke restoran mereka seperti dulu. Kinan bahagia, karena masi ada yang menghargai keahliannya tapi untuk saat ini Kinan ingin menikmati waktunya bersama kedua orangtuanya.
Mungkin selama beberapa tahun terakhir ini, lebih tepatnya semenjak dirinya kuliah di Paris, ia hampir tidak punya waktu hanya untuk berbincang atau libur bersama kedua orangtuanya. Kinan hanya terobsesi pada bidang yang ia geluti ditambah saat ia mempunyai toko pastry miliknya sendiri, hampir seluruh waktunya ia habiskan untuk toko pastry miliknya. Dan hasil jerih payahnya memang terbayar, dengan semakin terkenalnya pastry miliknya.
Ian : Cantik, nanti dinner yuk?
Kinan tersenyum melihat chat dari tunangannya.
K : Baiklah, tapi aku mau yang romantis dan ditraktir.
Balas Kinan dengan emot senyum.
Ian : as you wish princess. Jam 5 harus sudah siap ya. Aku jemput.
Kinan tersenyum, ia melirik jam. Dan masi pukul 12.00, masi banyak waktunya. Untuk tidur siang, menunggu ayah dan ibunya pulang lali bersiap pergi.
Seperti ini saja sudah cukup, yang penting aku bersama orang yang aku sayang
Maaf banget jika episode ini yang paling membosankan. Karena jujur aku juga bosen nulis episode ini. Tapi sehabis episode ini seru kok sampai akhir. Jadi dukung terus ya. LOVE YOU ALL💖💖💖💖
__ADS_1