Timeless Winter

Timeless Winter
BAB VI


__ADS_3

 


Hari ini Kinan bangun terlambat hampir jam 6 dia bangun, badannya pegal, tulangnya berasa patah. Kejadian kemarin benar-benar menguras semuanya. Menguras tenaganya, pikirannya, emosinya. Dia seperti tidak punya tenaga saat menapakkan kakinya kelantai. Menyerah. Akhirnya dia kembali memutuskan untuk kembali beristirahat hari ini.


Ia meraih ponselnya menghubungi Ian. Menyuruhnya untuk tidak perlu datang. “ Sayang, jangan jemput aku, hari ini aku mau istirahat saja yang.” Ucapnya setelah bunyi nada sambung berubah dengan sahutan dari seberang.


“ Kamu sakit?” ucap Ian yang sedang bersiap\-siap berangkat.


“ Tidak Cuma lelah sekali...badanku lemas.”


“ Kalau begitu aku mampir sebentar beli sarapan ya.”


“ Engga perlu yang, aku engga sakit Cuma butuh tidur aja.”


“ Ya sudah kamu istirahat. Love you.” Ucap lelaki itu sebagai salam penutup pembicaraan dirinya dengan kekasihnya. Ian bergegas memakai baju dinasnya, setelah itu mengabaikan sarapan yang sudaah disiapkan ibunya. Dirinya memang berangkat lebih pagi agar setidaknya bisa membeli bubur untuk Kinan.


Dilain sisi Kinan mengetik sesuatu untuk ia kirim ke Mia. Ia memberitahu Mia kalau untuk beberapa hari kedepan ia tidak akan datang ke toko, sampai ayahnya benar-benar sembuh dan pulang dati rumah sakit. Setelah itu dia kembali tidur lagi, hari ini betul-betul dirinya merasa lelah, bahkan untuk mengangkat handphonenya saja ia merasa tidak sanggup. Kinan meringis. Kepala belakangnya mulai sakit, sehingga membuat ia menyerah dan memilih meletakkan kepalanya kembali.


“ Yang bangun, sayang.” samar-samar Kinan mendengar suara berat seorang pria, dan ia juga merasa tumbuhnya berguncang halus. Terpaksa Kinan membuka matanya, dan sudah ia duga pasti kekasihnya itu datang. “ Bangun yang, makan dulu.” Ucapnya sambil membuka bungkusan yang ia bawa. “ Sini aku suapin.” Kata Ian sambil membantu Kinan duduk.


Kinan duduk dengan susah payah, ia bersandar pada sandaran tempat tidurnya. Kepalanya semakin sakit, ia tidak ingin makan. Dirinya hanya butuh tidur sejenak, tapi Ian terlanjur datang ia tidak ingin mengecewakan pria itu. Ian menyuapi Kinan dengan telaten, ditiup bubur ayam yang panas lalu disuapkan lagi ke Kinan. Begitu seterusnya dan berhenti disuapan ke-4 dimana Kinan tidak bisa lagi menahan rasa peningnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan.


“ Sudah yang kepalaku pusing.” Bisiknya lirih, Ian mengambil air putih agar Kinan dapat meminumnya kemudian kembali tidur.


“ Tidur saja, nanti sore aku datang lagi.” Ucapnya sambil mengecup kening Kinan.


 


**


 


Kinan terlonjak kaget saat ia merasakan bunyi getaran kuat bersumber dari nakas disebelah tempat tidurnya. Ia melirik jam dinding.


 

__ADS_1


Pukul 10.00


 


Dia tidur hampir 3 jam. Ia merasa badannya sudah lumayan enak, tapi kepalanya bagian belakangnya masih sakit. Ia mengambil ponselnya dan wallaaa. 20 panggilan tak terjawab dari Mia. Masi belum sadar sepenuhnya ponselnya bergetar lagi.


“ Kak Jani...toko disegel kak...gimana ini?” ucap Mia diiringi suara panik dan isak tangis kecil.


“ Maksudnya apa sih Mi? Ngomong yang jelas jangan sambil nangis.” Ucap Kinan bingung.


“ Toko disegel Kak. Kita g boleh masuk katanya Kak Jani ad tunggakan hutang.” Ucapan Mia seperti sambaran petir di pafi hari untuknya.


“ Kirim foto ke aku Mi.” Pintanya dan tidak sampai semenit Mia mengirim foto yang langsung membuat Kinan shock. Toko kue miliknya disegel, digerendel menggunakan rantai besi besar dan digembok. Disamping- samping foto ia melihat karyawannya terduduk pasrah menunggu aba-aba darinya. Bergegas Kinan menuju kamar mandi, membersihkan diri sekenanya, mengambil baju yang pertama kali ia lihat. Setelah itu berlari menuju bagasi.


Kinan bahkan sudah melupakan sakit kepalanya, melupakan badannya yang lelah. Ia harus segera meminta penjelasan pada Mia bagaimana kejadiannya. Tidak mungkin jika kemarin sudah terjadi dan Mia tidak menyampaikan padanya. Kinan melajukan mobilnya seperti kesetanan, ia mengumpat saat harus berhenti karena lampu merah.


Begitu tiba Kinan langsung membuka pintu mobilnya kasar lalu membantingnya agar kembali tertutup. “ Mia,” panggilnya setengah berteriak. “ kenapa begini? Kenapa tidak bilang dari kemarin?.”


“ kemarin belum begini kak, kemarin baik\-baik saja. Aku terakhir mengunci pintu seperti biasa.” Ucap Mia tergugu.


“ Lalu ini?” Mia hanya menggeleng. Kinan melihat semua pekerjanya terduduk lesu. Ia tidak sepantasnya ikut panik. Ia menghela nafas. “ Kalian pulang saja, akan aku selesaikan.”


“ Aku tidak akan memecat kalian, aku hanya akan menyelesaikan masalahnya sebentar saja, pulang saja dulu.” Ucap Kinan menenangkan.


“ Kak Jani..aku?


“ Jangan panggil Jani..Kinan sekarang panggil aku Kinan.”


" Tapi kak..."


“ Tidak ada tapi Mia, jangan pernah panggil aku Jani.” Teriaknya marah, mata Mia membulat, dirinya tidak pernah melihat bos besarnya marah. Sambil ketakutan Mia mengangguk. Melihat Kinan sedang mengangkat telepon gadis itu menungguinya dengan sabar, takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu.


Kinan menggeram setelah menerima telpon, melihat pesan chat yang mengiriminya denah tempat dimana mereka harus bertemu. “ Kak Kinan?” Kinan menoleh pada sumber suata tersebut, agak menyesal saat tadi membentaknya.


“ Kau pulanglah seperti yang lain. Nanti aku kabarin, karena sepertinya akan lama. Bilang pada yang lain gaji akan tetap aku bayarkan.” Ucapnya memeluk Mia. “ Pulanglah Mi, dan maafkan aku ya.” Kata Kinan lembut. Mia tersenyum ia tahu bosnya sudah kembali seperti semula.

__ADS_1


Setelah melihat semua pekerjanya pulang, Kinan memacu sekali lagi mobilnya. Ketempat yang sudah ditentukan, seperti tidak ingin membuang waktu, menggunakan aplikasi maps ia akhirnya berhasil sampai dan lagi dengan sedikit umpatan setiap ada macet ataupun lampu merah. Kinan lebih kaget saat ia berbelok di sebuah restaurant yg ia kenal. Ponselnya kembali berbunyi dan


“ Kau sudah sampai, naiklah ke bagian rooftop gadis itu berlari menuju lift naik keatas dan betul. Laki-laki yang tidak lain adalah Reynold Hutomo sudah diduduk dimeja tempat Ian melamarnya dulu, pria itu melambaikan tangan saat melihatnya datang dan mengisyaratkan untuk duduk. “ Familier dengan pemandangannya sweety” ucapnya dengan senyum menawan.


 


Apalagi yang pria brengsek ini rencanakan.


 


“ Kau..” ucap Kinan saat sudah menghempaskan tubuhnya kasar diatas kursi, tapi secepat itu juga Reynold menyuruhnya diam.


“ Makanlah dulu, aku tau kau lapar, kita masi punya waktu untuk berbicara panjang.” Ucap Reynold enteng, rahang Kinan mengetat tapi dia pasrah kalau tidak ingin dirinya langsung diusir tanpa membuat kesepakatan apapun. Reynold memberi isyarat pada seorang pelayan dibelakang Kinan, seperti tau isyarat tersebut pelayan itu pergi. Reynold tersenyum saat melihat Kinan memalingkan muka melihat keluar balkon. “ Indah bukan, tidak kalah dengan pemandangan waktu malam.”


Kinan tersentak, memandang Reynold dengan mata bulatnya setelah itu ia buang lagi kearah balkon. Angin semilir meembelai wajah Kinan, gadis itu muali mengantuk, kepalanya yang sakit perlahan mulai kembali lagi. Ya, dirinya sudah sedikit tenang sekarang, pertanda ia siap berbicara dengan Reynold perohal toko kue miliknya.


“ Nona permisi.” Seru pelayan itu membuyarkan lamunan Kinan. Ille Flotante, batin Kinan. Kinan enggan menyentuhnya, dia tidak ingin makan apapun, ia hanya ingin bicara.


“ Makan dulu supaya otakmu agak sedikit dingin.” Ucap Reynold sarkas, yang membuat Kinan menyerah dan akhirnya menyentuh dessert favoritnya itu dan tiba-tiba..tuk..sendoknya menyentuh sesuatu yang keras dibawah piring dessertnya. Ia menyendoknya dan terlihat cincin bermata berlian yang mengkilat. Mata Kinan membulat bingung kemudiaan menatap Reynold. “ Teringat sebuah kenangan indah sweety.” Seketika kepala Kinan bertambah pusing.


“ Maksudmu?” tangan Kinan mulai bergetar.


“ Bukankah kita pernah bertemu? berapa kali ya?” ucap Reynold pura-pura berpikir. “ Ah hanya dua kali,” ucapnya lagi.


“ Kau....kau pria yang duduk diujung meja itu.” Ucap Kinan.


“ Betul, dan sebelum ini juga. Tapi pelan-pelan saja tidak usah terburu-buru, nanti kau pasti ingat siapa aku.” ucap Reynold lagi, yang sukses membuat Kinan terbata, ia menaruh sendoknya, menyembunyikan tangannya yang bergetar dibawah. Ia ketakutan, pria ini tahu mengenai dirinya.


“ Dan perkataanku agar mantan tunanganmu itu mengambil kembali cincinnya, aku tidak bercanda sweety.” Smirk Reynold, ia tidak tahu Kina sudah tidak fokus, kepala gadis itu semakin sakit, matanya memburam. Kinan mengerjapkan matanya, melihat ada yang tidak beres dengan Kinan, lelaki itu panik. Betapa terkejutnya ia ketika melihat darah merembes keluar dari tangan Kinan yang sedari tadi menutupi hidungnya. Mengalir menetes kedalam piring ille Flotante milik Kinan yang membuat dessert itu bersemu merah warna darah dan sebagian lagi mengotori baju Kinan.


Reynold bangkit, memindahkan Kinan ke kursi yang lebih lebar, memeluk Kinan, menyandarkan perempuan itu didadanya, mengeluarkan sapu tangan dan menagannya agar tidak keluar lagi. Suhu tubuh Kinan mengenai kulit Reynold. Panas. Pria itu heran dalam kondisi sakit perempuan itu mampu membawa kendaraan sendiri.


Hampir 30 menit akhirnya Kinan sudah lumayan membaik, ia sudah melepaskan diri dari pelukan Reynold. Gadis itu bangkit berjalan pulang. Situasi sudah tidak mungkin ia teruskan, bajunya sudah penuh darah dan jika ia paksa bisa-bisa dia pingsan, ia tidak mau, ia masi harus membawa mobil, dengan ceoat mengambil tasnya kemudian menuju pintu lift.Melihat Kinan yang keras kepala, Reynold mengepal tangannya.


“ Kau Kinan, ucapanku tidak main-main. Kau suruh lelaki itu mengambil cincinnya atau aku yang akan mengembalikannya dengan cara kasar.. ingat Kinan keputusanmu mempengaruhi semuanya. Bahkan perusahaan ayahmu.” Tapi Kinan tidak bergeming, ia tidak menoleh kebelakang sama sekali. Begitu gadis itu masuk lift dan pintu tertutup Reynold menggebrak meja.

__ADS_1


“ Ikuti dia Lukas..jangan sampai terjadi apa-apa pada.” Perintahnya dan disambut anggukan oleh pria yang sesari tadi berdiri disampingnya.


 


__ADS_2