Timeless Winter

Timeless Winter
BAB III


__ADS_3

Seminggu setelah itu Jani dan Ian bertunangan. Seperti mimpi, semuanya riuh bahagia. Jani duduk melamun memandang jari manisnya. Tersemat cincin emas putih bertahta berlian kecil yang sederhana dengan arsiran berbentuk pasir dibagian sekeliling cincin. Tanpa sadar gadis itu tersenyum. Mengingat kejadian seminggu lalu dimana Ian menyematkan cincin di jari manisnya. Romantis. Bahagia, dan entah apalah yang pasti Jani masi belum percaya.


Seperti mimpi


 


“ Kak Jani hayo senyum-senyum sendiri.”


“ Apa sih Mia, sana kerja .” Kata Jani kepada salah satu pekerjanya sambil tersenyum


“ Masi pagi kak, masi pukul 09.00. Mereka masi sibuk kekantor kak.” Balas Mia yang kemudian langsung duduk dikursi depan Jani, membawakan *chamomile tea* dan sepotong *clafoutis*. Mengobrol dengan asik sembari membicarakan hal ini dan itu. Jani memang baik, dia tidak pernah membedakan karyawan yang ada di toko kue miliknya, apa yang ia makan semua pekerjanya boleh mencicipinya juga. Tapi saat harus bekerja Jani sangat tegas.


Bunyi gemerincing dari lonceng kecil yang Jani gantung dipintu masuk toko menandakan ada pembeli yang memasuki toko kuenya.


“ Selamat datang di *La Petite Boulangerie*. Ada yang bisa saya bantu.” Ucap Mia dengan senyum. Beberapa saat tadi dirinya terkejut ketika berdiri menyambut pembeli itu, yang ternyata seorang pria tampan dengan setelan baju kantoran rapi.


Lelaki tinggi tegap, tampan, raut wajahnya tegas dengan mata hitam yang berpadu dengan alis mata yang tebal memberi kesan semakin tegas pada matanya. Hidungnya tinggi dan bibir tipis merah terlihat dia tidak pernah menyentuh rokok. Seketika setelah pria itu masuk Jani mampu menghirup aroma parfum pria itu, aroma tobacco bercampur rempah. Sontak membuat Jani berhayal yang bukan- bukan pada pria itu.


Jani menepuk – nepuk kepalanya perlahan. Mengusir khayalan laknat yang baru sja menghinggapi kepalanya. Bagaimana bisa dirinya yang sudah bertunangan dan tidak pernah berpikir pria lain selain Ian, mendadak mempunyai pikiran kotor hanya karena aroma parfum. Dan sialnya dia membayangkan dengan pria lain dan bukan tunangannya.


 


Shit.


 


Jani bangkit dari bangku tempatnya duduk. Mendekati Mia, menyuruh anak itu kebelakang. Ia harus mencari kesibukan sebelum pikiran kotor itu merajalela. “ Ada yang bisa saya bantu tuan?” Tanya Jani ramah. Hari ini Jani memakai blouse putih polos dengan celama jeans warna coklat, rambut hitamnya ia kuncir kuda sehingga menyisakam rambut- rambut tipis ditengkuk dan dekat telinganya. Dan seperti biasa dia enggan ber makeup. Hanya liptint tipis mengoles bibirnya yang sudah merah muda.


Diam. Pria didepannya tidak merespon sama sekali, hanya melihat Jani dengan pandangan meyelidik dari ujung atas sampai bawah kaki. “ Tuan ada yang bisa saya bantu?” kali ini dengan suara yang lebih kencang dan ada nada sedikit jengkel.


Lelaki itu memalingkan matanya memandang mata Jani. Tak bergeming sedikitpun. Melewati Jani, duduk dimeja yang berdekatan dengan jendela kaca. Jani menghela napas. Dia harus sabar.


 


Tampan engga ada akhlak


 

__ADS_1


“ Bawakan aku yang paling mahal.” Ujarnya pria itu acuh. Jani menatap pria itu lama, kemudian berjalan menuju etalase dan mengambilkan beberapa buah kue. Lalu membawakan menuju pria itu kemudian meletakkannya pelan.


“ Tidak ada kue yang mahal ditoko roti milikku, yang ada hanya roti yang membuatmu bahagia saat memakannya.” Ucap gadis itu kemudian pergi, dia tidak peduli pria itu memandangnya lekat setengah jengkel. Persetan. Orang yang tidak menghormati makanan tidak patut dihargai. Bagi Jani memasak bukan hal membuat makanan mahal atau tidak. Bahan premium kalau salah mengolah juga akan sama saja. Untuk Jani passion dan kecintaannya dalam bidang *patisserie*, membuatnya selalu membuat pastry dengan sepenuh hati, urusan mahal atau tidak belakangan bagi dirinya. Dengan melihat pelanggan yang memakan kuenya puas dan bahagia. Untuk Jani itu sudah lebih dari cukup.


Tiba- tiba ponsel Jani berdering, melihat siapa nama dilayar membuat Jani sumringah. Dengan cepat dia lari ke belakang menuju pantry.


“ Ochaann...kangen sekali. Kenapa tidak datang di acara pertunanganku?”


“ Aku sedang bersiap untuk ikut fashion show saat musim gugur nanti Jani..maafkan aku.” Ucap suara perempuan dari seberang sana. Ya itu adalah Hosanna Rosemaria, teman yang sudha seperti saudara perempuan bagi Jani. Karena mereka sama- sama anak tunggal dan kedua orangtua mereka sibuk yang menjadikan kedua gadis cantik ini saling akrab.


“ Tapi kau harus datang saat pernikahanku nanti .”


“ Kalau itu pasti Jani-ku.” Balas gadis yang dioanggil Ochan oleh Jani. Mereka menghabiskan waktu hampir 1 jam mengobrol. Tertawa lepas. Jani selalu bahagia bila berbincang dengan sahabatnya itu, begitu pula sebaliknya. Sudah tidak ada lagi rahasia diantara mereka berdua. Orangtuanya, orangtua Ochan. Bahkan, Ian kekasihnya selalu memberikan mereka waktu untuk girl time jika Ochan sedang berkunjung ke Indonesia. Ya, sejak mereka sama- sama memutuskan kuliaj di Paris dan bekerja sementara waktu disana. Jani memutuskan pulang ke Indonesia sedangkan Hosanna lebih memilih menetap di Singapore.


Puas berbincang Jani keluar dari pantry. Bersenandung kecil, sedetik kemudian dia terperanjat. Pria angkuh itu masi duduk dimejanya. Tidak beranjak dan tidak berubah satu sentipun dari awal dia duduk, bahkan *macaroon* yang ad didepannya tidak ia sentuh sama sekali. Jani menghela nafasnya lagi. Moodnya rusak lagi. Dia hampir melewati pintu tokonya untuk mengembalikan moodnya sebentar saat lelaki itu menanggilnya.


“ Bungkuskan semua kue disini. Jangan sampai ada yang tertinggal.”


“ Hah? Apa? “ Pekik Jani kaget.


Setelah terbungkus semua, asisten pria tersebut yang sudaah masuk saat bosnya memberikan tanda dengan tangan. Mulai melakukan pembayaran. Mengeluarkan *black card* yang membuat Mia terlonjak kaget. Selesai. Dan tidak ada satu kue pun tersisa ditoko mereka. Mia, menghibur Jani saat pergi itu sudah benar- benar menghilang dari toko mereka. Melihat big bossnya masi cemberut, Mis tau kalau gadis itu masi marah.


“ Kak jani, jangan cemberut. Nanti jelek waktu nikah.”


“ Sialan.Kenapa kamu turuti keinginan pria sombong itu?”


“ Hi Kak Jani, rejeki engga boleh ditolak tau,” katanya sambil menepuk- nepuk punggung Jani. “ kan justru kita hari ini bisa pulang cepat...Kakak bisa kencan sama babang ganteng.” Ucap Mia yang langsung dipelototi oleh Jani. Jani menghela nafas


“ Baiklah. Untuk hari ini kita tutup, kalian istirahat saja,” Ucapan Jani disambut semangat oleh Jani dan beberapa pekerja lain. “ tapi ingat besok datang lebih awal untuk membuat kue, karena stock kita kosong.”


“ Baik Boss.” Ucap mereka serempak. Jani langsung memicingkan mata. Mereka tertawa geli.


“ Hari ini tidak jadi pulang cepat.” Seru Jani berbalik arah dari pantr kekasir.


“ Kak Jani kami bercanda., sudah Kak Jani duduk manis di pantry. Aku mau closing kasir dan yang lain beberes.” Mia berkata sambil mendorong Jani masuk ke pantry untuk bersiap pulang. Mia tau sekali boss-nya itu tisak suka dipanggil boss. Aneh. Tapi biarlah penting hari ini pulang sangat cepat dan dia akan kencan.


Jani masuk keruang kerjanya, yang ad didekat pantry. Hari ini suasana hatinya buruk karena pria macam iblis itu. Ia bukanlah gadis yang *moody* tapi hari ini emosinya benar – benar sudah dirusak oleh pelanggannya itu. Biasanya dia selalu sabar, semenjengkelkan apapun pelanggannya, Jani tidak pernah sampai membuang nafas kasar didepan mereka. Hari ini pengecualian, dia sudah kalah dengan emosinya.

__ADS_1


Jani mengerutkan keningnya. Ia seperti merasa familier dengan pria itu. Cara duduknya, cara ia meyelipkan tangan disaku celana saat duduk. Siluet badannya dan caranya memandang Jani yang sukses membuat gadis itu mual. Ya. Betul. Seperti pria yang ad direstaurant saat ia makan bersama Ian, saat Ian memberinya cincin. Tpi Jani juga tidak terlalu yakin, karena tempat itu tidak cukup terang sehingga dirinya tidak bisa melihat jelas wajah lelaki itu.


Pucuk dicinta ulam tiba, Ian seperti tahu suasana hati Jani hari ini. Lelaki itu menelpon. Melakukan panggilan video


“ Halo sayang,” kecap Jani manja.


“ Sudah makan?” yang hanya dijawab dengan gelengan kepala saja oleh si empunya. “ mau makan bareng yang? Aku beli makan lalu kita makan di toko aja ya?” Ujar lelaki itu meminta persetujuan Jani.


“ Kita keluar saja, toko juga sudah tutup.” Gadis itu menimpali sembari mulai bersiap-siap.


“ Maksudnya sayang?”


“ Nanti aja aku cerita yang, cepat jemput aku. Aku tunggu ya.” Kata Jani lagi yang langsung disusul dengan matinya panggilan video. Jani menghela nafas lagi, sepertinya kencannya kali ini akan diisi curhatan unek – unek pada tunangannya itu. Dan, ya, Jani memang membutuhkannya untuk saat ini.


 


**


 


Jam sudah menunjukkan pukul 21.00, seperti biasa Ian sudah mengantar Jani pulang. Hari ini mereka puas berkencan. Pergi ke Dufan, nonton bioskop sampai makan malam. Kalau saja papa Jani tidak memberikan batasan jam malam, mungkin Jani masi belum ingin pulang. Suasana hatinya sudah kembali, Ian memang *mood booster* paling ampuh untuk Jani. Sesaat setelah mengeluarkan semua kekesalan unek-unek pada kekasihnya itu, semuanya membaik. Emosinya kembali stabil. Dan disinilaj mereka berhenti sekarang. Didepan pekarangan rumah Jani.


“ Sayang udah jam 21.10, ayo aku anter masuk...nanti papa marah yang,” Kata Ian membujuk Jani yang masi memeluknya manja. “ ayo sayang. Besok masi bisa ketemu lagi kok.” Ucapnya lagi, sembari melepas sabuk pengaman kemudian keluar dan membuka pintu untuk Jani.


Kebiasaan Ian sehabis berkencan selalu mengantar Jani sampai masuk rumah. Dia selalu menghargai Jani, wanitanya.


“ Oh ada tamu sepertinya.” Seru Jani saat melihat mobil mewah berwarna hitam terparkir tepat dipintu masuk rumahnya. Sesaat Jani heran, dia asing dengan mobil ini. Jani hapal semua mobil rekan bisnis ayahnya. Dan hampir 2 tahun dia kembali ke rumah lamanya ini tidak pernah ada teman papanya yang memakai mobil ini.


Dan benar saja. Saat Bi Ira membuka pintu. Dari arah ruang tamu dia bisa melihat ayahnya sedang berbincang-bincang dengan seseorang yang hanya bisa ia lihat siluetnya saja. “ Yang langsung pulang aja. Papa baru ad tamu, nanti aku kasi tau papa kalo kamu dari sini.” Ucap Jani setalah mereka sampai didepan pintu rumahnya. Ian mengangguk, mengecup kening Jani lalu membisikkan kata *I love you my queen*. Pelan, tapi membuat pipi Jani panas


“ *I love you too my King*.” Ian berbalik menuju mobil. Jani masi melihat diri Ian, sesekali melambai. Sampai mobil Ian benar – benar hilang dari pandangannya. Langsung ia berbalik menuju lantai dua, sampai...


“ January, ada seseorang yang mau bertemu denganmu sayang. Kemarilah sebentar.” Jani heran, tumben ayahnya memperkenalkannya pada kolega bisnisnya. Biasanya papanya justru marah jika ada yang mengganggu pembicaraan mereka. Ada perasaan was – was tidak enak, namun papanya sudah memanggil mau bagaimana lagi. Pelan Jani melihat ada seorang lelaki memakai jas rapi duduk membelakangi dirinya.


“ Kemari nak,” papanya menepuk sofa disamping Jani. Menurut. Jani duduk, setelah mendongakkan kepalanya alangkah kagetnya gadia itu. Pria angkuh, sombong. Yang menghancurkan mood nya hampir satu hari ini. Dan pria itu kini ada didepannya. Tersenyum dengan tangan dilipat didepan dada dan nampak akrab dengan ayahnya.


 

__ADS_1


__ADS_2