Timeless Winter

Timeless Winter
BAB 12


__ADS_3

 


“ Sayang....ini kenapa?” Mata Ian membulat ketika sadar yang ada digenggamannya adalah cincin tunangan milik wanitanya. “ Kau bosan..?? Kamu ganti model cincin?” tanyanya lagi, dan ketik wanita dihadapannya tidak bergemin sama sekali, Ian mendadak panik. “ Jani...!!! Ada apa??” ucapnya sembari menggoyang pundak Kinan.


Gadis itu hanya diam, memandang Ian dengan tatapan entah seperti apa lalu berpaling, menjatuhkan pandangannya pada sinar senja yang menabrak air laut. Berpendar dan pecah, tak berbentuk, sama seperti hatinya sekarang. “ Lihat aku Jani!! Lihat aku...!!” bentak Ian sambil memegang dagu Jani agar wanita itu berpaling melihatnya.


“ Mari kita berpisah Julian...mari kita menjadi dua orang yang asing seperti dulu.”


“ Apa maksudmu Jani??? Jangan bercanda!!”


Kinan menepis tangan Ian dari pundaknya, “ Jangan mencariku lagi Ian..!! Jangan merindukan aku lagi...!!”


“ Kau kenapa Janiku...astaga...ada apa ini? Kau tau aku tidak bisa jika tidak denganmu.”


“ Cari orang yang lebih membutuhkanmu Ian...seseorang yang tidak bisa hidup dan akan mengikutimu kemanapun kamu pergi sayang....bahagialah demi aku Ju..!!!”


“ Kau kenapa Jani...Ada apa?” Ian mulai frustasi, dirinya mulai memukul samping-samping tempat duduknya. Kinan tau itu kebiasaan Ian jika dirinya sedang kalut, bahkan saat Ian masuk penjara, lelaki itu tidak kalut sama sekali. Daan sekarang lelaki didepannya itu kalut karena dirinya.


 


Oh tuhan...dia gelisah...aku ingin memeluknya, maafkan aku sayang.


 


Sekuat tenaga Kinan menahan airmata yang hampir meluncur dari matanya. Jika keadaan tidak seperti ini, Kinan pasti sudah memeluk Ian, menenangkannya, menepuk pundaknya, tapi tidak bisa karena dirinya pasti akan goyah lagi.


 


Ini demi kebaikanmu.


 


Kinan sadar bianglala itu sudah berputar hampir kembali kebawah. Buru-buru dirinya mencium lelaki, membuka kenop pintu wahana, lalu cepat-cepat melompat saat bianglala sudah menyentuh tanah lalu membanting pintu itu lagi agar tertutup. Kinan memang sudah memperhitungkan dari tadi sehingga ia sudah membuka kunci pintu sedari tadi.


Dirinya memang nekat melakukan itu, karena jika menggunakan cara biasa Ian pasti dapat mengejarnya dan dipastikan dirinya kalah cepat. Hanya ini satu-satunya cara menghindari Ian tanpa lelaki itu banyak bertanya dan memohon, karena ia tahu pasti dirinya akan luluh pada pandangan Ian.


Disisi lain Ian baru sadar Kinan sudah melompat turun setelah menciumnya dengan cepat. Lelaaki itu dengan cepat melihat kebawah dan hampir ikut melompat juga tapi terlambat, diputaran kedua bianglala berputar lebih cepat sehingga dirinya sudah hampir mencapai puncak vertikal wahana tersebut. Jika sekarang ia melompat mungkin besok dirinya tidak akan bisa bertemu dengan wanita pujaan hatinya lagi.

__ADS_1


Sedangkan Kinan masi berdiri dibawah sambil mendongak keatas, melihat tempat rumah\-rumah kecil yang ia naiki bersama Julian tadi, tapi untuk kali ini dia tidak setegar tadi, tidak sehebat tadi. Karena sekarang Kinan sedang menangis. Dirinya menangis seperti anak kecil, semakin lama semakin keras, semakin menyakitkan. Air matanya luruh semakin banyak. Luruh. Benar- benar luruh tanpa bisa ia hentikan.


Seperti putaran pertama tadi, bianglala tersebut berhenti sekitar 3 menit. Tapi kali ini rumah-rumah dari bianglala yang dinaiki oleh Julian tidak berhenti tepat digaris lurus vertikal. Sedetik...dua detik...tiga detik Kinan memandang Julian yang tetap menjulurkan kepalanya keluar. Mata mereka terkunci satu sama lain, walau jauh dan tidak terlihat tapi Ian tahu kalau kekasihnya itu sedang menangis. Ingin rasanya dia melompat dari atas untuk menyusul Kinan, tapi dia masi memiliki akal sehat dan sekali lagi akal sehatnya membuat dirinya takut untuk mati.


Bukan takut karena apa, hanya takut tidak bisa bertemu dengan Kinan kembali untuk menuntut kejelasan. Julian masi termenung memandang kebawah, memandang siluet Kinan yang tampak tidak jelas, hingga dirinya tidak sadar gadis itu sudah pergi dari tempatnya berdiri tadi.


Kinan berlari menuju pintu keluar, dengan tangisan yang belum juga berhenti, ia menghentikan taxi “ Pondok Indah.”


“ Tapi neng...”


“ Jalan saja pak.” Ucap Kinan lagi, ia tidak peduli seberapa mahal biaya taxinya, ia akan bayar. Dirinya hanya ingin pergi, menenangkan dirinya. Karena itu ia memilih pergi mengunjugu rumah Axelle dan bermaksud menginap disana, dengan dalih tidak ingin bertemu Julian untuk saat ini. Pelan-pelan Kinan sudah mulai tenang, dirinya mulai melihat foto yang ia ambil tadi bersama Ian. Berkali-kali juga ia mendapat panggin dan ratusan chat dari pria itu, tapi dia tidak berani membukanya. Pengecut, Kinan menganggap dirinya pengecut sekali.


Kinan sampai didepan rumah mewah dengan didominasi warna putih dan cream. Rumah milik Axelle, gurunya saat ia pertama kali kembali ke Jakarta. Orang yang dirinya hornati sampai sekarang. Belum juga ia memencet bel, tangannya sudah ditarik oleh seseorang.


“ Mau selingkuh lagi...?” ucap seorang pria dengan sarkas sembari menarik tangan Kinan dengan kasar. “ Kau bertunangan lalu berkencan dengan pria sembarangan..! Sekarang kau juga pergi kerumah seorang pria..!! Mau apa...heeehhh....mau selingkuh lagi dariku..!!!” tukas Reynold sambil menyeret Kinan menuju mobilnya, lalu mendudukan Kinan dikursi sebelah miliknya, memasangkan sitbelt lalu membanting pintu mobilnya.


“ Duduk atau kau ingin laki-laki itu mati..!!!” geram Reynold saat melihat Kinan mencoba melepas sitbeltnya. Tak mau menunggu Reynold langsung mengendarai mobilnya menuju ke suatu tempat.


“ Kenapa kau bisa tau aku kerumah Axelle..?”


“ Oh lelaki barumu itu bernama Axelle..!! Berani sekali kamu menyebut nama pria lain didepanku.” Tukas Reynold sembari meremas setir mobilnya. “ Kau mau agar pak tua itu aku beri pelajaran juga...!!”


“ Jika berkaitan dengamu tidak sweety..”


“ Lalu kenapa kamu bisa tau rumah Monsièur Axelle??” Reynold mengangkat pundaknya. “ Kau memata-mataiku lagi? Reynold jawab...!!!”


“ Demi kebaikanmu.!!” Tegas Reynold dengan sedikit senyuman. Akhirnya sepanjang perjalanan mereka berdua hanya tidak berbicara apapun lagi. Sampai akhirnya mereka tiba dirumah yang sangat mewah dan megah, berkali lipat lebih indah dari rumah Axelle. Kinan kagum, selama ini dia kira ruma Axelle lah yang paling megah yang pernah ia datangi. Setelah turun dari mobil mewah Reynold, dirinya sudah melihat tangga menuju pintu masuk terbutsari batu\-batuan dengan tanaman hias dikanan kiri. Persis seperti yamg biasa a temui diresort bintang lima.


“ Kau suka..?”


“ Ini bukan rumahku, jadi untuk apa aku suka.”


Setelah pintu rumah dibuka. Kinan langsung disambut oleh nuansa khas bali, dengan pendopo ditengah dan pobon palem dipinggirannya. Tidak hanya itu ada kolam kecil yang mengelilingi pendopo tersebut yang dan dari pintu menuju pendopo dan menuju rumah utama dihubungkan oleh jalan setapak yang terbuat dari kaca dan pinggirannya dihiasi lampu, sehingga saat malam jalan masuk itu sangat indah.


Setelah memasuki pintu utama yang ternyata otomatis. Mata Kinan langsung disuguhi selasar panjang dengan pemandangan yang sangat cantik. Disebelah kiri, Kinan melibat ada taman dengan lantai dibuat dari bebatuan indah. Tidak lupa ada berbagai macam bunva dan juga pohon palem, membuat suasana ditaman itu amat sangat teduh. Reynold juga menaruh sofa dengan aksen kayu cantik, lelaki itu juga menaruh beberapa burung hias disana. Lalu menaruh kaca tipis diatasnya agar ketika hujan taman kecil itu tidak basah.


Lanjut kebagian kanan rumah terdapat kolam renang yang sangat luas dan uniknya didalam kolam renang tersebut terdapat kolam renang kecil berbentuk bulat yang merupakan jacuzi, pemandangan dari kolam tersebut langsung tempat barbeque, lapangan golf dan danau. Selesai melihat lantai 1 Reynold mengajak Kinan menuju lantai 2 menggunakan lift. Saat lift terbuka yang pertama terlihat adalah living room, yang nyaman dengan sofa besar panjang, karpet bulu hangat,televisi dan juga ada piano diujung ruangan itu. Dan baru Kinan sadar ternyata ruangan ini didominasi kaca.

__ADS_1


Dan dari living room tersebut terdapat balkon dengan pematas kaca, balkon yang langsung bisa melihat kearah swimming pool, lapangan golf dan danau, lanjut mereka kearah dapur dan ruang makan yang hanya disekat tembok kaca juga. “ Kau sudah makan?” tanyan Reynold.


“ Hah kau bercanda..? Kamu punya personal chef?”


“ Kamu tidak suka..? Akan kupecat kalau begitu.?”


“ Gila..!!” kata Kinan sembari memutar bola matanya lalu pergi. Entah Kinan nelanhkah kemana ia tiba disebuah selasar seperti tadi hanya bedanyanya lorong yang sekarang tertutup tembok kaca dan menghubungkan antara gedung yang awal tadi dengan bangunan yang sekarang ia tidak tau apa.


“ Rupanya kau tidak sabar melihat kamar kita berdua sweety.” Smirk Reynold. Kinan anh mendengar itu kaget, bersiap untuk berbalik tapi Reynold sudah menahan tangannya lebih dulu. Ternyata betul setelah melewati lorog tersebut ada sebuah pintu dari kayu jati yang saat dibuka terdapat kamar mewah dengn tempat tidur besar dan dihiasi kelambu, lalu karpet bulu disepanjang ruangan itu. Dan lagi-lagi didominasi tembok kaca dan hanya ditutupi kelambu saat malam.


“ Kenapa semua kaca..?”


“ Kau tidak suka sweety? Kau takut saat malam pertama ad yang melihat kita? Tenang saja...aman sayang” uca Reynold sambil memainkan dagu Kinan.


“ Aku tidak bercanda Reynold..!!”


“ Aku juga sweety..” Ucap Reynold mengejek. Dan itu membuat Kinan menghentakan kakinya marah. “ Lihat sayang, ini kamar mandi dan sudah ada walk in closet didalam.” Dan ucapan pria itu membuat Kinan berlari kecil kearahnya


Dan betul saja apa yan dikatakan Reynold, Kinan saja hampir pingsan saat melihat betapa mewah dan luasnya kamar mandi dikamar itu ditambah walk in closet milik Reynold sudah termasuk didalamnya dan lengkap.


“ Ini milik siapa?” ucap Kinan saat melihat perlengkapan milik perempuan.


“ Milikmu sweety.”


“ Hah...maksudnya.”


“ Mulai hari ini kau tinggal disini sweety.” Ucap Reynold mengecup bibir Kinan sekilas lalu pergi. Tidak terima Kinan mengejar Reynold, “ Kenapa sayang? Kurang ciumannya? Nanti akan kuberi setelah menikah oke...!!”


“ Kau gila...aku tidak mau...aku mau pulang!!”


“ Untuk apa? Aku sudah meminta ijin orangtuamu.”


“ Lalu barang-barangku? Jaket chefku?”


“ Sudah kubereskan semua.” Ucap Reynold sambil menunjuk walk in closet. Buru-buru Kinan membuka lemari ternyata benar. Sebagian baju santai daan juga jaket chefnya sudah ada didalam lemari. Ia tadi tidak melihatnya karena hanya menengok dari luar, saat ia membuka lemari itu langsung Kinan merasa lemas.


 

__ADS_1


Oh Tuhan cobaan apalagi ini.


__ADS_2