Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 10 Jalan takdir


__ADS_3

Entah sebuah keberuntungan atau malah sebuah musibah. Yang jelas, hidup kedua bersaudara tersebut tak lagi bebas. Mereka bahkan terikat sangat kuat dengan hal yang tak pernah mereka pikirkan sebelumnya.


Bukan hanya perbedaan jenis, bentuk dan juga sifat. Namun yang paling menonjol adalah beda prinsip. Sebagai manusia normal pada umumnya, Leo tentu mengerti akan aturan, adat dan juga tata krama dalam bersikap seperti yang diajarkan oleh ke dua orang tuanya dulu.


Namun di istana ini semua itu justru tak berlaku selain hukum rimba. Yang menang dialah yang akan di puja dan di hormati. Dan tentu saja, menjadi dari orang yang berpengaruh membuat Leo merasa tak nyaman.


Jika sebelumnya dirinya hanya dihormati sebagai manusia yang menjadi sahabat pangeran mereka. Namun kali ini sedikit berbeda. Pertemuannya dengan yang mulia Gara membuat namanya menjadi ikut tertarik dalam sederetan nama petinggi istana yang disebutnya sebagai istana ular tersebut.


Ario bahkan lebih sering mendatanginya kini. Pemuda dengan mata hijau tersebut menjadi satu satunya perantara komunikasi antara dirinya dengan Gara. Mengenai perkembangan pangeran Derrick tentunya. Namun yang membuat Leo selalu bersemangat adalah sang kakak.


Kedua pemuda tersebut bisa saling melihat satu sama lain melalui sebuah kaca, meski hanya bisa menatap tanpa bisa berbicara maupun saling menyentuh itu sudah lebih baik menurut mereka. Dapat melihat wajah dan juga keadaan mereka satu sama lain itu membuat hati keduanya lebih hangat. Setidaknya mereka masih punya kesempatan untuk bertemu nanti, meski entah kapan waktu itu akan datang. Yang jelas mereka bahagia kini.


*


*


*


Sebagian manusia menganggap hal tabu adalah hal yang tak boleh dilakukan atau tak boleh di sentuh meski hanya seujung kuku. Mereka sering kali menganggap orang lain berbohong ketika mengutarakan sesuatu yang bersifat ghoib. Namun sejatinya semua itu nyata dan ada disekitar kita.


Tidak mengharuskan kita untuk percaya namun setidaknya bisalah kita menghargai kehadiran mereka yang nyata ada meski tak pernah terlihat dengan mata orang awam.


Mungkin itu adalah satu gambaran yang bisa diambil dari apa yang Arsen maupun Leo jalani saat ini.


Istana ular yang didiami Leo saat ini ternyata berada tak jauh dari kediaman nya sendiri. Berada di tengah halaman belakang kediaman keluarga Gerald yang memang hanya terlihat seperti taman yang sangat luas dengan kolam ikan dan juga berbagai macam kandang hewan peliharaan. Setidaknya itu yang dulu selalu Leo ingat dari halaman belakang itu.

__ADS_1


Namun kini, hati Leo bahkan merasa sakit ketika melihat tempat yang dulu menjadi tempat favorit baginya setelah pulang sekolah, apalagi jika bukan bermain bersama hewan hewan yang memang dipelihara disana.


Taman yang indah dengan berbagai macam bunga dan pepohonan buah buahan kini terbengkalai. Bahkan hewan dimanapun sepertinya sudah tak ada lagi. Terbukti dengan keberadaan kandang kandang yang telah kosong dan dalam keadaan rusak.


Tak beda jauh dari itu, kolam yang dulu berair jernih karena memang selalu terawat kini berubah hijau airnya. Banyak lumut dan juga dedaunan kering yang memenuhi permukaan kolam.


Leo mengedarkan pandangannya kesegala penjuru taman. Masih teringat dengan jelas ketika terakhir kali dirinya berada di tempat ini. Di sudut sebelah kiri dimana terdapat tiga buah kandang kelinci. Disanalah dirinya menyaksikan ayahnya dan Sena meregang nyawa.


Leo menutup erat matanya, hatinya selalu sakit ketika bayangan bayangan itu hadir dalam ingatannya. Kelebatan masa lalu kembali hadir membuat kedua matanya berembun seketika.


"Tenangkan hatimu!! bayangan itu akan terus datang jika kamu tak ikhlas dengan semuanya. Bukankah itu yang biasanya dilakukan oleh bangsamu?"


Gara menepuk pelan pundak Leo. Dia seperti tersadar untuk apa dirinya datang kerumah ini kembali. Ada satu misi yang harus dia lakukan saat ini.


Leo menganggukkan kepalanya, pemuda tersebut pada akhirnya berlalu menyusuri lorong demi lorong rumah mewah yang masih nampak rapih seperti dulu. Berbeda dengan halaman belakang yang memang dibiarkan terbengkalai sepertinya.


Hanya Ario yang kini berjalan bersama dengan Leo menuju kamar utama. Kamar mendiang Sena dan tentu kamar yang pernah ditempati oleh Gara selama menjadi manusia.


Sebuah kotak kecil yang menyerupai lemari berada di balik meja rias adalah tujuan keduanya. Disana tersimpan kalung dan mahkota milik Sena ketika wanita cantik tersebut berkunjung ke istana sang suami.


*


*


*

__ADS_1


Arcila mematuk dirinya di depan cermin. Wajah cantik, kulit putih dengan rambut yang di potong sebahu juga pemakaian softlens untuk menunjang penyamarannya terlihat sudah sempurna. Tak lupa gadis cantik tersebut memoleskan bedak tipis-tipis yang membuatnya semakin percaya diri.


Tepat jam 7 malam, Arcila keluar dari kediaman seorang diri. Malam ini pertama kalinya dirinya keluar sendiri meski tujuannya sudah sangat jelas yaitu menjemput Arsen di kantor properti yang baru dirintisnya.


Meski ada sedikit keraguan dalam hatinya. Gadis itu tetap melajukan mobilnya dengan tenang. Sementara itu di kantornya, Arsen yang masih menerima tamu nampak sedikit gelisah. Hatinya gunda namun dirinya tak tahu kenapa.


Berusaha fokus meski harus beberapa kali hilang fokus sampai akhirnya pembicaraan tersebut berakhir juga. Namun bukan berarti dia bila langsung bernafas legah. Karena sepertinya sang tamu masih betah untuk mengajaknya mengobrol.


"Saya sangat senang bisa berkenalan apalagi bekerja sama dengan anak muda yang penuh dengan telenta seperti, nak Alan. Terus terang dijaman sekarang ini tidak banyak anak muda yang mau bersusah paya memulai usaha dari nol"


Arsen hanya menanggapi semua dengan senyuman tipis. Usaha yang sebenarnya sudah dirintis oleh sang ayah sejak lama. Namun, untuk saat ini Arsen hanya ingin membuka jalan untuk bisa mendekati tujuannya.


"Kalau boleh saya tanya hal pribadi, apa nak Alan sudah ada calon? ehm maksud saya, siapa tahu nak Alan punya keinginan untuk ber rumah tangga dalam waktu dekat. Kebetulan anak gadis ini belum punya pasangan. Yang sekiranya bisa untuk kalian saling kenal dulu mungkin.Mungkin saja kalian berjodoh nantinya." Ucap lelaki usia sekitar 45 tahun tersebut antusias.


Sang anak yang duduk disebelahnya nampak tersipu malu sambil sesekali mencuri pandang ke arah Arsen meski pemuda dihadapannya tak memberi respon apapun.


Perawakan Arsen atau yang dikenalnya sebagai Alan yang kalem, tampan dengan tubuh atletis juga sebagai anak muda mandiri dengan usaha properti yang mulai dilirik di kalangan perusahaan meski baru saja melebarkan sayapnya, membuat semua orang tertarik pada pemuda itu.


"Maaf Pak." Arsen mengangkat tangan kirinya, menunjukkan sebuah cincin yang melingkar indah dijari manis itu.


"Ah, anda sudah bertunangan rupanya. Tapi tak masalah, orang yang sudah menikah saja bisa goyah apalagi cuma bertunangan, jodohkan tidak ada yang tahu. Benar kan?" Kelakarnya membuat Arsen mengerutkan dahi.


"Mungkin benar bagi orang lain, tapi tidak untuk saya. Bagi saya tak ada yang baik selain dirinya. Maaf saya rasa pembicaraan kita sudah sangat keluar jalur, saya hanya akan membahas pekerjaan disini, bukan tentang hal pribadi." Tegas Arsen dengan senyum tipis di bibirnya.


Arcila yang kebetulan sudah berdiri di balik pintu ruangan Arsen sedikit bernafas legah. Lelaki itu benar-benar membuktikan ucapannya. Dengan senyum mengembang gadis cantik tersebut membuka pintu yang memang tak tertutup sempurna itu.

__ADS_1


"Sayang!!" Sapanya dengan melayangkan senyum manisnya seolah tak melihat keberadaan dua orang yang sedang menatapnya kini.


__ADS_2