Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 14. Persiapan Pertemuan


__ADS_3

Beberapa bulan berlalu penuh dengan ketenangan meski Arcila masih mengalami hal hal yang diluar nalar. Namun gadis cantik tersebut tak lagi memusingkan semua yang terjadi selagi dirinya baik baik saja.


Namun hari ini semua nampak sedikit berbeda. Arsen yang memang menyiapkan sebuah pesta kecil untuk memperingati hari ulang tahun Arcila. Hari ini genap 20 tahun usia gadis cantik tersebut yang artinya, waktu bagi dirinya juga untuk mengetahui semua nya.


Semalam, Ario datang atas perintah Gara. Pemuda tersebut hanya menyampaikan pesan agar Arsen bersiap untuk nanti malam. Oleh karenanya pesta kejutan sengaja Arsen berikan pagi ini untuk sang pujaan hati.


Sebuah pesta kebun dengan berbagai macam bunga sebagai hiasan serta beberapa hidangan yang menggugah selera Arsen pesan. Keduanya sepakat untuk melakukan pesta di sebuah panti asuhan yang tak jauh dari kediaman mereka. Tanpa perlu mengundang banyak tamu karena mereka hanya menginginkan doa dari penghuni panti.


Arcila menitihkan air matanya, pesta kedua yang dilaluinya tanpa kehadiran sang mama, kakek serta neneknya. Pesta ultah yang seharusnya menjadi hal yang ditunggunya sejak beberapa tahun lalu.


Sebuah hadiah yang dijanjikan sang mama padanya kala itu. Sena pernah menjanjikan akan mempertemukan sang ayah dengannya jika nanti usia Arcila sudah menginjak 20 tahun. Dan saat inilah yang dinantikannya.


"Kenapa cemberut?" Arsen memeluk gadis cantik dengan gaun biru muda tersebut dari belakang. Keduanya masih berada diganti, menyaksikan anak anak yang kurang beruntung itu sedang bermain dan bersenda gurau bersama seolah tak ada beban dalam diri mereka karena hanya ada tawa disana.


"Tidak ada. Aku hanya teringat mama." Lirihnya nyaris tak terdengar.


"Mama sudah bahagia disana, kita hanya bisa mendoakan saja dari sini. Aku yakin, beliau sedang tersenyum melihat putrinya yang sudah tumbuh semakin dewasa."


"Aku nggak tahu apa yang akan terjadi padaku jika tak ada kakak. Bagaimana Aku menjalani hari sendiri tanpa tahu harus melakukan apa."


"Karena takdir kita memang sudah diatur begini, sayang. Dan seterusnya aku ingin kita seperti ini, hingga nanti kita menua dan mati." Arsen menyuarakan keinginannya meski dirinya pun tak yakin akan ucapannya. Terlebih dengan apa yang akan mereka lalui nanti malam.

__ADS_1


Arcila menolehkan wajahnya, memberanikan diri mencium pipi Arsen singkat. Arsen tersenyum sambil mengeratkan pelukannya. Tanda dikening Arcila sudah samar terlihat.


Beberapa kali gadis itu membicarakan hal ini dengannya. Namun, Arsen merasa tak punya hak untuk menceritakan semua pada Arcila membuatnya hanya bisa menenangkan gadis itu.


Tak hanya tanda tersebut yang mengganggu pikiran Arcila. Namun perubahan matanya yang menggelap dan titik biru ditengah pernah ditangkapnya dalam keadaan sadar. Dia yang merasa panas disekujur tubuhnya tanpa sengaja menatap kaca yang berada di kamar mandinya. Disanalah dirinya melihat perubahan pada tubuh dan wajahnya.


Ragu untuk bercerita pada Arsen pada akhirnya dia hanya berani menceritakan tentang mimpinya yang bertemu dengan seseorang dengan wajah mirip dengannya namun dengan mata yang biru menyala.


Sisik menyerupai sisik ular juga mulai tumbuh di sekitar ketiaknya ketika dirinya merasa kesal atau marah. Karena itu, sebisa mungkin Arcila membuat moodnya selalu baik agar wajah mengerikan miliknya tak terlihat lagi.


*


*


*


"Kamu sudah siap, nak?"


Derrick menganggukan kepalanya penuh keyakinan. Dia sangat ingin bertemu langsung dengan sang adik. Dua bulan terakhir, dirinya hanya bisa memantau saudara nya tersebut secara diam diam.


Menikmati segala perubahan yang terlihat dari wajah dan cara gadis cantik itu setiap harinya. Derrick bahkan bisa melakukan hal itu saja sepanjang hari.

__ADS_1


Gara tersenyum, hari ini adalah awal petualangan yang akan dijalani oleh kedua anaknya. Meski mereka berbeda namun banyak kesamaan dan juga ikatan batin diantara keduanya akan terus terjalin bahkan semakin kuat. Meski Arcila hanya bisa memasuki dunia Derrick beberapa jam saja setiap harinya namun tidak untuk Derrick.


Pangeran tampan tersebut bisa kapan saja keluar masuk dan berubah jadi seperti manusia pada umumnya tanpa perlu takut akan kehabisan waktu.


Gen siluman dalam diri Derrick yang kental memungkinkannya untuk itu. Sementara Arcila sebaliknya, dia tak akan kuat berada di dunia di mana sang ayah dan kakaknya hidup.


Bagaimana dengan Leo?


Sama halnya dengan Ario, Leo menjadi manusia kedua yang beruntung karena telah diselamatkan dengan menggunakan darah siluman pada waktu itu. Hanya saja, darah yang mengalir pada tubuh Leo bukan lagi darah murni seperti milik Gara yang mengalir dalam tubuh Ario.


Jadi, bisa dibilang Leo hanya mempunyai sesuatu yang special yang membuatnya bisa hidup didua dunia tanpa hambatan.


"Ingatlah, setelah ini tugasmu akan semakin berat. Kau perlu menjaga adikmu apalagi disetiap malam bulan purnama ke dua. Tubuhnya akan melemah dan sisi dirinya yang lain akan muncul dan wujudnya akan sedikit nampak meski dia tak akan berubah sepenuhnya seperti dirimu. Namun disaat itulah kekuatannya akan melemah. Tanamkan pada dirimu keyakinan bahwa adikmu itu adalah manusia dan seperti manusia pada umumnya dia memiliki fisik yang tak setangguh kita. Adikmu juga mempunyai kekuatan mengendalikan pasukan ular. Akan tetapi sejauh ini dia belum menyadari semua itu. Kau bisa masuk ke dalam raganya saat adikmu benar-benar dalam bahaya, kalian berdua bisa bersatu dalam satu raga. Tapi hanya kamu yang bisa melakukan semua itu pangeran." Gara berujar sambil menepuk nepuk pelan bahu sang putra.


Wajah yang nyaris sempurna dengan tatapan tajam, rahang yang tegas serta bibir tipis juga badan yang tegap membuat orang yang bertemu dengan perwujudan Derrick yang seperti ini tak akan mengira jika pemuda tersebut adalah sosok siluman ular yang mematikan.


Gara telah membekali putranya tersebut dengan berbagi hal yang boleh atau tak boleh dilakukannya nanti jika dia berniat untuk berkunjung ke dunia manusia.


Malam datang membuat Arsen semakin gelisah dalam diamnya. Banyak hal yang dipikirkan olehnya terutama tentang Arcila kedepannya. Arsen menggelengkan kepalanya pelan ketika kembali terbayang wujud Arcila yang sempat dilihatnya beberapa kali ketika gadis tersebut kambuh.


Wujud bayangan ular besar berwarna kuning dengan corak yang indah namun dengan mata yang menyala merah nampak samar terlihat menyelimuti tubuh Arcila yang tak sadarkan diri. Meski akalnya berusaha untuk menolak keras namun kenyataan seolah kembali menghantamnya.

__ADS_1


Bahkan Gara pun sempat menampakkan wujud aslinya pada Arsen hanya ingin menunjukkan bahwa apa yang dilihatnya adalah nyata, dan itulah wujud Cila dalam dunia yang berbeda.


__ADS_2