Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 23 Jebakan


__ADS_3

Arsen mengernyitkan dahinya ketika melihat sang sekertaris berada di ambang pintu yang baru saja dibukanya. Gadis itu nampak tersenyum manis dengan nampan berisi segelas kopi ditangannya.


Dengan gerakan lambat diselipkan nya rambutnya secara perlahan dan tetap mempertahankan senyumannya di bibir.


"Ada apa? kenapa kamu kembali?"


"Maaf, pak. Saya pikir anda memerlukan secangkir kopi untuk menemani bekerja. Saya lihat pekerjaan anda menumpuk hari ini. Jadi saya berinisiatif untuk membuatkan anda secangkir kopi sebelum saya pergi."


Gadis itu melangkah masuk tanpa menunggu dipersilahkan oleh Arsen. Pemuda itu semakin merasa aneh dengan tingkah sekertaris nya yang baru sebulan lalu bekerja itu.


Dengan langkah pelan gadis yang bernama Nana tersebut mendekati meja kerja Arsen dan meletakkan kopinya juga dengan gerakan pelan.


"Lain kali tidak perlu membuatkanku minuman sebelum aku minta. Tapi ya sudahlah, terimakasih."


Arsen menatap bingung Nana yang tak bergeming di tempatnya. Gadis itu masih berdiri dengan senyum yang masih tersinggung di bibirnya.


"Ada apa lagi? bukannya sudah beres, jadi silakan kembali ke ruangan kamu."


"Saya hanya ingin memastikan anda meminum kopinya dulu pak, saya takut rasanya kurang pas." Ucapnya dengan suara lirih.


"Tidak perlu, nanti saya minum. Sekarang silakan kembali ke ruangan kamu." Arsen sedikit curiga dengan gerak gerik Nana yang tak seperti biasanya.


"Tapi, pak."


"Saya bilang kembali ke ruangan kamu, Na. Apa perlu saya mengulanginya berkali-kali?" Arsen sedikit menaikkan nada suaranya.


"Baiklah, pak saya permisi. Bapak jangan sampai lupa meminum kopinya ya." Ucapnya lembut sambil tersenyum dan kembali menyelipkan rambutnya di belakang telinga.


Setelah kepergian Nana, Arsen segera menutup pintu kembali. Pemuda itu menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan tingkah Nana yang menurutnya aneh itu.


Leo yang sudah keluar dari kamar mandi beberapa menit lalu mendekati meja kerja sang kakak dimana secangkir kopi yang masih mengepul itu tersaji disana. Instingnya mengatakan ada yang tak beres dengan kopi tersebut namun dirinya tak tahu apa.

__ADS_1


Ditatapnya minuman berwarna hitam pekat dengan baunya yang khas itu lekat lekat. Leo mencelupkan jari manisnya ke arah cangkir dimana disana cicin bekal dari Gara melingkar sempurna.


Cincin dengan mata putih tersebut tiba-tiba berubah berwarna keunguan. Leo membelalakan matanya seraya menoleh ke arah sang kakak yang kini sama terkejutnya.


"Kak, kunci sebentar pintunya."


Dengan sigap, Arsen segera mengunci pintu dan kembali melihat apa yang dilakukan sang adik. Lagi lagi Leo mencelupkan jari manisnya dan kembali batu permata dalam cincinnya berubah warna.


"Siapa yang membuat kopi ini, kak?"


"Nana, dia sekertaris ku yang baru. Baru bekerja sekitar sebulan yang lalu. Ada apa?"


"Ada yang tak beres dengan kopi ini, kak. Lihatlah, permata nya berubah warna. Cincin ini pemberian yang mulia. Beliau berpesan agar aku selalu berhati-hati menjaga pangeran. Siapa sangka cincin ini malah berguna untuk membantu kakak pertama kali."


"Tapi apa motif Nana melakukan hal ini?" Arsen benar-benar tak habis pikir. Dirinya bahkan jarang berinteraksi dengan gadis itu jika bukan tentang pekerjaan.


"Kita akan tahu nanti, kak. Sekarang sebaiknya kita ikuti saja permainan nya. Aku rasa dia akan kembali lagi sebentar lagi untuk memastikan apakah kakak meminum kopi itu atau tidak."


Arsen mengangguk. Diangkatnya cangkir berisi kopi tersebut menuju ke kamar mandi dan membuang isinya separuh menyisahkan lagi separuh dan membuatnya seolah telah diminumnya.


Setelah memberi isyarat pada sang kakak untuk membuka pintu. Leo kembali bersembunyi, kali ini pemuda itu memilih berada di balik sofa. Berdiam disana untuk memperhatikan apa yang selanjutnya terjadi.


*


*


*


Derrick mengedarkan pandangannya mencari sosok Leo yang tak kunjung muncul. Dia takut terjadi sesuatu pada sahabat nya tersebut mengingat Leo adalah manusia biasa. Tak seperti dirinya ataupun Ario yang mempunyai tingkat kepekaan yang tinggi. Mereka bisa mencium sesuatu dalam jarang yang masih lumayan jauh hingga memudahkan mereka untuk menghindari bahaya yang sekiranya mengancam.


Melihat kegelisahan pangerannya tentu Ario tak tinggal diam. Dia bergerak mendekat dan sedikit berbisik, mengatakan jika Leo baik baik saja saat ini meski sebenarnya dirinya pun belum tahu pasti.

__ADS_1


Ario hanya ingin membuat Derrick fokus pada tujuannya melakukan pertemuan dan kerja sama dengan pengusaha luar negeri tersebut segera selesai. Meski hanya sementara, namun sesuai dengan perintah langsung dari Gara. Perusahaan harus berkembang pesat sebelum waktunya nanti Arcila yang memegang kendali akan semua usahanya.


*


*


*


Nana tersenyum ketika melihat Arsen membuka pintu untuknya. Gadis itu sepertinya telah menambahkan parfum hingga baunya sedikit menyengat dalam penciuman Arsen. Jika saja dia tak ingat dengan apa yang Leo rencanakan, mungkin Arsen akan meminta Nana untuk segera keluar dari ruangannya.


"Ada apa lagi, Na?" Arsen memilih untuk mendudukkan dirinya di sofa single. Pemuda itu menatap lekat wajah Nana.


Namun tindakannya itu tak membuat Nana gentar. Gadis itu malah semakin berani dan tertantang. Apalagi ketika diliriknya cangkir kopi yang sudah tinggal separuh itu membuat senyumnya semakin mengembang.


"Saya hanya ingin memastikan bahwa kopinya sudah kamu minum, mas." Ucapnya malu malu namun semakin mendekat ke arah Arsen.


Arsen kembali mengernyitkan dahinya. Nana bahkan telah mengubah panggilannya dari sebutan Pak seperti biasanya menjadi Mas.


"Kenapa kamu memanggilku, mas. Biasanya kan kamu panggil, Pak?" Arsen pura-pura memijit pelipisnya pelan.


"Tak apa, itung itung sambil belajar mas. Toh sebentar lagi kita akan menikah." Ucap Nana penuh percaya diri.


"Menikah?" Arsen kembali membeo namun sebelah tangannya masih setia memijit pelipisnya.


Sementara si balik sofa panjang Leo menahan tawanya. Dia tahu sekarang, gadis yang sekarang berada di sebelah sang kakak tersebut berusaha untuk mendapatkan Arsen. Karena sifatnya yang cuek membuat gadis itu nekat pada akhirnya.


"Iya, mas. Kita sebentar lagi menikah!! kamu pasti merasa tidak nyaman kan saat ini? tak apa mas, ada aku. Kamu bisa melakukan apapun, aku siap." Nana mendudukkan dirinya dipangkuan Arsen membuat pemuda tersebut kaget.


Bertepatan dengan itu pintu ruangan terbuka menampilkan sosok cantik Arcila disana. Matanya memicing tajam ke arah sofa dimana Nana sedang mengalungkan tangannya dengan senyum yang tersungging di bibirnya merasa menang.


Dengan reflek, Arsen segera berdiri dari duduknya membuat Nana yang tak siap menjadi oleng sebelum terjerembab ke lantai.

__ADS_1


Sementara Arcila masih berdiri disana. Kedua matanya memanas namun hanya sebentar karena tanda di dahinya membuatnya bisa mengendalikan diri ketika mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Gadis cantik tersebut tersenyum sinis sebelum menutup pintu dan kemudian meminta Leo untuk keluar dari tempatnya bersembunyi.


Nana yang terkejut karena terjatuh kembali terbelalak ketika melihat seseorang keluar dari balik sofa. Gadis itu berusaha meminta bantuan Arsen untuk berdiri namun pemuda itu tak lagi menghiraukannya. Arsen fokus menatap wajah Cila. Gadis cantiknya itu engan menatap ke arahnya dan memilih duduk di kursi kebesaran Arsen.


__ADS_2