Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 07 Kenyataan pahit


__ADS_3

"Kamu kenapa?" Arsen tentu saja bingung dengan perubahan yang terjadi pada gadisnya itu. Beberapa menit yang lalu terlihat sedang senyum senyum bahagia namun sekarang wajah itu terlihat kembali mendung.


"Tak apa. Aku hanya teringat masa lalu." Arcila mencoba tersenyum meski hatinya perih.


"Lupakan yang tak perlu diingat, jangan siksa dirimu dengan masa lalu yang hanya akan membuat sedih. Kita harus bangkit, sayang!! kau dengarkan yang dikatakan oleh Om Sandro? beliau akan membantu kita sebisanya. Itu artinya, jalan kita kedepannya akan semakin mudah meski aku yakin akan banyaknya kerikil yang menjadi penghalang nantinya. Kita harus kuat demi ketenangan jiwa mereka yang telah menjadi korban. Kita tak boleh lemah hanya karena terus menyesali masa lalu." Arsen menarik lembut Arcila masuk ke dalam dekapannya.


Bukan berarti dirinya kuat, namun Arsen hanya tak ingin terbelenggu dengan masa lalu yang akan melemahkan semangat mereka nantinya. Cukup sudah setahun kemarin untuk bersedih dan terluka hingga terpuruk jauh ke dasar kesedihan. Sudah waktunya mereka bangkit untuk kembali meneruskan apa yang memang seharusnya mereka lakukan.


*


*


*


Leo masih terbayang dengan lukisan yang dilihatnya di ruang baca pangeran Derrick tadi. Dia sangat yakin jika wanita yang berada dalam lukisan itu adalah Sena. Kemiripannya sangat banyak bahkan nyaris tak ada yang berbeda. Garis wajah, senyum yang tersungging di bibir dan juga cara dirinya diam dengan gaun dan juga matanya yang jernih jelas jelas mengingatkan Leo pada mendiang nyonya mudanya.


Di kaitkan kembali dengan kejadian saat dirinya pertama kali siuman. Wajah Derrick yang dilihatnya pun sangat mirip dengan wajah nona nya, Arcila. Hanya yang membedakan mereka adalah tanda yang terdapat dikening Derrick. Tanda yang menyerupai ular melingkar dengan mata dan mahkota yang berkilau.


"Masa iya mereka saudara an. Kalau benar, berarti nyonya muda adalah ibu kandung pangeran Derrick juga? Tapi apa itu mungkin?"


Leo kembali terdiam, tatapan matanya fokus menatap langit dengan gemerlap bintang atas sana. Namun pikirannya tengah berkelana ke banyak tempat, menduga dan mengira ngira dimana sebenarnya sang kakak berada. Dan juga misteri tentang lukisan yang mirip dengan Sena membuat kepalanya seakan penuh dengan banyaknya pertanyaan yang entah pada siapa dirinya akan bertanya.


"Kau sering menyendiri dan melamun? apa kau tak betah tinggal di istana ini?" Entah sejak kapan Derrick berada disana, yang jelas pemuda yang di panggil pangeran tersebut sudah berdiri disebelah Leo saat ini.


"Aku hanya sedang memikirkan tentang kakak ku. Entah bagaimana nasibnya saat ini. Kami belum bertemu waktu itu, biasanya setiap pagi dia akan memanaskan motorku sekalian dengan dirinya yang memanaskan mobil nona. Namun pagi itu kakakku tak nampak keluar kamar. Saat sarapan pun aku tak melihatnya. Aku tak tahu apakah dia selamat atau malah ikut menjadi korban seperti ayah."

__ADS_1


"Kau punya saudara?"


"Iya, kami dua bersaudara. Kakakku lebih tua tiga tahun dariku. Kami hanya tinggal bertiga, ibuku meninggal beberapa tahun lalu karena sakit."


"Aku sangat iri denganmu. Kamu bisa berkumpul dan bersama keluargamu secara utuh. Sedangkan aku, aku hanya punya kesempatan setahun sekali untuk bisa melihat wajah ibuku dari jarak dekat. Namun aku juga belum boleh untuk menyentuh atau bahkan muncul dihadapannya. Hanya boleh menatap nya lewat cermin. Tapi, tahun ini aku belum melihat ibuku lagi. Entah apa sebabnya, biasanya juga tak begini. Ibu akan selalu duduk di teras itu sambil merangkai bunga di hari yang sudah menjadi ketetapan untukku melihatnya. Namun kemarin ibu tak muncul, bahkan rumah itu nampak sepi tak seperti dulu lagi. Sayang sekali aku belum mendapatkan ijin untuk sekedar keluar memeriksa."


Leo menatap lekat pemuda sebayanya tersebut. Ada gurat kesedihan yang terpancar dari sorot matanya yang tajam. Meski sedikit menakutkan, namun Leo tahu bahwa pemuda disampingnya tersebut sangat baik.


"Entah jenis apa dirimu sebenarnya, yang aku tahu. Kau adalah orang baik, meski menyeramkan hidup disini dengan banyaknya ular yang berkeliaran. Entah mengapa aku merasakan kenyamanan yang nyata."


"Bagaimana ibuku menurutmu, dia cantik kan?" Derrick kembali bersuara. Matanya selalu berbinar bila berbicara tentang sosok wanita yang di panggilnya dengan sebutan ibu itu.


"Cantik, sangat cantik. Melihat lukisannya mengingatkanku pada nyonya muda dirumah tempat aku dan keluargaku bekerja. Beliau sangat cantik dan juga baik hati. Sayang hidupnya tak secantik wajahnya. Dia meninggal setahun yang lalu, dihari dimana aku tak sadarkan diri." Leo berujar lirih, kembali bayangan kedua orang yang terkapar dihadapannya itu terngiang.


"Kenapa kalian harus tinggal berpisah?" Pertanyaan yang sejak beberapa waktu lalu selalu ingin diutarakan oleh Leo akhirnya terucap juga.


"Karena kami berbeda, sama seperti aku dan kamu. Kita berbeda!! Tapi, karena kamu telah masuk dalam duniaku ini maka kamu belum bisa berkomunikasi dengan kami kapanpun kamu mau. Terlebih ada cincin yang kamu pakai, itu membuat mu dikenali disini." Derrick menjawab dengan senyum menyeringai meski dia bukan dalam keadaan marah ataupun kesal. Tapi memang seperti itulah yang terlihat.


"Makdudmu? ibumu adalah manusia biasa?"


Leo berharap apa yang dipikirkannya bukan hal yang benar. Baginya sangat mustahil bukan jika manusia menikah bahkan sampai mempunyai keturunan dari kaum sejenis entahlah disebut apakah Derrick berserta para pengikutnya ini. Silumankah? atau iblis?.


Dan anggukan kepala Derrick membuat kedua kaki Leo lemas. Rasa tak percayanya ternyata sia sia belaka. Ternyata benar-benar ada dan mereka nyata. Apa jangan jangan nyonya muda? Leo menggelengkan kepalanya kali ini.


"Aku tak tahu apa yang terjadi. Yang Aku tahu bahwa aku juga mempunyai kembaran. Namun dia mewarisi lebih banyak gen ibuku. Itu sebabnya, dia lebih beruntung dibandingkan denganku. Tapi jika dipikir pikir, kami mengalami nasib yang sama. Aku bersama ayah dan dia bersama ibu. Terlihat sangat adil tapi sebenarnya tidak." Derrick menunduk.

__ADS_1


Leo tak mampu berucap, bibirnya terasa keluh kali ini. Dia bingung harus mengatakan apa. Bahkan pertanyaan yang bersarang dalam benaknya pun terasa hilang dan tak mampu terucap.


"Ayo ikut Aku!!" Derrick melangkah menuju sebuah taman yang indah. Berada tak jauh dari ruang baca, terdapat sebuah kaca besar di sebuah kolam dengan banyaknya ular yang melingkar disana. Leo bergidik ngeri, meski setiap hari dirinya dipastikan bertemu dengan hewan melata tersebut namun tentu tak sebanyak bahkan bergerombol seperti ini. Semakin mendekat kawanan hewan yang mendesis tersebut seolah membubarkan diri seraya memberi hormat, entahlah Leo tak pernah paham dengan gaya hewan tersebut. Yang dirinya tahu saat ini jantungnya sedang berdebar cepat.


"Lihatlah!! itu adalah taman dimana biasanya Aku bisa menatap ibu sampai puas."


Leo yang awalnya celingukan dan berhati-hati dalam melangkah karena takut bersenggolan atau bahkan sampai menginjak hewan melata yang berkeliaran tersebut mendongakkan wajahnya.


*


*


*


"Ya Tuhan. Bukankah ini taman belakang rumah tuan besar?" Leo menutup mulutnya dengan kedua tangan. Keterkejutannya membuat Derrick memicing seraya menatapnya tajam.


"Pangeran, boleh saya bertanya?" Dengan suara bergetar Leo mencoba memberanikan diri kali ini. Setelah melihat anggukan kepala dari Derrick, Leo membuka mulutnya, namun diurungkannya dan memilih menelan salivanya kelat.


Meski ragu, dan tatapan mata Derrick yang kelam itu membuatnya semakin bergidik pada akhirnya Leo membulatkan tekat.


"Apa saudara kembar pangeran seorang gadis, dan dia bernama Arcila Damayanti. Dan apakah wanita dalam lukisan yang pangeran panggil dengan nama ibu adalah Nyonya Sena Aulina Sanca?"


*


*

__ADS_1


*


"Kau mengenal ibu dan adikku?"


__ADS_2