Titisan Naga

Titisan Naga
Bab 31 Rencana dan Bencana


__ADS_3

"Leo masih hidup, Om. Dan dia berada di tempat yang aman. Jika waktunya nanti, Om bisa bertemu dengannya."


Pak Sandro dan Cila sontak menoleh ke arah pintu yang terbuka dengan menampilkan sosok Arsen disana. Senyum pemuda tampan dengan rambut yang di biarkan panjang demi penyamaran nya itu mengembang. Di tutupnya kembali pintu ruangan kemudian melangkah perlahan menuju ke arah ke dua orang yang tersenyum di depan sana.


"Kalian sudah bertemu? syukurlah. Om jadi tenang sekarang, kalian semua dalam keadaan baik baik saja." Mata yang mengembun tersebut berbinar cerah. Bahagia terpancar nyata di mata itu. Entah hubungan baik yang bagaimana yang terjadi diantara Andress dan Pak Sandro dimasa lalu. Hingga menumbuhkan ikatan kuat diantara keduanya meski pada kenyataannya mereka tak terikat hubungan apapun.


Mereka mengobrol banyak hal hingga tak terasa waktu makan siang pun datang. Ke tiganya makan bersama disana dengan suasana penuh kekeluargaan. Sudah lama rasanya tak merasakan perasaan seperti ini. Baik Arsen dan Arcila sangat menikmatinya.


Tak lama setelah makan siang, Pak Sandro pamit kepada keduanya dan sekali lagi berjanji akan membantu sebisanya termasuk dengan rencana yang telah Derrick sampaikan padanya tadi. Tak ada keraguan dalam hatinya, lelaki paruh baya tersebut bersungguh-sungguh pada apa yang telah menjadi pendiriannya.


*


*


*


Lita yang tetap datang ke kantor meski kini penampilannya berubah dari yang sebelumnya selalu tampil seksi menjadi sedikit tertutup. Bekas di lengannya ternyata bukan satu satunya. Namun masih ada bekas lain yang sama, bekas melintang seperti sebuah cambukan itu juga terdapat di betisnya. Entah apa yang menjadi penyebabnya bahkan Lita sendiri tak tahu pasti awalnya.


Dengan sedikit menghentakkan kakinya gadis yang terbilang cantik tersebut masuk ke dalam ruangan sang ayah. Mencari keberadaan lelaki itu untuk sekedar menanyakan kemana sosok cinta pertamanya itu semalam hingga disaat dirinya memerlukan bantuan sang ayah tak ada ditempat bahkan ponsel lelaki tersebut tak bisa dihubungi.

__ADS_1


Kecewa? tentu. Namun Lita tak pernah mempermasalahkan hal ini sebelumnya. Terbiasa ditinggalkan sejak kecil seorang diri dan hanya ditemani beberapa pelayan membuatnya terbiasa. Kepergian sang mama sejak dirinya berusia 12 tahun membuat Lita kecil sampai remaja tumbuh menjadi anak yang kurang kasih sayang terutama dari sosok mama. Wanita itu pergi setelah mengetahui perselingkuhan sang ayah. Tapi anehnya, hingga saat ini Gio sepertinya tak berminat untuk meresmikan hubungan dengan wanita manapun. Terbukti hingga saat ini lelaki itu lebih senang menjelajah dan singgah dari wanita satu ke wanita lain.


Bagaimana dengan Lita?


Hartalah yang bisa memanjakan gadis itu. Lita yang kesepian lebih senang menghabiskan waktunya untuk berbelanja dan bersenang-senang. Bahkan ketika dirinya memilih untuk melanjutkan sekolah diluar negri, Lita lebih menikmati kebebasannya dari pada harus memikirkan tentang sang ayah. Baginya, tak ada bedanya dan menganggap semua sama. Baik ayah maupun mamanya hanya memikirkan diri mereka sendiri dan tak pernah menganggap kehadirannya selama ini.


"Ayah!!"


Teriakan Lita menggema di seluruh ruangan sang ayah. Lelaki paruh baya yang sedang duduk di kursi kebesarannya sampai berjengkit kerena kaget. Ditatapnya wajah sang putri satu satunya itu.


"Ada apa, Lita? kenapa berteriak seperti itu?" Gio masih bersikap tenang, bahkan kini dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi dengan santai sambil menatap ke arah Lita.


"Bagaimana bisa begini? kamu bertengkar dengan siapa sebenarnya?"


Bukannya menjawab, namun gelengan kepala Lita yang semakin membuat dahi sang ayah menggerut.


"Tidak ada. Bahkan kemarin Lita langsung pulang ke rumah setelah dari sini. Dan entah apa sebabnya semua itu tiba-tiba ada di tubuhku ayah. Bagaimana ini? aku tak suka berpenampilan begini. Bukankah ayah tahu bahwa tampil cantik dan seksi adalah impianku setiap hari?"


Tak hanya Lita yang merasa heran. Bahkan Gio sampai memeriksa setiap sudut rumahnya melalui cctv yang memang terpasang disana. Tak ada keanehan apapun yang terjadi termasuk dengan cuaca panas yang tiba-tiba muncul di kamar Lita.

__ADS_1


"Aneh kan, yah. Aku bahkan semalam sampai tak bisa nafas. Selain panas ada bayangan menyeramkan yang muncul dan itu sangat menakutkan. Sudah dua kali aku mengalaminya, tapi yang semalam sangat nyata dan membuatku takut." Gadis itu merajuk dengan mengerucutkan bibirnya.


Meski rasa tak percaya hinggap dikepala Gio, lelaki itu berpura-pura percaya dan memeluk sang putri untuk menenangkan. Namun dalam hatinya, Gio menganggap semua itu hanyalah akal akalan sang putri untuk mendapatkan perhatian darinya. Disadari atau tidak, selama ini dirinya memang sedikit acuh pada sang putri dan lebih memfokuskan diri untuk menumpuk kekayaan bersama dengan Dody. Pernah merasakan hidup di panti asuhan membuatnya tak ingin mengulang hal yang sama termasuk pada putrinya. Kemewahan yang dimilikinya saat ini dianggapnya sebagai balasan atas ketidakadilan yang dulu di terimanya sejak kecil.


*


*


*


Apa yang terjadi di ruangan Gio berbeda pastinya dengan yang terjadi di ruangan Derrick. Pemuda tampan dengan mata yang tajam itu mulai mengatur rencana yang telah dia susun sedemikian rupa.


"Kamu yakin melakukan ini? bukankah semua itu memang hak kalian? seharusnya dengan statusmu yang sekarang sudah bisa mengambil alih semuanya." Leo mendekat, adik Arsen itu tak mengerti apa yang sebenarnya direncanakan oleh Derrick hingga berniat untuk membeli semua properti yang memang sedang berusaha di jual oleh Gio.


"Tanda tangan Cila ada disana dan itu tak bisa diganggu-gugat. Kau tahu, sebenarnya aku tak ingin membuat semuanya rumit. Tapi, karena Cila aku harus menekan diriku untuk tak melakukan hal yang diluar kendali meski aku sangat mampu untuk itu. Aku bahkan bisa membunuh mereka semua dalam satu kesempatan. Namun kehidupan Cila yang tenang akan kembali terusik nantinya."


Apa yang Derrick utarakan memang benar adanya. Dengan hanya satu kali ucap dirinya bisa melenyapkan Gio, Dody atau bahkan orang-orang yang dulu terlibat atas pembunuhan sang mama. Namun sesuai pesan sang ayah, jika kenyamanan hidup Arcila lah yang paling penting. Mereka semua bisa menghilang setelah membunuh orang-orang itu, tapi bagaimana dengan Cila? gadis itu memang memiliki darah siluman ular namun bukan berarti dirinya bisa disamakan dengan Derrick. Arcila berbeda, jelas saja itu semua juga berkat pengorbanan sang ayah yang membelunggu dirinya sendiri demi membuat sang putri benar-benar menjadi manusia seperti keinginan sang mama. Kekuatan dalam diri Arcila bisa ditekan dan semua itu tak akan membuatnya berbeda. Meski pada kenyataannya gadis cantik tersebut memang beda dari gadis pada umumnya. Cila mempunyai kepekaan yang lebih besar dan juga dia punya perisai untuk melindungi diri sendiri.


Hanya di malam bulan purnama lah, Arcila akan berubah ke wujudnya sebagai ular selebihnya dia adalah manusia.

__ADS_1


__ADS_2