
Arsen tersenyum menatap wajah damai Arcila yang tertidur dalam dekapannya. Sudah hampir empat hari lamanya gadis cantik berlesung pipi tersebut gelisah dan sulit untuk memejamkan mata, beruntung Arsen selalu dapat menenangkan nya.
Arsen mengecup pelan kening Arcila yang terlihat damai ketika tidur. Membenarkan selimut hingga menutupi batas dada gadis kesayangannya itu sebelum mematikan lampu kamar dan menggantikannya dengan lampu tidur.
Menutup pintu perlahan agar tak mengusik gadisnya yang tengah berada di alam mimpi tersebut.
Sedikit terkejut ketika dirinya masuk ke dalam kamarnya sendiri. Sudah ada Gara disana. Ayah dari Arcila tersebut sudah tiga kali terhitung dengan sekarang mendatangi Arsen.
Setiap kali lelaki tampan dengan sorot mata gelap tersebut pasti berkenaan dengan Arcila. Semakin dekat waktu 20 tahun yang dijanjikan oleh Gara maka akan semakin banyak hal aneh yang dirasakan bahkan terjadi diluar kendali. Apa yang Arcila rasakan tentu bukanlah hal biasa mengingat separuh dirinya entah bisa disebut apa.
"Tuan." Arsen menundukkan sedikit kepalanya.
Gara masih bergeming membelakangi Arsen. Lelaki tersebut terdiam beberapa lama.
"Dua bulan lagi, kau harus ekstra menjaganya dari sekarang. Aku tahu ini akan sedikit sulit, tapi Aku yakin kau mampu melakukannya." Gara berujar pelan namun sangat jelas terdengar di telinga Arsen yang memang selalu fokus pada apapun yang berhubungan dengan Arcila.
"Apa akan ada hal buruk yang terjadi? sudah empat hari ini, nona selalu gelisah dan susah tidur. Terkadang sampai menangis dan dia mengatakan jika hatinya selalu gelisah tanpa sebab."
"Tak apa, itu karena saudaranya sedang berkecamuk disana. Mereka akan saling terkait dalam banyak hal meski diantara mereka saling berjauhan. Kakak Sanca sedang sakit, mungkin itu yang membuatnya gelisah tanpa sebab."
"Hanya itu yang ingin ku sampaikan. Jaga putriku dengan baik!! Jika sudah saatnya nanti aku akan kembali menemuimu. Satu lagi, jangan mengkhawatirkan adikmu. Dia baik baik saja." Gara berbalik dan tersenyum tipis namun lebih menyerupai seringaian sebelum menghilang bagai bayangan.
Arsen masih sempat melihat bayangan ular besar berwarna hitam merah sebelum memudar dan menghilang menyisahkan dirinya seorang.
__ADS_1
Arsen mendudukkan dirinya ditepi ranjang. Diambilnya buku catatan yang diberikan sang ayah padanya dulu. Disana, Andres sang ayah menceritakan banyak hal. Bukan hanya tentang dirinya namun juga tentang Arcila dan keluarga Gerald yang sebenarnya.
Yang masih menjadi pertanyaan besar dibenaknya kini adalah ayah dari gadis yang dicintainya. Dalam buku tersebut sang ayah hanya mengatakan jika tuan Gara adalah pemilik sebenarnya rumah besar yang menjadi tempat tinggal keluarga Gerald.
Andres juga mengatakan jika Gara bukanlah orang sembarangan bahkan bisa dibilang, dia memiliki kemampuan yang melebihi manusia pada umumnya. Antara percaya dan tidak, namun setelah bertemu beberapa kali dengan lelaki tersebut dan beberapa kejanggalan yang dilihatnya Arsen akhirnya dapat mengerti apa yang ayahnya maksud.
"Aku tidak tahu bagaimana reaksi Cila jika mengetahui hal ini. Aku tak bisa membayangkan semuanya, Aku takut dirinya akan terluka nanti."
Gumamnya sambil menatap buku yang berisi tulisan tangan sang ayah tersebut.
*
*
*
Ya, hanya sedikit. Karena pada akhirnya rasa penasarannya dapat terbayar sudah meski dirinya sendiri hampir kehilangan nyawa seandainya pria yang dipanggil paduka oleh orang-orang di istana itu tak muncul.
Banyaknya orang disekitarnya tak menjamin mereka akan berani membantunya. Karena mereka hanya akan diam ketika amarah sang pangeran tak lagi bisa dibendung.
Derrick mengamuk sesaat setelah dirinya mendengar cerita kematian sang ibu dari Leo. Pemuda tersebut tak percaya karena beberapa waktu sebelum ditemukannya tubuh Leo yang terjatuh masuk ke dalam kolam oleh pengawalnya. Derrick masih berada disana, menatap sang ibu yang sedang merangkai bunga dengan bersenandung kecil yang keluar dari bibirnya. Sang ibu nampak cantik pada hari ini, meski wanita tersebut memang cantik namun hari itu nampak lain bagi Derrick yang hanya bisa menatap wajah ibunya setahun sekali tersebut.
Leo sempat terkejut melihat wujud asli Derrick. Seekor ular besar dengan warna sedikit kehitaman dengan semburat hijau dan kuning di tubuhnya. Mata yang menyala dengan lidah yang menjulur membuat dada Leo terasa sesak kala belitan pada lehernya terasa semakin kuat.
__ADS_1
"Aku sebenarnya tinggal dimana? apakah aku sebenarnya sudah mati? dan sekarang ini hanya tinggal rohku yang tak bisa pulang kembali?"
Leo menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Dia sangat kebingungan dengan apa yang dialaminya. Semenjak tersadar diruang yang sedikit pengap pada waktu itu. Banyak sekali kejadian dan keanehan yang dia rasakan.
Semua orang yang berada disekelilingnya termasuk para pelayan dan pengawal, mereka memiliki tanda dikening masing-masing. Tanda yang sama dengan yang ada di kening Derrick. Namun bedanya, punya Derrick lebih berkilau dan lebih terang.
"Apa aku berada di istana siluman ular? tapi apa mungkin itu ada? bukankah selama ini semua itu hanya ada dalam dongeng. Tak mungkin rasanya aku akan mengalami semua ini. Tapi ini nyata dan anehnya aku tak merasakan takut berada disini." Kembali pemuda itu bergumam.
Tanpa dirinya sadar, jika apa yang dilakukannya sejak tadi tak luput dari pantauan Gara yang tersenyum tipis sambil menatap pada pemuda tersebut.
Tak pernah dipikirkan oleh Gara, jika kedua anak Andres lah yang akan menjadi teman untuk kedua anaknya.
"Bawa dia keruanganku!!" Titahnya pada seorang pengawal yang mengikutinya dibelakang. Setelah itu Gara berlalu pergi menuju kamar putranya.
Derrick masih terlihat lemas, dia yang memang belum bisa mengontrol diri sebenarnya tak diperbolehkan untuk menunjukkan wujudnya. Karena jika hal itu terjadi sebelum dirinya mampu, maka Derrick bisa membahayakan dirinya maupun orang-orang disekitarnya. Itulah alasan sebenarnya mengapa Gara memilih untuk memisahkan sang putra dengan ibu dan juga saudarinya.
Meski sedih dengan kepergian sang istri. Namun Gara sudah lebih siap karena memang semua telah diketahuinya sebagai jalan pembebasan bagi ke dua anaknya.
Gara yang menghilang bertahun-tahun lamanya hanya demi bisa membuat hidup kedua anaknya lebih baik lagi terutama Arcila yang diberinya nama Sanca.
Pertapaan yang dilakukannya untuk menebus dosa karena telah melanggar suatu pantangan dengan menikahi seorang manusia. Sekaligus untuk melebur kekuatan yang berada dalam diri Arcila agar putrinya bisa hidup normal seperti manusia pada umumnya.
Gara menghela nafas panjang, dibelainya dengan sayang kepala sang putra yang masih terpejam. Wajahnya mengingatkan pada sosok Sena, wanita yang sangat dicintainya itu. Ada nyeri dalam hatinya ketika menyadari jika sang istri telah tiada. Namun dirinya tahu semua tak akan mudah, kedua anaknya pasti akan menuntut balas. Dan hal itu adalah yang harus dihindarkan setidaknya hingga usia keduanya telah melewati 20 tahun nanti.
__ADS_1
"Kau tahu sayang, mereka sangat mirip denganmu. Bukan hanya wajah namun gestur tubuh dan yang lainnya juga. Hanya saja, mereka mewarisi ke keraskepalaanku." Gara tersenyum, mengecup kening sang putra sebelum berlalu keluar dari kamar itu.