
Senyum kedua bersaudara itu mengembang sempurna. Meski drama tamu dan tuan rumah berlaku namun itu hanya sebagai formalitas belaka. Nyatanya di dalam ruangan mereka kembali akrab dan saling meledek.
Penampilan cantik Sanca atau Cila menguatkan dugaan bahwa dirinya adalah kekasih Derrick, sang dirut perusahaan yang terkenal masih muda dan tampan. Gosip segera menyebar padahal yang sedang mereka gunjingan masih berada di dalam ruangan dan sedang asyik menikmati makan siang.
Tak hanya keduanya, nyatanya Leo dan Ario juga turut bergabung dengan kedua saudara kembar tersebut. Obrolan ringan mengalir disela sela waktu makan mereka. Hanya minus Arsen karena pemuda tampan itu sedang ada meeting mendadak dengan koleganya untuk menjalin kerja sama go internasional. Perusahaan yang bergerak di bidang properti yang didirikannya berkembang dengan pesat, bantuan dan dukungan dari Pak Sandro tak main main. Hanya dalam hitungan bulan perusahaan yang baru berdiri tersebut menjadi terkenal dan banyak di lirik para investor asing untuk bergabung.
"Bagaimana keadaan putri? apa semuanya berjalan lancar?"
"Kak Rio, boleh tidak panggilnya seperti semua orang? Cila atau Sanca kedua nama itu boleh asal jangan panggil putri, rasanya sangat aneh di telingaku." Cila cemberut, meski panggilan itu tak salah karena memang benar dirinya adalah seorang putri dari raja siluman ular. Namun Cila selalu menegaskan jika semua itu hanya berlaku jika dirinya sedang masuk dalam dunia siluman dan berada di istana sang ayah. Akan tetapi dalam keadaan normal begini menurutnya tak perlu menggabungkan semuanya.
"Baiklah baiklah, aku panggil Sanca aja ya. Sesuai dengan wujud mu satunya."
Derrick langsung tergelak kencang. Penggunaan nama samaran Sanca awalnya adalah pilihan untuk mengelabuhi orang-orang yang kemungkinan besar mengenal Arcila. Namun siapa sangka nama itu merupakan perwujudan asli tubuh Cila sebagai siluman ular. Warna kuning terang dengan totol putih dan mata merah menyala terang membuatnya nampak cantik dalam wujudnya sebagai seekor ular. Hal itu tak pelak menjadi bahan bullyan dari Ario dan Derrick karena menduga jiwa ular yang tersembunyi dalam diri Arcila memang ingin keluar hingga tercetuslah nama itu sebelum Cila sendiri tahu kebenaran akan diri dan keluarganya.
"Ledek terus, ledek." Sewotnya membuat gelak tawa semakin menggema dalam ruangan tersebut.
Ketukan pada pintu membuat mereka berempat saling pandang. Tak ada janji temu dengan klien membuat Derrick mengangkat kedua bahunya tanda tak tahu siapa yang datang.
Leo berdiri dan berjalan ke arah pintu ruangan setelah dirasa semua telah berada di posisi terbaik dalam memerankan peran sebagai artis drama dadakan tersebut. Jati diri Arcila memang harus dirahasiakan untuk beberapa waktu ke depan demi keselamatan sang tuan putri. Mustika ularnya memang telah kembali padanya, namun kekuatannya belum sepenuhnya bisa Cila serap mengingat dalam dirinya lebih dominan gen manusia dari pada siluman ular. Membutuhkan waktu baginya untuk bisa bersatu
dan menaklukkan kekuatan mustika tersebut.
__ADS_1
"Ada apa?" Leo yang membuka pintu di buat mengernyit ketika sosok gadis berdiri dihadapannya dengan senyum malu malu.
"Saya cuma ingin bertanya, apa perlu dibuatkan minuman untuk tuan Derrick?"
Kedua alis Leo bergerak naik, satu lagi modus yang dia temui setelah beberapa waktu lalu dirinya berhasil menggagalkan modus yang sama di kantor kakaknya.
"Tidak perlu!! Kau tahu kan jika diruangan ini sudah ada pantry khusus untuk Tuan Derrick?" Ucapnya tegas. Leo memindai gadis itu dari atas ke bawah, memang manis namun sayang bukan tipenya apalagi Derrick.
Pemuda itu hanya tersenyum dalam hati, Derrick yang memang mempunyai wajah tampan dengan perawakan yang menarik serta aura yang memikat juga kaya raya tentunya akan menjadi magnet bagi para wanita untuk berlomba-lomba mendekatinya. Syukur syukur kalau sampai bisa menjerat nya menjadi kekasih maka bisa dijamin kehidupan mereka kedepannya akan terjamin tujuh turunan. Namun sayang, orang yang mereka puja adalah seorang pangeran istana ular yang tak memiliki hati dan perasaan apalagi cinta. Dia hanya akan menyayangi keluarga dan orang-orang yang memang berjasa dalam hidupnya. Darah panas yang dimilikinya tentu hanya tau caranya membunuh. Beruntung, sebagai raja, Gara mampu membuat para rakyatnya untuk berjanji dan patuh. Mereka tak dianjurkan untuk menyerang manusia selagi mereka tak memulai. Akan tetapi untuk kasus Derrick tentu saja berbeda.
"Ma.. maaf."
Curiga?
Tentu saja. Gadis itu tiba-tiba muncul dan menawarkan membuat minuman saja sudah merupakan keanehan. Sedangkan semua karyawan di kantor itu tahu jika Derrick tak suka di sentuh orang asing.
"Sa.. Saya baru seminggu disini." Gagapnya
Ario dan Derrick yang berada di dalam ruangan saling pandang mendengar pembicaraan Leo dan perempuan entah siapa itu. Arcila yang juga mendengarnya tersenyum kecil sambil melirik sang kakak yang bermuka datar itu. Ide jahil tiba-tiba muncul di otaknya.
Gadis itu berdiri dan melangkah menghampiri Leo yang masih berada di depan pintu.
__ADS_1
"Ada apa?" Lirihnya namun mampu membuat gadis itu mendongak menatapnya.
"Apa ada tamu yang ingin bertemu dengan kak Derrick?" Lanjutnya lagi.
"Tidak nona!! Tuan Derrick sedang tidak ada janji hari ini selain bertemu dengan nona. Jadi silakan nona lanjutkan lagi." Leo berbicara formal dan ditanggapi senyum manis oleh Arcila.
"Baiklah. Kami tak ingin di ganggu sementara waktu." Ucapnya seraya melenggang masuk kembali ke dalam ruangan dimana sang kakak memicingkan mata menatap nya.
"Kembalilah ke tempatmu." Ujar Leo pelan seraya dirinya menutup pintu.
Setelahnya Arcila menggoda sang kakak habis habisan. Leo dan Ario bahkan tak mau ketinggalan membuat Derrick mengumpat kesal pada akhirnya.
"Oh ya, kak Rio. Aku dengar dengar kakak habis di keroyok waktu neninjau lokasi proyek?"
"Begitulah. Pelaku utamanya masih orang yang sama. Mungkin mereka berpikir dengan tersingkirnya aku maka mereka akan bebas melakukan apapun di sini."
"Dengan kata lain, mereka masih menganggap kakak akan lemah tanpa adanya dukungan dari kak Rio. Aku rasa perempuan barusan juga bagian dari rencana mereka. Aku sempat membaca pikirannya tadi, entah mengapa dia bahkan menatapku dengan sorot mata permusuhan, padahal jelas ini pertama kalinya aku datang kesini setelah sekian tahun. Dan tentu saja aku tak mengenal mereka bukan?" Arcila menoleh pada sang kakak yang juga menatapnya kini.
Sementara di lobi perusahaan masih terjadi kehebohan. Kedatangan Arcila benar-benar membuat tranding topik berbeda disana. Perempuan yang tadi bahkan nekat datang ke ruangan Derrick mengepalkan tangannya kuat kuat. Dia yang sengaja masuk dan melamar pekerjaan disana mempunyai 1 tujuan utama yaitu membuat seorang Derrick bertekuk lutut padanya.
"Dia memang cantik, tapi aku tak peduli. Hanya aku yang harus menjadi wanitanya seorang Derrick. Jika tidak, maka orang lain pun juga tidak akan bisa mendapatkannya." Gumamnya pelan dengan gigi bergemulutuk.
__ADS_1