
Kehidupan berjalan sebagaimana mestinya. Dia tak akan pernah berhenti hanya karena permasalahan seseorang belum usai. Kehidupan akan tetap konsisten dan melaju tak memilih waktu terus terasa lambat atau cepat, dia tetap dan patuh pada tugasnya.
Arcila membuka kedua matanya, silau pancaran sinar matahari membuatnya sedikit memicingkan mata. Mata lentik itu segera membola sempurna kala menyadari bahwa waktu telah beranjak siang.
"Ih, kok tumben aku bisa kesiangan begini." Gerutunya seraya turun dan melangkahkan kakinya dengan tergesa menuju kamar mandi.
Sementara itu di ruang tengah nampak Arsen telah rapih dengan kemejanya. Pagi ini dirinya ada pertemuan dengan seorang klien dan seperti yang diutarakan semalam jika dirinya ingin sang kekasih menemani dirinya hari ini. Bukan apa, klien kali ini sama seperti waktu itu. Memiliki seorang putri yang berusaha didekatkan dengannya seperti kala papa Yoona mengajukan kerja sama. Sebelum ada hal tak diinginkan terjadi lagi, Arsen ingin mengantisipasinya terlebih dahulu.
Bahkan sekertarisnya pun bukan lagi perempuan. Arsen lebih memilih pengawai laki-laki untuk menemaninya di kantor.
"Huuuft" Hembusan nafas kasar terdengar. Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi namun tak seperti biasanya, Cila belum juga menampakkan batang hidungnya.
Arsen tak pernah menganggu gadis itu jika sedang beristirahat. Dia akan membiarkan gadisnya menikmati waktu lebih lama. Arsen sangat hafal betul bagaimana Arcila yang sering mengalami insomnia dulu. Meski kini jarang sekali mengeluh tak bisa tidur namun kondisi seperti itu bisa saja kembali terjadi.
"Sarapan telah siap, den." Bibik berujar membuyarkan lamunan Arsen. Pemuda itu tersenyum dan menganggukkan kepalanya cepat.
"Ya, bi."
Nasi goreng lengkap dengan telur dadar dan juga kerupuk nampak telah tersaji diatas meja makan. Arsen mengambil piring dan menyantapnya secara perlahan sambil pikirannya entah kemana.
"Pagi, kak."
__ADS_1
Cila menuruni tangga dan melangkah ke arah meja makan dimana kini Arsen telah duduk dengan seporsi nasi goreng di piringnya yang baru beberapa suap dia nikmati.
"Pagi, yank. Bagaimana tidurmu?"
"Sangat nyenyak." Cetusnya sembari tergelak pelan.
Arsen tersenyum, binar mata indah itu yang membuat harinya menjadi lebih berwarna. Dua tahun hidup bersama membuat mereka tak berjarak. Tak ada yang mereka sembunyikan satu sama lain. Meski sangat tahu batas mereka tak pernah ingin melanggar. Bukan hanya karena janji pada Gara namun juga karena misi mereka untuk kembali bangkit dan menata hidup lebih baik lagi sebelum pada akhirnya keduanya benar-benar menyatu dalam ikatan.
Arcila sendiri butuh keyakinan yang besar untuk mengambil keputusan. Bukan karena Arsen tapi karena dirinya sendiri. Cila tak ingin egois setelah mengetahui siapa dirinya dan ruang yang berbeda itu sangat nyata terlihat meski sebagian orang akan membunuhnya jika mengetahui hal itu.
"Sudah, sarapan sana." Arsen mengusak pelan rambut Arcila yang tergerai indah. Rambut hitamnya dibiarkan begitu saja, tak ada lagi Wig namun demikian softlens dan alat make up masih melekat pada dirinya.
*
*
*
Gio tergelak kencang, pagi ini dirinya merasa sangat senang. Setelah sekian waktu menunggu pada akhirnya ada juga yang menawar salon milik mendiang Sena.
Semua perbuatannya berjalan mulus selama ini, karena tak banyak yang tahu harta apa saja yang dimiliki oleh Sena. Yang mereka tahu adalah Gio dan Dony lah yang menjadi ahli waris dari semua usaha milik wanita itu.
__ADS_1
Fakta bahwa keduanya adalah perampok sesungguhnya masih tersimpan sedemikian rapihnya. Namun mereka tak menyadari jika segala yang mereka lakukan telah masuk dalam pantauan pihak berwajib. Meski kesannya masih rahasia namun bukti telah mengarah pada mereka. Hanya perlu sedikit lagi bukti untuk menjerat keduanya.
Sementara Ario, pemuda yang mengetahui bahwa anggota keluarganya dari pihak almarhum ayahnya juga terlibat tak ingin ikut campur atau terlibat didalamnya. Dia hanya akan menjadi penonton. Bukan tak bersimpati pada keluarga atau tak mempunyai empati tinggi pada mereka. Namun rasa kecewa yang dirasakannya lebih besar dari pada itu.
Dia yang sengaja di buang di tengah hutan dalam keadaan kelaparan dan penuh luka oleh mereka membuatnya menutup mata dan telinga. Tak ada keluarga lain baginya selain Gara dan anak anaknya yang kini sedang dia lindungi. Darah Gara yang mengalir di tubuhnya memang panas, namun panas dalam hatinya lebih terasa nyata dan dia tak ingin lagi mengingatnya.
"Satu persatu pasti akan terjual juga akhirnya, setelah lahan itu sekarang giliran salon yang berada di mall. Mungkin besok kita akan kembali menerima kabar baik tentang penjualan apartement dan atau bahkan rumah itu laku terjual."
"Bukankah rumah itu sudah ditempati anak ingusan itu, kak." Dody menimpali sembari menyeruput kopi hangat di cangkirnya.
"Kau benar. Tapi tak ada salahnya kita lakukan cara seperti sebelumnya. Toh semua masih aman hingga sekarang kan? jadi nanti kalau ada kesempatan kita bisa lakukan lagi semuanya." Gio menghisap cerutunya.
Keduanya sedang bersantai menikmati udara sejuk di pagi hari. Dody sengaja datang pagi pagi sekali ke kediaman sang kakak untuk mengabarkan bahwa ada seseorang yang menawar harga salon yang mereka jual.
"Bagaimana dengan perusahaan, kak?"
"Masih seperti biasa, asisten itu menguasai segalanya. Dan anak yang Gara akui sebagai putranya itu berada disana. Lebih tepatnya asistennya lah yang masih memegang kendali hingga kini. Entah bagaimana caranya membuat dia berada di pihak kita."
Tak ada cela yang terlihat untuk mendekati Ario. Bahkan selama dua tahun terakhir pemuda itu belum bisa mereka seret untuk bergabung ke pihak mereka. Ario benar-benar susah ditebak bahkan dengan lantang pemuda itu mengatakan jika dirinyalah yang ditunjuk langsung oleh Gara Anggara selaku pemilik perusahaan sebagai pemegang kekuasaan sebelum Gara atau anak nya kembali memimpin. Pada kenyataannya, meski Derrick telah datang dan Gara menunjuk sang putra sebagai direktur utama menggantikannya. Peran Ario tak pernah berubah. Pemuda itu masih disana dengan segala tanggungjawab yang mungkin semakin bertambah.
Tak hanya perusahaan, namun kedua anak Gara juga menjadi tanggungjawab nya untuk di jaga. Dan itu semakin mempersulit jalan Gio dan Dody untuk melancarkan aksi mereka. Selain properti dan harta kekayaan peninggalan Sena yang lain. Perusahaan itu juga termasuk dalam target keduanya untuk dikuasai. Harta telah membuat mata hati mereka tertutup rapat, yang ada hanya haus kekuasaan dan juga haus akan gelimang harta yang jelas jelas bukanlah hak mereka.
__ADS_1