
Mata Arcila dan Arsen di buat terpana akan keindahan yang terpampang dihadapan mereka. Istana dengan ornamen keemasan dan beraneka ragam bunga perdu nampak tertata dengan rapih di sepanjang jalan yang mereka lalui.
Banyaknya hewan melata yang entah mereka sedang apa membuat Arcila sedikit bergidik meski diakuinya ada bisikan bisikan dari mereka yang dapat dia dengar.
Lelaki yang menjadi petunjuk jalan bagi keduanya berhenti di sebuah lorong dengan gerbang yang telah dibuka dan keluarlah sosok pemuda tampan yang membuat Arsen segera terpekik dengan senyum yang mengembang sempurna.
"Leo!!"
Leo berjalan dengan senyum yang tak kalah mengembang. Memeluk sang kakak yang selama 2 tahun ini hanya bisa dilihatnya dari balik cermin tanpa bisa dia sentuh.
"Astaga, kamu selamat dek. Kamu tahu, kakak mencarimu seperti orang gila dalam keterbatasan ruang yang kakak punya. Kakak sudah putus asa kala itu andai saja tuan Gara tak datang menemui kakak. Adikku."
Arsen memeluk erat tubuh Leo yang hanya bisa tersenyum dalam dekapan sang kakak. Rasa bahagia itu menyeruak dalam hati Arcila yang menyaksikan keduanya saat ini.
"Nona." Leo mengulurkan tangannya menyapa Arcila.
Namun gadis cantik itu tak mengindahkan tangan Leo. Dia memilih memeluk Leo erat sebagaimana tadi Arsen memeluknya. Leo sedikit terkejut karena mereka memang tak terlalu dekat sejak dulu. Namun pemuda itu memilih membalas sekilas pelukan Arcila demi menghormati gadis cantik yang kembali harus berurai air mata.
"Aku ikut senang kamu selamat, Leo. Tadinya kami berpikir kamu ikut menjadi korban. Akan tetapi tak adanya berita tentang mu membuat kamu optimistis jika kamu selamat."
Ke tiganya masih berdiri di ujung pintu.
"Nona, maaf." Leo berujar lirih sambil menundukkan kepalanya.
__ADS_1
Arcila mengusap air matanya, dia mengangguk. Arcila berpikir kata maaf yang Leo ucapkan karena telah lancang membalas pelukannya. Namun ungkapan Leo selanjutnya membuat dirinya mengaga tak percaya.
"Jadi, kamu melihat kejadian waktu itu?" Arsen yang tak kalah terkejut menarik pundak sang adik untuk menghadapnya. Anggukan kepala pemuda tanggung itu membuat lemas kedua kaki Arsen yang tak sanggup membayangkan bagaimana berada dalam posisi adiknya saat itu. Takut, ayok, kaget dan pastinya sedih bercampur menjadi satu.
"Aku melihatnya, kak. Aku melihatnya. Dengan kedua mata ku sendiri aku melihat bagaimana tubuh ayah roboh setelah gagal berupaya menolong Nyonya muda. Ayah tak bergerak setelah dua orang itu menyabet tubuhnya. Setelahnya aku melihat Nyonya muda merintih sesaat sebelum akhirnya keduanya diam. Saat itu aku seperti terpaku ditempat, kakiku terasa kaku dan kepalaku terasa sangat berat. Aku menangis tapi entah kenapa aku tak bisa mengeluarkan suara sedikitpun. Entah bagaimana aku kehilangan kesadaran setelahnya. Kemudian setelah aku terbangun, diriku sudah berada dalam istana ini. Mereka yang menyelamatkanku, kak." Leo berucap dengan derai air mata yang sejak dulu seperti tertahan disana. Pemuda itu terguguh dengan emosi yang meluap.
Rasa sesak yang menghimpit dadanya selama 2 tahun ini terasa menguap ketika dirinya berhasil mengungkapkan segalanya di depan sang kakak. Arsen menciumi pucuk kepala adiknya penuh kerinduan.
Meski terkenal nakal dan jahil, Leo merupakan pemuda yang pintar dan rajin. Setiap hari dirinya akan mengurus hewan peliharaan di halaman belakang sebelum menghabiskan waktunya untuk bermain. Meski berbeda ibu, namun keduanya saling menyayangi.
"Yang mulia sudah menunggu, putri." Ario datang dengan senyum.
Pemuda itu mempersilahkan ke duanya masuk. Sementara Leo dan Ario mengikuti mereka di belakang.
Di depan sana, nampak Gara berdiri dengan gagah. Mata tajamnya menyorot dengan teduh, ada kerinduan disana melihat sosok sang putri yang telah tumbuh menjadi gadis cantik.
Arcila masih menatap lekat wajah itu, wajah yang dilihatnya dalam foto di kamar rahasia di kamar utama yang ditempati oleh mendiang makanya dulu. Yang berbeda hanyalah bayangan ular raksasa tak nampak disana.
Arcila menoleh ke arah Arsen yang tersenyum kearahnya. Pemuda itu menganggukkan kepalanya seolah memberi keyakinan padanya bahwa semua akan baik baik saja.
Arcila membalas senyuman Arsen sebelum kembali menatap ke arah Gara yang kini telah merentangkan kedua tangannya, meminta Arcila untuk masuk ke sana.
Dengan langkah perlahan, Arcila melangkah semakin dekat. Senyum Gara yang tak pernah lepas dari bibirnya kini semakin merekah kala sang putri telah berdiri dihadapannya. Arcila mengusut air matanya sebelum berhambur memeluk tubuh lelaki tampan yang tak lain adalah ayah nya sendiri. Ayah yang belum pernah ditemuinya selama 20 tahun hidupnya.
__ADS_1
Dulu, dia berpikir keras dan menduga duga tentang tak hadirnya sosok sang ayah disisinya. Sang mama maupun kakek nenek nya mengatakan lelaki itu sedang bekerja disuatu tempat yang jauh. Kini Arcila tahu alasan sebenarnya mengapa sang ayah tak bisa menunjuk dirinya.
"Ayah." Suaranya bergetar.
"Maafkan ayah sayang, ayah baru bisa menemuimu." Gara memeluk erat tubuh Arcila.
Keduanya masih larut dalam keharuan bercampur kesedihan hingga tak menyadari kehadiran Derrick yang telah berdiri dihadapan mereka. Pemuda itu menatap instens wajah sang adik.
Di mata Derrick, terlihat jelas seekor ular Sanca berwarna kuning. Pemuda tersebut tak bersuara hanya desisan suara terdengar. Gara yang menyadari kehadiran sang putra segera melerai pelukannya.
Sama hal nya dengan yang terjadi Derrick, Arcila menatap dengan tatapan tajam yang entah kenapa membuat suasana sedikit mencekam. Tak lama wujud Derrick berubah menjadi ular hitam besar dengan mata yang menyala terang. Arcila yang masih menatap tak bergeming.
Arsen yang berada disana terkejut dan beringsut ingin mendekati Arcila agar menjauh. Namun gerakannya tertahan dengan cekalan dari Ario dan Leo yang menggelengkan kepalanya pelan. Memberi tanda agar Arsen tetap berdiri di tempatnya. Sementara Gara yang masih berdiri diantara ke dua anaknya hanya terdiam.
Ini adalah masa sulit yang memang harus dilalui oleh kedua anaknya tersebut. Derrick dan Arcila terikat dengan emosi yang harus bisa mereka hindari. Itu adalah salah satu hal yang membuat Gara memilih memisahkan kedua anaknya agar tak saling menyakiti. Terlebih Derrick, gen siluman yang begitu kental pada dirinya sangat mendominasi. Gara telah memperingatkan sang putra sebelumnya dan kini semua tergantung pada pemuda itu.
Arcila yang sedikit terpancing emosinya pun pada akhirnya berubah wajud menjadi sosok ular besar. Arsen yang memang telah mengetahui hal itu hanya manarik nafas berat, perubahan wujud Arcila yang bukan lagi bayangan mempertegas bahwa semua nya nyata bukan lagi mimpi yang selama ini mencoba diyakininya.
Berbeda dengan Leo yang membulatkan mata sempurna. Dia yang memang belum mengetahui kebenarannya sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya. Semua tak bersuara bahkan bergerak pun mereka tak ingin.
Hanya diam menyaksikan ke 3 ular besar di depan sana sedang berinteraksi entah apa. Tak ada yang mengerti karena Ario pun seperti telah dihalangi untuk bisa mengetahui apa yang terjadi. Perwujudan Gara yang berubah bersama dengan ke dua anaknya membuat suasana berubah lebih mencekam.
Rasa takut dan khawatir lebih Arsen rasakan apalagi ketika menatap bulan yang semakin berpendar terang diatas sana.
__ADS_1
"Cila, seperti apapun kamu dan bagaimanapun kamu. Aku tetap mencintaimu." Lirihnya dengan mata terus menatap ular Sanca berwarna kuning tak jauh dihadapannya.