
Arsen meletakkan dagunya di pundak Arcila. Keduanya sedang menikmati sinar bulan yang bersinar terang malam ini. Berdiri di balkon yang terdapat di lantai 2 dengan ditemani minuman hangat membuat keduanya merasakan bahagia meski dengan cara yang sederhana.
Arsen tergelak mendengar cerita Cila yang di kira adalah kekasih sang kakak. Wajah tampan dengan jambang yang dibiarkan tumbuh disekitar rahangnya itu tak kuat menahan tawanya mendengar semua cerita sang kekasih. Membayangkan bagaimana wajah datar Derrick yang memerah karena kesal.
"Apa rencana kalian selanjutnya, yank?"
Arcila menggeleng. Tak adanya keinginan untuk membalas dendam membuatnya bingung untuk mengambil sikap. Arcila hanya tak ingin dendam ini berkelanjutan. Dirinya sangat tahu bagaimana rasanya ketika kehilangan. Ada amarah, luka, tangis, derita dan juga nestapa yang datang secara bersamaan dalam jiwanya.
Cukup sampai pada dia dan Arsen yang merasakan setidaknya tidak lagi terjadi pada orang-orang yang mereka kenal. Bukan tak ingin para pelaku mendapat ganjaran atas perbuatan mereka. Namun Arcila lebih menginginkan mereka mendapat hukuman dan berharap menyesali perbuatan mereka nantinya. Sangat mulia namun tentu semua itu tak mudah mengingat sifat manusia, apalagi jika sudah diliputi rasa iri dengki dan benci.
"Kak, apa menurutmu yang ku lakukan ini salah?. Bukannya aku tak sakit hati atas kehilangan mama, kakek dan nenek, namun aku tak ingin orang lain juga merasakan apa yang kurasakan dulu. Setahun lamanya aku bahkan tak mengenali diriku sendiri. Rasanya sepanjang hari yang aku pikirkan hanyalah dendam dan dendam. Tak pernah seharipun aku merasakan kedamaian dalam hati ini, kak. Aku bahkan tak tahu harus melakukan apa guna bisa melanjutkan hidupku. Aku tak ingin lagi ada yang demikian, kak."
Arsen merengkuh pundak Cila dan membenamkan kepala gadis cantik itu didadanya. Semua yang dikatakan Cila tentu saja Arsen tahu, karena bagaimanapun dirinya juga merasakan hal yang sama. Satu tahun lamanya keduanya hidup dalam kebencian dan dendam. Beruntung, perlahan namun pasti keduanya bisa berdamai dengan takdir dan menerima semuanya dengan ikhlas. Peranan Pak Sandro yang menceritakan bagaimana kehidupan seorang Andress dimasa lalunya ternyata mampu membuka mata hati mereka yang sebelumnya kelam.
*
*
*
__ADS_1
"Kak, menurutmu bagaimana? apa yang harus kita lakukan sekarang?" Derrick menatap lurus ke depan. Sedang Ario kembali terdiam sambil berpikir langkah apa yang harus mereka tempuh agar bisa membuat Gio dan Dody bertanggungjawab dan bisa menebus segala kesalahan yang keduanya lakukan selama ini.
"Yang mulia pernah berpesan agar kita mengikuti apapun keputusan yang putri buat. Beliau bilang, jika putri Sanca mewarisi sikap bijak yang mulia ratu. Oleh karenanya, kita juga tak bisa melakukan apapun yang berlawanan dengan keinginan putri."
Derrick mendengus kencang, ini yang tak disukainya dari sifat manusia. Mereka terlalu lemah dan lembek dalam bertindak. Hanya bisa menyesal dan merutuki nasib jika sesuatu sudah terjadi, sementara untuk membabat habis sesuatu yang sekiranya akan menimbulkan masalah dikemudian hari mereka harus berpikir berulang kali.
"Aku tak puas dengan apa yang diputuskan oleh adik, kak. Aku lebih suka menghabisi mereka semua hingga tak akan ada lagi orang seperti mereka dikemudian hari. Lebih puas rasanya bisa membalas perbuatan mereka. Aku bahkan ingin membuat hidup mereka lebih menderita lagi dari perbuatan mereka itu." Desisnya penuh emosi.
Ario menepuk pundak pangerannya pelan. Dirinya sangat paham bagaimana kesalnya Derrick kali ini. Dia yang tak pernah bisa merasakan pelukan hangat sang mama tentu merasakan kekecewaan yang sangat mendalam. Disaat waktu yang ditunggunya untuk bisa bertemu dan saling memeluk dengan sang mama kenyataan pahit yang diterimanya.
Derrick menghela nafas berat, apapun keputusan yang diambil oleh Cila dia tak mampu untuk menentangnya. Kehadiran sang adik tentu membuat dirinya lebih merasa bahagia, tak lagi merasa sendiri dan kesepian. Setidaknya, dia mempunyai saudara untuk dirindukan selama sang ayah kembali mengurung diri.
Sesosok Gara Anggara yang memilih mengurung diri demi menjaga image dan wibawanya. Bahkan kedua anak nya pun tak pernah tahu seberapa rapuhnya seorang Gara setelah kepergian Sena.
Cintanya yang sangat mendalam tentu tak pernah bisa dia lupakan dengan cepat. Sosok Sena adalah satu-satunya wanita yang mampu membuatnya luluh, bahkan Sena lah yang membuatnya mengambil kebijakan kepada seluruh rakyatnya agar tak saling mengganggu dengan manusia. Sena memberi warna baru pada dirinya. Terlebih hadirnya si kembar membuat Gara semakin merasa sempurna meski ada harga yang harus dia bayar karena menentang takdir.
*
*
__ADS_1
*
Lita menatap lekat bangunan mewah bertingkat 3 dihadapannya. Dengan langkah berat dan koper di tangannya gadis itu pergi meninggalkan rumah yang memberinya banyak kenangan itu.
Keputusannya berat diambil gadis anak semata wayang Gio itu. Lita tak lagi ingin terlibat dengan segala macam kegilaan yang sang ayah lakukan. Kembali menjalani kehidupan di luar negeri adalah tujuannya kali ini. Entah apa masih bisa dirinya kembali menjadi model seperti dulu atau tidak. Mengingat tanda seperti bekas belitan masih terlihat nyata di dua bagian tubuhnya. Namun karena tekatnya yang sudah bulat dia memilih untuk tetap pergi.
.
.
"*Maafkan aku ayah. Aku tak lagi bisa menjadi anak yang ayah banggakan. Jujur saja aku kecewa, sangat kecewa setelah mengetahui apa yang selama ini ayah lakukan. Bahkan ayah tega menduakan mama bertahun lamanya. Aku tak membenci ayah, bagaimanapun ayah tetaplah ayah kandungku dan tak akan ada seorangpun yang mampu mengubahnya. Namun Lita hanya kecewa, Lita harap ayah bisa memahaminya.
Lita pergi ayah!!
Lita ingin menjalani takdir Lita dengan cara Lita sendiri. Lita ingin bisa berdiri menapak dikedua kaki Lita sendiri. Hingga suatu hari nanti Lita bisa kembali dengan hasil yang bisa membanggakan ayah.
Jaga diri ayah dengan baik. Lita sayang sama ayah sekarang nanti dan selamanya. Ayah adalah ayah yang hebat bagi Lita. Doakan Lita berhasil menjadi apa yang Lita inginkan.
Lita pergi ayah, Selamat tinggal*.
__ADS_1